Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 penyelesaian gate
"Selamat kau membuatnya semakin kuat" Roasting voltra meledek.
"Hah? Aku menyerangnya dengan mana bukan elemen" ujar Alina melihat setengah tubuh Great Heart of the Forest telah hancur.
"Yah jika kau melakukan itu setelah sang tanaman menyerap mana kehidupan 200 orang, tubuh tadi hanya cangkang saja" ucap voltra santai. "Semua tanaman memiliki akar, harus menemukan akar yang terhubung ke krystal untuk membunuhnya" Lanjutnya.
Great Heart of the Forest kembali bangkit, kali ini menjadi jauh lebih besar, raungan keras dari pohon itu membuat gemuruh. Raven dan lainnya melemparkan serangan jarak jauh, membor-bardir Great Heart of the Forest dari segala penjuru arah.
"Temukan krystal akarnya yang ada dibawah tanah. Aku akan terus menghancurkan monster itu" ucap voltra melesat cepat ke udara. "Temukan cepat karena aku ingin menonton sinetron kesukaan ku" Lanjutnya pada Alina.
Setelah itu voltra menebas kuat, mencincang tubuh Great Heart of the Forest. Monster itu selalu kembali karena intinya belum dihancurkan.
"Menonton sinetron katanya? Di tengah situasi hidup dan mati seperti ini?!" teriak Alina frustrasi, namun ia tidak punya pilihan selain mempercayai insting gila Voltra.
Alina memejamkan mata sejenak, menancapkan pedangnya ke tanah. Ia mengalirkan mananya ke bawah, mencoba memetakan jalur akar yang berdenyut di kedalaman bumi. Sementara itu, di udara, Voltra bergerak layaknya badai hitam. Setiap kali Great Heart mencoba meregenerasi dahan atau wajah-wajah parasitnya, Voltra langsung mencabiknya hingga hancur menjadi serpihan kayu.
"Regenerasimu cepat juga, Cacing Kayu!" seru Voltra sambil menginjak dahan raksasa yang mencoba mencambuknya. "Tapi mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan jika aku terus mencincangmu seperti ini!" Lanjutnya berteriak.
Ledakan mana terjadi setiap kali Voltra mendaratkan pukulan atau tebasan. Raven di bawah sana tidak tinggal diam ia menciptakan pusaran angin kencang untuk menerbangkan serpihan kayu agar tidak menyatu kembali ke tubuh utama monster tersebut.
"Alina! Cepat! Voltra mungkin terlihat santai, tapi dia menghabiskan mana dalam jumlah masif untuk menahan monster itu sendirian!" teriak Raven sambil menahan serangan akar yang muncul dari samping.
"Aku tahu! Sedikit lagi..." ujar Alina menggertakkan gigi. Keringat dingin mengucur di dahinya. Tiba-tiba, ia merasakan denyut energi yang sangat murni dan dingin sekitar lima puluh meter di bawah kaki sang monster. "Ketemu! Lokasinya tepat di bawah titik tumpu akar pusat, tapi terbungkus oleh lapisan kayu yang sekeras berlian!" Lanjutnya memberitahu.
"Kayu sekeras berlian? Itu hanya terdengar seperti kerupuk bagiku. Alina, menyingkir dari sana! Raven, buatkan aku jalur turun!" ucap voltra menyuruh.
"Laksanakan! Heavenly Spear of Gale!" Balas Raven merapal mantra tingkat tinggi, menciptakan bor angin raksasa yang melubangi permukaan tanah tepat di depan Great Heart.
Dengan cepat Voltra memutar tubuhnya di udara, mengumpulkan seluruh sisa energi primordialnya ke ujung kakinya. Api hitam yang menyelimutinya kini berubah menjadi kilatan petir ungu yang pekat.
"Tonton ini, Naga Betina! Inilah cara menebang pohon yang benar!" seru Voltra.
Ia menukik tajam seperti meteor jatuh, melewati tubuh Great Heart yang sedang sibuk meregenerasi diri, dan masuk langsung ke dalam lubang yang dibuat Raven.
Getaran hebat mengguncang seluruh hutan Kalimantan. Tanah merekah, pohon-pohon di sekitarnya tumbang karena gelombang kejut yang dihasilkan. Sesaat kemudian, raungan memilukan terdengar dari mulut-mulut parasit di tubuh Great Heart. Cahaya hijau yang menyelimuti hutan mendadak meredup, berganti dengan ledakan cahaya ungu dari dalam tanah.
Voltra melompat keluar dari lubang tersebut sambil memegang sebuah kristal hijau sebesar kepala manusia yang sudah retak di tangan kirinya. Ia mendarat dengan santai, meski bajunya kini benar-benar compang-camping.
"Selesai" ucap Voltra sambil melemparkan kristal itu ke arah Alina yang menangkapnya dengan kaget. "Cepat bereskan sisanya. Aku sudah melewatkan lagu pembuka sinetronku" Lanjutnya bergumam.
Tubuh raksasa Great Heart perlahan-lahan hancur menjadi debu kelabu, diikuti oleh para manusia parasit yang akhirnya jatuh dengan tenang, terbebas dari siksaan mereka.Voltra meminjam handphone Alina untuk menelpon vanya karena handphone nya sibuk menyiarkan sinetron kesukaannya, sementara hunter lain sibuk mensterilkan zona merah agar kembali seperti semula.
Alina menatap Voltra dengan tatapan tidak percaya, tangannya masih memegang kristal inti yang berdenyut redup. "Kau... kau meminjam ponselku hanya karena ponselmu sedang dipakai untuk streaming?"
"Cepat berikan," potong Voltra tidak sabar, menyambar ponsel canggih milik Alina. "Sinyal di sini sangat buruk, tapi sebagai Hunter Rank S, ponselmu pasti punya koneksi satelit, kan?" Lanjutnya
Alina hanya bisa menghela napas pasrah sementara Raven di latar belakang tertawa terpingkal-pingkal sambil membantu tim medis. Sang Raja Naga yang Agung, yang baru saja menghancurkan bencana tingkat nasional, sekarang sedang sibuk menekan nomor adiknya dengan wajah sangat serius—lebih serius daripada saat ia melawan Great Heart tadi.
"Halo? Kak?!" suara Vanya terdengar di seberang sana, sedikit berisik dengan suara televisi yang keras. "Nomor siapa ini? Kenapa menelepon pakai nomor cantik?" Lanjutnya menyadari ini kakaknya.
"Ini aku," ucap Voltra, suaranya mendadak melunak meski tetap terdengar kaku. "Aku hanya ingin memastikan kau sudah makan dan tidak membakar dapur" Lanjutnya mencibir.
"Kakak! Kau selamat?! Aku lihat di berita tadi hutan Kalimantan meledak ungu!" Vanya berteriak cemas. "Dan kenapa ponselmu sibuk terus saat aku telepon?"
Voltra berdehem, melirik Alina yang sedang memperhatikannya dengan senyum mengejek.
"Ponselku sedang... melakukan enkripsi data penting. Dengar, Vanya, jangan lupa simpan sisa ceker ayam di kulkas. Aku akan pulang besok. Dan jangan coba-cakba begadang" Lanjutnya.
"Iya, iya! Bawakan aku oleh-oleh yang aneh kalau bisa!" balas Vanya sebelum mematikan telepon karena ada iklan sinetron yang sedang seru-serunya.
"Terima kasih, Naga Betina. Pulsa-mu akan kuganti dengan magic stone nanti" ujar voltra mengembalikan ponsel itu.
"Tidak perlu," Alina terkekeh, menyimpan ponselnya kembali ke saku zirah. "Melihat seorang 'Raja Naga' ternyata adalah seorang budak adik perempuan sudah cukup menghiburku hari ini" Lanjutnya berucap.
"Apa kau bilang?!" Voltra baru saja ingin membalas, namun perhatiannya teralih.
Di ujung zona merah yang mulai memudar, sebuah helikopter hitam tanpa logo Asosiasi mendarat dengan tenang. Pintu helikopter terbuka, dan seorang pria berambut merah menyala dengan jubah yang masih menyisakan aroma abu keluar dari sana. Langkah kakinya membuat rumput di sekitarnya hangus seketika.
"Bara..." bisik Alina, wajahnya mendadak tegang.
Pria itu, Hunter Rank S yang meninggalkan pasukannya hingga menjadi parasit, berjalan mendekat dengan senyum meremehkan. Matanya tertuju langsung pada kristal inti di tangan Alina, lalu beralih ke Voltra yang bajunya compang-camping.
"Jadi, kalian yang membereskan sampahku?" tanya Bara dengan nada sombong. "Berikan kristal itu. Sebagai Hunter senior yang menemukan gate ini lebih dulu, inti itu adalah hak milikku secara hukum" Lanjutnya.
Voltra melangkah maju, berdiri di depan Alina. Ia menatap Bara dengan pandangan yang sangat dingin, api hitam mulai muncul kembali di sela-sela jarinya.
"Oh? Jadi kau adalah pengecut yang aromanya seperti arang murah itu?" Tanya voltra mengacungkan jari tengah. "Anggap saja kau sudah mati bajingan" Lanjutnya meledek.
[Nama: bara].
[Strength: 60/85, speed: 30/50, endurance: 50/70, mana: 40/60].