NovelToon NovelToon
Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:269.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kim O

Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Prom Night.

Beberapa waktu kemudian.

Beberapa waktu kemudian.

Momen yang paling dinanti para siswa-siswi St. Cicilia High School akhirnya tiba. Prom night yang menandai akhir dari perjuangan panjang mereka setelah ujian.

Elena tampak menakjubkan. Gaun panjang menjuntai berwarna forest green membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Ia terlihat sangat anggun dan dewasa. Belahan tinggi di sisi gaunnya pun menambah kesan sensual tanpa mengurangi martabatnya sebagai gadis terhormat.

Di sisi lain, Albern tampil gagah dalam balutan tuxedo berwarna dark green yang senada dengan gaun Elena. Mereka tampak serasi, seolah memang ditakdirkan untuk berdampingan.

Begitu memasuki lobi hotel mewah tempat prom diadakan, Elena segera mengenali sosok sahabatnya, Jenny, yang malam itu datang bersama Aldrich, salah satu atlet basket populer di sekolah mereka.

Jenny tampil menantang dalam gaun merah menyala, dengan belahan dada yang menjulur hingga perut dan potongan tinggi di pinggul membuatnya terlihat luar biasa nan memukau. Aldrich pun tampil senada dengan kemeja merah yang memancarkan karisma khas seorang bad boy.

"Wow, amazing!" seru Elena dan Jenny bersamaan, sebelum akhirnya tertawa geli. Keempatnya lalu melangkah masuk ke aula hotel berbintang lima yang megah, tempat dimana prom night itu digelar.

Mereka segera mengambil tempat di salah satu meja bundar untuk enam orang. Ruangan itu dipenuhi cahaya temaram yang hangat, dengan dihiasi bunga segar dan lampu gantung kristal. Musik klasik mengalun pelan, menambah suasana elegan yang sudah terasa sangat kental.

“Sepertinya teman-temanmu benar-benar habis-habisan menyiapkan diri malam ini,” bisik Albern sembari mengamati sekeliling.

"Wajar saja. Malam seperti ini hanya datang sekali seumur hidup, dan tak seorang pun ingin menyesal karena tampil biasa-biasa saja!” Elena tersenyum, menoleh ke arah kekasihnya.

“Pantas, kamu pun tampak luar biasa malam ini,” ujar Albern dengan tatapan hangat.

“Tentu saja! Apa kamu menyukainya?” tanya Elena dengan nada menggoda dan alis terangkat.

“Tentu, Sayang.” Sebuah kecupan ringan mendarat lembut di pipi Elena.

Jenny yang melihat itu hanya bisa berdeham keras, menggoda dengan tatapan jahil.

Tak lama kemudian, dua orang pembawa acara, yaitu sepasang siswa dari kelas lain, naik ke atas panggung untuk membuka acara secara resmi.

Pidato dari ketua yayasan pun menjadi agenda pertama.

“Menjadi dewasa tidak semudah yang kita bayangkan!”Sang kepala yayasan membuka suaranya. “Dulu, kita mungkin tidak pernah bersungguh-sungguh memikirkan arti tanggung jawab. Tapi setelah ini, dunia menuntut kita untuk berdiri sendiri. Tak ada lagi orang tua yang akan selalu menjadi perisai, karena kita sendiri lah yang harus menjadi perisai bagi diri sendiri. Oleh sebab itu, jadilah manusia yang kuat, namun tetap waras. Sebab, jika tidak, dunia yang kejam ini bisa dengan mudah menenggelamkan kita ke dalam lumpur keputusasaan.”

Tepuk tangan dari para tamu undangan bergemuruh memenuhi aula. Beberapa dari mereka bahkan sampai menitikkan air mata, tak terkecuali dengan Elena dan Jenny.

Mendengar pidato sang ketua yayasan, membuat jantung Elena sedikit bergemuruh. Sebab, tak akan lama lagi dia juga akan segera memasuki dunia kerja sekaligus perkuliahan.

Gadis itu sama sekali tak bisa menolak permintaan ayahnya untuk menjadi sekretaris sang kakak. Maka dari itu, sebelum masuk ke dunia perkuliahan tiga bulan lagi, dia akan full bekerja di kantor sang ayah. Baru setelah masuk kuliah, Elena hanya akan datang ke kantor pada hari tertentu saja.

Setelah sesi pidato usai, suasana berubah menjadi lebih ringan dan penuh tawa. Lalu tibalah saatnya semua pasangan berdansa, tepat sebelum pengumuman King and Queen of the Night.

Albern menyodorkan tangannya ke arah sang kekasih. “Mau berdansa denganku?”

“Aku tak bisa berdansa,” bisik Elena jujur. Sejak pacaran, mereka memang belum pernah berada dalam momen yang kelewat romantis ini.

“Tidak apa-apa.” Albern menggenggam tangannya, lalu membimbing Elena ke lantai dansa. Ia menuntun gadis itu untuk memeluk lehernya erat, sedangkan kedua tangannya sendiri memeluk lembut pinggang sang kekasih.

Lampu diredupkan. Musik romantis mulai mengalun pelan, menghanyutkan semua yang ada di ruangan besar ini. Elena memandangi sekeliling, semua teman-temannya tampak tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

Di lain sisi, Jenny tampak begitu serius bertatapan dengan Aldrich. Pria itu kemudian terlihat berbisik di telinga Jenny, sebelum kemudian memagut mesra bibir gadis itu setelah mendapatkan persetujuan.

"Aiih, padahal mereka baru saja bertemu," ujar Elena seraya mengendikkan dagunya.

Albern tertawa kecil, mengikuti arah pandangnya. “Cinta pada pandangan pertama memang nyata. Seperti kita, bukan?”

Suara Albern yang dalam dan menenangkan, membuat dada Elena terasa hangat.

“Ya. Seperti kita,” bisiknya.

Albern kemudian mendekatkan dahinya pada dahi Elena. “Aku mencintaimu, Elena Odelia Wileen.”

Hati Elena merekah. “Aku pun mencintaimu, Albern Danish William,” balas gadis itu dengan senyum termanis yang ia miliki.

Pelukan Albern mengerat. Ia menempelkan kecupan di kening Elena, lalu berpindah ke pelupuk mata, pipi, hidung, hingga akhirnya menyentuh bibir sang kekasih dengan lembut.

...***...

"Aldrich mana, Jen? Kalian tak pulang bersama?” tanya Elena, saat keduanya tiba di lobi hotel. Mereka tengah menunggu Albern yang izin ke toilet sebentar.

Jenny langsung memerah. “Mmm, tidak,” jawabnya cepat, tapi terdengar ragu-ragu.

“Kenapa?” Elena memicingkan mata, penasaran.

Jenny menatap sekitar sejenak, lalu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Elena.

Refleks, Elena nyaris berteriak. Namun, Jenny sigap menutup mulut sahabatnya tersebut dengan telapak tangan sambil melotot.

“Kecilkan suaramu, Dasar bodoh!” bisik Jenny ketus.

“Maaf, hahaha! Aku tak menyangka kalian akan ....” Elena terpingkal karena tak kuat melanjutkan kalimatnya.

Jenny gelisah, matanya melirik ke arah resepsionis, tempat dimana Aldrich kini sedang memesan kamar untuk mereka. Dan bukan hanya mereka saja yang melakukannya. Ada beberapa pasangan lain yang turut melakukan hal serupa.

Di negara mereka, kebebasan seperti ini memang bukanlah hal yang asing dan tabu.

“Memangnya Albern tidak ...?” tanya Jenny menggantung.

“No, dia terlalu baik! Dia beruntung mendapatkan gadis yang tak kalah baik seperti aku!” jawab Elena, menyeringai penuh kebanggaan.

“Jadi, menurutmu aku bukan gadis baik?” Jenny memukul lengan Elena ringan.

“Yah, kamu tahu sendiri jawabannya!” Elena tertawa kecil.

“Kamu, sih, enak, memiliki status yang jelas! Kalau aku? Maka dari itu, aku harus memanfaatkan peluang selagi ada!” Jenny tertawa centil.

Tak lama, Albern dan Aldrich pun kembali dan mereka berpisah di lobi.

“Good luck! Jangan lupa pakai pengaman, ya?” bisik Elena cepat.

“Enggak seru dong kalau begitu!” Jenny tertawa lebar.

“Heh! Jangan bodoh, Jen!” bentak Elena.

“Ih, aku cuma bercanda, dasar perawan menyebalkan!”

“Oh, dasar pirang sialan! Sudah sana, bye!” Elena melambaikan tangan.

“Mereka check-in?” tanya Albern setelah melihat arah kepergian pasangan itu.

“Iya. Kamu mau juga?” Elena menggoda, sembari menggelayut manja di lengan pria itu.

“Aku benar-benar penasaran, kenapa kita tak pernah melakukannya. Apa jangan-jangan kamu tidak mencintaiku, ya? Atau yang lebih parah, kamu sebenarnya memiliki kepribadian menyimpang, dan sengaja memacariku untuk menutupi hal tersebut?"

Ucapan absurd Elena sontak membuat Albern menyentil sedikit dahinya. "Dasar bodoh! Justru karena aku mencintaimu, makanya aku menjaga semuanya tetap indah sampai waktunya nanti!"

Elena mengusap dahinya dengan penuh drama. “Aku hanya bercanda, Sayang,” bisiknya lirih.

1
MamDeyh
Gk paham knp Elena dibenci Evan
Nayla Nazafarin
bukannya tidak mendukung El..tp bca smpai sini dominan El yg gigih memperjuangkan janjinya di masa lalu..
Nayla Nazafarin
Evans..penakut sekali kau..
Thia Alyfia
cerita yg bagus bgt thor beneran menguras emosi&air mata bgt😭😭😭, moga adza ada cerita lanjutan season 2 ttg elena&leon
Darna Syukaira
Luar biasa
Nor Rahma Setyawan
bagus sekali
Hiatus: trmksh kk sdh mampir😍🤗😘❤️❤️
total 1 replies
Sinta Safira
mantaaaappp....
Hiatus: trmksh kk sdh bersedia mampir😭😍😘❤️❤️❤️
total 1 replies
Hiatus
❤️❤️❤️
ZhieLaa
kisah Elena dimasa lampau
ZhieLaa
aaah jadi kangen pariwisata jaman sekolah 😄
ZhieLaa
ooohhh terjawab sudah mereka bukan saudara kandung.
Hiatus: xixixi iya ka
total 1 replies
ZhieLaa
hahaha
ZhieLaa
mereka ini saudara Kandung bukan sih 😌
ZhieLaa
dikejauhan ada seseorang melihat mereka tanpa ekspresi 😂😂
ZhieLaa
kabuuuurr 😁
ZhieLaa
hobinya ketiduran 😂
ZhieLaa
masa lalu kah ini ??? ato di dunia berbeda ??
ZhieLaa: waAaah makin penasaran,,,suka kalo ada unsur fantasi2 nya 😍
total 2 replies
ZhieLaa
hibernasinya kurang jauh sekalian ke kutub utara 😂
Hiatus: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
ZhieLaa
wkwkwkwkw tertidur dlm kelas
Hiatus: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ZhieLaa
baru mampir di karya ini 😍
ZhieLaa: 😍 siaaap
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!