NovelToon NovelToon
After Death

After Death

Status: tamat
Genre:Teen / Fantasi / Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:764.5k
Nilai: 5
Nama Author: Banin SN

After Death mengisahkan tentang konflik yang melibatkan 3 dunia. Pram si tokoh utama yang baru menginjak usia 17 tahun, ruh dan jasadnya dipisah oleh Jin Hitam dari negeri Shaman.


Ruh itu hendak dimusnahkan karena membahayakan kekuasaan Bemius dari kerajaan Anathemus. Berkat pertolongan Pusaka yang belum diketahui pemiliknya, Ruh Pram memasuki alam akhirat / Negeri Cato dan mendapat jatah usia 100 tahun di sana.


Sayang sekali pada akhirnya keberadaan Pram diketahui oleh Bemius. Pram pun mulai mempelajari asalusul dirinya dan mengapa ruhnya diburu banyak Jin Hitam.


Petualangan pun dimulai....

*** Mohon kritik dan saran untuk Novel ini ya Kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banin SN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14 : Insting Prameswari

            Saat mengecup pipi Dante, Pram

merasakan aura dingin yang hambar. Ada sesuatu yang lain dalam diri Dante yang

terselubung selimut. Prameswari tak mengerti apa itu, hanya saja ia merasakan

sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya, dan selimut itulah yang membuat hati

Dante dingin dan hambar. Pram pun seperti mencari-cari sesuatu di balik Seragam

Kerja Dante.

            “Hei, apa yang kau cari?” Dante protes

begitu kerah-kerah bajunya dibuka oleh Prameswari.

            “Entahlah, seperti ada sesuatu yang

mengganjal. Rasanya seperti sesuatu yang menghalangi. Aku risih, ingin

kulepaskan saja.”

            “Lha iya, apa?” Dante mulai kesal

karena kelakuan Prameswari terlalu vulgar di depan umum.

            “Ah… entahlah. Rasanya mengganggu

sekali. Tapi apa ya. Aku sendiri juga bingung.”

Prameswari

kemudian menyerah dan menggandeng Dante berjalan cepat menuju Taman Kota. Dia

masih merasa risih dengan sesuatu yang mennutupi tubuh Dante. Tapi dia toh tak

tahu juga itu apa, dan bagaimana, dan mengapa dia tak nyaman dengan sesuatu

yang tak diketahuinya itu.

Di

tengah perasaan risihnya itu, Pram melihat ada seorang gelandangan, seorang Pria.

Pria itu tengah mengawasinya sejak tadi. Ia berulang kali melemparkan senyum

ramah kepada Prameswari dan memberi isyarat pada Prameswari untuk mendekatinya.

            Pram berpikir sejenak, ia takut jika

kedatangan gelandangan itu akan menimbulkan kesialan pada dirinya mengingat

jatah kesialannya yang cukup tinggi dan belum ditebus menggunakan saldo pahala.

            “Tenang, Cah Ayu… Kedatanganku bukan untuk membawa kesialan. Aku datang karena

kau memanggilku dalam mimpi. Kau meminta tolong, dan kemarilah, kukira aku bisa

menolongmu.” Gelandangan itu hanya tersenyum saja bibirnya, tapi telinga

Prameswari menangkap percakapan yang berasal dari diri gelandangan itu.

            “Kau tidak sedang salah dengar, Kau

juga tidak sedang melamun, Cah Ayu… Baiklah, sepertinya Kau sedang sibuk kali

ini, jika tak sedang sibuk, silakan menemuiku di ujung taman kota di bawah semak

bambu kuning. Aku biasa tidur di bawah bambu kuning itu.” Lagi, gelandangan

tersebut hanya tersenyum tapi ucapannya didengar oleh Prameswari.

Pram

terheran, apakah itu sejenis keanehan yang biasa terjadi di Cato? Pram pun

menoleh ke arah Dante yang terlihat begitu fokus melihat ke depan.

            “Dante, coba lihat gelandangan itu!”

Prameswari menarik lengan baju Dante dan menunjuk kea rah kirinya, ternyata

kosong.

            Dante mengernyitkan kening dan

bertanya pada Prameswari, apa yang ada di samping kiri? Tak ada apa pun, begitu

ucap Dante, membuat Prameswari semakin kebingungan.

            “Dante, apakah manusia di sini bisa

berbicara tanpa menggunakan mulut, dan mendengar ucapan yang tak disampaikan

oleh bibir?”

            “Tentu saja. Semua orang di sini

bisa berkomunikasi menggunakan gadget, dan saling bisa mengirim dan menerima

pesan tanpa harus mengatakannya menggunakan mulut. Bukankah di Bumi juga ada

gadget?”

            “Ya ampuuun… Bukan begitu maksudku. Aduh,

bagaimana ya, tadi kau tak dengar ya, ada gelandangan yang berbicara kepadaku, tapi

dia kok sudah menghilang ya?”

            “Bicara apa, gelandangan mana, kamu

ini.”

            Insting Prameswari mengajaknya untuk

berhenti membicarakan gelandangan tersebut di hadapan Dante. Pram pun

mencari-cari topik lain guna mengalihkan pembicaraan.

            “Eh, ngomong-ngomong tadi pas aku

cium kamu, kamu kok diam mematung gitu sih? Pria dewasa harusnya responnya gak

begitu.” Pram langsung mengalihkan pembicaraan agar Dante tak lagi bertanya

soal gelandangan misterius tersebut.

            “Oh, eh… Iya, entahlah… Memangnya

respon pria dewasa bagaimana seharusnya?”

            “Ya, paling tidak, senang. Atau,

membalas mencium balik, atau, paling tidak merespon apalah… Tidak seperti

tingkahmu tadi. Diam membisu, dan tak ada respon. Untung aku orang yang tak

tahu malu. Kalau wanita di Bumi kau perlakukan demikian, pasti bakal bunuh diri

mereka. Haha…”

            “Mengapa harus bunuh diri?” Dante

bertanya sangat serius sambil menghentikan langkah kakinya, tak mengerti jika Pram

bicara setengah bercanda.

            “Ya, yang namanya perempuan itu notabene

mereka selalu menuntut untuk disayangi. Kalau mereka menunjukkan kasih sayang

mereka di tempat umum, itu artinya mereka juga menuntut untuk dibalas kasih

sayangnya dengan balasan yang lebih.”

            “Jadi, seharusnya apa yang

kulakukan? Jawab, dan mari kita ulangi lagi. Aku yakin tidak akan membuat

kesalahan jika kamu mengajariku terlebih dahulu.”

            Prameswari menepuk keningnya

sendiri. Sepertinya Dante memang kehilangan saraf jatuh cintanya.

***

            Setelah mengobrol lama di kursi

taman, Dante mengajak Prameswari kembali ke Camp Kelas Pasca Kematian. Pram

menolak dan berkata masih ingin sendirian di taman kota, ia akan pulang sendiri

jika sudah ingin pulang. Dalam hati Prameswari, dia ingin menemui gelandangan

tadi di bawah semak bamboo kuning di ujung taman kota.

            “Aku tidak akan membiarkan dirimu pulang

sendirian. Kesialanmu belum kau tebus, bisa saja kau tertembak lagi, atau

tertabrak kereta, atau keruntuhan bangunan, atau yang lainnya. Lagipula luka

lamamu kan belum sembuh total.”

            “Memangnya dengan adanya dirimu di

sampingku akan dapat mengurangi jatah kesialanku?”

            “Tidak juga. Setidaknya jika aku

berada di dekatmu dan kau mengalami musibah, Kau tak perlu menunggu pertolongan

terlalu lama.”

            “Baiklah… Kalau begitu tunggu aku di

sini. Aku ingin memetik bunga sebentar untuk kutaruh di kamarku nanti.” Prameswari

berbohong, dan pria selugu Dante tak pernah menyadari bahwa mereka dibohongi.

             Setelah Dante mengangguk dan memberi pesan

kepada Prameswari untuk berhati-hati, Pram setengah berlari menuju ke arah semak

bamboo kuning. Ia mulai dapat mencium aroma gelandangan tadi, baunya khas,

seperti aroma kayu gaharu. Semakin dekat dengan semak bamboo, semakin aroma

gaharu itu menusuk hidung prameswari. Pram merasa sedikit ngeri dengan alasan yang

tak jelas. Langkah kakinya mulai terdengar jelas karena hari sudah semakin

malam, semak bamboo juga sangat sepi dan seolah tak memiliki aroma manusia. Ada

hawa yang tak biasa yang dirasakan oleh Prameswari, hawa yang sepertinya sedang

berseliweran di sekitar rambut dan tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri tapi dia

tetap maju karena instingnya memaksanya untuk terus maju.

            “Halo.. Cah Ayu…” Sesosok hitam

muncul dari semak bamboo kuning, ia berwujud seperti genderuwo yang diketahui

Prameswari sebagai hantu iconic di dunianya yang dulu. Matanya merah menyala

dan suaranya memberat, ia bertaring dan memiliki rambut-rambut panjang di

alisnya, sehingga sebagian matanya tertutup rambut.

            Prameswari mundur beberapa langkah

dan mulai berpikir bahwa instingnya salah total. Ia yakin saat ini sedang

menerima jatah kesialan, ia yakin genderuwo itu akan segera menerkamnya dan mencabik-cabik

dagingnya dengan taring dan cakarnya yang tajam. Kemudian, keesokan paginya

Pram akan terbangun di ruang Registrasi Kematian.

            Pram teringat bagaimana rasanya

mati, dia sudah muak untuk mengulanginya lagi. Maka, sekuat tenaga ia berbalik

dan bersiap lari sekuat yang dia bisa.

            “Tunggu dulu…” Genderuwo itu

memanjangkan tangannya dan menarik Prameswari ke dalam semak. Pram dihimpit di

sela lengan dan badannya yang berbulu. Pram mencoba berteriak tapi mulutnya

dibekap tangan yang penuh bulu. Dingin.

            “Aku perlu berbicara denganmu, Cah

Ayu… tenanglah dulu…” Genderuwo itu berbicara dengan suara yang berat dan

napasnya menyerupai dengkuran sapi jantan. Ia mendudukkan Prameswari di bilik semak

bamboo kuning. Dari luar semak bamboo itu hanya sepanjang tiga sampai empat

meter saja, tetapi begitu masuk ke dalamnya, ternyata semak bamboo itu adalah

hutan bamboo yang suram dan berkabut.

            “Aku datang kemari untuk membantumu

bertemu dengan Arimbi, ibumu. Jangan takut dengan wujudku, tenanglah dulu…” Genderuwo

itu mengelus-elus kepala Prameswari dengan lembut, seperti seekor induk kucing

yang memanjakan anaknya. Prameswari memberanikan dirinya untuk perlahan

mendongak dan memandang wajah menyeramkan itu. Sesaat sebelum mata Pram dan

Genderuwo itu bertemu, seseorang berteriak

            “Jangan tatap wajahnya!!!!”

Pram

menoleh…. Dia si gelandangan tadi, dan mendadak Genderuwo itu lenyap dari

pandangan Prameswari. Pria berpakaian gelandangan tersebut menarik tangan

Prameswari dengan kasar sebelum Prameswari masuk ke sebuah pusaran angin.

            Bug…..

Prameswari

dan gelandangan itu terjungkal ke tanah. Pram kembali ke semak bamboo di ujung

taman. Sementara Prameswari masih terengah-engah ketakutan dan kebingungan, gelandangan

itu mengecek siku dan kaki Prameswari, adakah yang terluka, atau adakah sebuah jimat

yang dipasangkan ke tubuh Prameswari.

            “Kau tidak papa, Cah Ayu?”

            “Siapa dia, siapa Anda?” Prameswari berbicara

dengan setengah terbata-bata.

            “Seperti yang Kau tahu, dia

Genderuwo. Hanya bandit kecil. Untung dia bukan mata-mata Bemius. Kurasa dia tak

sengaja membuntutiku ke sini dan merasa beruntung telah menemukanmu. Kau tahu,

ruhmu dihargai sangat tinggi di Negeri Shaman.”

            “Aku? Mengapa?”

            “Panjang ceritanya. Sambil jalan,

nanti kuceritakan. Oh ya, jangan pernah sepelekan insting dan inderamu. Meski

di bumi usiamu 17 tahun, tapi kau 25 tahun di sini, itu artinya tubuhmu sudah

siap mengembangkan kekuatan supranaturalmu. Pesanku, pelajarilah teknik Lucid

Dream untuk berjaga-jaga jika ada yang ingin menculikmu lewat alam mimpi.”

            “Sungguh, aku tak mengerti semua

ucapanmu.”

            “Maaf, tapi memang aku sedang sangat

terburu-buru. Ini bukan alamku, kau juga lihat tadi bandit kecil yang bersamamu

itu, dia sudah ngos-ngosan menahan sesak. Aku harus segera kembali. Bawa ini

bersamamu. Dan ingat, jangan dibuka sebelum aku memerintahkannya!”

            “Mengapa aku harus menurutimu. Aku

tak mengenalmu.”

            “Jangan membantah! Aku belum bisa

percaya sepenuhnya padamu, tapi aku percaya pada instingmu. Sudah, pulanglah. Dan

hati-hati.  Tetaplah bersama Dante. Aku

harus pergi sebelum kehabisan napas di sini.”

            Gelandangan itu berlari masuk ke

semak bamboo kuning dan lenyap dari pandangan.

1
kay
bang saya baru bikin novel coba abang baca baru belajar nulis novel soal nya
nowhere🌱
permulaan yg cukup mencengangkan, Kak ><✊✨ apalagi pake sudut pandang pertama
Rum Rigel
seruu, keren banget konsep ceritanya kak! gaya bahasanya juga enak dibaca
Rum Rigel
kalau langsung di scroll gitu agak singkat ya. tapi jujur deg degan banget bacanya huhuu setiap paragraf dibaca pelan, kayak takut ada yang menanti
Lalalalalisa
huaaaaa
faisa
apa cm aq yg baru nemu nich novel d thn 2022 ?
ketinggalan banget aq...
Sooyaaa__
o
Sooyaaa__
p
Jendeuki💚
😍😍
Jendeuki💚
😍
Jendeuki💚
😍😍😍
Anonim
sadisssss
Jendeuki💚
😅
Jendeuki💚
😘
Jendeuki💚
😅
Jendeuki💚
😘
Jendeuki💚
😅
Jendeuki💚
😄😅
Jendeuki💚
😘
Jendeuki💚
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!