NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 – RENCANA KONFERENSI PERS

Bunda menoleh kaget ke arah Indra.

Bramasta mendekati ibunya. Menyaliminya lalu memberi cipika cipiki pada ibunya.

“Bagaimana? Dihadang di bawah?” tanya Bramasta sambil tersenyum.

“Nggak dong, Mommy kan pakai jalur VIP. Harusnya kalian parkir mobil di VIP area. Gak bakal ribet harus lewat lobby depan. Pihak rumah sakit juga langsung tanggap,” Mommy menjelaskan lalu melotot ke arah Indra dan yang lainnya, “Hayo sini kalian semua. Sungkem dulu.”

Indra menghampiri sambil menunjukkan cengirannya. Menyalimi Mommy diikuti oleh Anton dan Agung. Bramasta melihat ke arah bed Adisti. Adisti sedang memperhatikan Mommy dan interaksinya dengan semuanya. Matanya penuh rasa ingin tahu tapi bibirnya tersenyum. Hati Bramasta terasa hangat melihatnya.

“Eh, ini siapa? Agung ya, kakaknya Adisti?”

Agung mengangguk sambil tersenyum.

“Waah.. kalian ini, ruang rawat inap kalian jadikan base camp. Bu, maafin anak-anak ya..” Mommy mulai dengan mode cerewet cerianya, “Eh, saya mau lihat Adisti dulu, pengen kenalan..”

Mommy menghampiri Adisti diikuti Bunda dan Bramasta.

“Hai Disti.. Duh, cantik banget sih kamu. Masyaa Allah..” Mommy mengulurkan tangannya kepada Adisti lalu menggenggamnya, “Bagaimana keadaannya?”

“Alhamdulillah, Tante. Sudah jauh lebih baik. Cuma masih sakit di bahu kiri dan kepala masih nyut-nyutan nyeri di beberapa tempat,” Adisti tersenyum.

“Tapi kata dokter gak apa-apa kan?” matanya menatap Bramasta yang menganggukkan kepalanya.

“Engselnya lepas, Mom. Juga ada beberapa jahitan di kepalanya.”

“Hah? Kepalanya dijahit? Rambutnya pitak-pitak dong?” Mommy membelai pelan perban di kepala Adisti. Adisti termangu membayangkan rambutnya yang pitak di beberapa tempat.

“Eh, gak apa-apa. Yang penting sembuhin dulu lukanya ya, Disti. Nanti Tante ajakin kamu ke salon langganan Tante. Biar dirapiin di sana. Mau ya, mau? Ajakin Bundanya juga. Nanti sekalian Tante ajak Layla juga. Layla, kakaknya Bram,” Mommy berbicara tanpa jeda, “Kita girl time bareng.”

Adisti mengangguk. Bundanya terkekeh terkejut melihat sosok ibunya Bramasta.

“Ih Tante, yang girl time cuma Adisti doang. Yang lainnya Lady’s time,” protes Indra yang membuat lainnya terkekeh.

“Jangan protes,” Mommy menggoyangkan telunjukknya pada Indra, berlian di jarinya berkerlip indah terkena cahaya lampu, “Tadi apa kamu bilang? Ngatain Tante impostor? Nggak.. nggak.. Tante gak main Among Us. Tante Cuma mainin Cacing Alaska, itu juga ngumpet-ngumpet. Daddynya Bram bakal uring-uringan kalau Tante mainin Cacing Alaska.”

“Jadi, Cacing Alaska belum dihapus dari HP Mommy? Bram laporin ke Daddy nih,” Bramasta bersidekap sambil menatap Mommy.

“No, no, no! Berani laporin, Mommy gak mau bantuin konferensi pers nih,” Mommy balik mengancam.

“Berani berbuat, berani tanggung jawab dong, Mom.. Emang mommy bagi ke siapa sih videonya?” tanya Bramasta.

“Ada deh, kamu gak perlu tahu. Mommy kan cuma pengen berbagi rasa bangganya Mommy terhadap anak Mommy sendiri. Mommy kan jengkel dengan berita yang muncul di media negara tetangga tentang kamu, Bram. Wawancara nggak tapi bikin asumsi sendiri seolah-olah benar. Jelek-jelekin anak Mommy banget. Walau media tersebut sudah minta maaf karena ditekan lawyer kita, tapi Mommy masih sakit hati,” Mommy berkata sambil melihat pada jemari kukunya yang dilipat, gesture khas rasa bersalahnya Mommy.

“Daddy tahu, Mom?”

“Tadinya gak tahu tapi akhirnya tahu.”

“Terus?”

“Daddy marah. Mommy diceramahin laaaamaaaaaa banget. Layla juga ceramahin Mommy,” Mommy tertunduk. Tapi kemudian tersadar sesuatu, “Bundanya Adisti, saya minta maaf ya. Tapi saya janji semuanya bakal aman kok. Setelah konferensi pers, kehebohan ini bakal berangsur reda.”

Tangan Mommy memegang tangan Bunda. Meminta maaf dengan tulus. Bunda memeluk Mommy lalu menepuk-nepuk punggungnya.

“Bos, lu tahu darimana Mommy yang jadi impostornya?” tanya Indra pelan. Anton dan Agung ikut menanti jawaban Bramasta.

“Perhatiin gak dengan semua narasi tayangan video? Sama. Freezing gambarnya juga sama. Kalian tahu artinya? Ini berita pesanan. Gak semua orang bisa bikin berita pesanan kan?” Bramasta memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, “Tentang Adisti, gue yakin aman. Narator menggiring opini pemirsa untuk tidak mencari tahu identitas korban. Seolah-olah siapa yang ditolong tidaklah penting, yang penting adalah aksi tokoh utamanya. Kayaknya gue tahu deh siapa yang nyusun narasinya..”

“Siapa?” mereka bertanya serempak.

“Hans.”

“Hans?” Indra dan Anton seperti paduan suara.

“Siapa Hans?” tanya Agung.

“Sekretaris Daddynya Pak Bos,” kompak mereka berdua menjawab.

“Mom, di luar ada berapa orang?” tanya Bramasta menanyakan pengawal Mommynya yang ada di luar ruangan.

“Ada 3. Driver di mobil. Kenapa?” tanya Mommy.

“Suruh mereka ke kafetaria rumah sakit buat makan siang. Tagihannya dimasukkan ke kamar ini saja,” kata Bramasta sambil meraih telepon interkom di meja pantry untuk memesan makan siang untuk semuanya.

“Uluuuuh baiknya anak Mommy ini.. nraktir Mommy makan siang..” pipi Bramasta ditarik ke kanan dan ke kiri oleh Mommy.

“Mom.. Mooom, come on _ayolah_. Udah. Malu tahu,” Bramasta memegang pipinya yang terasa sakit.

“Malu ke siapa, Bos?” Indra mengambil alih telepon interkom dari tangan Bramasta.

Bramasta melirik Adisti yang tengah menutup mulutnya menahan tawa, Bundanya pun sama.

“Dah ah. Yuk Dzuhur dulu di mushola lobby,” ajak Bramasta sambil membuka pintu. Yang lainnya mengikutinya.

Usai makan siang, mereka berkumpul di sofa bed yang dekat dengan bed Adisti. Mommy dan Bunda tengah berbincang di samping bed Adisti.

“Jadi konferensi pers dimana dan kapan?” tanya Anton.

Mommy menghentikan obrolannya lalu menoleh pada Anton, “Udah mami siapin tempatnya. Undangannya besok pagi aja di edarkan. Acaranya besok sore. Tempatnya di gedung pusat Daddy aja ya. Indra hubungi Hans buat menyusun kalimatnya.”

“Eh, rapatnya kok di samping yang lagi sakit. Pindah yuk, ke sofa sana,” ajak Bramasta sambil menunjuk sofa U.

“Gak apa-apa. Saya juga ingin tahu rencana kalian. Saya suka melihat interaksi kalian. Tante orangnya rame, asyik. Saya gak merasa sepi lagi,” Adisti tersenyum pada Bramasta.

“Duuuh… si cantik ini paling bisa muji Mommy bikin Mommy seneng setelah sepanjang hari Mommy diceramahin mulu..” Mommy duduk di kursi samping Adisti, “Beneran nih kamu gak terganggu?”

“Dari kemarin sore Adisti udah kebanyakan tidur, Tante..” jawab Adisti.

“OK kita lanjut..” Indra menatap Bram dengan tatapan serius, “Bos, omongan Ariel di TV tadi perlu dipatahkan?”

Bramasta mengangguk, “Biar dia bedakan suasana real rescue dengan suasana simulation rescue. Karena kita tidak tahu seberapa lama dahan tersebut bisa menahan tubuh korban. Rescuing bukan hanya butuh peralatan lengkap tetapi yang paling utama adalah kecepatan berpikir dan bertindak. Ini juga pelajaran bagi para rappeller.”

Anton dan Agung mengangguk-angguk.

“Tentang korban, kita tetap rahasiakan identitasnya. Tapi sebutkan jatuhnya korban karena murni kecelakaan pada saat korban sedang melukis. Korban duduk terlalu dekat dengan pinggir jurang yang menyebabkan korban terjatuh.”

“Are you sure_Kamu yakin_?”

“Sebenarnya alasan Adisti terjatuh karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Adisti turun ke tepian jurang untuk mengambil sesuatu itu. Sesuatu yang ingin ia berikan untuk ayahnya. Sayangnya, Adisti sampai sekarang belum mengingatnya,” Bramasta menjelaskan, “Gue mendengar dengan jelas batu pijakan Adisti patah yang menyebabkan dia terjatuh ke jurang.”

“Ya sudah kita pakai alasan yang sebenarnya saja. Karena alasan pertama terlalu dibuat-buat menurut gue,” Indra menganggukkan kepala, “Karena tidak ada orang yang melukis di tepi jurang. Lagipula menjelang akhir video, tempat Adisti menggelar alas duduk dan perlengkapan lukisnya tertangkap kamera. Dari situ aja orang bisa tahu, Adisti melukis tidak di tepi jurang.”

“Pakai alasan yang sebenarnya. Kita reka saja, ada tanaman di tepi jurang yang menarik perhatiannya, kata korban setelah sadarkan diri. Dia bermaksud mengambil tanaman tersebut untuk dijadikan herbarium. Pak Bos melihat korban menuruni tebing dengan hati-hati saat Pak Bos sampai di lokasi. Korban berpegangan pada dinding batu. Berjalan perlahan meniti tepian dinding batu. Saat Pak Bos tiba di tepi jurang, Pak Bos mendengar batu yang patah lalu kemudian terlihat tubuh korban terjatuh ke dalam jurang,” Anton memandang Bramasta dan Agung bergantian.

“OK, agree_Baiklah, setuju_,” kata Bramasta.

“Adisti punya hobi mengumpulkan daun yang menurutnya unik untuk dibuat herbarium, lalu dijadikan pembatas buku,” Agung menjelaskan.

“Perfect_Sempurna_,” kata Bramasta sambil menjentikkan jari.

“Terus untuk mengerem laju berita bagaimana?” tanya Anton.

“Gampang,” jawab Bramasta, “Kita tekan pihak TV dan media untuk tidak membahas dan memunculkan lagi video tersebut. Beri ancaman, Sanjaya Group dan B Group akan menghentikan tayangan iklan pada TV dan media yang masih menyiarkan video tersebut.”

“Wow, Bram! Kamu udah mirip banget sama Daddy kamu ya cara berpikirnya,” Mommy tertawa senang.

Bramasta meleletkan lidahnya pada Mommy. Kemudian dia melirik Adisti, tampak Adisti tengah tertidur.

“Sssssssst,” Bramasta menunjuk Adisti dengan matanya, “Jangan berisik. Kita pindah ke sofa depan.”

Menjelang jam 15.00, mereka berpamitan. Ayah datang saat jam bezoek sore. Mulutnya ternganga heran saat mendengar cerita tentang Mommynya Bramasta dan bagaimana interaksinya keluarganya. Bunda, Agung dan Adisti saling bergantian bercerita.

“Jauh banget deh dengan Bu Hilman,” komentar Bunda.

“Nyonya, Bun… Nyonya. Nyonya Hilman,” Agung menimpali.

“Preeetttt,” Adisti meleletkan lidahnya.

Catatan Kecil:

Herbarium adalah koleksi tumbuhan (bisa satu tumbuhan utuh, daun dan bunga, daun saja ataupun bunganya saja) yang diawetkan, biasanya dikeringkan. Jaman dahulu, tumbuhan yang dipakai untuk herbarium adalah tanaman obat.

Sekarang, herbarium dipakai sebagai hiasan interior, hiasan pada hampers ataupun sebagai pembatas buku.

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!