Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Bersama Kael
Kesadaran kembali pada Luvya perlahan-lahan, seperti cahaya fajar yang menembus kabut tebal. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukanlah dingin yang menusuk, melainkan kehangatan dari sprei sutra yang halus dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Ia tidak lagi tergeletak di atas salju yang keras.
Luvya bangkit duduk, kepalanya terasa sedikit berdenyut. Ia menatap berkeliling. Kamar itu sangat luas dan mewah, khas kamar bangsawan tinggi dengan furnitur kayu ek yang diukir rumit dan tirai beludru berat yang menjuntai di jendela-jendela besar. Namun, perhatian Luvya segera teralihkan pada tangannya sendiri.
Tunggu.
Ia menatap jemarinya. Jari-jari itu kini lebih panjang, lebih ramping, dan tampak sangat dewasa. Ia segera menyibakkan selimut dan berdiri. Luvya tertegun sejenak menyadari tinggi badannya yang berubah; sudut pandangnya terhadap ruangan itu terasa berbeda. Dengan langkah terburu-buru yang masih sedikit goyah, ia melangkah menuju cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan.
Napas Luvya tertahan. Di depan sana, berdiri seorang wanita muda yang tampak begitu asing namun sekaligus akrab. Wajahnya tidak lagi menyisakan pipi bulat khas remaja. Kini tulang pipinya lebih tegas, garis rahangnya tampak elegan, dan matanya memancarkan kedewasaan yang misterius. Rambutnya mengalir panjang seperti sutra perak yang berkilauan, membingkai wajahnya dengan sempurna. Ia terlihat seperti perwujudan sempurna dari seorang bangsawan yang agung.
Apa yang terjadi padaku?
Ingatannya mulai berputar seperti gulungan film yang rusak. Pengkhianatan Profesor Ozon di puncak gunung, wajah dingin Profesor Hedelon, pertemuan dengan Penyihir Musim Dingin, hingga pria berzirah amis darah yang mendekapnya dan berbisik lembut di telinganya.
“Aku menemukanmu lagi, Luvya.”
Siapa pria itu? Dan mengapa tubuhnya berubah seolah-olah waktu telah melompat maju begitu saja? Luvya meraba dadanya, merasakan sebuah energi hangat yang asing mengalir tenang di bawah kulitnya. Sebuah hadiah yang masih tidak bisa ia jelaskan secara logika.
Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka memecah kesunyian.
Luvya berbalik dengan waspada. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dewasa yang sangat tinggi. Rambutnya sehitam malam, kontras dengan mata biru yang tajam seolah bisa menembus jiwa siapa pun yang menatapnya. Wajahnya yang tampan terlihat kaku karena terkejut saat melihat Luvya sudah berdiri di depan cermin. Dalam hitungan detik, tatapan dingin pria itu mencair, digantikan oleh sorot mata penuh kerinduan yang amat dalam. Kerinduan yang sudah dipendam selama bertahun-tahun.
"Maaf, aku datang terlambat," suara pria itu berat dan serak, seolah kata-kata itu telah lama tertahan di tenggorokannya.
Luvya terpaku. Suara itu, mata itu, meski sudah jauh lebih dewasa dan maskulin, ia masih bisa mengenali jejak anak laki-laki yang dulu pernah ia kenal.
"Kael?" gumam Luvya, suaranya terdengar lebih dewasa dan jernih dari yang ia ingat.
Mendengar namanya disebut, Kael melangkah mendekat. Tanpa ragu, pria yang kini memiliki aura penguasa itu merendahkan tubuhnya. Ia berlutut di atas lantai marmer di hadapan Luvya, sebuah tanda penghormatan dan pengabdian yang mutlak. Kael mengambil jemari Luvya yang lentik dengan sangat hati-hati, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Luvya," bisiknya tanpa melepaskan tangan Luvya.
Luvya tertegun menatap Kael yang sedang mencium jemarinya. Di balik rasa iba dan kelegaan karena melihat Kael, sebuah alarm peringatan berbunyi kencang di dalam kepalanya.
Ini persis seperti di novel asli, batin Luvya, jantungnya berdegup kencang. Kael menemukan Luvya. Tapi harusnya bukan dengan keadaan seperti ini!
Luvya ingat betul baris demi baris cerita yang ia baca dulu. Di novel aslinya, Kael memang akan menemukan Luvya kembali, tapi dalam alur yang lebih sederhana. Sekarang? Alurnya sudah sangat berubah, berantakan, dan jauh lebih gelap. Ia tertidur selama empat tahun, tubuhnya berubah menjadi dewasa, dan ia membawa kekuatan dari Penyihir Musim Dingin.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah, dan itu membuat Luvya merasa mual.
Kenapa takdirku tetap sama? pikirnya getir. Meskipun aku sudah mencoba lari, mencoba hidup sebagai asisten, akhirnya aku tetap dipandang sebagai sang antagonis. Aku tetap menjadi sosok yang dibenci, sosok yang dituduh membunuh Bapak Kuil Penitensi.
Kael menemukanku, tapi dia menemukan seorang pembunuh. Seorang pendosa. Alurnya berubah, tapi peranku sebagai penjahat tetap tidak bergeser sedikit pun. Luvya memejamkan mata, merasakan beratnya beban status yang dipaksakan dunia kepadanya.
Kael berdiri perlahan, melepaskan genggaman tangannya pada jemari Luvya. Saat pria itu tegak sepenuhnya, Luvya harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. Sesuai dengan deskripsi di dalam novel, Kael memiliki tubuh yang tinggi dan tegap. Kini, dengan tubuh dewasanya pun, tinggi Luvya hanya sebatas dada pria itu, membuatnya merasa sangat kecil di bawah bayangan Kael yang kokoh.
"Ada apa?" tanya Kael, suaranya rendah dan penuh perhatian, menyadari kegelisahan yang terpancar dari wajah Luvya.
Luvya menunduk, menghindari tatapan biru yang terlalu tajam itu. Ia meremas ujung pakaiannya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bertanya.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Luvya lirih.
"Kau dibuang karena aku," jawab Kael singkat, namun nada suaranya sarat dengan beban penyesalan yang belum usai.
Luvya mendongak, menatap wajah tampan di depannya. Kael masih terasa sama seperti kali pertama mereka bertemu dalam ingatan masa kecil Luvya. Kael yang selalu merasa memikul beban atas penderitaan Luvya.
Memorinya kembali pada masa-masa di kediaman Duke Vounwad. Ia teringat Kael meminta maaf karena melihat tubuh Luvya yang terluka akibat cambukan Duke. Padahal, cambukan itu adalah kesalahan sang Duke yang kejam, bukan salah Kael. Ia ingat Kael yang terasa menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berdaya untuk melindunginya saat itu.
"Maaf karena aku tidak sempat menolongmu," ucap Kael lagi. Kali ini ia menatap langsung ke mata Luvya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya.
Luvya tertegun. Dulu, ia menganggap sifat Kael yang pendiam dan cenderung introvert itu sangat lucu. Kael yang kikuk dan tidak banyak bicara adalah anak yang manis. Namun sekarang, sosok itu telah bertransformasi sepenuhnya. Pria di depannya adalah pria dewasa yang matang, dengan postur tubuh kekar yang tersembunyi di balik pakaian mewahnya, dan suara berat yang berubah menjadi sangat lembut hanya saat berbicara kepadanya.
Luvya merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Sial, batinnya. Kael yang sekarang benar-benar tipe pria idamannya. Sangat tampan, protektif, dan memiliki aura misterius yang memikat.
Namun, Luvya segera menggelengkan kepalanya sedikit, mencoba mengusir pikiran itu. Ia harus fokus. Di luar sana, ia masih dicap sebagai pembunuh Bapak Kuil Penitensi, dan dunia sedang menanti kepalanya.
"Kau menghabiskan empat tahun hanya untuk ini?" tanya Luvya, mencoba mengalihkan gejolak di hatinya.
Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, merapikan sedikit helai rambut perak Luvya yang jatuh ke bahu. "Aku akan menghabiskan seumur hidupku jika itu artinya aku bisa menemukanmu kembali, Luvya."
Luvya mengernyitkan dahi, benar-benar tidak mengerti dengan intensitas tatapan dan ucapan pria di depannya. "Apa maksudmu, Kael?"
Namun, Kael tidak menjawab. Ada kilatan emosi yang tertahan di matanya, sesuatu yang terlalu dalam untuk diungkapkan sekarang. Alih-alih menjelaskan, ia justru menarik diri secara emosional dan fisik, kembali ke mode pendiamnya yang dulu, namun kali ini terasa lebih seperti benteng yang sulit ditembus.
"Pelayan akan memandumu. Bersihkan dirimu dan bersiaplah," ucap Kael datar, suaranya kembali ke nada formal yang dingin. "Kita akan makan siang bersama."
Tanpa menunggu tanggapan atau protes dari Luvya, Kael berbalik dan melangkah keluar dengan gagah. Pintu besar itu tertutup dengan suara dentuman pelan, meninggalkan kesunyian yang mencekik di dalam kamar mewah tersebut.
Luvya berdiri terpaku di tengah ruangan, masih mencoba mencerna perubahan suasana hati Kael yang begitu cepat. Tadi dia terlihat seperti pria yang siap menyerahkan nyawanya, lalu detik berikutnya dia pergi begitu saja setelah melemparkan kalimat yang menggantung.
"Dasar keparat!" gumam Luvya kesal, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Ia merasa dipermainkan. Ia baru saja bangun setelah tidur panjang selama empat tahun, tubuhnya berubah, takdirnya berantakan, dan sekarang satu-satunya orang yang ia kenal malah bersikap seolah-olah mereka hanya sedang membuat janji temu bisnis biasa.
Luvya berjalan kembali ke cermin, menatap pantulan dirinya yang tampak sangat cantik namun juga terlihat sangat marah.
Dia pikir dia siapa? Mentang-mentang sudah jadi pria dewasa yang tampan dan kekar, dia bisa meninggalkanku bingung begini? batin Luvya sengit.