Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 14
Gadis cantik yang kini telah selesai mandi, secara langsung mendekati pria tampan yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan pria lain di tepi danau. "Kak Renggra ngapain di sana? Ayo pulang! Kenapa nggak mandi juga sih?" tanyanya sembari berpekik.
Kedua pria itu sontak menoleh bersama mendengar suara pekikan wanita muda yang menghampiri mereka.
"Kak Renggra kenal dengan kak Angga?" tanya Laura kembali. Wajah wanita itu terlihat sekali kesal di campur ingin tahu.
Renggra dan Angga pada akhirnya berdiri sembari menepuk pelan bokong masing-masing. "Aku mandi di rumah aja setelah di jemput oleh keluargaku, mungkin nggak lama lagi mereka akan datang," jawab Renggra.
Ia tahu, pasti orang-orang di rumahnya saat ini sedang menuju ke tempat itu. "Aku barusan berkenalan dengannya dan sekarang kami akan menjadi teman dekat—dia tadi yang menemukanku di hutan," Renggra berbicara pada Angga juga.
"Berterimakasihlah pada Laura. Bersyukur Kau masih terselamatkan. Di sana ku dengar ada macam tutul berjenis langkah. Banyak juga sih warga di sini yang di serang oleh hewan itu," ucap Angga menakuti Renggra.
Laura sendiri menahan tawanya. Jika hewan itu ada, mereka yang di dalam hutan tadi sudah habis dong di makan hewan itu. Kerjaan Angga sepertinya kelewatan batas.
Sedangkan Renggra mendelik ketakutan. Detak jantungnya berdetak sangat kencang. Sepertinya ia berhutang nyawa dengan gadis di hadapannya itu.
“Ayo Kak pulang sebentar lagi mau malam," ajak Laura kembali.
Renggra melihat Angga. "Kau ikutkan?" ia memastikan kembali persetujuan Angga tadi.
Angga tertawa renyah. Renggra begitu terlihat cemas jika ia tidak ikut. "Iya Tuan Renggra. Aku cuci tangan dulu sekalian meletakkan ikan ini di rumah," jawabnya sambil memegang alat pancingnya dan wadah berisi ikan. Ia langsung saja berjalan meninggalkan Laura dan Renggra.
Renggra mau ikut tapi tidak berani bertemu orang lain yang tidak sama sekali ia kenal. Jadinya ia hanya menunggu di tempat itu bersama gadis di hadapannya. "Aku tunggu di sini Ga!" pekik Renggra. Takutnya Angga tidak kembali.
Angga tersenyum manis sembari mengangguk mantap. "Tunggu sebentar di sana!" pekik Angga dari kejauhan.
Renggra mengangguk cepat.
"Kakak, kalau pulang, mainlah ke panti lagi. Kita bisa main bersama." Laura merasa sedih bahwa pria tampan yang sedikit tua darinya itu akan pulang. Padahal mereka berdua baru saja bertemu.
Khas wajah pria tampan itu mendatar, seperti malas melihat gadis di sampingnya. Entah mengapa dadanya begitu kurang nyaman saat melihat Laura. "Insyaallah," jawabnya singkat.
Laura menekukkan wajahnya. Renggra sepertinya masih marah padanya. Ia menjadi bingung, apa sebenarnya yang telah ia lakukan sampai pria itu begitu membencinya. 'Aneh banget.' bola matanya menjadi sayu dan tak bersemangat.
...***...
Hari sudah memasuki waktu sore, wanita cantik yang sedari tadi sibuk mondar-mandir melihat pintu dan segala ruangan itu, tak bisa berhenti dalam memikirkan anak asuhnya.
Ia sangat resah dan gelisah. Ani bukan tak ikut mencari lagi. Ani ikut, tapi juga tak menemukan anak asuhannya itu. Apalagi pegawai yang tidak kunjung memberikan kabar.
Wanita cantik itu pada akhirnya menggerakkan semua orang yang bisa mencari Renggra. Ia hanya menunggu di rumah saja. Takutnya anak asuhnya sudah pulang ke rumah. Nyatanya di rumah juga Renggra belum pulang.
"Kamu di mana sih Nak? Kenapa belum ada juga kabar tentangmu. Pergi kemana Kamu?" kepalanya kian terasa pusing. Kemana ia harus mencari anak asuhannya itu.
Tibanya beberapa orang berjas hitam ala-ala bodyguard masuk ke dalam rumah untuk mendekati Ani. Bukan tak bahagia Ani akhirnya bisa mendengar kabar dari pegawainya yang datang menemuinya.
"Katakan! Di mana anakku?" Ani sudah tak sabaran.
"Kami menemukan tuan kecil tengah berada di sebuah rumah panti asuhan di dekat bukit hampir melewati tiga wilayah di sekitar pemakaman."
Wajar saja mereka tidak menemukan pria muda itu. Ternyata cukup jauh dan terpelosok rupanya.
"Kami menemukannya lewat sinyal yang terpasang di sepatu tuan kecil," jawab dari salah satu kedua pria itu.
Senang mendengar sang buah hati di temukan, wanita itu mengucap syukur.
"Sepertinya tuan Renggra dalam keadaan baik-baik saja Nyonya," ucap pria satunya lagi.
"Tenang Nyonya! Kami yakini bahwa tuan kecil dalam kondisi aman. Kami telah mengirim orang-orang yang dapat memantau tuan secara langsung dari jarak kejauhan. Kami tadinya ingin langsung menuju lokasi, namun dari informasi yang kami dapatkan, sepertinya tuan dalam keadaan sangat bahagia di sana. Alangkah baiknya jika kami melaporkan kepada Nyonya dan meminta pendapat tentang hal ini dulu. Mengingat bahwa kondisi tuan kecil masih dalam berduka."
Ani paham maksud dari dua pegawai di hadapannya itu. "Lebih baik aku saja yang menjemputnya secara langsung. Kita nggak tau sebenernya tuan kecil kabur atau di culik dan di selamatkan orang di sana. Jika di selamatkan bukannya kita harus memberikan balasan untuk mereka," jelas Ani dengan kedua pria itu mengangguk pelan.
"Iya sudah, lebih baik kalian suruh semua pegawai untuk bekerjasama dan membantu menyiapkan sesuatu untuk di bawakan ke panti itu," perintah Ani.
"Siap Nyonya!" balas mantap kedua pria itu.