Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besok, Ikut Aku!
Setelah Ardan melamar Sasha di depan umum, mereka berdua kemudian turun dari panggung. Sasha masih begitu canggung, dia duduk di sebuah kursi untuk tamu undangan. Sementara Ardan, berdiri tak jauh dari Sasha, dia sedang mengobrol dengan seorang pengusaha di bidang kuliner yang produknya kini sedang naik daun.
Nyonya yang juga sudah turun dari panggung kemudian menghampiri Sasha. "Kamu menikmati pesta ini sayang?" Ujar Sang Nyonya Besar.
Sasha diam dan tersenyum mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Nyonya Nasyila.
"Ikut aku" pinta Nyonya Nasyila pada Sasha, lalu kemudian ia berdiri meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh Sasha.
Setelah sampai di tempat yang tidak banyak orang, nyonya Nasyila mulai berbicara.
"Kamu tau? Saya sangat senang melihat Ardan mau melamarmu di depan umum" ujar Nyonya Nasyila.
Sasha menunduk dan tersenyum.
"Sebelumnya Ardan hanya membawa wanita bayarannya untuk menjadi pacarnya. Tujuannya adalah agar kami tidak menjodohkannya" lanjut Nyonya Nasyila.
Sasha masih menyimak.
"Namun, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Begitulah! Semua wanitanya tertangkap basah oleh kami bahwa mereka hanyalah orang bayaran Ardan..." Sambung Nyonya Nasyila "... saya menaruh besar harapan pada dirimu, bahwa kamu tidak seperti wanita-wanita itu. Kamu mencintai Ardan dengan tulus kan?" Nyonya Nasyila bertanya sambil menatap mata Sasha lekat-lekat.
Belum sempat Sasha menjawab, Ardan sudah menghampiri mereka berdua.
"Ma! Ardan ingin berdua bersama Sasha sekarang! Bolehkan?" Ujar Ardan.
Nyonya Nasyila hanya tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.
Ardan membawa Sasha ke tempat yang berbeda.
"Pak Ardan kenapa membawa saya kemari?" Tanya Sasha dengan sedikit ketus.
"Kamu begitu ramah pada ibuku, namun kenapa jadi begini saat bersamaku?" Tanya Ardan.
"Dengarkan aku Sasha..." Ardan menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang dapat mendengar percakapan mereka "... aku minta maaf karena telah melibatkanmu pada urusan keluargaku, aku mengaku bersalah. Aku akan memberimu kompensasi selama pernikahan kita nanti berlangsung..." perkataan Ardan terpotong karena melihat seseorang sedang mencoba menghampirinya "...Kita akan membicarakan hal ini nanti lagi. Darius sedang kemari aku mohon kerja samamu" Ardan mengakhiri perkataannya, lalu mengganti mimik mukanya menjadi tersenyum seperti orang sedang berbahagia, dia juga merangkul pundak Sasha, membuat Sasha bergidik sambil melihat ke arah tangan Ardan yang berada di bahunya.
"Aku tidak menyangka kau mencuri ikan bagianku tepat setelah aku berkata bahwa aku menginginkannya" Darius berkata sambil menyindir Ardan.
"Ikanmu belum dibeli oleh siapapun, aku juga tidak pernah menyangka jika ibuku sangat menyukainya dan berani mengambil darimu" jawab Ardan sedikit tak mau kalah.
"Oh jadi ini pertarungan antara aku dan Nyonya Nasyika? Kukira kau yang benar-benar menginginkannya" Ujar Darius yang kemudian mencoba memegang tangan Sasha.
"Jangan menyentuh sesuatu yang menjadi milik orang lain" sergah Ardan sambil menghalangi tangan Darius kemudian dia mempererat pelukannya di bahu Sasha.
Sasha merasa jika suasana ini menjadi tidak enak, dia mencoba melepaskan diri dan keluar dari situasi ini.
"Kalian masih membicarakan ikan? Aku sebaiknya pergi" ujar Sasha.
"Kau tidak boleh pergi kemanapun, aku belum selesai berbicara denganmu" ucap Ardan yang lebih mencengkeram bahu Sasha.
"Sepertinya aku mengganggu pembicaraan kalian, aku pergi dulu" Ucap Darius sambil membalik badan.
"Tapi aku berharap kamu masih bisa membuat brownis untuk Tsabiya meskipun kamu telah menjadi Nona Muda keluarga Adinata" Ujar Darius lagi, kini ia benar-benar pergi meninggalkan Ardan dan Sasha.
Ardan hanya menatap sahabatnya tersebut dengan perasaan bersalah, namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Emosinya yang memuncak karena Sania membuatnya melakukan hal gila ini. Ya, Ardan berencana membuat Darius merasakan penderitaannya ketika mencintai seseorang yang dimiliki orang lain.
****
Di sebuah desa pinggiran kota, terdapat sebuah vila mewah yang dihuni oleh sepasang orang tua lanjut usia dan beberapa pelayannya.
Orang tua tersebut melihat penayangan berita di TV yang sedang memberitakan acara lamaran seorang pengusaha kaya, yakni Ardan Rayga Adinata, Putra dari Bagus Adinata.
"Anak nakal, beraninya mereka mengumumkan pada semua orang tapi melupakan kita berdua" ucap wanita tua bernama Dawiyah tersebut.
"Aaah, buat apa? Kita sudah bahagia disini sayangku, biarlah mereka bersenang-senang sedikit, itu hanya sebagian kecil hiburan bagi mereka dari semua keseharian mereka yang pasti sangatlah melelahkan..." sang kakek tua menimpali sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang sama dengan Dawiyah "... aku hanya berdua denganmu seperti ini, sudah sangat bahagia, mereka tidak harus membagi kebahagiaan kecil mereka pada kita, kita sudah tidak memerlukannya lagi." ujarnya lebih lanjut setelah ia duduk di samping istrinya.
"Aah kau ini, bukan begitu! Mereka mendapat kabar bahagia, kenapa melupakan kita?" Ujar Dawiyah merasa tak mau kalah.
Laki-laki tua yang duduk disampingnya itu membelai lembut rambut wanitanya.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita undang perempuan itu kemari?" Tawar Syahid, sang kakek tua, suami Dawiyah.
"Mereka kalau ingat biarkan datang kemari, kalau tidak, tak usah undang-undang. Kita hanya orang tua cerewet di mata mereka" ujar Dawiyah.
Syahid tersenyum. Dia sangat mengerti istrinya. Karena ini menyangkut perempuan yang akan menjadi pendamping keturunan Adinata. Istrinya begitu selektif memilih menantu, termasuk dulu ketika Bagus Adinata hendak menikahi Nasyila. Istrinya begitu banyak memberi persyaratan pada Nasyila, untung saja Nasyila wanita tegar sehingga dia mampu melewati masa-masa itu. Hanya saja sebenarnya, tanpa disadari oleh Nasyila, Dawiyah begitu senang memiliki menantu seperti Nasyila.
Syahid Adinata sedang memprediksi bahwa hal-hal yang dulu menimpa Nasyila, juga akan dialami oleh cucu menantunya yang sekarang.
*****
Setelah acara selesai, keluarga Adinata beristirahat di rumah mewahnya. Sasha diminta menginap oleh Nyonya Nasyila. Namun Sasha menolak karena khawatir orang tuanya akan mencarinya.
"Lebih baik saya pulang Nyonya, eeh tante" jawab Nasyila sedikit canggung.
"Haaaah" Nyonya Nasyila menghela napasnya. "Baiklah jika kau bersikeras ingin pulang, biar Ardan yang mengantarmu" lanjut Nyonya Nasyila.
"Aku sibuk ma, sepertinya aku tidak bisa mengantar Sasha, biarkan dia diantar pengawal saja" ujar Ardan menolak.
"Tak apa tante, saya akan pesan taksi" jawab Sasha.
"Rumah saya berada di komplek yang sama dengan Sasha, saya tidak keberatan mengantar Sasha" Darius tiba-tiba muncul dan menawari Sasha untuk pulang bersama.
"Oh begitu, baiklah Sasha bersama Darius ya! Tante sedikit khawatir jika tidak ada yang menemani" kata Nasyila.
"Jangan khawatir tante, saya selalu siap untuk MENJAGA SASHA" Darius menekankan kata-kata terakhirnya, matanya juga melirik pada Ardan seolah memberi tanda persaingan pada sahabatnya.
Nasyila tidak menjawab, dia sedang berbisik dengan salah satu pengawal. Raut wajahnya terlihat khawatir dan terkejut mendengar ucapan dari pengawal.
"Tolong beritahu Ardan!" Pinta Nasyila pada pengawal.
"Ah maaf, tadi pengawal memberi tahu bahwa kakek dan nenek Ardan telah menelepon..." ucap Nasyila pada Darius dan Sasha "...Sasha kamu boleh pulang bersama Darius, tapi besok kamu harus datang lagi, ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu. Untuk hari ini, kamu beristirahatlah" lanjut Nasyila.
"Sasha tidak perlu pulang..." Ardan menghampiri Sasha dan melepaskan tangan Sasha dari Darius "...aku sudah menghubungi orang tuamu, malam ini beristirahatlah disini, besok aku mengajakmu pergi dan kita harus berangkat pagi" Ardan membawa Sasha dan menjauhi Darius.
Darius menggeretakkan giginya karena geram terhadap perilaku Ardan. Namun dia menahan amarahnya karena ada Nyonya Nasyila yang memerhatikan mereka.
Darius mengubah ekspresinya menjadi tersenyum hangat, kemudian menatap Nyonya Nasyila.
"Kalau begitu, saya permisi tante" pamit Darius sambil membungkukkan badan.
***
Kemana Ardan membawa Sasha pada esok hari?
Jangan lupa like, vote, share dan komennya untuk mendukung Author agar bisa update setiap hari.
Dan klik tanda hati, agar tidak ketinggalan setiap episode dari Mendadak Khitbah. Terima kasih.
*****
Bersambung...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..