Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~14 Bungga mekar di taman Raja dingin
Siang itu, kamar Ratu Yasmin begitu berantakan.
Vas bunga kristal jatuh. Cangkir teh melati pecah. Perkamen daftar tugas Layla robek setengah, basah oleh teh dan air mata yang Yasmin sendiri tidak sadar jatuh.
“KENAPA DIA?!” Yasmin membanting kotak kayu jati ke lantai. Tasbih cendana yang diberi Ibu Ratu menggelinding, butirannya berhamburan.
Selama 10 tahun ia sabar. Didatangi, dipuji, dipakai untuk aliansi. Selir Dewi Kirana cantik, Ratu Anaya sepupu raja, semua datang pergi. Ia tidak pernah berontak. Karena ia pikir: 'aku permaisuri pertama. Aku yang paling lama. Aku yang paling berhak.'
Tapi Layla... Layla cuma datang 2 hari. Tidak menggoda. Tidak menuntut. Cuma menyiram bunga dan menahan perang dengan dadanya.
Dan Raja Gustaf berubah. Raja yang 10 tahun hanya melihat dirinya sebagai permaisuri di atas kertas, tiba-tiba duduk di kursi kayu, jaga jarak, dan bicara soal “jembatan, bukan pisau”.
Ratu Yasmin berlutut, memunguti butiran tasbih satu-satu. Tangannya gemetar.
“10 tahun hamba menunggu keturunan, Baginda... Hamba pakai tubuh ini, hamba pakai senyum ini, hamba pakai sabar ini. Tapi Baginda baru belajar ‘melindungi’ setelah lihat dia menangis?”
Ia menempelkan tasbih ke dahi. Bau cendana menenangkan, tapi hatinya semakin panas.
“Aku bukan jahat... Aku cuma takut. Takut jadi tidak ada lagi. Takut jadi ‘hiasan’ yang disimpan di gudang saat ada ‘jembatan’ yang lebih berguna.”
Ketukan pintu terdengar lagi. Pelan. Kali ini bukan Raja Gustaf yang masuk kedalamnya.
Tapi Ibu Ratu, masuk tanpa izin. Ia melihat kamar Ratu Yasmin berantakan, Ratu Yasmin berlutut di lantai dengan butiran tasbih di tangan. Ia tidak marah. Ia hanya duduk di lantai, sejajar dengan Ratu Yasmin, seperti pagi tadi ia lakukan ke Layla.
“Nak,” bisik Ibu Ratu, mengambil butiran tasbih dari tangan Ratu Yasmin. “Dulu waktu aku baru menikah dengan Ayah Gustaf, aku juga begitu. Aku pikir cinta itu harus dimenangkan. Harus diperebutkan.”
Ia merangkai tasbih itu kembali, pelan-pelan.
“Tapi setelah pulang Haji, aku baru megerti. Cinta raja itu seperti air. Kalau kau bendung, dia meluap dan menghancurkan bendungan. Tapi kalau kau jadi sungai... dia akan mengalir dan menyuburkan semua tanah.”
Yasmin menatap Ibu Ratu, matanya merah. “Hamba takut tidak punya anak, Ibu. 10 tahun...”
Ibu Ratu menggenggam tangan Yasmin erat. “Anak bukan satu-satunya cara perempuan berharga, Yasmin. Layla datang tanpa anak, tanpa mahkota, tanpa hak... tapi ia berharga karena ia memilih menahan pedang. Kau berharga 10 tahun ini bukan karena kau menunggu keturunan. Kau berharga karena kau bertahan.”
Dari luar jendela, suara Layla terdengar lagi: “Sebelum masak, kita doa dulu ya, biar makanan ini berkah untuk semua.” Layla meminta kepala juru masak memimpin doa adat Jaya Wijaya.
Yasmin menutup mata. Dadanya sakit. Tapi kali ini bukan karena iri. Sakit karena ia baru sadar: selama ini ia berdoa “Ya Allah jadikan aku dicintai raja”. Bukan “Ya Allah jadikan aku berguna untuk rakyat”.
Ia mengambil butiran tasbih terakhir, menciumnya, lalu meletakkannya di atas meja yang masih berantakan.
“Kalau aku harus jadi sungai, Ibu... ajari aku. Aku lelah jadi bendungan yang selalu takut jebol.”
Ibu Ratu tersenyum, menghapus air mata Yasmin dengan ujung selendangnya.
“Bagus. Besok kau yang akan mengajari Layla masak bubur candil untuk warga. Sambil masak, kau cerita padanya... bagaimana rasanya jadi perempuan yang 10 tahun menunggu. Biar dia megerti, kau juga berkorban.”
"Iya... Ibu." Ratu Yasmin menunduk pilu, jika ia kalah dalam permainan Herem ini, ia menganggap selama 10 tahun ia menjadi istri Yang Mulia. Akan gagal dalam sekejap, karena kehadiran Layla.
Di serambi, Raja Gustaf yang sedari tadi menguping dari balik pilar, menghela napas panjang. Ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Akhirnya... istana ini mulai belajar damai dari dapur, bukan dari ruang tahta.” kata Raja Gustaf, kemudian ia berbalik pergi dari serambi kamar Ratu Yasmin.
Ia berjalan melewati lorong, dan berhenti di atas balkon, melihat dari kejauhan saat putri Candra sedang membantu para pelayan memasak, untuk penghuni kerajaan.
Matanya terus memandang kearah Layla tanpa berkedip. Sebenarnya ia bukan hanya mengagumi kecerdikan Layla namun ia juga mengagumi kecantikan Layla.
Angin membawa asap wangi kayu manis dari dapur bawah. Matahari turun pelan, menyoroti ubin istana jadi keemasan.
Raja Gustaf bersandar di pagar balkon. Jubahnya tidak dipakai. Hanya tunik hitam yang sama seperti siang tadi. Matanya tidak lepas dari bawah sana.
Layla, sedang mengangkat panci besar bersama 2 pelayan. Uap bubur kacang hijau mengepul, menempel di ujung rambutnya. Ia tertawa kecil waktu ada pelayan yang kecipratan adonan. Tawanya tidak dibuat-buat. Tidak manja. Tawa orang yang lupa dirinya 'Istri tawanan'.
Ia menyeka keringat memakai ujung kebaya, lalu langsung koreksi diri. Membungkuk hormat ke arah dapur utama. “Maaf, dayang... Saya kelepasan.”
Kepala juru masak hanya ketawa. “Nggak apa-apa, Ratu. Di dapur Jaya Wijaya, keringat lebih mahal dari bedak.”
Raja Gustaf diam. Dadanya sesak, tapi bukan sesak nafsu. Sesak malu. 15 tahun ia mejadi raja. Perempuan datang ke balkonnya dengan gaun sutra, riasan tebal, senyum yang sudah dilatih. Mereka memandang ke atas, berharap dipanggil.
Tapi Layla... ia memandang ke bawah. Ke tungku, ke panci, ke warga yang antre bawa mangkok, membantu rakyat Jaya Wijaya yang kelaparan.
Ia tidak melihat Raja Gustaf di balkon. Dan justru karena itu, Gustaf tidak bisa berhenti melihatnya.
“Kecerdikanmu menahan perang sudah cukup membuatku tunduk, Layla...” bisik Gustaf pelan, sampai angin yang dengar. “Tapi ketenanganmu saat tanganmu kotor karena adonan... itu yang membuat aku takut.”
Ia takut. Takut karena 10 tahun ia pikir “cantik” itu kulit putih, alis lentik, cara jalan pelan. Baru sekarang ia mengerti: cantik itu perempuan yang tetap lembut walau hidupnya sedang hancur.
Di belakangnya, langkah kaki pelan. Serasa datang membawa laporan. ia mau bicara, tapi berhenti saat meihat wajah rajanya.
Serasa ikut menoleh ke bawah. Lalu bersiul kecil. “Kaka... kalau singa berkepala dua kita kalah sama pedang, wajar. Tapi kalau kalah sama perempuan ngaduk bubur... itu aib seumur hidup.”
Raja Gustaf tidak menoleh. Hanya senyum tipis yang di ukir, tanpa berkedip. “Kalau kalah sama dia, Serasa... aku ikhlas. Daripada menang tapi istana ini isinya batu dan dendam.”
Serasa menggaruk kepala. “Terus sekarang bagimana? Besok Layla diminta menjaga gudang zakat. Kalau Baginda terus ngeliatin dia dari balkon gini, nanti dibilang rakyat: rajanya jatuh cinta sama juru masak.”
Gustaf akhirnya menoleh. Tatapannya tajam tapi tidak marah. “Biar. 15 tahun aku jadi raja yang ditakuti karena pedang. Sekarang aku mau jadi raja yang disegani karena malu sama rakyatnya sendiri. Tapi apa kau lihat, ada Layla disana sedang membantu?”
Seras langsung mengedarkan pandangannya. "Pantas saja. Disana ada kaka ipar, kalau aku ikut menatapnya lama bisa-bisa kepalaku hilang dari tempatnya." Pangeran Serasa membatin.
Ia berbalik, meninggalkan balkon. Tapi sebelum masuk, ia berhenti sebentar. “Kirim pesan ke dapur. Bilang kepada Ratu Yasmin... ajari Layla masak bubur candil sampai ahli. Jaya Wijaya butuh banyak ‘sungai’ seperti mereka.”
Serasa manggut-manggut, bingung tapi ia langsung nurut. “Siap, Baginda. Tapi... Baginda sendiri kapan mandi? Dari pagi belum ganti baju.”
Gustaf tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak perang batal. “Nanti. Biar aku ingat baunya... biar aku ingat rasanya jadi manusia lagi.”
Sementara di dapur, Layla mengangkat sendok, meniup bubur panas, lalu menyuapi anak kecil anak pelayan yang rewel. Anak itu langsung diam.
Layla tidak tahu kalau ada raja yang berdiri kaku di balkon, hatinya berantakan seperti kamar Yasmin siang tadi.
Bedanya: kamar Yasmin berantakan karena pecah. Hati Gustaf berantakan karena... mulai utuh lagi.