Menceritakan seorang pemuda hebat yang hidup di Dunia Sihir. Tapi dia harus mati setelah dihianati oleh suatu kelompok yang telah ia bantu. Meskipun telah mati, rupanya ia bereinkarnasi ke Dimensi Lain setelah jiwanya dan pikirannya masuk ke dalam tubuh seseorang yang masih remaja.
Ternyata, kehidupan di Dunia barunya, bukanlah Dunia Sihir, tepatnya Dunia yang biasa-biasa saja. Tapi ada 1 hal yang membuat dirinya istimewa, yaitu dia bisa menggunakan Sihir.
***
Note : Cerita ini berlatar Multiverse dan Sequel dari cerita 'OVERSOLDIER'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Hari telah siang. Peter memilih keluar dari kamar kosnya. Ia kini memakai celana jeans panjang biru tua, dan kaos putih, dan tak lupa ia mengenakan jaket hoodie-nya yang berwarna hitam. Peter akan mencari makan siangnya.
Ia sendiri, karena Kevin sudah pergi entah kemana setelah menerima ajakan teman kosnya. Banyak sekali kendaraan yang lewat. Peter kini tengah berjalan kaki di trotoar. Ia berjalan menuju rumah makan langganannya.
Tempatnya sederhana, murah harganya, dan porsinya cukup banyak. Cukuplah membuat perutnya kenyang. Mungkin kurang lebih sudah ada 5 menit Peter berjalan kaki semenjak berangkat dari kos-kosannya.
Tak lama kemudian, ia telah sampai di warung makan langganannya. Seperti biasa, ia memesan nasi sayur. Serta minumannya teh hangat.
.....
Setelah setengah jam, ia selesai makan, Peter pergi keluar dari warung makan setelah membayar makanannya. Ibu pemilik warung sudah paham dengan Peter. Kadang beliau memberi lauk daging ayam untuk Peter dan Kevin.
Peter berjalan kaki di trotoar. Ia tak berjalan kembali ke arah kos-kosannya, namun ia berjalan arah berlawanan. Ia ingin berjalan-jalan kaki. Tak punya kegiatan apapun membuatnya bosan.
Saat akan berjalan melewati supermarket, ia mendengar suara teriakan wanita yang meminta tolong. "Tolong...!! Copet...!! Tolong...!! Tas saya dicopet..!! Tolong...!!"
Mendengar itu, Peter menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri diam tak jauh dari wanita itu. Terlihat beberapa orang berjalan mendekati wanita itu untuk menenangkannya.
Wanita itu telihat dewasa dan cantik, namun Peter merasakan aura keibuan dari wanita itu. Lalu terlihat beberapa orang laki-laki berlari mengejar pencopet itu. Peter mengangkat kedua bahunya, ia masa bodoh.
Tapi entah kenapa dalam hatinya, ia ingin membantu. Peter menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tak ingin sok pahlawan."
Namun pada akhirnya, Peter memutuskan bergerak untuk membantu menangkap pencopet itu. Tapi sebelum itu, ia membeli masker dan kacamata hitam, dalam hatinya ia mengumpat, karena ia harus membayar untuk membeli 2 barang itu.
Setelah masuk ke jalan gang kecil yang sepi, cepat-cepat Peter memakai masker, dan kacamata hitamnya. Dan terakhir tak lupa memakai kain penutup kepalanya dari jaketnya. Ia segera melompat dan langsung terbang ke arah langit.
Peter pun menghentikan gerakan terbangnya setelah tak lama ia terbang ke arah langit. Kini ia mengambang di udara. Jaraknya mungkin 200 meter dari permukaan tanah. Ia melihat ke arah bawah.
Ia memasang wajah datarnya, karena tak sengaja ia melihat kedua kakinya. Ya.., dia mengenakan sandal jepit sebagai alas kedua kakinya. Sungguh miris. Baiklah, abaikan hal yang tak penting.
Peter kembali fokus, dari jarak ia mengambang. Ia melihat rombongan laki-laki, yang terdiri dari yang muda, dewasa, dan tua sedang mengejar sosok orang berpakaian jaket merah.
Saat akan langsung terbang ke arah orang itu, ia pun teringat sesuatu. Ia pun terdiam berfikir. "Kalai aki langsung menangkapnya, pasti orang-orang itu memperhatikanku."
Peter menepuk jidatnya. "Ahh, benar. Aku 'kan mengenakan masker dan kacamata. Jadi mana mungkin mereka bisa melihat wajahku. Lagi pula aku bisa bergerak secepat kilat. Sial aku kadang telat mikir."
Zzzzzz...!!
Tanpa basa-basi lagi, Peter langsung terbang turun dengan kecepatan kilatnya. Sihir Anginnya yang sudah membuatnya terbang, ditambah Sihir Petirnya. Kedua Sihir elemen ini gabungkan, sehingga ia bisa terbang dengan kecepatan yang tak biasa.
Peter terbang menurun ke arah pencopet itu. Dengan kecepatan kilat, seketika ia meraih pakaian belakang pencopet itu. Lalu ia membawa pencopet itu terbang ke atas.
Sementara orang-orang yang mengejar pencopet itu, menghentikan langkah lari mereka. Mereka semua terheran-heran karena pencopet itu tiba-tiba menghilang entah kemana. Mereka pun segera berpencar.
Sementara, di waktu bersamaan, Peter kini tengah mengambang di udara. Ia mengambang kurang lebih 100 meter dari permukaan tanah. Tangan kanan Peter mencengkram kerah pencopet itu yang kini memasang wajah syok.
Tangan kiri Peter sudah menenteng tas selempang setelah ia merebut dari pencopet ini. Dari balik kacamata hitamnya, Peter menatap marah. Pencopet itu meronta-ronta. "Lepaskan aku..!! Lepaskan aku..!!"
"Baiklah, kulepas kau." jawab Peter, lalu setelahnya, ia melepas cengkramannya.
Pencopet itu terjatuh. "Aaaaggrhh....!!"
Dia berteriak ketakutan setelah benar-benar dilepaskan oleh sosok laki-laki yang bisa terbang itu.
Byurr....!!
Tak terduga, pencopet itu malah terjatuh ke dalam sungai yang ada dipinggiran kota. Entah dia bisa berenang atau tidak, Peter masa peduli hal itu. Ia pun terbang kembali ke tempat kejadian sebelumnya.
Terlihat seorang wanita yang tengah duduk di depan warung. Ada beberapa orang yang menemaninya dan menenangkannya. Salah satu dari mereka memberinya teh hangat. Wanita itu benar-benar terlihat frustasi.
Bruukk..!!
Tiba-tiba jatuh sebuah tas selempang di hadapan mereka. Dan tentu saja membuat mereka terkejut, terutama wanita yang terlihat frustasi itu. Pasalnya tas selempang ini persis seperti miliknya.
Seketika ia bangkit dari duduknya untuk meraih tas itu. Dan benar saja, itu tas miliknya, pasalnya tas itu mahal, dan hanya beberapa orang yang memilikinya, termasuk dirinya.
Lalu ia melihat ke atas, karena heran, bagaimana salah satu tas selempang mahalnya bisa jatuh dari langit. Wanita itu terbelalak melihat sosok seseorang yang melayang di langit.
Orang itu terbang melayang yang mungkin 10 meter dari permukaan tanah. Seketika sosok itu langsung terbang entah pergi kemana setelah wanita itu melihat dirinya.
.....
Disisi Peter, ia bernafas lega, karena yang melihat dirinya cuma wanita tadi. Ia segera terbang kembali ke arah kos-kosannya. Tapi sebelum itu, terlintas ada sesuatu yang muncul di pikirannya.
Peter langsung terbang naik. Ia pun mengambang di langit. Posisinya kali ini, Peter melayang 1 kilometer dari permukaan tanah. Banyak sekali angin mengembusan mengenai dirinya.
Peter merentangkan kedua tangannya. Dibalik kacamata hitamnya, ia memenjam kedua matanya. Dibalik maskernya, ia bibirnya tersenyum. "Damainya..."
Beberapa lama terbang di langit, Peter pun mendarat. Tepatnya ia mendarat di atap bangunan kos-kosannya. Beruntung tak ada orang, karena atap bangunan itu digunakan untuk menjemur baju para setiap penghuni kos.Ia segera melangkah cepat ke lantai dua untuk ke kamar kos-kosannya.
Keesokan Harinya.
Hari telah pagi, seperti biasa, Peter dan Kevin berangkat ke sekolah, ya karena hari ini adalah hari senin, yang dimana rata-rata semua orang kembali menjalani aktifitas mereka masing-masing.
Waktunya jam istirahat kedua setelah beberapa jam di sekolah, Kevin memilih tidak pergi ke kantin karena merasa perutnya sudah kenyang. Sedangkan Peter hanya memilih pergi ke toilet untuk buang hajat.
Setelah selesai, Peter segera pergi keluar dari toilet. Baru saja keluar melewati pintu toilet pria, bahunya tersenggol seorang perempuan yang juga baru saja keluar dari toilet wanita.
Padahal ia berjalan santai, tapi kerena perempuan itu berjalan buru-buru dan ketika melewati Peter, tak sengaja bahunya menyenggol pemuda itu.
Namun, entah kenapa tubuhnya malah yang membuatnya jatuh sendiri, seakan ia menyenggol sebuah dinding. Tapi secara reflek, tangan Peter bergerak meraih lengan perempuan itu agar tidak terjatuh.
___________
Jangan Lupa Like.
ternyata kalo tdk dijdkan favorit/masuk rak buku, malah like yg sebelumya hilang semua..