Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Membingungkan
Hujan masih turun, mengguyur halaman luar mansion Virello. Langit kelabu seperti menekan bumi, menciptakan suasana yang sesak, sama seperti yang dirasakan Alya saat ini.
Ia berada di dekat jendela kamar, gaun tipis yang ia kenakan tak cukup menghangatkan, tapi dingin yang Alya rasakan, bukan hanya berasal dari udara.
Pikirannya masih terjebak pada kejadian beberam jam lalu, tanpa aba-aba, tanpa alasan yang jelas, Arkan menariknya mendekat saat mereka berpapasan di lorong.
Tangan pria itu mencengkram pergelangan tangannya, kuat tapi tidak menyakitkan. Hanya membuatnya tak bisa bergerak.
Dan sebelum Alya sempat beraksi, Arkan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Jangan terlalu dekat dengan Raka."
Nada suaranya dingin, tegas, tapi entah kenapa semua itu membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.
"Apa maksudnya semua ini?" gumam Alya.
Ia menggigit bibirnya, sejak kapan Arkan peduli dengan siapa yang ia dekati?
Bukankah pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan?
Tidak ada cinta atau pun perasaan, yang ada hanya sebuah perjanjian.
Lalu kenapa pria itu bersikap seolah memiliki hak atas dirinya?
Pintu kamar terbuka, tapi Alya sudah tidak kaget lagi dengan pintu yang terbuka secara tiba-tiba.
Arkan selalu masuk tanpa mengetuk pintu, aura dinginnya langsung memenuhi ruangan. Ia melepas jasnya dengan santai, lalu berjalan masuk seolah tempat itu memang sepenuhnya miliknya.
Alya menelan ludah, "Apa kamu tidak pernah belajar mengetuk pintu?"
"Ini kamarku," jawab Arkan yang langsung melirik Alya.
Alya mendengus pelan, memalingkan wajahnya. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat, tapi keheningan di antara mereka terasa semakin berat.
Arkan berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. Dan entah kenapa, setiap langkahnya membuat napas Alya terasa semakin sempit.
"Aku melihat, bahwa kamu terlihat sangat dekat dengan Raka," ucap Arkan akhirnya.
Alya menoleh cepat, "Dia temanku."
"Aku tidak bertanya siapa dia."
"Lalu apa?"
Arkan mendekat dan berhenti tepat di depannya. "Aku hanya tidak suka."
"Apa urusannya denganmu?" Alya menantang, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Kita tidak punya hubungan seperti itu."
Mata Arkan menyipit sedikit, "Karena kamu istriku, Alya."
"Aku tahu, tapi bukan berarti kamu bisa mengatur semuanya."
"Aku tidak mengatur semua hal," balas Arkan tenang. "Aku hanya mengatur hal-hal yang menyangkut hidupku saja."
"Dan salah satunya aku?" tanta Alya, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena emosi yang mulai naik.
Arkan diam, tapi ia mengangkat tangannya perlahan. Dan sebelum Alya sempat mundur, jari-jarinya sudah menyentuh dagu gadis itu, mengangkatnya sedikit agar menatap lurus ke matanya.
Sentuhan itu... lembut.
Alya membeku, jantungnya berdetak semakin cepat.
"Jangan buat aku mengulang kata-kataku," bisik Arkan pelan.
Namun anehnya, sentuhan itu tetap bertahan. Dan Alya sama sekali tidak menghentikannya, justru ia merasa bingung.
"Apa ini?" tanya Alya. "Apa kamu sedang mengancamku? Atau..."
Alya tidak melanjutkan kalimatnya, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Arkan menatapnya beberapa detik lebih lama, ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca. Kemudian, tanpa peringatan, ia melepaskan sentuhannya.
"Kamu terlalu banyak bertanya," katanya dingin.
Alya masih berdiri di tempatnya, mencoba mengatur napas. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lebih rumit.
"Arkan," panggilnya tiba-tiba.
Pria itu berhenti, tapi tidak menoleh.
"Apa kamu cemburu?" tanya Alya pelan.
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ia pikirkan, dan seketika suasana menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Hujan di luar terdengar semakin deras, Arkan perlahan menoleh. Tatapannya tajam, tapi kali ini tidak setajam yang biasanya.
"Aku tidak punya waktu untuk perasaan yang tidak berguna seperti itu," jawabnya akhirnya.
Jawaban yang dingin, seolah ia tidak ingin membahasnya lebih jauh.
Alya tersenyum tipis, tapi bukan senyum bahagia. "Kalau begitu, berhenti bersikap seolah kamu peduli dengan kehidupanku."
Untuk pertama kalinya, Arkan tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Alya dalam diam, sampai akhirnya ia menghela napas pelan.
"Jangan salah mengartikan sesuatu, yang tidak seharusnya kamu mengerti.
Alya mengerutkan kening, "Maksudnya?"
Tapi Arkan sudah berjalan keluar, dan meninggalkan Alya sendirian lagi.
***
Malam semakin larut, namun Alya tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu redup.
Pikirannya kacau, semua terasa aneh. Arkan yang tiba-tiba memperingatkannya. Sentuhan lembut yang tidak biasa, tatapan yang sulit dijelaskan. Dan jawaban-jawaban yang justru membuatnya semakin bingung.
"Kenapa aku jadi memikirkan semua ini?" gumam Alya.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, ini tidak boleh terbawa perasaan. Pernikahan ini bukan tentang cinta, dan Arkan bukan pria yang bisa ia percaya.
Alya mengigit bibirnya, mencoba menghapus ingatan itu. Tapi justru semakin jelas, cara Arkan menatapnya dan cara saat menyentuhnya.
Semua terasa terlalu nyata untuk diabaikan, dan itu yang membuatnya takut. Bukan takut pada Arkan, tapi pada dirinya sendiri.
Di sisi lain mansion, Arkan berdiri di balkon ruang kerjanya. Segelas minuman di tangannya, tapi tidak ia sentuh.
Pandangannya kosong, menatap hujan yang tak kunjung berhenti. Pikirannya tidak tenang, dan itu jarang terjadi dalam dirinya.
Ia terbiasa mengendalikan segalanya, emosi, situasi, dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Namun Alya adalah pengecualian, ia mengingat kembali kejadian tadi. Saat ia melihat Alya tertawa bersama Raka di panggilan telepon. Ada sesuatu hal yang tidak ia sukai.
Dan tanpa sadar, ia segera bertindak dan menariknya. Memperingatkannya dan menyentuhnya.
Arkan mengepalkan tangannya, "Ini tidak benar, kenapa aku jadi seperti ini?" gumamnya pelan.
Ia tidak seharusnya peduli, Alya hanyalah bagian dari kesepakatan, tidak lebih.
Tapi kenapa ia malah merasa terganggu?
Kenapa ia tidak suka, saat melihat ada pria lain yang dekat dengannya?
Arkan menutup matanya, mencoba menghapus bayangan Alya dari pikirannya. Dan baru kali ini, ia merasa kehilangan kendali. Dan itu adalah hal yang paling ua benci.
Hujan masih turun, malam masih panjang. Dan tanpa mereka sadari, sesuatu mulai berubah. Perlahan, diam, dan berbahaya.
Sentuhan yang seharusnya tidak berarti apa-apa, justru menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.