NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Novita

Hari masih pagi, kabut embun yang cukup tebal, membuat udara semakin dingin, seolah ingin mengajak untuk berlama di atas ranjang.

Akan tetapi, Alawiyah sudah selesai membersihkan tubuh suaminya, sudah rapih, dan mengenakan pakaian yang bersih.

Ia mengambil ember kosong, lalu memasukkan pakaian kotor ke dalamnya, dan berniat hendak mencuci.

Saat keluar dari pintu kamar, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Bagas, yang sudah bersiap hendak ke sawah, dan tampaknya ia me jadi orang kepercayaan dari Juragan Tresno.

Ia mengenakan kemeja lengan panjang bertujuan untuk menghindari sinar mentari, dan sekilas mereka saling bertatapan.

Alwiyah mengulas senyum datar, sebagai bentuk sapaan, lalu melangkah menuju dapur.

Bagas menatap punggung sang adik ipar—yang menghilang di baik pintu dapur.

****(

Tak tak tak

Sreeeeng

Terdengar suara Ratih sedang memotong bumbu dapur, lalu menumisnya, dan memasak sayur kacang panjang bersama jagung muda, serta juga ikan asin yang di bakar, pada bara api sisa menanak nasi.

"Pakaian kotor si Mbok dimana? Biar saya cucikan sekalian,"

"Tidak perlu. Cuci saja pakaianmu, si Mbok masih kuat. Lagian kalau kamu kelelahan, lalu kandunganmu bermaslah, saya juga yang repot," sabut Ratih asal ceplos saja.

Alawiyah menelan salivanya. Ia sulit menebak sikap ibu mertuanya, tetapi mencoba bertahan, dan memilih ke belakang dapur, menuju pancuran air yang berasal dari sungai.

Saat merendam pakaian dengan deterjen, ia menatap rumah-rumah mewah milik warga yang berada di bagian belakang.

Tampak rumah Juminten yang berlantai empat, melebihi rumah Sultan Andara.

Dari arah balkon, ia melihat Juminten mengawasinya, tatapannya sangat tajam, seolah menggambarkan rasa ketidaksukaannya.

"Astaghfirullah." Alawiyah mempercepat pekerjaannya, lalu memilih masuk ke dalam dapur.

Disebuah meja kayu yang tampak usang, tertata sarapan yang sudah di hidangkan oleh ibu mertuanya.

Tampak Bagas menyeruput kopi hitamnya. Sepertinya pemuda itu sangat candu, dan mencomot sepotong singkong madu rebus, lalu mengunyahnya.

"Duduklah, sarapan, calon janinmu butuh asupan." Ratih menyodorkan piring kosong kepada Alawiyah yang sedang menatap gelisah. Sesekali ia menoleh ke arah belakang, untuk melihat Juminten, apakah masih mengawasinya.

Sejujurnya ia ingin bertanya pada sang ibu mertua, mengapa tetangganya tidak menyukai dengan lantunan ayat suci, tetapi ia ingat, jika ibu mertuanya berpesan, agar ia tak lagi banyak tanya.

Alawiyah menurut, mengambil piring, dan sarapan. Tanpa ia sadari, sedari tadi—Bagas diam-diam memperhatikannya.

Bahkan mereka belum berkenalan satu sama lainnya. Dan tampaknya Ratih tidak berminat menanyakan siapa namanya.

Setelah selesai dengan sarapannya, Bagas beranjak dari tempatnya. Lalu menyambar topi capil yang tergantung di dinding.

"Mbok, Bagas ke sawah, tadi Juragan Tresno nelpon, kalau mau nambah sawah lagi. Sepertinya milik Kang Rejo sudah dibeli juga."

"Meskipun baru kebakaran rumah, tetapi ia tidak kehabisan hartanya," sindir Ratih, lalu menyudahi sarapannya.

Bagas tak menyahut, lalu memilih membenahi kemejanya yang sudah memudar warnanya, dan sebelumnya—kembali lagi melirik Alawiyah, lalu pergi bekerja.

Alawiyah hanya menjadi pendengar, dan juga menyimak pembicaraan keduanya, tanpa mencampuri.

"Piringnya dicuci di belakang juga, Mbok?" Alawiyah mengumpulkan piring kotor, lalu memasukkannya ke dalam wadah ember.

"Perutmu cukup besar, susah jika untuk berjongkok. Sebaiknya kamu sapu rumah atau halaman saja." jawabnya dengan nada datar.

"Baik, Mbok. " Alawiyah menurut, sebab ia sangat takut jika wanita itu kembali mendiamkannya.

"Kalau ada yang bertanya tentang siapa namamu, maka jangan pernah mengatakan nama aslimu." Ratih mengucapkannya dengan nada yang ditekan, dan cukup serius.

Alawiyah yang sudah berjalan di ruang tengah, menghentikan langkahnya.

"Baik, Mbok." jawabnya dengan patuh, meskipun ia sangat begitu ingin tahu.

Alawiyah menyapu rumah, hatinya masih bertanya-tanya, tentang apa yang menjadi rahasia dari hal janggal yang ada disetiap warga desa.

Sesekali ia melihat suaminya yang terbaring ditepian ranjang, dan harapan itu masih ada, ia yakin jika suaminya akan sembuh.

Hari sudah mulai terang, Alawiyah menyapu halaman rumah, ada banyak daun mangga yang gugur, dan ia merasa jika harus banyak gerak, sebab kehamilannya yang sudah trisemester ketiga, maka bergerak adalah solusi agar ia dapat melahirkan normal.

Ia masih mengingat jelas, saat sosok Genderuwo yang malam itu sedang berdiri di bawah pohon mangga, menatapnya dengan tajam.

Sreek

Sreek

Suara sapu lidi yang menyapu tiap sampah dedaunan kering, dan membersihkan halaman rumah.

Saat bersamaan, seorang pria bertubuh kekar, datang dengan sepeda motornya. Ia tak lain adalah Bagas, tampaknya ia sedang mengambil barang yang ketinggalan.

Penampilannya sedikit rapih, meskipun ia bekerja di sawah.

Dimana pakaiannya membentuk tubuhnya yang berotot, karena terbentuk dari pekerjaannya sehar-hari.

Wajahnya sekilas mirip dengan Bayu— hanya saja, suaminya lebih teduh dan sangat adem jika dipandang semakin lama.

Pria itu menatapnya. "Kita belum saling berkenalan, siapa namamu—adik ipar?" tanya Bagas, saat jarak mereka cukup dekat sembari melirik perut Alawiyah yang membuncit.

"A—," Alawiyah menghentikan ucapannya, mencoba mengingat pesan sang ibu mertua yang melarangnya untuk memberitahu nama aslinya, pada siapapun yang bertanya.

"Ana, nama saya Ana," sahutnya cepat, dan entah mengapa, jantungnya berdegup lebih kencang.

Tatapan pemuda itu tampak biasa, menyiratkan sesuatu yang tak dapat ia terjemahkan.

Ia merasa sedikit sungkan saat Bagas masih menatapnya dengan sangat dalam, di tambah lagi—mereka bukan mahram

"Kalau nama aslinya?"

Alawiyah mulai berfikir lagi, dan ia tidak begitu faham, mengapa ibu mertuanya melarangnya menyebutkan nama asli.

"Rohana, nama saya Rohana," ia kembali berbohong, dan sebaiknya ia patuh saja dengan ucapan Ratih, meskipun wanita itu tampak ketus, tetapi cukup perhatian.

"Oh, Rohana, untung saja bukan Roh Halus," sahut pria tersebut, sembari berjalan, lalu masuk ke dalam rumah.

Alawiyah mendengkus kesal, tetapi ia tak peduli akan cemoohan dari pria itu, sebab baginya, berbohong untuk kebaikan tidak berdosa.

Ia kembali menyapu, dan mengumpulkan dedaunan kering untuk dibakar. Tatapannya teralihkan pada rumah megah didepannya.

Rumah berlantai tiga itu tampak suram, meskipun cat nya dibuat cukup terang, ditambah lagi kabut yang tebal saat masih pagi hari, membuat ia merasa bergidik ngeri—seolah seperti masuk ke dalam dimensi yang lain.

Dalam samar, ia melihat bayangan hitam yang duduk di atas pagar teras lantai tiga.

Semakin ia mengamati, tampak sosok Genderuwo dengan taring yang mencuat keluar dari sudut mulutnya, dan bola mata merah menyala, sehingga membuat ia tersentak kaget.

"Astaghfirullah," ia memegang dadanya.

Ia mengusap kedua matanya, lalu menatap kembali ke arah balkon, dan hanya ada Novita yang ia temui, dengan rambut basah terurai, wajah yang semakin pucat, dan menatapnya dengan tajam.

"Apa salahku? Mengapa mereka terlihat begitu tak suka denganku?" Alawiyah mempercepat sapuannya.

Perasaannya sering tak nyaman, setiap berpapasan dengan para warga yang ada di desa ini.

Saat bersamaan, tanpa sengaja, ia melihat seekor ular berwarna hitam, dengan leher mengembang, yang menatapnya dengan mata memerah di antara tumpukan sampah.

"Astaghfirullah!" ia melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu berbalik arah dan memilih untuk masuk ke dalam rumah.

"Roh, kenapa ketakutan?" tanya Bagas, yang baru saja keluar, dengan menenteng jerigen berisi lima liter air minum, bersama sebungkus rokok.

Tampaknya ia kembali pulang, karena mengambil dua barang tersebut.

Nada bicaranya, menyiratkan jika ia sedang mengolok nama samarannya, dan itu memancing reaksi emosi di jiwanya.

Alawiyah menatapnya kesal. "Ana, panggil Ana." jawabnya dengan ketus, lalu memilih menuju dapur, menghindari kakak iparnya yang ia anggap sedikit resek.

Bagas terkekeh, entah apa yang membuatnya begitu sangat senang, saat melihat adik iparnya mengomel, lalu kembali untuk ke sawah.

1
Desyi Alawiyah
Setan ngomong setan.. 😄
kinoy
Tejo dasar setan ih
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
setan setan gak pada sadar diri, semua dibilang setan /Facepalm//Facepalm/
Ai Emy Ningrum: 🤣🤣🤣🤣🤣 bukan nya patroli mlem Jumat ,malah ngereog ga jelas
total 1 replies
Ayani Lombokutara
🤣🤣 apalah negeri konoha dibawa bawa
renjani
desa gendeng ga manusia y ga setan y pada doyan selingku..hadeuhhh
Agus Tina
Semoga Alawiyah berhasil
Desyi Alawiyah
Nggak tahu deh, aku harus ngakak atau takut di part ini. Part percakapan para hantu.. 😋
Desyi Alawiyah
Asek... gombalannya mantap banget tuh bang pocong.. 🤭
Desyi Alawiyah
Cocok tuh ikut iklan shampo..

Lurus, hitam dan berkilau /Facepalm/
Tini Nurhenti
next,up yg byk thor.💪💪💪💪
Marsiyah Minardi
Ini cerita horor kenapa jatuhnya jadi kocak dengan kelakuan para demitnya yang narsis abis 😄😄
Si Tejo dah kebanyakan makan yang haram ,hatinya pun mati
Tega bener sama istri dan anaknya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: bentar lagi juga dpt kurma si Tejo
total 2 replies
neni nuraeni
lama" tu kmpung bkl abiz orgnya karena saling menumblkn,,, tu org bkl pindah kmpung ghaib😁
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: anak2nya nanti buat tumbal juga 🙈
total 2 replies
SENJA
pake motor? kan banyak mobil disana kan? ga ada yang mau pinjemin apa? astaga 😤
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: karena bertentangan sama mereka, ya gak mau pinjemin
total 1 replies
SENJA
padahal deketan ya entah apa tujuan pamer mobil itu 😳
Desyi Alawiyah: Kan mereka bersaing kak.. Berlomba gitu, Kira-kira diantara mereka, siapa yang kaya 😄🤭
total 1 replies
SENJA
tega emang novita isssh 😤
SENJA
weeeh anaknya udah ditumbal duluan?
Ayani Lombokutara
tejo bentr lgi giliranmu
abisin aja si semua wargany 🤣🤣 saling kirim aja biar mati semua
Ayani Lombokutara: bhahaha iyaaa ntar dijadiin bakso juga sama novita
total 2 replies
FiaNasa
bukan cuma manusianya jin² mereka pun pada rebutan pasangan🤣
Ai Emy Ningrum: dua2 nya cocok disematkan untuk para the myth 👻👻👻👻
total 10 replies
V3
si Tejo knp nama istri nya gak Surti ja , kak ... knp hrs Intan ❓
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
V3
kasihan bgt si Kunti putih ,, mmg Dia pengangguran toh mpe di bully bgtu sama si Wewe 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
V3: kasihan bgt kn si Kunti Putih 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!