Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Jantung Labirin dan Rencana Nekat
Lorong lantai keempat menuju lantai lima, sebuah pintu besi berat tersembunyi di balik lapisan baja yang terkelupas. Udara di sini dingin, berbau ozon dan listrik statis yang tajam sisa-sisa medan energi yang melingkupi lantai di atas mereka.
Suasana di ruang komando sementara yang terletak di ujung koridor lantai empat terasa pengap. Cahaya darurat yang berkedip-kedip menyoroti wajah-wajah letih dari 40 anggota tim ekspedisi yang tersisa. Mereka semua memandang ke arah dua sosok yang baru kembali dari pengintaian.
Kieran dan Aura berdiri di tengah ruangan, wajah mereka serius. Aura menyentuh panel holografik yang menampilkan peta labirin.
"Lantai lima," Kieran memulai, suaranya serak tapi tegas. "Ini bukan lorong biasa. Medan energi di sana permanen dan dipasang berlapis. Kami hampir ditarik ke dalam sirkuit magnetik hanya dengan mendekat."
"Kami mengonfirmasi dua ancaman utama," sambung Aura, menunjuk ke dua bagian koridor yang berbeda pada peta holografik satu bersinar merah, yang lain biru pekat. "Lorong pertama adalah Medan Gravitasi Intensitas Tinggi pusatnya fluktuatif dan tidak stabil. Yang kedua adalah Lorong Magnetisme Ekstrem medan magnetnya cukup kuat untuk merobek perisai baja biasa."
Kecemasan yang tadinya tersembunyi kini menyebar seperti virus. Mereka telah kehilangan setengah tim di lantai sebelumnya, dan rintangan di depan terasa mustahil.
Jack, sang komandan lapangan, maju ke depan, matanya menyala dengan konsentrasi. Sebagai ahli teknologi dan strategi, inilah saatnya kecerdasannya diuji.
"Baik," Jack mengangguk pada informasi itu, lalu mengalihkan fokusnya ke perangkat keras yang mereka bawa. "Kita tidak bisa mundur. Kita harus melewati kedua medan ini. Dan kita akan menggunakan apa yang kita punya."
Ia mulai mengetik cepat pada terminal, menampilkan skema teknis yang rumit.
"Untuk mengatasi Medan Gravitasi dan Magnetisme, kita akan menggunakan kombinasi tiga teknologi kunci Penyeimbang Medan Aktif, Perisai Superkonduktor, dan Sistem Navigasi Real-time."
Jack berhenti sejenak, menatap mata setiap orang yang mendengarkannya.
"Untuk Lorong Gravitasi," Jack menunjuk ke perangkat di sampingnya, sebuah benda berbentuk rompi futuristik. "Kita akan andalkan Unit Peredam Inersia (Inertial Dampener Unit). Ini adalah perangkat aktif yang terpasang pada baju tempur kita. Tugasnya menciptakan medan anti-gravitasi lokal dan, yang paling penting, menyeimbangkan G-Force."
Ia menjelaskan detailnya dengan nada peringatan. "Medan gravitasi itu dirancang untuk menghambat pergerakan, menyebabkan kerusakan organ internal, dan melemahkan fokus. Unit ini akan menetralkannya. Namun, keberhasilan bergantung pada presisi teknologi dan keahlian operator sedikit kesalahan koordinasi bisa berakibat fatal."
Kemudian, ia beralih ke ancaman kedua. "Untuk Lorong Magnet. Kita punya Perisai Superkonduktor Aktif (Active Superconducting Shield). Ini bukan hanya mantel pelindung. Lapisan ini akan menciptakan medan balik yang cepat, menetralkan atau membelokkan fluks magnetik yang masuk. Jika gagal, medan magnet itu akan melumpuhkan dan mengganggu semua perangkat elektronik kita, merusak sirkuit, dan berpotensi menarik atau memantulkan objek logam di tubuh kita. Kita harus bergerak cepat dan terkoordinasi."
Aura mendengarkan rencana Jack, tetapi pikirannya lebih fokus pada konsekuensi dan risiko yang belum disebutkan. Ia melangkah maju, memotong penjelasan Jack.
"Jack," panggil Aura, suaranya tenang tapi tajam. "Dengan jumlah energi yang kita bawa, dan melihat panjang lorong yang kalian berdua lihat... berapa lama kita butuh waktu untuk bisa melawatinya?"
Pertanyaan Aura menggantung di udara seperti petir yang tertunda. Jack, Kieran, dan bahkan Falix spesialis senjata yang dikenal selalu bercanda terdiam.
Kieran menatap data di layar, lalu ke arah sisa perbekalan mereka. "Idealnya? Satu jam per lorong," jawab Kieran jujur, nadanya berat.
Aura melanjutkan, dengan suara yang kian menekan. "Dan medan ini permanen, kan? Bukan hanya jebakan berjangka waktu."
Suasana semakin lesu. Menghabiskan dua jam dengan menggunakan energi intensif dan menghadapi potensi kegagalan organ internal membuat mental mereka hancur.
"Hah, Aura," sela Falix, mencoba mengubah suasana. Ada sedikit senyum tegang di wajahnya. "Perkataanmu itu membuat mereka lesu. Kenapa tidak diganti yang lain saja, misalnya, 'Semangat, kita akan berhasil!' Begitu, dong!"
Meskipun candaan Falix tidak berhasil meredakan ketegangan, sedikit tawa kering muncul di beberapa sudut ruangan.
Aura tahu. Ia tahu betul bahwa yang ia katakan itu akan menghancurkan moral. Tetapi, melihat kondisi orang-orang yang tersisa yang kelelahan, terluka, dan kini harus menghadapi dua jam penuh risiko membuat Aura merasa gelisah dan bersalah.
Kita tidak boleh membawa beban.
"Kalau begitu, kita kurangi saja jumlah yang akan turun. Bagaimana?" usul Kieran. Matanya menyapu 40 wajah yang tersisa. Banyak dari mereka yang pincang, perisai mereka retak, atau secara mental sudah hancur.
Jack melihat ke arah bawahannya. Ia melihat anggukan lambat dari para veteran yang memahami batasan fisik mereka.
"Baik," putus Jack, nadanya dingin dan penuh perhitungan. "Kita tidak boleh membawa anggota yang cedera. Kita hanya akan membawa mereka yang masih 100% fit dan mampu mengoperasikan Unit Peredam Inersia dan Perisai Superkonduktor dengan presisi tinggi."
Ia menatap daftarnya. "Jadi, yang akan ikut turun adalah 10 orang dari 40 orang yang masih ada."
Keputusan itu sulit, tetapi logis. Karena sebagian besar dari mereka sudah terluka dan tidak berdaya untuk memasuki ruangan di depan.
Morgan mengunci daftar tim inti yang akan maju. Sepuluh wajah terpilih berdiri tegak, memancarkan gabungan ketakutan dan tekad.
Aura berjalan perlahan, matanya mengawasi mereka yang ditinggalkan. Ada rasa sedih dan tanggung jawab yang besar. Ia melihat ke arah beberapa orang yang terluka parah seorang prajurit terbaring di tandu darurat, pernapasan yang dangkal.
Aura mendekati prajurit yang terluka itu, melepaskan alat kecil berbentuk cakram perak dari sabuknya. Itu bukan peralatan tempur standar. Dengan gerakan cepat dan halus, ia memasang alat itu pada seragam salah satu tentara yang tinggal di belakang.
Jack melihat aksi tak terduga itu dan segera bertanya, nadanya penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan. "Apa itu yang kamu berikan kepada rekanku?"
Aura berdiri tegak, menatap Jack dengan tenang. Di tengah rencana yang logis dan brutal itu, ada secercah kemanusiaan yang ia jaga.
"Itu untuk melindungi mereka dalam bahaya," jawab Aura santai. Ia melirik sisa tim yang terluka, yang kini menjadi rentan tanpa perlindungan mereka. "Kalau tidak ada kita, mereka tetap harus bertahan... sampai bala bantuan lain datang."
Jack menyipitkan mata, tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak punya waktu untuk berdebat tentang teknologi asing itu. Kekuatan Aura sudah terbukti di medan perang.
Morgan menoleh ke sepuluh anggota tim terpilih. "Kalian semua tahu risikonya. Medan gravitasi dan magnetisme ini adalah ujian terakhir kita."
Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil Unit Peredam Inersia dan memasangnya di dada.
"Kita masuk. Sekarang."
Pintu baja menuju lantai lima berderit terbuka, menampakkan kegelapan yang diselimuti cahaya merah dan biru yang berdenyut Lorong Gravitasi dan Magnetisme, jantung labirin yang menanti.