NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Guru Xinjiang

Di perbatasan Kota Giok yang masih mengepulkan asap, Tian Shan berhenti.

Ia menatap Lin Feng yang berdiri dengan bahu yang tidak lagi tegang, namun matanya tampak kosong.

Beban dendam yang selama ini menopang hidupnya telah hancur, menyisakan ruang hampa yang luas.

​"Jalanmu bukan jalanku, Lin Feng," ucap Tian Shan tanpa menoleh. "Kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan. Pergilah ke Utara, cari sekte yang tidak mempedulikan masa lalu, dan bangunlah hidupmu sendiri."

​Lin Feng membungkuk dalam, kepalanya hampir menyentuh tanah. "Tuan ... tanpa Anda, saya hanyalah mayat yang menunggu waktu. Terima kasih telah membiarkan saya menjadi saksi keajaiban Anda."

​"Jangan berterima kasih padaku," sahut Tian Shan dingin. "Aku hanya menggunakanmu sebagai pion. Jika kau bertahan hidup, itu karena keberuntunganmu sendiri. Pergilah."

​Tanpa kata perpisahan lebih lanjut, Tian Shan melesat pergi, meninggalkan Lin Feng yang masih bersimpuh. .

​Beberapa pekan perjalanan membawanya ke sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik pegunungan kabut.

Desa itu bernama Lembah Teratai, tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan.

​Di pinggiran desa, terdapat sebuah pondok kayu sederhana dengan kebun sayur yang terawat.

Di halaman depan, seorang pria muda berusia sekitar tiga puluh tahun sedang berlatih pedang.

Gerakannya stabil, meskipun tidak terlalu cepat. Ia mengalirkan Qi yang murni—seorang Pendekar Inti tahap awal.

​Langkah Tian Shan terhenti. Jantungnya, yang selama ini ia anggap sudah membatu, berdenyut menyakitkan.

​Wajah itu. Struktur rahang itu. Bahkan cara pria itu memutar pergelangan tangannya saat mengakhiri jurus pedang ... sangat identik dengan sosok yang menghuni memori terdalamnya.

​"Guru ..." bisik Tian Shan, suaranya nyaris tak terdengar.

​Pria itu adalah Xinjiang. Di kehidupan sebelumnya, Xinjiang adalah pria tua bijaksana yang memungut Tian Shan saat di buang orang tuanya,

mengajarinya arti kebaikan, dan akhirnya tewas karena umur. Namun di masa ini, di dunia baru yang diciptakan Tian Shan, Xinjiang masih muda. Ia bukan seorang guru besar; ia hanyalah seorang pria yang mencoba hidup tenang.

​"Siapa di sana?" Xinjiang bertanya, menyadari kehadiran seseorang. Ia menurunkan pedangnya, menatap pemuda berambut putih yang berdiri mematung di gerbang rumahnya.

​Tian Shan segera menekan emosinya. Ia memasang wajah datarnya yang biasa. "Hanya seorang pengembara yang mencari tempat untuk beristirahat."

​Saat itu, pintu pondok terbuka. Seorang wanita cantik keluar membawa baki berisi teh, diikuti oleh seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun yang berlari memeluk kaki Xinjiang.

​"Ayah! Lihat, aku berhasil mengangkat batu ini dengan tenaga dalam!" seru anak itu riang.

​Melihat pemandangan itu, dada Tian Shan terasa sesak. Di kehidupan lalu, Xinjiang mati sendirian, tanpa keluarga, hanya demi seorang murid yang akhirnya menjadi iblis.

Kini, ia melihat gurunya tersenyum tulus, membelai kepala anaknya, dan mengecup kening istrinya.

​"Maafkan saya, Tuan Muda," ucap Xinjiang dengan sopan, tidak menyadari bahwa pemuda di depannya adalah sosok yang pernah ia selamatkan di kehidupan lain. "Desa kami jarang kedatangan tamu. Jika Anda tidak keberatan dengan tempat yang sederhana, Anda boleh beristirahat di paviliun samping."

​Tian Shan mengangguk pelan. "Namaku ... Tian Shan. Aku memiliki sedikit pengetahuan tentang kultivasi. Jika kau mengizinkanku tinggal, aku bisa membantumu memperkuat pondasi pedangmu."

​Xinjiang tertegun. Sebagai sesama Pendekar Inti, ia bisa merasakan aura Tian Shan yang jauh lebih tajam dan dalam darinya. "Itu adalah kehormatan besar bagi saya, Tuan Tian."

​Malam itu, Tian Shan duduk di atap paviliun, memangku kecapinya. Ia melihat melalui jendela pondok, Xinjiang sedang mengajari anaknya menulis, sementara istrinya menjahit di samping lampu minyak.

​Air mata, sesuatu yang sulit keluar bahkan saat ia membantai seluruh alam abadi, mengalir perlahan di pipi Tian Shan.

​"Kau tidak mengenalku, Guru. Dan itu lebih baik," batinnya. "Di dunia ini, aku bukan muridmu. Aku adalah pelindungmu. Aku akan memastikan tidak ada satu pun pedang yang akan menyentuh keluargamu. Aku akan memberikanmu kekuatan yang tidak pernah kau miliki dulu."

​Tian Shan memutuskan untuk menetap. Selama tiga tahun berikutnya, ia hidup sebagai "paman misterius" bagi anak Xinjiang dan rekan kultivasi bagi Xinjiang sendiri.

​Setiap pagi, ia memainkan Kecapi Perunggu Kuno-nya. Melodi yang ia mainkan mengandung teknik Pemurnian Napas Alam.

Tanpa disadari oleh Xinjiang, energi di sekitar rumahnya menjadi sepuluh kali lebih murni.

​Tian Shan sering memberikan petunjuk-petunjuk singkat saat Xinjiang berlatih pedang. "Turunkan bahumu dua inci. Biarkan Qi-mu mengalir seperti air, bukan seperti batu yang jatuh."

​Dibawah bimbingan Tian Shan, kultivasi Xinjiang melesat drastis. Dalam waktu tiga tahun, Xinjiang hampir menyentuh puncak Pendekar Inti, sesuatu yang seharusnya butuh waktu puluhan tahun bagi orang biasa.

​Suatu sore, saat mereka duduk di tepi sungai, Xinjiang menatap Tian Shan dengan penuh rasa terima kasih. "Tian Shan, terkadang aku merasa kau dikirim oleh langit untuk menjagaku. Kau tahu segalanya tentang teknikku, bahkan sebelum aku melakukannya."

​Tian Shan menatap aliran air, matanya perak dan dalam. "Aku hanya membayar hutang masa lalu yang tidak pernah kau tagih, Tuan Xinjiang."

​"Hutang apa? Kita baru bertemu tiga tahun lalu."

​Tian Shan tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat jarang terlihat. "Dalam mimpiku, kau adalah orang yang mengajarkanku bahwa kebaikan itu ada. Dan di dunia nyata ini, aku hanya ingin memastikan kebaikan itu tetap hidup."

​Xinjiang tertawa, menganggapnya sebagai filosofi pengembara. Namun bagi Tian Shan, setiap detik yang ia habiskan di sini adalah penebusan dosa.

Ia tahu, kebahagiaan ini rapuh. Ia tahu bahwa Ia harus terus bertambah kuat agar dapat melindungi orang-orang yang ingin Ia selamatkan seperti gurunya.

​Namun untuk saat ini, sang pembantai dari masa lalu itu memilih untuk meletakkan pedangnya dan hanya menjadi seorang pelindung bagi pria yang pernah memanggilnya "murid".

Di bawah bayang-bayang gunung kabut, Tian Shan terus memetik kecapinya, menjaga harmoni hidup gurunya agar tidak pernah hancur kembali.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!