Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku menyukaimu.
Didalam mobil Rayyan memasang muka dingin, ia lebih memilih melihat jalanan dari pada Cahaya. Segitunya wanita itu tak mempersilahkan dia masuk dahulu, padalah ia sangat penasaran dengan isi rumah wanita itu.
Bersamaan itu ia berpikir tak mungkin dengan gaji sebagai karyawan bagian desain, Cahaya bisa membeli rumah tersebut. Harganya saja sampai miliaran, ia tahu karena properti itu dibangun oleh uangnya.
Sementara Cahaya menatap ponselnya dan sesekali membaca pesan dari Yumi. Minggu ini ia sengaja menarik temannya, agar punya alasan menolak ikut ke pameran lukisan bersama Rayyan.
Tapi Rayyan tak suka mereka diam begitu saja.
"Apartemen itu milik kamu?" tanya Rayyan memulai percakapannya.
"Iya," jawab Cahaya singkat dan tanpa menoleh.
"Harganya 1, 2 miliar, dari mana kamu dapat uangnya?" tanya Rayyan lagi.
Cahaya melirik bosnya, ia merasa mulai diinterogasi seperti seorang pacar yang baru ketahuan bohongnya. Wajah lelaki itu terlihat kental marahnya, makanya ia mulai merasa tak nyaman.
"Papa yang beli, kami mau pindah kesana tapi gak jadi," jawab Cahaya berharap jawabannya masuk akal, karena Rayyan bukan Yumi yang gampang dibohongi.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Rayyan, namun hatinya tak percaya begitu saja.
"Semudah itu ia percaya," pikir wanita itu yang akhirnya mengabaikannya.
Cahaya kembali membuka ponselnya, ia mulai sibuk dengan temannya dan terus mencari cara agar tak jadi pergi.
Jalanan demi jalanan mereka lalui, lampu-lampu kota bahkan menghiasi setiap jalan yang mereka lewati. Saat sampai sikap Rayyan kembali dingin, ia abaikan Cahaya dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa membukakan pintu mobil.
Disini Cahaya mulai gelisah lagi, tak seperti kemarin lelaki itu masih membukakan pintu mobil untuknya dan mereka masuk bersama. Namun malam ini, melihat sikap Rayyan yang dingin harusnya ia senang bukannya sakit hati.
"Dia kenapa lagi?" gerutu Cahaya sambil melangkah cepat.
Dirumah, Rayyan juga tidak makan malam. Ia malah menghabiskan malamnya dengan menghubungi seseorang, itu adalah suruhannya.
Diruang makan Cahaya menikmati kesendiriannya, ia merasakan sikap Rayyan yang aneh setelah bertanya soal apartemennya. "Apa dia tahu sesuatu, ya?" pikirnya.
"Nona, apakah tuan akan makan malam disini atau saya antarkan ke ruang kerjanya saja?" tanya pak Amir.
Cahaya melirik sejenak, ia juga tak tahu, tapi kan Rayyan pemilik rumah itu masa ia tak peduli.
"Aku saja yang antarkan," jawab wanita itu dengan asal saja, itu pun ia ingin tanya sesuatu.
"Baik," ucap pak Amir yang langsung pergi.
Selesai makan malam, Cahaya membawa makanan dan minumnya ke ruang kerja Rayyan. Sebelum masuk ia menghela nafas panjang, karena didalam sana ada manusia yang sedingin es batu.
Tok tok tok
"Masuk," jawaban dari dalam ruangan itu.
Cahaya memutar knop pintu dan masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Ia melangkah mendekati sofa yang ada diruangan tersebut, lalu menaruh bawaanya diatas meja.
"Pak, anda belum makan malam. Jadi saya membawanya kesini," ucap Cahaya dengan ragu.
"Taruh saja, nanti aku makan," sahut Rayyan tanpa menoleh, matanya sibuk dengan laptop yang ada didepannya.
Tapi Cahaya tetap disana, duduk sambil meremat kedua tangannya. Ada yang ingin ia katakan, namun ragu untuk menungkapkannya. Entah akan diterima atau tidak?
Melihat Cahaya yang masih berdiam diri ditempatnya, Rayyan mulai menghentikan aktivitasnya. Semakin didiamkan semakin ia tersiksa melihatnya, ia juga tak ingin kejadian kemarin malam terulang.
Walau tak tahu alasannya, namun Rayyan paham kenapa wanita itu menangis.
Rayyan beranjak dan menghampiri Cahaya, ia duduk disamping wanita itu. Ia mulai menggenggam sendok dan garpunya, menyuapkannya ke dalam mulutnya dan mengulanginya lagi.
"Apa kamu betah tinggal disini?" tanya Rayyan ditengah makannya.
"Kalau harus jujur, aku enggak betah juga karena ini bukan rumah ku," jawab Cahaya dengan sangat jujur.
Rayyan menghentikan makannya, ia menaruh alat makan yang ia pegang sekian menit. Bahkan makanan koki bintang lima itu tak membuatnya nafsu untuk menikmatinya lagi.
"Kenapa? Apa karena aku bos kamu?" tanya Rayyan menatap wajah wanita itu dengan lekat.
Cahaya mengangguk cepat, ia sudah berusaha jujur jadi merasa tak ada masalah.
Namun itu adalah masalah bagi Rayyan, karena Cahaya wanita satu-satunya yang ia ajak ke rumahnya.
"Bisa tidak, kamu betah tinggal disini? Tinggal sama aku," tanya Rayyan melirik pada wanita itu seolah mengharapkan sesuatu.
Cahaya menoleh dan menatap wajah bosnya dengan muka bingung. "Kenapa harus begitu? Saya bukan pacar anda, kenapa saya harus betah tinggal disini?"
"Kalau aku menyukaimu, apa kamu akan percaya?" ungkap Rayyan secepat kilat.
Bibir Cahaya menjadi kelu, ia tak salah dengar kah?
Namun perkataan Rayyan memang ke arah itu, arah dimana sebuah perasaan suka diungkapkan padanya. Ia menyangkalnya, rasanya tak mungkin secepat itu bosnya menyukainya.
Ia wanita cacat yang tak sebanding dengannya. Fery saja menolaknya padahal mereka sudah lama kenal, apalagi pak Rayyan. Ia merasa bahwa cinta itu tak mungkin tumbuh cepat dihati pria itu.
"Apa karena malam itu? Anda menyukaiku, apa karena sudah tidur bersamaku?" tanya Cahaya menatap lekat wajah pria didepannya.
"Jika alasannya begitu, aku tak mau. Tenang saja, aku anggap tak pernah mendengarnya," ujar Cahaya hendak beranjak namun Rayyan segera menarik tangannya kedalam pangkuannya.
Dua pasang mata saling tatap, pandangan mereka satu pada tujuan yang sama. Ada getaran juga yang tak bisa berhenti begitu saja, kala mereka sudah dekat.
Mata Rayyan mulai tertuju pada satu bagian yang menggodanya, bibir pink dan kenyal itu seolah memintanya untuk memagut mesra seperti malam itu.
"Pak Rayyan, aku tak mau anda menyesal menikah dengan saya. Jadi jangan cepat menilai bahwa anda menyukai saya," perkataan Cahaya yang membuat Rayyan kesal.
"Bisa tidak, kalau sedang berduaan kamu ngomongnya biasa saja gak usah formal," geram Rayyan menarik tengkuk Cahaya, hingga wajah mereka tinggal sekian cm.
"Bagaimana pun anda adalah bos saya, mana bisa saya panggil begitu. Itu namanya tak sopan," sanggah wanita itu dengan gagap.
Tapi Rayyan seolah tuli.
Ia malah menyambar bibir Cahaya dengan paksa. Walau wanita itu berusaha mendorongnya, namun ia menarik tengkuknya membuat bibir keduanya menyatu dengan kasar.
Plak
Tamparan mendarat dipipi Rayyan, kala akhirnya pagutan itu berhenti saat oksigen mereka habis.
Dada Cahaya kembang kempis, ia meraup udara sebanyak mungkin dan terkejut dengan sikap bosnya yang memaksanya berciuman.
Cahaya beranjak dari tempatnya.
"Cahaya," panggil Rayyan, namun wanita itu tetap pergi begitu saja. Mengabaikannya yang tak bisa menahan diri.
Dibalik pintu ruang kerja Rayyan, Cahaya menyandarkan punggungnya. Ia menyentuh dadanya yang mana didalamnya ada jantung yang berdebar tak stabil. Kata orang itu tandanya ia menyukai pria tersebut, tapi itu masih terasa samar.
Ia sendiri merasa ada tembok besar yang memisahkan mereka, tembok tentang status sosial, tembok tentang ketidak sempurnaan dan ada juga tembok keraguan dan ketakutan.
Cahaya bingung dan juga takut bersamaan, takut untuk gagal kedua kalinya. Apalagi orang kaya sudah pasti akan menilai dirinya, jadi sebelum rasa itu tumbuh makin besar ia harus mundur.
"Nona, anda belum tidur?" tanya pak Amir yang tiba-tiba saja ada didepannya.
Sempat mengejutkannya, namun Cahaya tahu kepala asisten rumah ini sangat baik padanya.
"Sebentar lagi," jawab Cahaya menundukkan kepalanya.
***
Ditempat lain, dari dunia yang berbeda. Seorang dokter menatap kedua tangannya yang berlumuran darah, tangannya gemetar, dia ketakutan sangat hebat. Tubuhnya hampir jatuh, namun masih bisa ia topang.
"Pasien kritis!" suara perawat membuatnya makin tak terkendali.
"Dokter, lakukan sesuatu?" seorang asisten dokter berbicara.
"Gawat, pasien mengalami henti jantung," ucap lainnya.
Mereka bingung.
Pendarahan, henti jantung, kritis ... jiwa pasien terancam dimeja operasi.
Suasana tegang.
Semua yang berada disana mulai panik.
"Dokter Fery!" panggil asisten dokter tersebut memekik, menatap dokter laki-laki itu dengan muka bingung.