NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

“Keluar dari sini, Vandra,” suara Pak Erwin serak namun tegas. “Kamu sudah membuat keluarga ini hancur. Istriku sampai kena stroke karena malu menanggung perbuatanmu dengan Erika. Apa kamu tidak merasa bersalah sedikit pun?”

Vandra menunduk, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat. Yang terdengar hanyalah helaan napas berat, tanda ia sendiri tak mampu membantah.

“Papa, jangan salahkan Mas Vandra,” potong Erika cepat. Ia maju setengah langkah, berusaha berdiri di antara ayahnya dan Vandra. “Aku sudah bilang, semua ini pilihanku. Mas Vandra juga korban. Dia hanya ingin bahagia.”

“Bahagia?!” Suara Pak Erwin meninggi, membuat beberapa perawat di luar menoleh. “Apa kalian menyebut ini bahagia? Ibumu sekarat di ranjang, orang-orang menertawakan keluarga kita, nama baik kita hancur. Lalu, kau bilang ini bahagia, Erika?”

Erika terdiam, bibirnya bergetar. Namun, egonya menolak runtuh. Dia hanya menunduk, memeluk lengan Vandra semakin erat.

Pak Erwin mendekat ke arah Vandra. Tatapannya menusuk, rahangnya mengeras.

“Aku hanya akan katakan sekali, Vandra. Jika kamu masih punya harga diri, lepaskan anakku sekarang juga. Pergilah, dan jangan pernah kembali. Kalau tidak…” Ia berhenti sebentar, suaranya semakin dingin, “…aku yang akan pastikan kamu menyesal seumur hidup.”

Ruangan itu hening. Hanya suara mesin infus berdetik perlahan yang terdengar. Erika menoleh dengan wajah panik.

“Tidak, Papa! Mas Vandra enggak boleh pergi. Aku butuh dia. Jangan pisahkan kami.”

“Diam, Erika!” bentak Pak Erwin. “Kamu sudah membuat cukup banyak aib. Sekarang dengarkan ucapan papamu ini!”

Erika menangis, memegangi tangan Vandra sekuat tenaga, seolah takut pria itu akan menghilang begitu saja. “Mas, jangan dengarkan Papa. Aku hanya punya kamu. Jangan tinggalkan aku!”

Vandra merasa tubuhnya seperti ditarik ke dua arah. Hatinya diliputi rasa bersalah yang menggunung. Tatapan penuh benci dari Pak Erwin menusuk ulu hatinya, sementara genggaman Erika yang penuh ketakutan membuatnya tidak tega.

Dalam benaknya, wajah Alya muncul lagi. Wajah istrinya yang lembut, dengan mata berkaca-kaca saat berkata, “Aku sudah tidak sudi lagi bersama dengan kamu, Mas.” Kenangan itu seperti palu yang menghantam jantungnya.

“Aku ....” Vandra akhirnya membuka suara, suaranya serak. “Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sudah kehilangan segalanya. Alya menutup pintu untukku, anak-anakku membenciku, dan sekarang ... Mama sakit karena aku.”

Pak Erwin mendengus, nadanya penuh sinis. “Kalau kau sadar sudah kehilangan segalanya, kenapa masih bertahan di sini? Kenapa tidak pergi saja, biarkan anakku kembali waras?”

“Aku tidak bisa, Pak!” Suara Vandra lirih. “Aku sudah terlanjur mencintai Erika. Kalau aku pergi, dia akan hancur.”

“Cukup!” Pak Rasyid menepuk meja samping ranjang dengan keras, membuat botol air mineral hampir jatuh.

“Kamu sudah cukup menghancurkan orang lain. Jangan tambah dengan mengorbankan anakku! Jika benar kamu lelaki, buktikan dengan tanggung jawab, bukan dengan merampas!” lanjut pria paruh baya itu penuh emosi.

Erika tersedu, wajahnya memerah karena menangis. “Papa, aku yang memilih! Jangan salahkan Mas Vandra terus!”

Pak Erwin menutup mata atas kelakuan putrinya. Dia menahan emosi sampai urat di lehernya menegang. Jelas sekali betapa besar amarah yang sedang dia pendam.

Dengan suara bergetar Pak Erwin berkata, “Aku akan beri waktu satu minggu, Vandra. Satu minggu untuk kau pikirkan: pergi dengan kepala tegak, atau bertahan dan melihat keluargamu serta keluarga kami semakin hancur.”

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti vonis yang tak bisa ditawar.

Vandra berdiri terpaku, napasnya memburu. Erika memeluknya dari samping, tangannya gemetar.

“Mas, jangan pergi … kumohon, jangan biarkan aku sendirian!”

Pak Erwin berbalik, menatap jendela agar emosinya tidak meledak. Namun, dari rahang yang masih mengeras, terlihat jelas ia tidak main-main dengan ancamannya.

Ruangan itu berubah menjadi medan perang sunyi antara cinta yang buta, doa-doa yang terluka, dan ultimatum seorang ayah yang sudah muak melihat anaknya dipermainkan oleh nasib.

Lorong rumah sakit itu semakin ramai. Aroma obat-obatan bercampur dengan bau antiseptik menusuk hidung. Di kursi tunggu, Vandra dan Erika duduk berhadapan dengan wajah tegang. Pak Erwin hanya mengawasi dengan tatapan tajam, tak ikut campur, meski jelas terlihat ia menahan emosi.

Erika makan siang dengan begitu lahap seperti orang kelaparan yang sudah beberapa hari tidak makan. Ditambah emosinya yang meledak-ledak sejak pagi.

"Kamu tidak makan, Mas?" tanya Erika.

"Tidak. Tadi, uangnya tidak cukup kalau beli dua porsi," jawab Vandra.

"Memangnya kamu tidak punya uang?" tanya Erika merasa heran.

"Bukannya semua uang di kartu aku sudah kamu habiskan buat beli tas, make up, dan jalan-jalan," jawab Vandra.

"Memangnya gajian bulan ini sudah habis semua, tak bersisa?" tanya wanita itu lagi dengan heran.

"Pas gajian kamu minta aku buat bayar tas mahal yang limited edition. Itu juga enggak cukup pakai uang gaji aku, sampai uang tabungan aku terkuras habis," jawab Vandra terdengar frustrasi.

Awal bulan ini Erika membeli tas seharga 80 juta. Tentu saja gaji Vandra tidak sampai sebesar itu. Uang tabungan ratusan juta yang biasanya ngendap selama bertahun-tahun, dalam waktu enam bulan sudah habis semua.

"Bukannya kamu punya banyak aset kekayaan?" Mata Erika berbinar.

"Aset kekayaan apa? Semua harta kekayaan selama pernikahanku dengan Alya sudah menjadi miliknya. Itu perjanjian yang kami buat dahulu, sebelum kita menikah," balas Vandra.

"Perjanjian pranikah?!" Erika tiba-tiba ingat dengan hal yang dibicarakan, kemarin.

"Iya. Jika salah satu dari kami ada yang berselingkuh, maka harus pergi tanpa membawa apa pun."

"Aku tidak percaya kau sebodoh ini, Vandra!" Suara Erika meninggi, menembus kesunyian. "Kau tahu, kan, aku butuh stabilitas? Kau janjikan hidup lebih baik, lebih mewah dari bersama Alya. Tapi apa yang kau berikan? Status selingkuhan murahan, lalu sekarang suami pecundang tanpa pekerjaan!"

Vandra terhenyak, wajahnya pucat pasi. "Aku berjuang untuk kita, Erika! Aku tinggalkan Alya, aku tinggalkan anak-anakku, hanya demi kamu. Apa itu tidak cukup?"

"Cukup?" Erika menepuk dadanya keras, matanya melotot penuh amarah. "Kau pikir aku rela menanggung malu, dicaci maki semua orang, ibuku sampai sakit begini, hanya untuk hidup miskin bersamamu? Aku butuh jaminan, Vandra! Aku butuh uang!"

Nada keras itu membuat beberapa perawat menoleh curiga. Vandra mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak kehilangan kendali. "Jadi semua ini hanya tentang uang bagimu?"

"Ya!" Erika membentak, tanpa ragu. "Aku rela kehilangan harga diriku, kehilangan pekerjaanku, asalkan aku punya harta untuk menopang hidupku. Kalau tidak, buat apa aku memilihmu?"

Vandra menelan ludah, wajahnya penuh luka batin. Tapi Erika belum selesai. Ia mendekat, berbisik tajam namun cukup keras untuk didengar Pak Erwin.

"Dengar aku baik-baik, Vandra. Satu-satunya jalan keluar kita sekarang adalah merebut harta Alya. Rumah, tabungan, bahkan masa depan anak-anaknya. Itu hakmu juga, kan? Kau punya celah hukum untuk mendapatkannya."

1
Ning Suswati
doa isteri langsung menembuh langit, mengalahkan doa ibu setelah anak laki2nya menikah, jgn menyalahkan alya, salahnya sendiri yg menginginkan, karena dia yg berbuat penghianatan
Ning Suswati
kalau bukan jodoh, tak akan ada peluangnya, tapi kalau sdh taqdir jodoh semuanya jadi lancar
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣
kacian deh lho, segala cara sdh dilakukan sekalipun bermandikan lumpur dosa,masih aja belum sadar, akan dosa2 yg semakin menumpuk, terus aja bikin sensasi murahan
Ning Suswati
karma gk perlu diundang dia akan datang dg sendirinya, jadi laki2 kebanyakan cuma ada nafsu yg ada di otaknya, tdk perlu pakai perasaan.itu sdh taqdir cintaan tuhan
Ning Suswati
sdh tau anaknya dablek, mau2 nya mendengarkan aduan dari mulut anak yg sdh mempermalukan seisi dunia, masih aja mau di bela, otak nya gk digunakan, sdh jadi jalang juga masih mau dibelain, bukan anak kecil
Ning Suswati
asssyyyiiiiiik, diterima lamaran papa biru, jgn lama2 untuk segera di sah kan dong
Ning Suswati
semoga babang biru cepat dapat laporan kejadian dan dalang dari semua fitnah pada alya
Ning Suswati
makanya diurus gundiknya itu vandra, jadi laki gk ngaruh, apa yg dilakukan gubdiknya gk tau, kalau masih jual tanah kaplingan🤭
Ning Suswati
semoga babang biru segera dapat bertindak dan cari pelakunya, jgn kasih ampun lagi, gk perlu lapor polisi paling juga lepas lagi, hukum rimba aja babang biru
Ning Suswati
enakkan punya isteri muda yg pintar dan berhati iblis, rasakan tuh vandra, apa yg terjadi sekarang semua ulah isteri siri yg gila dan berhati daqjal
Ning Suswati
semua rencana erika sangat cocok dg kerjaan jalangkung, apakah nasib baik akan berpihak kepada manusia berhati iblis, aq rasa sekali ini albiruni akan segera bertindak utk melindungi alya
Ning Suswati
perasaan luka bathin tdk semudah itu akan sembuh, apalagi luka karena penghianatan dlm rumah tangga, tapi tdk semua laki2 bejat, berdamailah dg hati dan bahagia itu kita yg raih
Ning Suswati
kebanyakan sih laki2, tdk bisa menjaga dan melindungi anak2 nya sendiri demi perempuan pemuas nafsu syetan jalang
Ning Suswati
bagus deh, ada zara si preman sekaligus tante yg baik hati, tau yg benar dan baik untuk keluarga
Ning Suswati
baguslah ada yg ngawal vandra dan nek kunti
Ning Suswati
erika ibarat kerbau selalu berkubang dalam lumpur, dan ini lumpur dosa, disitulah tempanya yg bisa membuat kebahagiaan bermandikan uang keringat hasil dosa
Ning Suswati
semoga saja vandra siap2 menerima kenyataan, bertahn dg erika karena sdh tdk ada lagi pelabuhan dan rumah untuk pulang
Ning Suswati
hhhhh emang enak bikin susah sendiri dan karma tdk akan lalai dg tugasnya, semoga cepat katauan kerjaan lanjutan erika menjual diri
Nyai Klipang
vandra lidahnya selalu kelu kalo mau bicara, mending vandra di buat bisu sekalian👍
Ning Suswati
yg namanya jalangkung pastilah, masa mau hidup kismin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!