Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fourteen
Menyenangkan sekali rasanya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, walaupun hanya bertiga tanpa orang tua, Sheilla cukup senang.
Terakhir kali mereka berjalan bersama seperti ini adalah 3 tahun yang lalu, itupun hanya menghabiskan waktu melihat senja di pantai.
Jika kalian pikir mereka tengah menghabiskan waktu di mall, maka kalian salah.
Nyatanya kini mereka berada di sebuah taman bermain, menaiki wahana-wahana ekstrem yang membuat perut terasa terkoc*k.
"Oh, aku tidak akan mau menaiki wahana satu ini," Nathan sudah mengaku menyerah ketika melihat bagaimana para pengunjung di bobalik seperti es koc*k oleh wahana mengerikan itu.
"Hey, ayolah. Apakah kau benar-benar seorang laki-laki?" Sheilla menatap remeh sang kak.
"Heh! jangan pernah meragukan kelamin ku!" Nathan tak Terima.
Sheilla tersenyum miring mendengar jawaban itu, "Jika kau benar-benar seorang laki-laki, maka kau harus berani menaiki ini, brother."
"Sudahlah kak, Kak Nathan itu pecundang," Ucap Alena semakin memanas-manasi.
Oh, dirinya diremehkan, itu membuat ego Nathaniel Abraham terluka asal kalian tahu. Nathan adalah lelaki sejati, ia tidak bisa membiarkan dirinya di ragukan, apalagi oleh kedua adik perempuan nya sendiri.
"Baiklah, aku akan menaiki wahana ini."
Sheilla dan Alena saling menatap satu sama lain dengan senyuman penuh arti tanpa Nathan sadari.
•
•
S*alan, seharusnya sejak awal Nathan tidak usah memperdulikan ejekan dari Sheilla dan Alena.
Sekarang lihatlah, kepala laki-laki itu sungguh pusing, perutnya mual, rasanya ia ingin sekali muntah.
"Woah... Aaa... Ini sangat menyenangkan." Berbeda dengan sang kakak, kedua gadis cantik itu terlihat sangat menikmati wahana yang tengah mereka naiki.
Nathan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya setelah mereka turun dari wahana mengerikan itu.
Oh si*lan, badan Nathan langsung lemas seketika setelah seluruh isi perutnya keluar.
"Minum dulu bang." Sheilla menyodorkan minuman yang baru saja di beli oleh Alena.
"Kayaknya habis ini lo gak perlu buang air deh bang, udah keluar semua soalnya isi perut lo." Alena tertawa seolah tak memiliki dosa.
"Bener-bener adik luckn*t ya lo berdua."
Senyuman manis namun mengerikan di tunjukkan oleh kedua gadis dengan wajah bang Angel itu.
Padahal aslinya Devil.
•
•
•
Hari ini Alena dan Sheilla benar-benar membuat Nathan menderita, mereka terus saja mengerjai laki-laki itu.
Mulai dari mengajak Nathan bermain wahana ekstrem, ikut challenge make up hingga membuat wajah Nathan terlihat seperti badut, lalu bermain basket dan sengaja melempar bola itu hingga selalu mengenai Nathan, lalu mereka membuat Nathan berfoto dengan cosplayer Tsunade yang sangat Nathan takuti.
Bukan apa, hanya saja boba besar itu membuat Nathan ingin berlari sejauh-jauhnya dari sana.
Tak berhenti sampai di situ, mereka memaksa Nathan memakan gula kapas padahal laki-laki itu sangat benci dengan makanan manis.
"Puas kalian habis ngerjain aku?" Nathan berkacak pinggang. Dia tuh udah gak bisa di giniin terus, harga dirinya di injak-injak!!
"Orang ganteng di larang marah, entar ganteng nya hilang."
"Gue gak marah kok."
"Emang yang bilang lo ganteng siapa bang?"
S*al, si bungsu sangat ahli meledek ternyata.
"Pengen tukar tambah adek bisa gak sih?" Nathan gak tahan, sungguh, punya adek kayak mereka tuh udah kayak siksa neraka.
"Kamu gak akan menemukan adik yang lebih sempurna dari pada kami." Sheilla dengan percaya diri mengibaskan rambut panjang nya.
Alena mengangguk tanda setuju dengan ucapan kakak perempuan nya itu, "Ya, adik seperti ini itu unlimited, gak akan bisa di temukan di manapun."
Nathan memicingkan mata sinis, pede sekali wahai adik-adik durjana ini.
•
•
Pagi yang sangat indah, semalam adalah waktu terbaik dalam hidup Sheilla.
Tak masalah jika tak ada kedua orang tuanya, setidaknya ia memiliki adik dan kakak yang peduli kepadanya.
Melihat layar ponsel nya yang menyala, Sheilla pun buru-buru meraih benda pipih itu, melihat siapa yang mengiriminya pesan pagi-pagi seperti ini.
...-Line-...
Mommy Na
Selamat ulang tahun sayang, mommy sudah membelikan hadiah untuk kamu.
Mommy membelikan kamu mobil, semoga kamu suka.
^^^Thanks mom.^^^
...-Dunia Nyata-...
Sheilla menghela nafas, selalu saja. Ia hanya akan mendapatkan hadiah untuk ulang tahunnya, tapi hadiah yang paling ia inginkan tidak pernah ia dapat kan.
Ia hanya ingin orang tuanya ada di rumah, mengucapkan selamat ulang tahun langsung kepada nya, apakah sesulit?
Apakah jika mereka tidak bekerja sehari saja perusahaan akan bangkrut? Apakah jika mereka mengambil libur bekerja sehari saja, dunia akan kiamat?
Sheilla sering berpikir, apakah sebenarnya ia dan saudara-saudara nya benar adalah anak mereka?
Terkadang ia merasa asing dengan kedua orang tuanya, jujur.
Tak mau terlarut lebih lama dalam pikiran nya, Sheilla pun beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap pergi sekolah.
Menaiki bus seperti biasa, dan selalu bertemu Adnan. Mereka sudah semakin dekat dari hari ke hari, namun sayangnya Adnan masih belum berani meminta nomor gadis itu.
Berbeda dengan Ryan yang langsung mendapatkan nomor Sheilla sehari setelah gadis itu kembali masuk sekolah karena katanya sempat pergi ke rumah neneknya.
Semua berjalan normal, hanya satu hal yang aneh. Amanda dan para antek-anteknya terlihat seperti menghindari Sheilla.
Mungkin mereka masih takut akan kejadian kemarin, yah, mungkin saja.
"Pulang sekolah lo harus langsung ikut gue basecamp ya, pokoknya gue bakal nyulik lo waktu pulang sekolah," Ucap Vicky yang merangkul Sheilla.
"Gue ikut ya," Oh, Alena sangat merindukan kekasih nya; si dewa penghancur.
Vicky melirik malas Alena, "Bilang aja lo mau bucin sama si tangan ajaib kan."
"Lah emang iya, emang gue ikut ke sana mau ngapain? jadi tukang bersih-bersih?" Jengkel gadis dengan perawakan seperti laki-laki itu.
"Boleh juga tuh, lo jadi tukang bersih-bersih aja nanti."
Alena memukul Vicky cukup kencang membuat laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengan Sheilla itu meringis, "Gak sudi anjirr!"
Akhirnya Alena dan Vicky berantem sampai kejar-kejaran, meninggalkan Sheilla sendiri.
"Shei." Sebuah kotak kado kecil terulur di depan Sheilla, membuat gadis itu menatap Ryan bingung.
"Ini kado ulang tahun dari gue buat lo." Tanpa di tanya pun, Ryan langsung tahu arti tatapan bingung yang Sheilla berikan padanya.
Gadis itu tersebut, menerima kado dari Ryan,"Thank's, tapi kok kamu tahu kalau aku ulang tahun?"
"Syuuttt... Itu rahasia." Ryan mengedipkan mata, kedua sudut bibir nya tertarik membuat senyuman tipis.
Sheilla tertawa, entahlah, Ryan terlihat sangat lucu.
Melihat Sheilla tertawa, Ryan pun tersenyum. "Mau ke kantin? aku traktir kamu," Tawarnya.
Sheilla mengangguk, "Boleh." Ya, siapa yang akan menolak makanan gratis kan?
Tentu saja bukan Sheilla, karena gadis itu menyukai segala hal yang gratis, terutama makanan.
•
•
•
Oh, sudah tidak terhitung ada berapa mata yang menatap Sheilla juga Ryan dengan tatapan yang berbeda-beda.
Beberapa dari mereka ada yang menatap iri, marah, jijik, remeh dan sebagian kecil lain nya menganggap mereka sangat serasi.
"Mau apa, biar aku pesanin," Tawar Ryan setelah Sheilla mendudukkan diri di salah satu bangku kantin.
"Terserah, aku gak pilih-pilih makanan kok."
"Ya udah, tunggu sebentar ya."
Nathan pergi untuk memesan makanan, sedangkan Sheilla memperhatikan sekitar. Ia hanya acuh ketika sebagian besar siswa SMA Raharja menatap tajam dirinya dengan terang-terangan.
Tak butuh waktu lama sampai Ryan kembali dengan membawa dua mangkuk bakso untuk dirinya dan Sheilla.
"Aku tidak tahu kamu suka minum apa, jadi aku membelikan susu coklat untuk mu."
"Tidak masalah, susu coklat adalah minuman favorit ku. Terimakasih." Sheilla menerima bakso dan susu yang Ryan belikan untuk dirinya.
"Wah, kebetulan sekali."
Oh, kenapa Ryan baru sadar sekarang jika gadis berkacamata di samping nya itu sangat cantik?
Tunggu dulu, bukankah kacamata Sheilla kemarin itu patah?
"Kacamata mu..."
"Ini kacamata lama ku," Sela Sheilla.
Ryan mengangguk paham, ya gadis itu pasti memiliki banyak cadangan kacamata bukan?
'Si*l, benda bulat ini sangat mengganggu.'
Bagaimana Sheilla tidak kesal jika kacamata nya malah berembun ketika ia ingin memakan mie bakso itu?
Namun untungnya Ryan sangat perhatian, laki-laki itu dengan sigap mengambilkan Sheilla tisu dan membantu gadis itu mengusap kacamata nya.
"Pasti sulit ya memakai kacamata seperti ini."
'Ya, sangat sulit sampai membuat mataku sakit, s*alan.'
"Hem, tidak juga." Lain di hati, lain pula di mulut, bukankah begitu?
•
•
Bukannya Sheilla mau pede atau apa, hanya saja, ia merasa jika Ryan sedang melakukan pendekatan kepada-Nya. Terbukti dengan laki-laki itu yang tiba-tiba mengajaknya jalan di akhir pekan.
Sheilla ingin menolak, namun melihat Ryan yang memohon membuat hatinya luluh.
"Ayolah, ikutlah bersamaku. Aku ingin mengajakmu pergi bersenang-senang. Kita bisa pergi ke taman bermain, pantai ataupun tempat manapun yang kau ingin."
"Senyum-senyum terus perasaan dari tadi, kenapa? habis kejatuhan uang segepok lo?" Nana yang datang entah darimana tiba-tiba merangkul Sheilla.
Sheilla melirik sekilas pada gadis berkuncir dua itu, tak ada minat untuk menjawab perkataan Nana.
Nana menghela nafas melihat respon Sheilla, "Sorry, maafin gue karena gue maksa lo buat jadi temen gue."
Hanya anggukan kecil yang Sheilla dapatkan sebagai respon, Sheilla kelewat acuh padanya.
"Shei, gue boleh ngomong sesuatu gak?"
Sheilla berdehem sebagai jawaban pengganti dari kata 'iya'.
"Kejadian di toilet kemarin, aku melihat nya."
Sheilla langsung menatap tajam Nana setelah mengakuan itu keluar dari mulut gadis cantik itu.
"Apa yang kau katakan?!"
Keringat dingin seketika langsung membanjiri leher Nana, gadis itu gugup menerima tatapan tajam dari Sheilla. "I_itu, gue waktu itu ketahan berak di kamar mandi, soalnya susah keluar. Akhirnya gue ngedekem di kamar mandi dan gak sengaja liat kejadian itu."
Mata biru Sheilla menatap tajam mata Nana, membuat gadis itu semakin gugup.
Decihan keluar dari bibir Sheilla sebelum gadis itu berdiri, "Lebih kau tutup mulut mu jika tidak ingin sesuatu terjadi."
"Ma_maksudnya?"
Sheilla mengabaikan pertanyaan Nana begitu saja dan langsung pergi dari hadapan gadis itu.
Nana merutuki kebodohannya, seharusnya ia tak mengakui hal itu kepada Sheilla. Lihatlah sekarang gadis itu terlihat sangat marah kepadanya.
Namun Nana malah jadi berpikir, jika Sheilla bisa mengatasi ketiga gadis itu sekaligus, kenapa baru sekarang ia melakukan nya? kenapa tidak dari dulu?
Nana juga yakin jika Sheilla itu tidak memiliki mata minus, lalu kenapa gadis itu selalu memakai kacamata? Ini aneh.
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭