Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gantian Azka yang Marah?
Setelah menghabiskan minuman, Meli mengajak Salsa pulang. Ia khawatir Azka marah ditinggal terlalu lama.
Salsa mengangguk setuju. Yoga pun ikut ke tempat parkir.
Dari jarak sekitar 50 meter, Meli menangkap sosok pria yang amat dikenalnya. Ia duduk manis di atas motor matiknya sambil melipat tangan di depan dada. Detak jantung Meli bertambah cepat.
Meli baru menyadari kalau Yoga berjalan di sampingnya dengan jarak yang sangat dekat, lebih dekat dibandingkan dia dengan Salsa. Itu Meli sadari saat tangannya bersinggungan dengan tangan Yoga.
“Kamu pulang bareng Mas Azka saja, Mel. Aku ke ruko, ya,” kata Salsa.
“Eh, iya.” Meli menjadi canggung.
“Kalau begitu, aku juga mau pulang. Semoga kita ketemu lagi. Segera urus kepindahanmu, Mel,” ucap Yoga sambil berjalan menjauh.
Meli menghampiri Azka. Tatapan pria itu tampak biasa. Namun, Meli juga tak menjumpai senyum yang biasa ia nikmati saat bertemu.
“Ini helm kamu, Mel.” Salsa mengulurkan helm milik Meli.
Meli menerima helm dari Salsa diiringi ucapan terima kasih. Ia segera memakai pengaman kepala itu.
“Aku duluan, ya. Assalamualaikum,” ucap Salsa sembari menstater motornya. Tanpa menunggu jawaban dari sepasang suami istri itu, Salsa sudah menarik gas.
“Mau pulang atau jalan-jalan?” Azka menoleh ke Meli yang baru saja naik ke jok belakang.
“Pulang saja. Bukankah kita mau jalan-jalan ke Malioboro bersama ayah dan ibu?”
“Sudah nggak marah?” tanya Azka.
Meli menautkan alisnya. Ia sudah lupa kalau sebelum sampai ruko, ia marah karena mengira Azka memiliki hubungan dengan wanita lain.
“Lupa? Yang tadi minta turun sebelum sampai ruko, siapa?” Azka mengingatkan.
Seketika muka Meli merona. Ia merasa sangat malu.
“Sudah, ah. Jangan ungkit lagi yang tadi! Kita pulang ke rumah Eyang Probo, ya!” pinta Meli manja.
Azka menekan tombol stater seraya menarik tuas rem. Dalam hitungan detik, motor itu telah meninggalkan area parkir kampus.
Selama perjalanan, Azka tidak mengajak Meli ngobrol. Ia pun melajukan motor lebih kencang dibandingkan waktu pagi. Hal ini tentu mengundang tanya dalam diri Meli. Perasaannya menjadi tidak enak.
Begitu sampai, Azka pun masuk setelah menyimpan motor di garasi.Ia mengabaikan Meli yang berdiri di teras, menunggunya untuk bersama masuk ke dalam rumah.
“Baru pulang, Ka? Meli sudah lihat-lihat kampus?” tanya Pak Haris yang sedang menuruni tangga.
“Iya, Yah. Tadi Meli sudah lihat-lihat kampus Salsa.”
“Bagaimana? Meli suka nggak?” tanya Pak Haris lagi.
Azka menggeleng. Namun, ada yang memberi jawaban pasti.
“Meli suka, kok. Insya Allah begitu pulang ke Jember, Meli akan mengurus syarat kepindahan Meli,” ucap Meli yang berada di belakang Azka.
Azka menoleh ke belakang. Ia hanya menatap Meli sebentar, lalu kembali menghadap ke ayahnya.
“Ayah mau pergi?” tanya Azka.
“Iya, Ayah mau ke apotek lalu ke rumah untuk praktik. Kalian sudah makan belum? Kalau belum, makanlah dulu! Jangan sampai Meli sakit lagi!” Pak Haris mengingatkan.
Setelah ayahnya pergi, Azka mengayunkan langkah menuju ruang makan. Meli mengikutinya. Ia segera melayani Azka, mengambilkan makanan dan menuangkan air putih untuk suaminya. Setelah itu, barulah ia mengambil makanan untuk dirinya.
Mereka makan tanpa bersuara. Meli merasakan suasana yang tak mengenakan. Makanan terasa begitu sulit melewati kerongkongannya.
Usai makan, Azka pergi ke kamar. Meli membereskan meja makan terlebih dahulu, baru menuju kamar menyusul Azka.
Saat meninggalkan dapur, ia berpapasan dengan ibunya.
“Sudah pulang, Mel? Sudah dapat kampus belum?” tanya Bu Fatimah.
“Sudah, Bu. Meli insya Allah sekampus dengan Salsa,” jawab Meli.
“Salsa? Siapa dia?” Bu Fatimah mencoba mengingat-ingat.
“Teman Mbak Via yang kerja di ruko.” Meli menjelaskan.
“Oh, begitu. Berarti kamu sudah punya teman. Baguslah kalau begitu. O ya, jam berapa kita ke Malioboro?”
“Bagaimana kalau jam 4?”
“Boleh. Nanti Ibu sampaikan ke ayahmu. Istirahatlah dulu! Ibu juga mau ke kamar.”
“Iya, Bu.”
Meli melanjutkan langkahnya ke kamar. Dibukanya pintu kamar perlahan. Begitu pintu terbuka, ia melihat Azka sudah berbaring dengan mata terpejam.
Meli menutup pintu kamar. Kemudian, ia mendekat ke ranjang. Diperhatikannya wajah tampan suaminya. Nafasnya yang teratur menunjukkan ia sudah tertidur.
Meli naik ke atas ranjang dengan hati-hati. Ia khawatir Azka akan terbangun karena terusik gerakannya.
Punggungnya terasa nyaman begitu menekan Kasur yang empuk. Meli pun mencoba memejamkan matanya. Namun, kantuk tak kunjung datang. Kejadian hari itu terus mengusiknya.
“Apa Mas Azka marah karena aku berdekatan dengan Kak Yoga? Tapi, aku kan nggak ngapa-ngapain? Lagian aku nggak berduaan, ada Salsa juga. Kak Yoga juga kurang bagus sikapnya. Kenapa dia nggak nyamperin Mas Azka, ya? Dia langsung pergi. Ah, itu kan urusan dia.” Pikiran Meli terus menelusuri setiap kejadian sejak tadi pagi.
Akhirnya, sampai menjelang ashar, Meli tak dapat tidur. Ia hanya menatap punggung Azka yang pergi ke kamar mandi begitu terbangun.
Meli cepat tersadar. Ia segera bangun dan merapikan tempat tidur. Disiapkannya baju untuk dipakai Azka ke masjid.
“Mas ke masjid dulu. Assalamualaikum.” Azka berpamitan dengan nada datar.
“Waalaikumsalam.”
Meli masih duduk termenung di tepi ranjang. Ia terus saja memikirkan sikap Azka yang tak biasa.
“Aku kira dia sudah kembali bersikap hangat begitu bangun. Ternyata belum,” keluh Meli dalam hati.
Hampir sepuluh menit Meli hanya terdiam. Ia baru tersadar setelah terdengar iqomah dari speaker masjid.
Meli bergegas ke kamar mandi. Kali ini, ia tidak berlama-lama berendam, langsung mandi pakai shower. Guyuran air meluruhkan kegalauan Meli.
Saat Azka pulang dari masjid, Meli tengah merapikan penampilannya.Gamis yang dulu Via belikan dari stok di Azrina ia pakai. Ia memadukan dengan jilbab yang berwarna senada.
“Mau berangkat sekarang?” tanya Azka.
“Em, tadi aku bilang ke ibu kalau kita berangkat jam 4. Tapi, kalau sudah siap, kita langsung berangkat saja,” jawab Meli sambil memasang bros.
“Aku lihat ayah dan ibu dulu. Kalau sudah siap, susul ke depan!” ucap Azka sebelum meninggalkan kamar.
Meli mengangguk. Ia kembali menatap cermin, mengecek penampilannya. Setelag yakin, ia mengambil sling bag kecil, memasukkan gawainya, dan menyusul Azka ke depan. Ternyata, kedua orang tuanya sudah siap.
Mereka pun berangkat ke Malioboro tanpa diantar sopir. Azka yang mengemudikan mobil. Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai tempat parkir, dan selama itu Azka tidak bersuara.
Seperti biasa, jalan yang paling terkenal di Yogyakarta itu begitu ramai. Banyak orang berlalu Lalang sembari melihat barang-barang yang dipajang pedagang.
Bu Fatimah tampak bersemangat melihat aneka batik yang ia lihat sepanjang trotoar. Ia mengajak berhenti ketika melihat koleksi yang cukup banyak.
“Dasternya bagus. Ibu beli untuk oleh-oleh, ya, ucap Bu Fatimah.
Tanpa menunggu jawaban dari suami maupun anaknya, Bu Fatimah menanyakan harga kepada si pedagang. Ia pun memilih 5 potong daster setelah terjadi kesepakatan harga. Begitu penjual melipat daster yang sudah dipilih, Azka sudah menyiapkan pembayaran.
“Eh, kok jadi Nak Azka yang bayar,” kata Bu Fatimah tak enak hati.
“Sudah, nggak apa-apa, Bu. Nggak usah sungkan! Ayo, kita lanjutkan!”
Menjelang maghrib, tangan mereka sudah menenteng tas belanjaan. Sebagian besar barang beanja Bu Fatimah.
Setelah salat berjamaah di musala Jalan Malioboro, Pak Roni meminta menikmati makan gudeg lesehan. Azka pun menurutinya. Akhirnya, setelah isya mereka baru pulang.
Azka merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Ia mengaktifkan gawainya.
Melihat Azka sedang santai, Meli mendekat. Ia ingin membicarakan ganjalan di hatinya.
“Mas, Mas Azka sibuk nggak?” tanya Meli hati-hati.
“Kamu lihat sendiri aku sedang tiduran,” jawab Azka datar.
“Meli bisa bicara?”
Azka meletakkan gawainya. Ia menatap Meli yang masih berdiri di samping ranjang. Azka pun menegakkan punggung dengan bersandar pada tumpukan bantal.
“Mau bicara apa?” tanya Azka.
“Mas Azka marah sama Meli? Kok sejak pulang dari kampus Mas Azka mendiamkan Meli? Kalau Meli salah, Meli minta maaf. Tapi kasih tahu salah Meli apa dan jangan mendiamkan Meli begini,” ucap Meli dengan nada memelas.
Azka menatap Meli lekat. Mendapat tatapan seperti itu, Meli menunduk.
“Jadi, kamu tidak tahu?”
Meli menggeleng lemah. Perlahan ia mengangkat kepalanya.
“A—apa karena tadi Meli jalan bareng Kak Yoga? Ta—tapi Meli nggak ngapa-ngapain. Ada Salsa juga.” Meli sedikit gugup.
“Oh, jadi laki-laki yang tadi berjalan bersama kalian itu namanya Yoga? Dia teman Salsa?” Azka menyelidik.
“E—kakak tingkat. Dia sedang menyelesaikan skripsi.”
“Rupanya kalian sudah ngobrol banyak sampai kamu mengenal sedetail itu,” komentar Azka.
“I—itu ka—karena tadi dia ditanyai Salsa,” jawab Meli semakin gugup.
Azka kembali menatap Meli. Ia seperti sedang menilai ucapan istrinya. Untuk waktu beberapa detik keduanya tak ada yang bersuara.
*
Bersambung
Waduh, Azka beneran marah, nih? Bagaimana kalau Azka marah, ya? Ikuti terus cerita ini. Yang belum nengok Selalu Ada Tempat Bersandar, silakan baca dulu biar lebih paham siapa Azka. Jangan lupakan CS1 dan Ikatan Cinta Alenna untuk ngulik orang-orang yang dekat dengan Meli. Tinggalkan like dan komentar, ya!
semoga bs SEGERA UP nya....