NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Makanan yang jatuh

​"Sudahlah," sahut rekannya tanpa memperlambat langkah. "Mungkin sengaja dibuang. Di zaman sekarang, saat batu ruh makin langka, memberi makan mulut tambahan hanya akan menghambat kultivasi. Lagi pula, belas kasihan tidak bisa dipakai untuk membeli pil pemurnian tenaga dalam."

​Kalimat “sengaja dibuang” menghantam dada Lu Ming lebih keras daripada serangan anjing liar semalam.

Dengan napas terengah, ia merangkak berdiri. Kakinya gemetar seperti ranting ditiup angin, namun matanya memancarkan kemarahan yang menyedihkan.

​"Ibu tidak membuangku!" teriak Lu Ming. Suaranya melengking, pecah di tengah keramaian. "Ibu sudah berjanji! Ayah akan menjemputku! Kalian… kalian tidak tahu apa-apa!"

​Orang-orang itu berhenti sebentar, menatap bocah yang wajahnya belepotan lumpur dan air mata itu dengan tatapan sinis.

Tak ada simpati, hanya ada pandangan meremehkan sebelum mereka kembali berjalan, seolah teriakan itu hanyalah gangguan kecil seperti kicauan burung yang berisik.

​Lu Ming merasa dadanya sesak. Ketakutan mulai mencekiknya. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di kaki telanjangnya yang menghantam batu-batu tajam.

Ia ingin lari dari kata-kata tajam itu, mencari perlindungan di antara gang-gang sempit yang dipenuhi uap masakan.

​Langkahnya terhenti di depan sebuah kedai mantou. Bau gandum yang manis dan hangat menusuk indra penciumannya, membuat perutnya yang kosong melilit luar biasa.

Lu Ming berdiri di balik pilar kayu besar, mengamati seorang pelayan yang sedang menyusun mantou putih di atas nampan bambu.

​Ia tidak berani meminta. Ia hanya berdiri di sana, menelan ludah berkali-kali, membayangkan betapa empuknya roti itu jika menyentuh lidahnya. Namun, kenyataan di dunia para pencari keabadian ini jauh lebih keras.

​Saat sepotong mantou terjatuh ke tanah akibat kelalaian si pelayan, Lu Ming secara refleks menerjang maju.

​Plak!

​Sebuah tendangan mendarat telak di bahunya sebelum jarinya sempat menyentuh makanan itu. Lu Ming tersungkur, kepalanya membentur pinggiran meja kayu dengan suara keras.

​"Pergi, pengemis kecil! Kau merusak selera makan pelanggan dengan baumu yang busuk!" bentak pemilik kedai. Pria bertubuh gempal itu memiliki sedikit sisa tenaga dalam di tangannya, membuat tendangannya terasa berkali-kali lipat lebih sakit.

​Lu Ming meringkuk, melindungi kepalanya dengan tangan yang gemetar. "Maaf… aku hanya… aku lapar…"

​"Lapar bukan urusanku. Kalau mau makan, pergi ke hutan dan gali akar pohon!" Pria itu meludah ke samping Lu Ming. Dengan kasar, ia memungut mantou yang jatuh tadi, lalu melemparkannya ke tengah jalan yang becek, sengaja menginjaknya agar makanan itu tidak bisa dipungut siapa pun.

​Bocah itu menatap mantou yang kini hancur bercampur lumpur dan kotoran kuda. Sedikit demi sedikit, cahaya harapan di matanya mulai meredup, digantikan oleh pemahaman pahit bahwa di tempat ini, keberadaannya tidak lebih berharga dari debu jalanan.

​Namun, di tengah rasa sakit dan penghinaan itu, ia merogoh kerah bajunya. Ia menyentuh sepotong kain kecil, satu-satunya benda yang ditinggalkan ibunya sebagai jimat.

​"Ibu bilang, aku harus jadi anak baik. Anak baik harus kuat menunggu."

​Dengan jemari yang gemetar, ia mencoba mencari remah-remah roti di pinggiran jalan yang tidak terkena lumpur.

Ia memasukkannya ke dalam mulut dengan penuh perjuangan. Rasanya hambar dan bercampur pasir, tapi ia mengunyahnya seolah itu adalah makanan paling mewah di dunia.

​"Aku akan bertahan," bisiknya pada diri sendiri sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya yang terluka. "Kalau aku menyerah sekarang, nanti saat Ibu dan Ayah datang, mereka tidak akan bisa menemukanku."

​Lu Ming kembali ke sudut gang yang gelap, memeluk tubuhnya sendiri untuk menahan gigitan dingin yang mulai menusuk kulit. Ia belajar satu hal hari ini: dunia tidak akan memberinya apa pun secara gratis.

​Malam kembali turun. Di tengah gemerlap Kota Azure yang dipenuhi para pemburu keabadian, Lu Ming hanyalah sebuah titik kecil yang terlupakan, menunggu sebuah kepulangan yang mungkin tak akan pernah terjadi.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!