Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Penolakan Juan yang baru saja terlontar ternyata sama sekali tidak menyurutkan api gairah yang sudah terlanjur membakar dada Ibu Hani. Sebagai wanita yang sangat memuja kecantikan dan kemolekan tubuhnya, ada rasa harga diri yang terusik saat menyadari Juan tidak menatapnya dengan nafsu yang sama seperti pria-pria lain.
Padahal, ia tahu benar hampir seluruh pria di kampus ini, mulai dari mahasiswa tingkat awal hingga jajaran petinggi fakultas, rela melakukan apa saja hanya untuk bisa menyentuh "melon" kembarnya yang padat atau merasakan empuknya "bemper" belakangnya yang montok.
Juan berdehem, berusaha sekuat tenaga mengalihkan pandangan dari lekuk tubuh di depannya yang hanya dibalut tanktop ketat. "Bu, tolong ingat, kita ini masih di lingkungan kampus. Sangat tidak pantas jika ada yang melihat," peringat Juan dengan nada serius yang tertahan.
Ibu Hani justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia kembali mengikis jarak hingga aroma parfumnya yang manis dan merangsang memenuhi indra penciuman Juan. Ia berjinjit, lalu menempelkan bibirnya tepat di telinga Juan, membisikkan kata-kata dengan suara serak yang sangat provokatif.
"Kamu tidak perlu khawatir, Juan. Ruanganku ini sudah dimodifikasi agar kedap suara. Aku juga sudah menutup rapat tirai kaca jendela itu sejak kamu masuk tadi. Tidak akan ada yang tahu apa pun yang kita lakukan di dalam sini," bisiknya sambil jemari lenturnya mulai mengelus dada Juan dengan gerakan menggoda.
Tanpa menunggu reaksi atau jawaban dari Juan, Ibu Hani langsung menyerang. Ia merengkuh leher Juan dan melumat bibirnya dengan penuh nafsu yang meledak-ledak.
Ia bergerak sangat agresif, seolah ingin menegaskan kekuasaannya sebagai wanita dewasa yang berpengalaman.
Tak cukup dengan ciuman yang memabukkan, Ibu Hani meraih tangan kekar Juan dan membimbingnya untuk meremas "melon" besarnya yang membusung kencang di balik kain tipis itu.
"Remas yang kuat, Juan... jangan ragu," desahnya parau di sela-sela lumatan bibir mereka yang kian panas.
Juan yang awalnya berusaha mempertahankan logikanya, akhirnya mulai tumbang. Sentuhan pada bagian sensitif Ibu Hani yang sangat padat dan kenyal itu mulai membakar gairahnya hingga ke titik didih.
Pemanasan dari pergulatan panas itu pun dimulai dengan cepat. Ibu Hani, yang sudah sangat haus akan belaian, segera memberikan servis maut pada "timun super" milik Juan yang kini sudah menegang sempurna.
"Timun supermu sudah sangat keras, Juan," Bu Hani tertawa kecil, matanya berkilat penuh gairah saat mulai mengelus tonjolan di balik celana Juan.
Jari-jemari mungil nan cantik milik sang dosen dengan cekatan membuka ritsleting celana Juan, membebaskan "timun super" itu dari belenggu kain yang memenjarakannya.
"Wow, ini sangat besar," Bu Hani tersentak kaget. Matanya membelalak menyaksikan ukuran yang ada di depan wajahnya.
Selama hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia melihat sesuatu yang se-perkasa dan sebesar ini.
Bu Hani mengocok timun super itu dengan gemas, lantas berkata dengan suara yang makin tak beraturan, "Aku akan memberikan servisan terbaik yang pernah kau rasakan seumur hidupmu, Juan."
Dalam sekejap, timun super milik Juan langsung tenggelam di dalam mulut mungil Bu Hani. Sapuan lidah sang dosen yang ahli serta gerakan kepalanya yang maju mundur menciptakan sensasi kenikmatan yang luar biasa bagi Juan.
"Uhhh... " Juan tanpa sadar mengerang nikmat, kepalanya terdongak saat menerima servis panas dari sang dosen janda.
"Kamu sangat kuat, Juan... " puji Bu Hani karena Juan masih mampu bertahan lama meskipun telah menerima servis maut darinya.
Ibu Hani bangkit kembali, membelai dada Juan sambil membuka kemeja pria itu dengan gerakan genit yang sangat merangsang. Ia bahkan mengendus leher Juan, menghirup aroma maskulin yang kental agar gairah Juan semakin memuncak.
Bu Hani kembali melumat dan mencumbu Juan dengan buas, sementara tangan Juan semakin liar meremas "melon" besar milik sang dosen. Melon besar yang di impikan seluruh mahasiswa.
Tak berhenti di sana, Ibu Hani menuntun kepala Juan ke bawah, membimbingnya untuk mencicipi apem kukus miliknya yang sudah mulai memproduksi pelumas alami.
Bagi Juan, ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan, namun ia tidak mau kalah.
Juan mulai memberikan servis balasan pada lembah basah milik Ibu Hani, membuat dosen janda itu mengerang keras karena kenikmatan yang menjalar ke seluruh sarafnya.
"Uhhh Juan... Ini terasa sangat nikmat!" Bu Hani menarik-narik rambut Juan, menyalurkan rasa nikmatnya. Satu tangannya meremas melon panasnya sendiri dengan brutal.
Tidak lama setelah itu, tubuh Bu Hani menggeliat dan bergetar hebat. Kedua kakinya menjepit kepala Juan dengan kuat seiring dengan semburan lahar panas yang menandakan ia telah mencapai puncak pertamanya.
"Sial, aku hampir kehabisan napas," gumam Juan terengah-engah karena jepitan kaki Bu Hani yang luar biasa kuat.
Suasana ruangan menjadi sangat panas dan dipenuhi dengan suara napas yang memburu serta aroma gairah yang pekat.
"Baiklah, kita akan masuk ke menu utama, aku yakin kau tidak akan kecewa dengan kenikmatan apem kukus milikku ini," ujar Bu Hani dengan tatapan mata yang semakin liar.
Ibu Hani dengan cekatan naik ke atas pangkuan Juan. Ia perlahan memasukkan timun super itu ke dalam lembah basahnya yang hangat dan sangat sempit.
Begitu keduanya menyatu, Bu Hani memejamkan mata, merasakan kepuasan luar biasa mengisi kekosongannya. Ia mulai bergoyang dengan ritme yang sangat provokatif.
Jepitan dari lembah rahasia Ibu Hani memberikan rasa kenikmatan yang luar biasa bagi Juan. Otot-ototnya yang kencang menjepit dengan sempurna, membuat Juan merasa seolah sedang diterbangkan ke awang-awang.
Timun super milik Juan benar-benar menjadi primadona, bukan hanya karena ukurannya yang fantastis, tetapi juga karena daya tahan Juan yang sangat luar biasa.
"Ohhh Juan, kenapa punyamu sangat kuat sekali... " Bu Hani meracau gila.
Ia benar-benar telah melupakan identitasnya sebagai seorang dosen. Sekarang, yang memenuhi kepalanya hanyalah meraih kenikmatan duniawi bersama mahasiswanya ini.
"Ohhh Juan, kenapa punyamu sangat nikmat... Aku hampir sampai!" goyangan pinggul Ibu Hani semakin liar dan tak terkendali.
Juan yang gairahnya juga sedang berada di puncak, meremas melon panas milik Bu Hani dengan kuat. Bahkan beberapa kali Juan memberikan gigitan kecil pada puncaknya, membuat sang pemilik meracau semakin keras dan histeris dari sang dosen primadona kampus
"Aku sampai Juan, aku sampai... !" Tubuh Bu Hani menegang sempurna dan kembali memuncratkan lahar panas dari kedalamannya.
Namun, Ibu Hani rupanya belum merasa puas. Sebagai janda yang sudah terlalu lama tidak mendapatkan belaian pria, ia masih ingin terus merasakan bagaimana perkasanya Timun Super milik Juan yang seolah tak punya rasa lelah itu. Bahkan Juan belum mengeluarkan lahar panasnya.