NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Perangkap Frekuensi

Atmosfer di dalam Istora Senayan terasa seolah oksigennya telah tersedot habis. Ribuan pasang mata tertuju pada layar raksasa yang menampilkan sudut pandang Reno, sang "Phantom" dari tim Black Viper. Setelah kemenangan telak di ronde sebelumnya, semua orang berekspektasi bahwa Reno akan menyapu bersih sisa pertandingan dengan mudah. Namun, di peta *Steel Foundry* ini, segalanya tidak semudah yang terlihat.

Reno menghentikan karakter Phantom tepat di balik sebuah tangki raksasa yang bergetar hebat. Di depannya, satu pemain Golden Wyvern berdiri mematung di tengah lorong sempit yang dipenuhi uap panas. Itu adalah Volt, sang pemain cadangan yang secara mengejutkan dimasukkan ke dalam susunan pemain utama hanya beberapa menit sebelum pertandingan dimulai.

"Reno, dia sendirian! Ambil poin eliminasinya sekarang! Ini kesempatan kita untuk mengakhiri pertandingan lebih cepat!" suara Marco terdengar mendesak melalui *headset*, penuh dengan ambisi untuk segera mengunci kemenangan.

Reno menyipitkan mata, jemarinya tidak bergerak sedikit pun dari *mouse*. Instingnya, yang telah terasah di lorong-lorong sempit warnet selama bertahun-tahun, berteriak bahwa ada yang salah. Volt tidak memegang senjata utama untuk melakukan perlawanan; dia hanya berdiri diam dengan sebuah granat taktis di tangannya yang belum ditarik pelatuknya.

"Jangan mendekat. Ada yang tidak beres dengan posisinya. Ini terlalu terbuka untuk seorang pemain pro," instruksi Reno dengan nada dingin yang langsung membungkam desakan Marco.

Tiba-tiba, Volt melakukan gerakan yang tidak masuk akal dalam logika taktis biasa. Ia melemparkan granat itu bukan ke arah Reno, melainkan ke arah pipa uap bertekanan tinggi yang berada tepat di atas kepalanya sendiri.

*Pshhhhhhh!*

Dalam sekejap, uap panas menyembur keluar dengan suara melengking yang sangat tinggi. Frekuensi suaranya begitu tajam hingga terasa seolah-olah menembus isolasi suara *headset* tercanggih yang dikenakan Reno. Belum sempat tim Black Viper bereaksi, tim Golden Wyvern lainnya meledakkan rangkaian granat suara (*decoy*) di seluruh sudut peta secara bersamaan.

"Akhhh! Telingaku! Aku tidak bisa mendengar apa-apa!" teriak Leo sambil melepaskan *headset*-nya secara refleks. Wajahnya meringis menahan denging yang menyakitkan.

Inilah yang disebut dengan *Perangkap Frekuensi*. Golden Wyvern sengaja menciptakan kekacauan audio yang ekstrem untuk mengacaukan sistem saraf dan konsentrasi pemain yang memiliki pendengaran sangat sensitif seperti Reno. Di bawah kebisingan yang mengganggu itu, layar monitor Reno mulai bergetar hebat karena efek *stunning* dari *engine* game yang mensimulasikan guncangan uap panas.

"Sekarang, jatuhkan si Anak Warnet itu! Jangan beri dia celah untuk bernapas!" teriak King, kapten Golden Wyvern, dari kejauhan.

Tiga pemain Golden Wyvern muncul dari balik kabut uap, melepaskan tembakan secara bertubi-tubi ke arah posisi Reno. Reno terjebak dalam situasi paling kritis sejak ia memulai karier profesionalnya. Penglihatannya kabur karena efek uap, dan telinganya berdenging hebat, menghilangkan kemampuan navigasi audionya secara total. Dalam dunia e-sport kelas atas, kehilangan fokus selama satu detik saja adalah jaminan untuk kekalahan telak.

Namun, di tengah tekanan dan rasa tidak nyaman yang mendera indranya, Reno memaksa otaknya untuk tetap jernih. Ia teringat satu memori lama di warnet kumuh tempatnya tumbuh. Saat musim hujan badai melanda, suara petir sering kali menggelegar begitu keras, memecahkan konsentrasi pemain lain dan sering kali menyebabkan listrik padam. Dalam kegelapan dan kebisingan badai itulah, Reno belajar satu teknik rahasia yang ia beri nama: **Visual Anchor**.

Ia memutuskan untuk mengabaikan total suara denging di telinganya. Ia memaksa pupil matanya untuk memfokuskan pandangan pada satu titik statis yang tidak akan terpengaruh oleh efek guncangan layar: indikator jumlah amunisi di sudut kanan bawah monitornya. Dengan menjadikan titik itu sebagai jangkar visual, Reno perlahan-lahan mampu menstabilkan persepsi ruang dan jaraknya di tengah guncangan digital.

Reno melakukan gerakan *flick* horizontal yang sangat presisi, sebuah gerakan yang lahir murni berdasarkan memori otot ribuan jam latihan dan kalkulasi posisi lawan sesaat sebelum uap menutupi pandangannya.

*Klik.*

Pemain pertama Golden Wyvern tereliminasi dengan satu tembakan tepat di area kepala.

*Klik.*

Pemain kedua tumbang hanya berselang setengah detik kemudian melalui tembakan yang menembus ketebalan uap.

"Dia masih bisa menembak?! Bagaimana mungkin?! Dalam kondisi pandangan tertutup dan gangguan suara separah itu, seharusnya dia tidak bisa membidik apa pun!" King berteriak frustrasi, matanya melotot menatap log eliminasi yang muncul di sudut layar.

Reno tidak berhenti. Ia bergerak maju dengan langkah yang sangat tenang, seolah-olah kebisingan dan kekacauan di sekitarnya tidak lagi memiliki pengaruh. Ia telah masuk ke dalam zona "Anak Genius" yang terdalam, sebuah kondisi di mana data visual dan insting motorik menjadi jauh lebih valid daripada suara apa pun yang ia dengar. Ia melangkah mendekati Volt yang masih berdiri kebingungan karena tak menyangka rencananya akan gagal total.

"Trik yang cukup cerdas," bisik Reno melalui fitur mikrofon global, suaranya terdengar datar namun penuh tekanan. "Tapi kalian melakukan satu kesalahan besar. Kalian lupa bahwa aku tumbuh di tempat di mana kebisingan dan kekacauan adalah makanan sehari-hari. Bagiku, ini bukan gangguan, ini adalah rumah."

*Klik.*

Volt tereliminasi seketika. Dengan hilangnya pemain kunci yang menjaga perangkap tersebut, formasi pertahanan Golden Wyvern hancur berkeping-keping. Black Viper, yang mulai pulih dari efek granat suara, segera melakukan serangan balik yang sangat solid di bawah komando Reno. Mereka menyapu bersih sisa pemain lawan hanya dalam hitungan detik.

VICTORY: BLACK VIPER]

Layar raksasa di Istora Senayan menampilkan skor mutlak 2-0 untuk kemenangan Black Viper. Seluruh penonton berdiri serentak, memberikan tepuk tangan yang mengguncang stadion sebagai bentuk penghormatan. Para komentator di meja analisis kehilangan kata-kata untuk menggambarkan apa yang baru saja terjadi. Mereka baru saja menjadi saksi lahirnya legenda baru yang mampu melampaui batas indra manusia.

Reno melepaskan *headset*-nya perlahan. Telinganya masih terasa sedikit berdenging, namun sorot matanya tetap tajam dan dingin seperti biasanya. Ia menoleh ke arah bangku pemain lawan dan melihat King yang terduduk lemas, menatap meja tandingnya dengan pandangan kosong seolah jiwanya baru saja dicabut.

"Permainan yang cukup kompetitif, King," ucap Reno saat mereka bersalaman di tengah panggung untuk formalitas *fair play*. "Tapi lain kali, saran saya, fokuslah untuk mengasah akurasi tembakanmu, bukan sibuk mencari cara untuk membuat kebisingan yang tidak perlu."

Saat Reno berjalan kembali menuju lorong belakang panggung, ia melihat Coach Ardi berdiri dengan senyum lebar penuh kebanggaan. Namun, momen kemenangan itu terusik ketika seorang pria berseragam staf turnamen mendekat dan memberikan sebuah amplop cokelat kecil yang tampak lusuh kepada Reno.

"Ada titipan, Kak," ucap staf itu singkat.

"Dari siapa?" tanya Reno sambil menerima amplop tersebut.

"Seorang pria dengan topi hitam. Dia hanya bilang, 'Ini untuk kapten yang baru saja membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar keberuntungan'," jawab staf itu sebelum menghilang di keramaian kru produksi.

Reno membuka amplop tersebut dengan rasa penasaran. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang sudah agak menguning—foto tim Black Viper generasi pertama saat pertama kali didirikan bertahun-tahun lalu. Ada satu wajah pemain yang dilingkari dengan tinta merah tebal. Itu adalah Sakti, sang legenda yang hilang. Di bawah foto itu, tertulis sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam:

Liga Dunia akan segera dimulai di Singapura. Kemenangan lokal ini barulah awal. Kamu baru saja memicu perhatian para penguasa internasional yang sebenarnya. Jangan biarkan dirimu menjadi mangsa saat badai yang sesungguhnya datang.

Reno meremas foto itu dengan kuat, hingga jemarinya memutih. Ia tahu, kemenangan hari ini bukan berarti perjuangannya berakhir. Justru sebaliknya, ini adalah pengumuman kepada seluruh dunia bahwa "One Tap God" telah bangkit, dan ia siap menghadapi tantangan apa pun yang menantinya di panggung global yang jauh lebih kejam dan berbahaya.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!