Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia baru rintangan lama
Waktu demi waktu telah terlewati, adel pun tamat dengan nilai terbaik dan bisa melanjutkan kuliah nya dengan program beasiswa yang ia dapat kan
Hari pertama masuk kampus terasa begitu membanggakan bagi Adel. Dengan seragam almamater yang rapi, tas punggung, dan semangat yang membara, ia melangkah masuk ke gerbang universitas impiannya.
"Ini baru awalnya, Bu. Aku akan jadi orang sukses," batinnya bertekad.
Namun, kenyataan di dunia perkuliahan tidak seindah yang dibayangkannya. Kampus ini dihuni oleh banyak anak dari kalangan berada. Gaya hidup mereka berbeda jauh dengan Adel. Tas bermerek, mobil pribadi, dan gaya hidup foya-foya adalah hal biasa bagi mereka.
Adel yang datang naik motor tua, berpakaian sederhana namun rapi, langsung menjadi sorotan. Tapi bukan sorotan karena kagum, melainkan sorotan sinis dan meremehkan.
Di kelas, Adel duduk di barisan depan agar bisa mendengar penjelasan dosen dengan jelas. Namun, perhatiannya terganggu oleh bisik-bisik dari kelompok mahasiswa cantik dan ganteng yang duduk di belakangnya. Mereka adalah kelompok yang menganggap diri mereka "elit".
Ketua kelompok itu bernama Saskia. Wanita itu cantik, tapi wajahnya selalu terlihat angkuh dan dingin. Di sebelahnya ada teman-temannya, Rara dan Dito.
"Eh, lihat tuh yang duduk depan. Seragamnya pas banget di badan, tapi kayaknya itu baju bekas ya? Atau emang kualitasnya murahan?" bisik Rara sambil tertawa kecil.
"Ah elah, namanya juga beasiswa. Pasti dapatnya gratisan semua. Maklum, hidup pas-pasan," sahut Dito mengejek.
Saskia menatap punggung Adel dengan mata tajam. "Hush, jangan terlalu keras. Nanti dia nangis lho. Kasihan kan orang susah. Tapi jujur ya, aku gak nyaman satu kelas sama orang kayak dia. Bau kemiskinan gitu lho, bikin sumpek."
Meskipun mereka berbisik, telinga Adel bisa menangkap jelas setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Hatinya terasa perih, persis seperti saat ia dihina di SMA dulu.
Kenapa harus begitu? Apa salahku hanya karena aku tidak punya uang banyak? batinnya sedih, tapi ia mencoba menahan diri dan pura-pura tidak mendengar.
Hari-hari berlalu, kebencian mereka terhadap Adel semakin terang-terangan. Karena Adel pintar, aktif, dan sering mendapat pujian dari dosen, rasa iri di hati Saskia dan kawan-kawannya memuncak.
Suatu saat saat istirahat, di kantin kampus yang ramai, Adel sedang makan dengan menu sederhana: nasi goreng dan air putih.
Tiba-tiba Saskia dan gengnya lewat dan sengaja menabrak bahu Adel hingga air minumnya tumpah sedikit.
"Aduh, maaf ya. Gak lihat-lihat orang jalan apa sih? Badan kamu tuh kayak tembok penghalang jalan tau!" cerca Saskia dengan nada ketus.
Adel buru-buru berdiri. "Maaf Kak Saskia, aku tidak sengaja."
"Jangan panggil Kak! Kita kan satu angkatan! Jangan sok akrab deh!" potong Rara. "Udah sana minggir situ! Makanan kamu baunya amis, bikin ilang selera makan kita aja."
"Iya nih, mending lo cari tempat lain deh. Jangan deket-deket kita. Kita kan anaknya suka bersih dan wangi, gak cocok sama yang bau keringat dan bau miskin kayak lo," tambah Dito sinis.
Mahasiswa lain yang melihat hanya bisa diam atau menunduk, takut berurusan dengan anak orang kaya itu.
Adel memegang erat sendoknya, tangannya gemetar menahan air mata dan amarah.
"Kenapa kalian jahat banget sih sama aku? Aku gak pernah ganggu kalian. Aku cuma mau kuliah, mau belajar. Kenapa harus dihina terus?" tanya Adel pelan tapi tegas.
Saskia tertawa meledak. "Hahaha! Denger gak teman-teman? Dia nanya kenapa! Ya karena lo itu norak Del! Gaya lo kuno, cara bicara lo kaku, lo tuh bener-bener gak level sama kita!"
"Atau jangan-jangan... lo itu dapat beasiswa bukan karena pinter, tapi karena kasihan ya? Hahaha! Atau jangan-jangan lo ngamar sama dosen biar dapat nilai bagus?"
Dug!
Kata-kata itu sangat kotor dan menjatuhkan. Fitnah yang sama persis dengan yang diucapkan tetangganya dulu.
"Jangan asal ngomong!" Adel membentak kali ini. "Nilai aku dapat dari belajar keras! Bukan dari cara kotor kayak yang kalian pikirin!"
"Oalah, masih membela ya? Udahlah sana pergi! Kita gak mau satu meja sama pembawa sial!" teriak Saskia lalu mendorong pelatuk nasi Adel hingga tumpah ke baju dan lantai.
Siang itu, Adel pulang dengan hati hancur. Baju nya kotor, air matanya tak henti mengalir. Ia merasa dunia ini sangat tidak adil.
Di rumah, ia menceritakan semuanya pada Ibunya.
"Bu... Kenapa sih hidup aku gini terus? Di sekolah dihina, di rumah dihina sama keluarga dan tetangga, sekarang pindah ke kampus eh dapat teman yang jahatnya minta ampun!" isak Adel.
"Mereka bilang aku norak, mereka bilang aku bau miskin, mereka fitnah aku macam-macam Bu. Aku capek banget harus selalu membuktikan kalau aku baik, tapi mereka tetap aja benci tanpa alasan..."
Ibu Adel mengelus punggung anaknya penuh kasih sayang. Ia mengerti betul rasa sakit itu.
"Nak... Dengarkan Ibu. Di dunia ini, akan selalu ada orang yang tidak suka melihat kita bahagia, tidak suka melihat kita berhasil. Itu sudah hukum alam."
"Mereka membenci kamu, bukan karena kamu buruk, tapi karena kamu punya sesuatu yang tidak mereka miliki: Kerja keras, Kesederhanaan, dan Kecerdasan."
"Mereka sombong karena harta orang tua, tapi kamu bersinar karena usahamu sendiri. Itu yang bikin mereka takut dan iri, Nak."
"Jangan pernah merasa rendah diri ya. Baju sederhana tidak membuat akhlakmu menjadi kotor. Motor tua tidak mengurangi kecerdasan otakmu. Biarkan mereka bicara apa saja. Fokuskan saja tujuanmu. Kamu kuliah untuk masa depanmu, bukan untuk menyenangkan mulut mereka."
Adel mengusap air matanya. Ia mengangguk setuju.
"Iya Bu... Adel nggak akan pedulikan mereka. Biarkan mereka benci, biarkan mereka sombong. Adel akan tetap jadi diri sendiri. Suatu hari nanti, saat wisuda nanti, yang akan berdiri paling gagah dan membanggakan orang tua itu tetap Adel, bukan mereka."
Adel tersenyum tipis. Api semangatnya kembali menyala. Ia tahu, perjuangannya di dunia perkuliahan tidak akan mudah. Saskia dan gengnya pasti akan terus mengganggunya. Tapi Adel sudah siap. Ia tidak akan mundur.