NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma

"A, baskomnya cuci terus masukin gerobak!"

"A, jangan lupa gerobaknya dikunci."

"A, tenda gulungnya yang rapi."

"A.. A... " Ziano menggelengkan kepala mengingat pekerjaan perdananya semalam.

Melelahkan? sangat. Tapi untuk pertama kalinya setelah hampir satu minggu tinggal di Desa bernama Sidaharja itu dia bisa tidur nyenyak. Bahkan kasur lantai yang tipis saja tak membuatnya kesulitan tidur. Padahal biasanya ia sangat sulit terlelap. Entah karena lelah atau tubuhnya yang sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan ala kadarnya.

"Papi Nono..." sentuhan tangan mungil itu mengalihkan perhatiannya. Lusi, seperti biasa sudah duduk manis di sampingnya.

Biasanya saat Lusi membangukannya ia akan merasa pusing karena baru telelap saat subuh menjelang, kini tidak. Tubuhnya terasa lebih segar.

Ziano beranjak duduk dan memangku gadis kecil itu. "Mau jalan-jalan pagi?"

Lusi mengangguk, "Uci mau lihat ayam."

"Sama Aki aja kalo gitu." malas sekali harus pergi ke kandang ayam. Cukup yah semalam ia jadi tukang gorengan, nggak usah nambah kerjaan untuk jadi peternak ayam.

"Abah sama Uti nggak di rumah. Jadi Uci mau ditemenin Papi Nono aja lihat ayamnya."

Ziano gelagapan, "gimana? aki sama ambu nggak ada?"

"Terus gue di tinggal cuma sama lo doang gitu?" lanjutnya seraya menatap Lusi.

"Sama aku juga, A." timpal Ara yang baru saja keluar dari kamar.

Ziano sedikit bernafas lega, setidaknya dia tidak ditinggal seorang diri sebagai baby sitter. Gimana coba kalo harus ngemandiin Lusi atau ganti diapers Lusi? ah membayangkannya saja ia tak sanggup. Siang hari Lusi memang tak menggunakan diapers tapi kalo malam wajib pake. Itu pun setiap mau kencing atau buang air besar harus ada yang nyebokin. Ziano hanya menggelengkan kepala, meskipun kemarin-kemrein tugasnya menjaga Lusi tapi soal itu dia angkat tangan.

Ziano menuntun Lusi mengikuti Ara ke luar. "Aki sama Ambu kemana gitu? tumben Lusi nggak diajak?"

"Ke Kebumen, belanja. Abah sama Ambu seminggu dua kali ke sana. Lusi mau diajak tapi dia mau di rumah aja sama Pa Pi No No." Ara mengejanya penuh penekanan.

"Ponakan aku diapain sih sama A Ano sampe nempel gitu?" Ara mencubit keponakannya yang memeluk kaki Ziano.

"Cakit Tebi..." Lusi mengusap bekas cubitan Ara tapi bibinya malah mencubitnya lagi dengan gemas.

"Papi, Tebi nakal nih... Uci cakit dicubitin terus." adunya pada Ziano.

"Nih Papi bales Tebi nya nih!" Ziano mengacak rambut Ara.

"Biar nggak nakal lagi Tebi nya sama Lusi." Kali ini bukan hanya rambut tapi pipi gadis itu tak lepas dari cubitannya. Ziano tersenyum,lumayan mengobati kangennya pada Ratu Jeli yang bisa dipastikan belum bangun jam segini, apalagi hari libur. Lusi yang ada di sampingnya malah bertepuk tangan, girang.

Ara melotot sambil merapikan rambutnya, "Ck! Kok A Ano beneran sih nyubitnya!"

Sedetik kemudian Ara ikut tertegun, setelah sekian lama, baru kali ini ia melihat keponakannya tertawa lepas.

Ehm! Ara dan Ziano reflek menoleh, Yudi tengah menatap ke arah mereka. "seru banget kayaknya." ucapnya seraya menghampiri.

Ara mengangguk, "jarang banget yah liat Lusi seseneng itu."

Yudi mengelus kepala gadis yang terus menempel ke kaki Ziano, "seneng yah main sama Om Nono?"

"Papi..." jawab Lusi cepat.

"Panggilnya Papi, A." timpal Ara.

"Sejak kapan bang Nono jadi papi nya Uci?"

"Tau deh. Udah yuk, bantuin buka warung. Si Papi mana bisa bantuin." sindir Ara seraya melirik Ziano yang kiri sudah duduk santai di samping warung sambil memangku Lusi. Pemuda itu hanya tersenyum penuh kemenangan.

Sambil membuka warung dan membereskan dagangan, sesekali Ara melirik ke arah ponakannya. Ada hembusan nafas lega setiap kali Lusi tertawa.

"Kayaknya Uci nemu sosok bang Rudi di bang Nono, Ra." ucap Yudi.

Ara menyeka air matanya yang nyaris jatuh kemudian mengangguk pelan.

"Padahal Abah selama ini nggak kurang-kurang nurutin apa pun yang Lusi mau, tapi dia nggak pernah sesenang ini."

"Mungkin beda, Ra."

"Lusi dapat sosok mba Nayes dari kamu, sekarang dapat sosok bang Rudi dari Bang Nono. Ternyata ada hikmahnya juga bang Nono yang nggak bisa diandelin di warung tapi bisa diandelin buat jaga Lusi." Yudi menepuk pelan punggun Ara.

"Maaf yah, ngebahas ini jadi bikin kamu sedih."

"Nggak apa-apa, A. Aku ngajak Lusi lihat ayam dulu yah sekalian ngecek kerjaan di kandang, Abah kan nggak ada." pamitnya yang langsung diiyakan oleh Yudi.

Ara menghampiri Lusi dan Ziano yang tengah ngombrol. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Lusi yang semula sering diam semenjak kejadian beberapa bulan silam kini mulai kembali cerewet.

"Mau lihat ayam nggak?" tanya Ara.

"Mau dong Tebi."

"Ya udah ayo ke kandang sama Tebi, nanti kita beli sate yang sering mangkal di pangkalan ojeg deket kandang." Ara sudah mengulurkan tangannya untuk mengambil Lusi dari pangkuan Ziano, tapi gadis itu menolak.

"Mau sama Papi juga lihat ayamnya."

"Sama Tebi aja yah, papi nggak diajak nggak apa-apa." buru-buru Ziano menyelamatkan diri.

Lusi menggelengkan kepala dengan manja, ia malah memeluk erat Ziano. "Mau sama papi Nono."

"Ikut lah, A." bisik Ara.

"Nggak!" balas Ziano cepat dengan gerakan bibir tanpa suara.

Ara tak kehabisan akal, "ya udah ajakin Papi Nono nya sama Uci. Kasih tau Papi kalo Uci punya ayam banyak banget."

"Ayo Papi... Ayam Uci banyak loh. Masih kecil-kecil lucu, nanti kalo udah besar kita buat ayam goreng. Nanti Uti yang masak."

"Sama Tebi aja yah, Papi mau bantuin A Yudi itu banyak kerjaan."

"No! No!" Uci menggerakan kedua tangannya, "kan kata Abah juga Papi harus jagain Uci, kecuali kalo papi kerja sama Tebi." lanjutnya.

"Damn! pinter amat ini bocil. Inget aja omongan aki nya." batin Ziano.

"Ya udah ayo." tak ada pilihan lain, Ziano kini mengendarai motor matic dengan Lusi yang berdiri di depan dan Ara di belakang dirinnya.

Sepanjang perjalanan ia sampai bosan membalas sapaan setiap warga yang dilewati. Mana hampir di setiap depan rumah selalu ada ibu-ibu yang sedang menyapu halaman. Seperti saat ini, mereka malah berhenti di kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil menyuapi anaknya. Entah apa yang dibahas Ara dengan ibu-ibu muda itu, yang jelas beberapa ibu-ibu terus menatap ke arahnya.

"Atos ieu mah cocok pisan sareng neng Ara. Sabar nya kasep antosan neng Ara lulus sakola, kedap deui." (Udah cocok banget ini sama Neng Ara. Sabar yah gateng, tunggu Neng Ara lulus sekolah sebentar lagi) ucap ibu-ibu yang menghampirinya.

"Satuju Ibi mah, mana kasep kieu. Jangkung, bodas, Uci oge sapertosna tos cocok." (Setuju banget bibi, ganteng gini. Tinggi, putih, Uci juga kayaknya udah cocok) sambung yang lain.

Tak tau apa-apa, Ziano hanya tersenyum ramah, kemudian melanjutkan perjalanan setelah Ara naik ke motor.

"Ngomongin apa sih lama banget? tiba-tiba aja main cocok-cocokkan." tanya Ziano.

"Biasalah emak-emak, A. Nggak usah dianggap. Barusan aku cuma konfirmasi mereka bisa nggak tandur minggu depan."

"Oh." Ziano hanya menanggapi sekenanya.

Udara pagi itu sangat menyegarkan bagi Ziano yang biasa bergelut dengan polusi udara kota kembang apalagi di saat-saat jam kerja. Hidup di desa seperti ini rasanya nyaman juga meski penuh dengan segala keterbatasan. Tak ada asap dari pabrik industri ataupun bisingnya knalpot kendaraan.

"Papi berenti, ini kandangnya." Ziano segera membelokkan motornya. Belum sempat menurunkan standar motor, perutnya sudah mual.

Hoek! hoek!

"Pegangin!" Ziano langsung turun dan berjongkok di depan solokan, isi perutnya keluar semua padahal ia belum makan apa-apa pagi ini.

Hoekkk!

"Aa kenapa sih?" Ara menghampiri sambil menuntun Lusi.

"Papi kenapa?" sambung Lusi yang sudah berdiri di samping Ziano.

"Papi.. hoekkk!" bahkan belum sempat menjawab Ziano sudah kembali muntah. Rasanya ia harus segera menarik kata-katanya terkait kehidupan yang nyaman tanpa polusi. Tak ada polusi kendaraan atau pun home industry tapi ada polusi kandang ayam, baunya nggak ketulungan.

Hoekkkk!!

1
Maria Kibtiyah
wah di kawinin mereka nih
sum mia
Marcel.... bego banget sih kamu , dengan adanya mereka di gerebeg bukannya mereka malah di nikahkan ya . kamu terlalu picik Marcel . hanya karena rasa cemburu yang menggerogoti hatimu . kamu tega melakukan itu pada Ara .
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
sikepang
aku malah berdoa mereka di nikahkan loh marcel 🤣🤭
MACA
di kampung mah auto di nikahin... salah perhitungan cel🤣🤣
MACA
bener itu...di kampung gt...
Shee_👚
salah besar yang ada malah di kawinin, dan kami bakalan gigit jari😏😏

si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
Shee_👚
typo kak
contok~contoh
Shee_👚
udah abah diem aja🤣🤣🤣
Shee_👚
tapi warung madura selalu menolong di saat tengah malam
Shee_👚
typo kak niak ~ naik
Shee_👚
gak tau aja itu harga keresek lebih mahal nono🤣
fajar Rokman.
ye ini sih bukan di usir tp di suruh nikah dodol.. marcel cemburumu kebangetan tp g PP jadinya neng Ara sama sirazia bisa nikah dadakan
Vike Kusumaningrum 💜
Kami salah besar Marcel, dengan digrebeg gini, ntar mereka malah dipaksa nikah. makin gigit jari kamu nanti , hadeeeeh. semoga Aki Dikun g termakan hasutan warga buat benci sama Ano
Esther
Marcel🤬🤬.
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
sum mia
oalah Marcel .... Marcel..... sifat licik dan iri di dalam hatimu itu akan merusak hidupmu sendiri . apalagi kalau sampai Ara tahu dia malah akan membencimu karena ulahmu itu .
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
sum mia: kalau gak sabar bikin cerita si Jeli , ayo lah thor di kebut , crazy up biar cepet kelar dan ganti si Jeli 🤭🤭😅😅😅
total 1 replies
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!