NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Topeng Yang Mulai Retak

Begitu pintu tertutup sepenuhnya setelah kepergian Clara, suasana di dalam ruangan itu berubah menjadi lebih sunyi namun juga lebih berat, seolah semua kepura-puraan yang tadi dimainkan langsung menghilang dan menyisakan realitas yang jauh lebih tajam, sementara Lisa berdiri dengan tenang di tempatnya, tidak terburu-buru berbicara karena ia tahu bahwa setiap detik keheningan justru memperjelas posisi masing-masing orang di dalam permainan ini, dan Devan yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya melangkah sedikit lebih dekat, menatap Lisa dengan ekspresi yang kini tidak lagi sekadar penasaran, melainkan mulai memahami bahwa wanita di depannya jauh lebih berbahaya dari yang terlihat.

“Dia tidak hanya berbahaya,” kata Devan dengan suara rendah, “dia juga terbiasa berbohong tanpa ragu,” dan kalimat itu tidak terdengar seperti dugaan, melainkan seperti kesimpulan yang sudah ia ambil hanya dari beberapa menit pengamatan, membuat Lisa sedikit tersenyum karena ia tahu bahwa pria ini memang tidak sembarangan dalam menilai seseorang.

Lisa berjalan perlahan menuju mejanya, lalu bersandar ringan sambil menatap Devan dengan santai, “Dan kamu bisa melihat itu hanya dari tadi?” tanyanya, seolah ingin memastikan sejauh mana kemampuan pria ini, lalu Devan menjawab tanpa jeda, “Cara dia melihatmu… bukan seperti sahabat,” dan satu kalimat itu cukup untuk membuat suasana kembali terasa lebih tajam karena memang itulah inti dari semuanya.

Lisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan nada pelan namun jelas, “Dia memang bukan sahabat,” lalu ia menambahkan dengan sedikit tekanan, “setidaknya tidak lagi,” dan meskipun ia tidak menjelaskan lebih jauh, makna dari kalimat itu sudah cukup untuk menggambarkan hubungan yang sebenarnya.

Devan mengangguk pelan, lalu berkata, “Kalau begitu, kamu sudah tahu semua yang dia lakukan?” dan Lisa tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum tipis sebelum berkata, “Lebih dari yang kamu bayangkan,” lalu ia menatap langsung ke mata Devan dan menambahkan, “dan aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini.”

Kalimat itu diucapkan dengan tenang.

Namun di dalamnya…

Ada sesuatu yang dingin.

Sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.

Di sisi lain kota…

Clara berjalan cepat keluar dari gedung perusahaan dengan ekspresi yang tidak lagi sepenuhnya santai, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya seolah ia ingin segera menjauh dari tempat itu, lalu begitu ia masuk ke dalam mobilnya, ia langsung mengambil ponsel dan menekan sebuah nama tanpa ragu.

Panggilan itu tersambung dalam beberapa detik.

“Arvin.”

Suara Clara terdengar lebih serius dari biasanya, tidak ada lagi nada manja atau santai yang sering ia gunakan.

Di seberang sana, suara Arvin Pratama langsung menjawab dengan nada yang sedikit kesal, “Kamu akhirnya telepon juga, aku dari tadi coba hubungi Lisa tapi tidak diangkat,” lalu ia berhenti sejenak sebelum bertanya, “Kamu lagi sama dia?”

Clara menarik napas pelan sebelum menjawab, “Aku baru saja dari kantornya,” lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih rendah, “dan kamu harus tahu sesuatu.”

Arvin langsung terdiam sejenak.

“Apa?” tanyanya.

Clara menggenggam ponselnya lebih erat.

“Lisa tidak sendirian,” katanya.

“Maksudmu?” suara Arvin mulai berubah.

Clara menatap ke depan dengan mata yang sedikit menyempit.

“Ada pria lain di sana.”

Kalimat itu langsung membuat suasana di sisi Arvin berubah.

“Siapa?” tanyanya cepat.

Clara menggeleng pelan, meskipun Arvin tidak bisa melihatnya.

“Aku tidak tahu detailnya, tapi…” ia berhenti sejenak, mengingat kembali aura yang ia rasakan tadi, “dia bukan orang biasa.”

Arvin mengerutkan kening.

“Kamu yakin?”

Clara menjawab dengan tegas, “Sangat yakin.”

Beberapa detik keheningan terjadi sebelum Arvin akhirnya berkata dengan nada yang lebih dingin, “Nama?”

Clara berpikir sejenak sebelum menjawab, “Devan… dia bilang begitu.”

Dan saat nama itu disebut…

Arvin langsung terdiam.

Lebih lama dari sebelumnya.

Clara menyadarinya.

“Kamu kenal?” tanyanya.

Arvin menghela napas pelan.

“Bukan kenal…” jawabnya, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat, “tapi aku tahu siapa dia.”

Clara langsung menegang.

“Siapa dia sebenarnya?”

Arvin menjawab dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

“Devan Alexander.”

Nama itu terasa berat.

Dan juga… berbahaya.

Clara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar… dia bukan orang biasa,” lalu ia menambahkan dengan nada yang mulai menunjukkan kekhawatiran, “kenapa dia bisa dekat dengan Lisa?”

Arvin menggenggam ponselnya dengan lebih kuat.

“Itu yang harus kita cari tahu,” jawabnya.

Nada suaranya sekarang tidak lagi santai.

Ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang mulai terusik.

“Clara,” lanjut Arvin dengan serius, “jangan bertindak gegabah untuk sementara.”

Clara mengerutkan kening.

“Kamu menyuruhku diam saja?”

Arvin menjawab dengan tegas, “Untuk sekarang, iya.”

Clara tidak langsung setuju.

Namun ia tahu satu hal.

Jika Arvin sampai berkata seperti ini…

Berarti situasinya tidak sederhana.

“Baik,” jawabnya akhirnya.

Namun di dalam hatinya…

Ia tidak benar-benar ingin diam.

Kembali ke dalam ruangan Lisa…

Lisa berdiri di dekat jendela sementara Devan masih di sana, suasana di antara mereka tidak lagi seperti sebelumnya karena sekarang mereka tidak hanya berbagi percakapan, tetapi juga informasi yang cukup untuk memahami arah permainan masing-masing.

“Sepertinya mereka sudah mulai bergerak,” kata Lisa pelan tanpa menoleh.

Devan mendekat sedikit.

“Dan kamu sudah mengharapkannya,” jawabnya.

Lisa tersenyum tipis.

“Tentu saja,” katanya, lalu menambahkan dengan nada yang lebih dingin, “aku bahkan ingin mereka bergerak lebih cepat.”

Devan menatapnya.

“Semakin cepat mereka bergerak… semakin cepat mereka membuat kesalahan,” lanjut Lisa.

Kalimat itu sederhana.

Namun penuh strategi.

Devan mengangguk pelan.

“Kalau begitu…” katanya, lalu sedikit mendekat, “kita lihat siapa yang lebih dulu jatuh.”

Lisa menoleh.

Tatapan mereka bertemu lagi.

Dan kali ini…

Tidak ada lagi keraguan.

Hanya permainan.

Permainan yang semakin dalam.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mundur. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!