"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 29: Cermin Kematian
"Armada "Cahaya Terakhir" tidaklah megah. Kapal-kapal mereka adalah hasil modifikasi dari rongsokan kapal tambang dan kapal perang curian yang dicat ulang dengan lambang matahari merah.
Namun, setiap awak di dalamnya memiliki api di mata mereka, api pembalasan dendam. Di barisan paling depan, melayang sebuah kapal fregat cepat yang dipimpin oleh Nara dan Bumi, sementara Raka berdiri di anjungan terbuka, tubuhnya masih memancarkan sisa-sisa energi Crimson Nebula.
"Semua sistem siap. Koordinat Sektor Nexus terkunci," lapor Bumi melalui interkom.
"Ayah, stabilisasi lubang cacing ini akan memakan banyak energimu. Apa kau yakin bisa menahan gerbangnya tetap terbuka untuk seluruh armada?"
Raka menoleh ke arah Bumi, memberikan anggukan tegas. "Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada formasi tempur begitu kita keluar dari sisi lain. Nexus bukan planet biasa, itu adalah mesin raksasa."
Raka merentangkan kedua tangannya. Tanda naga di dadanya berdenyut hebat.
Deg-deg... Deg! Cahaya merah tua mulai terpancar, menyelimuti kapal-kapal di sekitarnya. "Matahari Crimson: Pembelah Dimensi!"
ZIIIIINNNGGGGGG!
Sebuah robekan vertikal yang sangat besar muncul di ruang hampa. Warnanya bukan putih atau biru seperti lubang cacing biasa, melainkan merah kristal yang berpendar. Seluruh armada meluncur masuk ke dalam pusaran tersebut.
Syuuuuuutttt!
Perjalanan menembus dimensi itu seharusnya berlangsung damai, namun tiba-tiba, alarm darurat berbunyi serentak di seluruh kapal.
Wewooo... Wewooo!
"Kita ditarik keluar dari hyperspace secara paksa!" teriak Nara dari kursi komando. "Ada jangkar gravitasi di depan!"
BOOOOOMMMMM!
Seluruh armada terlempar keluar dari lubang cacing secara kasar, mendarat di sebuah wilayah yang dikenal sebagai Makam Bintang Mati. Di sekeliling mereka, terdapat ribuan bangkai kapal dari berbagai era dan sisa-sisa planet yang hancur. Namun, yang paling mengerikan adalah apa yang menunggu di depan mereka.
Dua belas kapal tempur berbentuk prisma perak melayang diam. Di atas setiap kapal, berdiri satu sosok pria yang sangat familiar bagi mereka semua.
"Mustahil..." Bumi terbelalak, tangannya gemetar di atas kemudi.
"Mereka... mereka semua adalah Ayah?"
Dua belas pria itu berdiri tegak. Wajah mereka identik dengan Raka, namun rambut mereka hitam legam dan mata mereka berwarna biru es yang dingin, tanpa pupil, tanpa ekspresi.
Mereka adalah Kloning Prototip: Subjek 1 sampai 12. "13 (Raka) terdeteksi. Variabel emosi Tinggi.
Produk gagal yang harus dimusnahkan," ucap kedua belas kloning itu secara bersamaan.
Suara mereka datar, mekanis, dan sangat menyeramkan karena keseragamannya.
Tanpa peringatan, ke-12 kloning itu melesat maju.
Whusss!
Masing-masing dari mereka membangkitkan kekuatan Matahari yang berbeda.
Ada yang menggunakan Matahari ke-5 "Ledakan Supernova", ada yang menggunakan Matahari ke-8 "Nirwana", dan ada yang menggunakan Matahari ke-10 "Asal".
DUAR! DUAR! DUAR!
Langit Makam Bintang meledak dalam berbagai warna energi.
Bumi dan para pemberontak mencoba membantu, namun mereka langsung terdesak oleh kekuatan murni para kloning tersebut.
"Bumi! Nara! Mundur ke belakang formasi!" teriak Raka. "Kalian bukan lawan mereka! Mereka memiliki semua kekuatanku di masa lalu tanpa ada batas fisik!"
Raka melesat maju, menghantam salah satu kloning "No 7," yang mencoba menembakkan laser dari matanya.
BUGH!
Pukulan Raka yang dilapisi energi Crimson membuat sang kloning terlempar, namun ia segera bangkit kembali seolah tidak merasakan sakit.
Bugh!
Raka kini bertarung sendirian dikeroyok oleh 12 versi dirinya sendiri. Ini adalah pertarungan yang sangat brutal.
Setiap kali Raka melayangkan tebasan pedang merahnya, tiga kloning lainnya menangkis dengan perisai energi yang identik.
"Kau tidak bisa menang, Nomor 13," ucap No 1, yang tampaknya menjadi pemimpin mereka.
"Kami memiliki data setiap gerakkanmu. Kami adalah kesempurnaan yang kau buang demi perasaan yang tidak berguna."
"No 1 melepaskan Matahari ke-10: Gravitasi Kosmik.
Whusss!
Tubuh Raka seketika terasa berat, ditarik ke pusat ledakan. Di saat yang sama, No 12 menghantam punggung Raka dengan tinju api.
KRAKKKK!
Raka terlempar menghantam puing kapal tua. Ia terbatuk darah. Rasa sakitnya nyata, namun yang paling menyakitkan adalah melihat wajah-wajah dingin itu, wajah yang menunjukkan apa jadinya dirinya jika ia menyerah pada kedinginan Sektor Terlarang.
"Raka... mereka kuat karena mereka tidak ragu," bisik Vanya di dalam sukmanya.
"Tapi mereka lemah karena mereka tidak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Gunakan rasa sakitmu sebagai bahan bakar!"
Raka berdiri dari puing-puing. Pakaiannya compang-camping, darah mengalir dari keningnya. Namun, ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum sinis yang penuh kebencian.
"Kesempurnaan?" tanya Raka dengan suara parau.
"Kalian hanyalah boneka yang dibuat di dalam tabung reaksi. Kalian tidak tahu rasanya mencintai... kalian tidak tahu rasanya kehilangan!"
Raka memusatkan energi Crimson Nebula ke tingkat yang belum pernah ia capai. Rambutnya yang tadinya perak dengan garis merah, kini sepenuhnya membara menjadi api merah tua yang panjang.
Seluruh ruang di sekitar Raka mulai melengkung karena panasnya emosi yang ia keluarkan.
"Matahari Crimson Tahap Kedua: Amuk Sang Penguasa!"
BOOOOOOMMMMMMMM!
Ledakan energi merah menyapu area Makam Bintang.
Kali ini, para kloning itu terkejut. Data mereka tidak memiliki referensi tentang energi Crimson ini.
Raka melesat. Ia menangkap leher No 12 dan menghantamkannya ke kapal prisma hingga hancur berkeping-keping.
DUAR!
Raka tidak berhenti, ia merobek lengan No 10 dengan tangan kosong.
KRAKKKK!
Meskipun darah mereka adalah cairan sintetis biru, rasa haus akan pembalasan dendam Raka tidak berkurang.
"Ini untuk desaku!" Bugh!
"Ini untuk ayahku!"
"Dan ini untuk diriku sendiri!"
Raka melepaskan tebasan energi melingkar yang memotong tiga kloning sekaligus menjadi dua bagian. Para kloning itu mulai panik, sesuatu yang seharusnya tidak ada di dalam program mereka.
Mereka mulai rusak karena menghadapi kekuatan yang didorong oleh kemarahan murni.
Di tengah pembantaian itu, Raka melihat No 1 yang mencoba melarikan diri untuk memberikan laporan.
Raka tidak akan membiarkannya. Ia memanggil pedang Crimson raksasa dan melemparkannya.
Syuuuuuutttt!
Pedang itu menembus jantung No 1, membakarnya dari dalam hingga menjadi abu.
Hening kembali melanda Makam Bintang. Dua belas kloning "sempurna" itu kini hanya menjadi puing di antara sisa-sisa sejarah. Raka melayang diam, dadanya naik turun dengan cepat. Nafasnya berat.
"Ayah..." Bumi mendekat dengan kapalnya, menatap pada kehancuran yang diciptakan ayahnya.
Raka menoleh. Matanya yang merah perlahan memudar, kembali menjadi mata manusia yang lelah.
"Perjalanan kita masih jauh. Jika mereka bisa menciptakan 12, mereka pasti bisa menciptakan ribuan lagi.
Kita harus menghancurkan pabrik mereka sebelum mereka membanjiri galaksi dengan wajahku."
Nara menatap Raka dari layar monitor, ada rasa bangga sekaligus ketakutan di matanya. Ia menyadari bahwa Raka bukan lagi sekadar pahlawan, ia adalah badai yang akan menyapu bersih Sektor Nexus."
Bersambung....