Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yusuf (1)
Aku seorang CEO dari sebuah perusahaan memiliki beberapa cabang termasuk di negara kelahiranku, aku bekerja sama dengan sahabat baikku hingga bisa membuat beberapa cabang dan dibantu do'a dari kedua orang tua tentunya.
Lama diluar negri membuatku rindu negara asalku sendiri. Begitulah, Hari ini aku berencana kembali ke Indonesia negara kelahiranku. Segaja tak mengabari siapapun, ingin memberi kejutan pada seluruh anggota keluarga. Aku menaiki taksi menuju rumah.
Taksi mulai membelah jalanan menuju rumahku, tepatnya rumah orang tuaku. Hanya butuh waktu 30 menit taksi sudah berada tepat didepan rumah orang tuaku
Memencet bell beberapa kali, tak lama setelahnya seorang gadis cantik, dengan wajah terkejut diiringi senyum sumbrigah dari wajahnya
"Kakak!!" Dengan cepat dia memelukku. Tak kalah senangnya kubalas memeluknya sayang. Dialah Bella adikku satu-satunya
"Assalamualaikum "
"Wa'alaikumussalam, kakak kenapa baru pulang, aku kangen tau."gumamnya pelan
"Ehemm. Gak disuruh masuk gitu, kakak baru dari perjalanan jauh loh"
"Eh, iya ayo masuk semua lagi dirumah kok cuma Papa lagi kerja, kak Nara juga nginap sini beberapa hari" Bella menarik tanganku mengikutinya masuk, setelah seorang bibi membawa koper kecilku kekamar.
"Siapa yang datang Bell?"tanya Mama tanpa menoleh, kak Nara pun sedang bermain dengan putranya.
"Lihat sini dong, Ma!" seketika Mama menoleh. Diikuti Kak Nara tentunya.
"Yusuf!!"ucap Mama dan Kak Nara bersamaan. Ku hampiri wanita terhebat dihidupku. Menyalami dan memeluknya
"Ma, Yusuf kangen"ujarku manja. Beliau pun membalas memelukku
"Mama juga"balasnya lirih, menangkup wajahku dan menciumnya bagai mencium anak kecil.
"Kenapa gak ngabarin mau pulang?"
"Inilah namanya surprise!!" Kurentangkan tangan ingin memeluk lagi tapi sekarang malah Kak Nara muncul didepanku.
"Surprise, surprise. Sapa kakak juga dong, Rico juga kangen pamannya nih" Dia menyerahkan Rico padaku, Rico adalah keponakanku, usianya baru 3 tahun.
Aku mengendong Rico sayang, dia sangat lucu, sepertinya lelahku akan hilang kalau ada keponakan seperti Rico
"Hehe. Aku bawa Rico kekamar ya kak."
"Gak usah kamu capek mending istirahat sana nanti main lagi"
"Iya deh Yusuf ke kamar dulu ya, kalau mau oleh-oleh ada dikoper besar itu, ambil aja"kucium sekilas pipi wanita hebatku, mengacak kepala Bella pelan yang tertutup jilbab dan berlalu kekamar. Lelahh....
°°°°°°
Aku dan satu keluarga tengah duduk disofa setelah makan malam tadi ditambah dengan seorang Abang ipar juga, dengan Tv menyala aku pun tak menonton, hanya fokus pada ponsel digengaman.
"Yusuf, mumpung kamu udah pulang, Papa mau bicara serius" semua mata tertuju padanya termasuk aku.
"Bicara apa, Pa?"tanyaku
"Kamu sekarang udah mapan, punya pekerjaan tetap, umur pun sudah cukup untuk menikah." Semua diam seperti terkejut, lalu semua serentak menoleh ke arahku
"Iya, Yusuf akan cari calon dulu, tapi sekarang belum sempat" kilahku kembali pandanganku fokus pada ponsel. Sebenarnya aku sudah lama mencintai seorang perempuan, yang waktu sekolah dulu. Aku ingin mencarinya sekarang.
Dulu disekolahku ada 2 sekolah berdekatan SMA dan SMP, hingga tak sadar aku jatuh hati pada salah satu gadis SMP tentunya. Kukira ini hanya cinta monyet tapi sampai sekarang hatiku masih mencintainya bahkan membayangkan wajahnya saja membuatku jantungku berdetak tak karuan. Aku juga pernah mengambil beberapa fotonya melalui ponsel dulu hingga ku jadikan lembaran foto. Aku punya simpanan foto itu dikamarku.
"Yusuf" aku pun kembali menoleh
"Papa udah punya calon untukmu, Anak teman Papa. "
"Tapi gak bisa gitu dong Pa!"protesku
"Kamu ini belum lihat udah nolak" bapak menyodorkan sebuah foto seorang gadis cantik, dia benar-benar cantik dimataku. "Namanya Ayuna putri usianya 23 tahun."
Kuraih foto yang diletakkan oleh Papa dimeja tepat didepanku. 'Ayuna putri, aku seperti pernah mendengarnya dan wajahnya pun tak asing' mencoba mengingat tapi tak bisa.
"Baiklah, Yusuf pikir-pikir dulu" ucapku seraya bangun ingin menuju kamar kembali.
"Waktumu hanya hanya 2 hari untuk berfikir, jika tidak dia akan dijodohkan dengan orang lain."
"Iya, Pa" aku berlalu .
•••••••
"Halo, Rick tolong carikan info tentang Ayuna putri berusia 23 tahun, cari seluk beluknya. Dan foto dari masa kecil hingga sekarang"Erick adalah temanku dari SMP hingga sekarang, sekaligus orang kepercayaanku. Dia bisa mencari informasi dengan cepat.
"Nama itu banyak kali, lu kirim fotonya biar gue bisa nyari"
"Oke. Gua kirim fotonya" aku menfoto cepat dan mengirimnya." Gua tunggu info dari lo"
"Iya, tunggu bentar. Bakal gua cariin"
"Thanks"
Kupandangi foto digengaman dengan seksama, kenapa wajahnya begitu familiar, tapi aku tak mengingatn.
10 menit kemudian ponselku kembali berdering
"Halo"
"Gila!!. Inikan cewek yang lu suka dulu waktu kita SMA, lu inget gak, cewek SMP tetangga itu loh" yang bener aja, masa dia masih ingat aja tuh cewek.
"Apaa?,lu becanda kan? coba kirimin fotonya semua biar gua yakin" tak lama notifikasi masuk foto seorang gadis dari SD, SMP, SMA hingga Sekarang . Kucari foto lamanya di laci nakas samping tempat tidur. Aku membandingkan foto-foto yang kulihat. Ternyata benar, aku mengenalnya sekarang.
"Thanks. Bro" kututup telpon setelahnya.
Senyumku mengembangkan membayangkannya. Kalau jodoh emang gak kemana. Gak salah pilihanku buat pulang kesini. Ayuna putri aku datang. Aku jadi tertawa sendiri.
°°°°°
Pagi menjelang aku sudah siap dengan setelah kantor, bergegas menuruni tangga untuk sarapan bersama. Semua sudah berkumpul disini kami makan dalam diam, karena memang ini aturan terkecuali bagi Rico tentunya.
Aku hari ini ingin pergi kekantor cabang indonesia. Mengecek sekaligus menetap disini untuk beberapa tahun.
"Pa, Ma, Yusuf berangkat ya?" Menyalami keduanya bergantian
"Eh. Tunggu" aku kembali berbalik, Mama terlihat ragu untuk bertanya.
"Ada apa Ma?"tanyaku
"Gimana? kamu terima gak gadis yang semalam?"Terlihat Mama bertanya dengan hati-hati, seketika senyumku mengembang membayangkannya.
"Iya, Yusuf terima"
"Bener!!"tanyanya memastikan
"Heem, Mama boleh siapin apa aja, untuk calon menantu mama itu, kalau perlu Yusuf antar Mama kemana pun. Call me Mom. Assalamualaikum "
"Wa'alaikumussalam "
"Ehem. Semalem nolak, sekarang kayak orang jatuh cinta, aneh dia Ma" kudengar sekilas ucapan Papa. Aku hanya terkekeh sendiri sambil berlalu.
°°°°°°
Sudah 2 hari berlalu, hari ini aku akan melamar cintaku yang lama. Ayuna kita akan bertemu hari ini. Sepanjang perjalanan aku hanya tersenyum, sungguh aku tak bisa menahan senyumku.
Rumahnya tak jauh hanya karena kami bertiga jadi tetap menggunakan mobil, kukira rumahnya agak jauh. Kulihat rumahnya lumayan besar. Aku jadi deg-degan sendiri jadinya.
Masuk kerumah berlantai dua itu, diruang tamu berbaris rapi bingkai-bingkai foto, ternyata ada dua gadis dirumah ini. Mereka terlihat mirip walaupun ternyata berbeda. Kami dipersilahkan duduk disofa ruang tamu, saat hampir bersamaan kulihat dua orang gadis turun dari tangga, mataku rasanya tak berkedip menatap pujaan hati. Dia nampak lebih kecil dari saudarinya atau bisa dikatakan imut kali ya.
Membicarakan maksud kedatangannya dan menyerahkan cincin yang disematkan oleh ibunya sendiri.
Kami diberi waktu berdua untuk berbicara, bukan diruan tertutup tentunya. Aku masih ragu untuk memulai, Hingga
"Ma'af ingin bicara apa?"tanyanya padaku
"Ah ya, kenapa kau ingin menikah denganku? "Tanyaku berbasa-basi
"Maaf sebelumnya jujur memang aku belum ingin menikah, tapi aku menyayangi adikku, aku tak ingin dia sedih karena tak bisa menikah sebelum aku menikah terlebih dahulu" Aku tau sekarang dia terpaksa menikah untuk adiknya sendiri, dia pasti sangat menyayangi adiknya
" Begitu ya?"tanyaku hilang semangat
" Maaf bang, aku tidak maksud apa2, aku akan belajar mencintaimu, dan memenuhi kewajibanku, kumohon ya?"Lihatlah dia memohon sangat lucu
"Huft. Baiklah karna aku terlanjur melamarmu, apa boleh buat." Ujarku lagi pura-pura pasrah
"Sekali lagi aku minta maaf ya bang, aku takut berbohong, jadi kukatakan saja kebenarannya" terangnya lagi
"Tenanglah,"hiburku
"Kalau boleh tau kenapa abang mau menikah denganku?"
"Karenaa..." aku ingin membuatnya penasaran"Aku mencintaimu" jawabku santai, dia melonggo dengan mulut terbuka lebar, jika dikarakter kartun mulutnya mungkin sudah berada dipermukaan tanah
"Haha. Aku bercanda" tawaku pecah melihat ekspresinya yang lucu.
Setelahnya aku hanya bicara santai dia nampak sangat malu, darinya aku tau bahwa dia sudah bekerja disebuah kantor sebagai karyawan biasa. Dia juga tak mau bergantung pada orang tua, ingin mencari pengalaman sendiri, walau bapaknya punya sebuah perusahaan.
Aku tak mau pulang rasanya tapi aku harus pulang. Harus menunggu waktu untuk bisa tinggal dirumah itu dengan berat hati aku pulang kerumah.
Aku akan menikahinya dalam satu bulan, lihat saja. Aku benar-benar sudah tergila-gila padanya.
Segera aku masuk kamar untuk shalat dan istirahat. Setelahnya aku benar-benar tertidur.
°°°°°°°
Malam menjelang setelah makan dan shalat aku tak mengerjakan apapun hanya membuka sosial media mengikuti akun dengan nama pujaan hati. Sangking senangnya tak terasa jika aku sudah berada di alam mimpi.
°°°°°°°°°
Aku bangun cukup awal pagi ini, setelah dari mesjid aku memilih jalan santai dari depan rumah hingga menuju arah kemarin aku pergi. Kuhitung satu persatu rumah yang kulewati, sudah sekitar 20 rumah. Aku pun tak melihat jalanku, asik dengan rumah orang disini.
Bugh
"Aw.." jeritnya pelan. Seseorang menabrakmu hingga jatuh, dia menunduk.
"Kau tak apa?" Aku terpaku saat Melihat Ayuna, dengan cepat ku ulurkan tangan membantunya berdiri. Dia tetap berdiri sendiri. Ah aku jadi lupa diri.
"Ah ya. Maaf!" Aku menarik kembali tanganku.
"Ngapain Abang disini?"tanyanya. Dia terlihat sebal
"Ya jalan pagi lah, ngapain lagi coba?" Tanyaku kembali
"Mana tau aku, kan cuma nanya"ketusnya
"Kau tak tau?" Tanyaku
" Ya iyalah, kan belum dikasih tau"balasnya
" Ah iya, Rumahku tak jauh dari sini sebenarnya" jelasnya.
"Aku tak tanya"jawabnya cuek.
"Rumah orang tuaku berjarak sekitar 30 rumah dari rumahmu dan ya, aku baru pulang beberapa hari lalu"jelasku lagi.
Aku berjalan menyusuri trotoar bersamanya, serta beralasan mengantarnya pulang dengan aman. Padahal aku ingin berlama-lama dengannya. Hehe.
Aku kembali kerumah untuk bersiap kekantor aku sangat senang hari ini
Mobil melaju membelah jalanan. Tak ada sesuatu berarti, hanya lampu merah saja, saat menoleh kesamping ada pujaan hati yang ikut terjebak lampu merah, pasti berpolusi. Kasyiiaann.
Tak lama pun lampu merah berubah hijau, aku kembali melajukan mobil sambil mengikuti sang pujaan hati.
Aku tau sekarang kantornya, aku bisa menguntitnya juga sekali-kali. Kenapa tingkahku jadi konyol begini. Biarlah. Hahaha
°°°°°
Aku yang sedang dalam ruang rapat ini entah kenapa tak bisa fokus, aku pusing sendiri memikirkan pujaan hati. Selesai dengan persoalan rapat aku menelpon Ibu supaya mendatangi rumah si pujaan hati dan bisa menikahinya dalam waktu dekat aku benar-benar tak sabar. Kebelet nikah kali ya?
Sepanjang hari aku hanya senyum-senyum memikirkannya, kedua sekretarisku pun nampak bingung melihat tingkahku. Sudahlah tak penting.
°°°°°°°°
Lihatlah sekarang aku sedang berada didepan penghulu bersiap mengucapkan ijab qabul, Mama dulu mengatakan akan melaksanakan pernikahanku seminggu lagi. Aku girang bukan main, dikamar aku loncat-loncat sendiri diatas kasur seperti seorang cewek saja.
Dalam waktu seminggu juga persiapan sudah rampung, persiapannya cukup mewah tapi sederhana. Mama dan calon Ibu mertua menyiapkan dengan baik. Aku sangat bahagia.
Dengan satu tarikan nafas aku berhasil mengucapkan ijab qabul dengan baik, setelahnya semua mengatakan 'Sah'.
Aku seperti melihat bidadari turun dari atap rumahnya, sungguh indah ciptaan Allah yang satu ini. Dia duduk tepat didepanku yang juga sudah menghadapnya. Dengan malu-malu dia menyerahkan tangannya untuk kupakaikan cincin secara langsung, begitupun sebaliknya. Jantungku rasanya mau copot ketika dia meraih tanganku untuk menyalaminya, dan untuk pertama kali aku mencium keningnya. Sepertinya suara jantungku terdengar olehnya, mau ditaruh dimana wajahku.
akhirnya aku menikah. aku ingin loncat-loncat rasanya. hehe
°°°°°
hola guys ini janji author udah kesampaian ya, ikuti terus ceritanya
jangan lupa follow, vote, like and comen ya
love you all 😍😍
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati