Hanna Az Zita Abdullah. Gadis ceria dan penuh semangat itu seketika menjadi gadis dingin datar dan tertutup gara-gara dia kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya.
Kemudian dia pindah ke Yogyakarta, membuatnya bertemu dengan orang yang mampu mengubahnya seperti sedia kala. Siapakah dia? Bagaimana dia merubah Zita menjadi gadis yang periang dan melupakan kenangan bersama seseorang yang telah meninggalkan Zita?
Baca kisah perjalanan masa remaja yang seru
di sini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dsmbr happier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
Ketiga pria itu langsung beraksi menghampiri Bizal untuk merampas kunci mobilnya. Tiba-tiba saja pria yang maju pertama jatuh tersungkur ke tanah karena sebuah tendangan yang kuat dan cepat. Setelah itu dua pria lain langsung berjatuhan satu persatu.
Pria yang menjadi Bos dari mereka itu tercengang melihat gadis 17 tahun bisa mengalahkan anak buahnya. Hal itu membuatnya malu.
Ketiga pria itu juga menatap Zita dengan tatapan tidak percaya, pasalnya baru kali ini mereka melihat kekuatan luar biasa dari seorang gadis kecil sepertinya.
''Kurang ajar! berani nya KAU?!'' ucap Bos nya.
Namun sebelum ia melangkah maju, Zita langsung berlari mendekatinya dan mengarahkan kakinya ke dada pria tersebut membuatnya langsung mengeluarkan seteguk darah.
Keadaan yang sepi dan langit yang semakin gelap membuat suasana semakin mencekam. ''Cepat kalian pergi dari sini!!'' pekik Zita garang.
Walaupun dengan tertatih-tatih mereka lalu bergegas pergi menjauh mengendarai motor mereka. Zita menoleh ke arah Bizal yang masih duduk di tanah dengan beberapa bekas pukulan di wajah dan lengannya. Zita melangkah mendekat.
Zita menjulurkan tangannya untuk membantu Bizal berdiri. Bizal masih menatap tangan Zita. ''Ck, buruan!'' Bizal tersentak dan bangkit berdiri dengan bantuan Zita.
Bizal meringis saat Zita memeriksa kondisi lengannya. ''Dasar cowok lemah lo!''
''Mana kunci mobil?! gue anterin lo pulang!''
''Ga gausah gue nggak---''
''Buruan!'' Bizal pun mengangguk dan masuk ke mobilnya.
Suasana di dalam mobil masih hening belum ada yang memulai percakapan karena mereka masih canggung. Hanya Bizal sebenarnya, karena Zita malah cuek menatap lurus ke jalan.
''Kenapa lo nolongin gue?'' ujar Bizal memulai obrolan.
''Karena lo lemah'' balas Zita tanpa menoleh.
Bizal menghela nafasnya, ''Gue--gue mau minta maaf sama lo.''
''Buat?''
''Semuanya. Lo pasti tahu kan kalau selama ini semua itu ulah gue?'' Zita menyeringai.
''Lo bisa ngerasa bersalah juga?''
''Ck, gue serius, gue udah salah nilai lo, maafin gue ya?''
''Rumah lo dimana?!'' tanya Zita.
''Kenapa emang?'' Zita memutar bola matanya jengah. ''Lo mau gue turunin di jembatan?!''
''Ini kan mobil gue kenapa gue yang diturunin'' gumamnya lirih namun dapat didengar oleh Zita. ''Gue denger!''
Bizal nyengir kuda sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. ''Rumah gue di perumahan Callista No.150.''
Zita terkejut saat mendengar Bizal menyebutkan alamat rumahnya. Pasalnya rumah Zita pun juga terletak di sana. Selama ia tinggal disana tak pernah sekalipun Zita melihat cowok itu disana. Ia bersikap acuh dan kembali fokus ke jalan menuju perumahan Callista.
''Masuk dulu yuk?'' ajak Bizal saat mereka sampai di rumah Bizal.
''Gausah, gue langsung pulang''
''Bizal?! kamu kok baru pulang le?'' Bizal dan Zita sontak menoleh kearah Rianti yang sedang berdiri di depan pintu. Rianti melangkah mendekat.
''Loh, muka mu kok lebam gitu?! kamu kenapa le?'' panik Rianti saat melihat Bizal.
''Emm--tadi Bizal dicegat gitu Buk sama preman, mereka mau ngambil mobil Bizal, tapi--untungnya tadi ditolongin sama Zita'' ucap Bizal.
Rianti menoleh kearah gadis yang berdiri di samping mobil. Dahinya mengernyit menajamkan pandangannya. ''Zita?! kamu Zita yang waktu itu kan?'' Rianti mendekati Zita.
''Ibuk kenal sama Zita?'' tanya Bizal heran.
''Iya jadi waktu itu Zita juga pernah nolongin Ibuk dari preman. Akhirnya kita bisa bertemu lagi Zita'' Rianti memegang bahu Zita dan mengelusnya pelan. Zita mengangguk dan tersenyum tipis.
''Masuk dulu Zita, kamu pasti capek'' ujar Rianti kembali.
''Gausah tante, saya harus pulang''
''Rumah lo dimana, nanti gue suruh supir buat nganterin lo'' ucap Bizal.
''Rumah gue deket kok, No.153 itu'' tunjuk Zita. ''Oh ya? Ibuk pikir rumah itu nggak ada pemiliknya, Ibuk nggak menyangka kalau ternyata kita tetanggaan'' ujar Rianti sambil tersenyum.
''Yasudah saya permisi tante'' Rianti mengangguk.
''Tunggu Zi--emm--terus motor lo gimana?'' Zita yang hendak pergi itu kembali menoleh.
''Gampang nanti''
''Thanks ya udah bantu!''
Zita pun mengangguk dan melangkah pergi. ''Ayo le masuk, tak obati dulu lukamu'' Rianti menuntun Bizal masuk ke dalam rumah.
...****************...
''Non, teman Non Zita sudah menunggu di depan'' ucap Bi Sum pada Zita yang sedang sarapan.
Zita mengernyit heran, seingat Zita ia tidak punya teman dekat disini. ''Teman?''
''Iya Non, laki-laki.''
Zita semakin heran dengan orang yang dimaksud oleh Bi Sum. Dia pun beranjak keluar untuk melihat siapa yang ada di depan. Zita membuka pintu dan mendapati Bizal sedang berdiri menyender pada mobil putih nya. Ia baru ingat sekarang kalau Bizal sudah mengetahui rumah nya.
''Mau ngapain lo?!'' tanya Zita cuek.
''Motor lo masih kempes kan? sebagai tetangga yang baik dan tahu berterima kasih, gue mau nawarin lo bareng ke sekolah!''
''Cih, gausah repot-repot, gue bisa berangkat sama bokap gue!''
''Maaf Non, tapi Tuan sama Nyonya sudah berangkat pagi sekali'' ucap Bi Sum yang datang dari dalam.
Zita menatap Bizal yang tersenyum menggoda ke arahnya. Ia menghela nafasnya kemudian masuk ke mobil Bizal tanpa permisi. Bizal terkekeh melihat sikap gadis itu.
Sesampainya di sekolah mereka menjadi buah bibir di SMA Nusa Bangsa. Anak-anak yang sudah paham akan perang dingin Bizal dan Zita, dibuat heboh karena tiba-tiba mereka datang ke sekolah bersama. Murid-murid disana memang julid!
''Eh yang keluar dari mobilnya Bizal itu Zita bukan sih?!
''Kok mereka bisa bareng gitu?''
''Bukannya mereka musuhan banget?''
''Tapi mereka kelihatan cocok ya''
''Wah hot news nih!''
Begitulah desas-desus siswa siswi yang melihat keduanya.
''Gimana? seneng kan berangkat bareng sama pangeran sekolah?'' ucap Bizal dengan PD.
''Thanks!'' ujar Zita dingin dan meninggalkan Bizal.
''Yahh gue ditinggal, tunggu Zi elah!'' Bizal berlari mengejar Zita.
''Wahh Tom Jerry baikan nih!'' goda Sisil saat mereka sampai di kelas.
''Diem lo!'' Bizal menyentil dahi Sisil.
''Eh tapi beneran Zal? gimana bisa?!'' tanya Diki kepo.
''Pasti ada sesuatu nih?'' selidik Ansel.
''Nggak usah berisik deh, mau gue sumpelin kaos kaki busuknya Sam?!'' Sam yang sedang makan cilok di samping tembok mendelik ke arah Bizal.
''Eh jangan dong Zal!'' ujar Sisil.
''Ciee belain Sam!'' ledek Bizal mendengar Sisil membela Sam.
''Bukan gitu, jangankan pakai kaos kaki, liat mukanya aja kita udah eneg ya nggak guys?'' balas Sisil membuat mereka tertawa. Sam mencebik dan terus memakan ciloknya dengan kesal. ''Sisil kalau ngomong suka bener!''
Semuanya pun tertawa kecuali Zita. Gadis itu hanya diam menatap keluar jendela tak ingin bergabung dengan yang lain. Bizal memandang Zita yang menatap kosong keluar jendela. Raga nya memang disini, tapi pikiran gadis itu tidak. Walaupun kemarin sangat membencinya, tapi diam-diam dia selalu memperhatikan Zita. Benar kata orang, kalau orang yang membencimu itu lebih memperhatikan semua yang ada dalam dirimu melebihi apapun.
...****************...
...----------------...
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
dan minta tolong komen di sana ya, sebagai absen aja sih hehe, makasih😅
kutunggu likebacknya di karyaku Who is He? dah UP lho😄💕
Saling dukung yah🌹
kutunggu likebacknya di Who is He? dah UP juga lho😄💕
ditungu feedback nya ya😘😘
Sukses slu
Salam dr
JANJI SUCI