Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Godaan Mawar
0o0__0o0
Rison.
Awalnya, ia hanya berniat memastikan Mawar baik-baik saja. Ada sesuatu yang sejak tadi membuatnya ingin melihat menantu-nya itu lagi—alasan yang bahkan ia sendiri enggan akui.
Namun yang di dapat justru pemandangan yang menusuk jiwanya.
Tatapan-nya membeku.
Di balik celah pintu, laki-laki paruh baya itu melihat semuanya.
Mawar sedang asik bercumbu dengan Ares. Tangan pria itu menekan pinggangnya. Hingga tubuh mereka saling menempel tanpa cela.
"Keluarkan lidahmu, Sayang." Bisik Ares serak. "Aku mau ciuman pakai lidah."
Mawar tersenyum tipis. Menatap mata suami'nya yang terlihat sayu. Lalu ekor matanya melirik ke arah cela pintu yang terbuka.
"As you wish, My Husband." Bisiknya sensual.
Ia mengalungkan tangan-nya ke leher Ares. Lalu memiringkan kepalanya sambil mengeluarkan lidahnya.
Dan detik berikutnya, Ares menarik tubuh istrinya lebih dekat.
Ciuman itu berubah.
Awalnya pelan… terkontrol.
Namun dalam hitungan detik, menjadi lebih dalam, lebih menuntut.
Napas mereka saling memburu.
Bibir yang bertaut semakin intens, menciptakan ritme yang membuat waktu seolah melambat.
Suara detik jam di dinding menjadi satu-satunya saksi, berdetak selaras dengan debar gairah yang kian tak terkendali.
Di luar sana, Rison berdiri membeku.
Tangannya mengepal keras di sisi tubuh. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah drastis—lebih gelap, lebih tajam… dan berbahaya.
“Sial… lagi-lagi aku harus melihat ini,” desisnya dalam hati.
Namun yang mengganggunya bukan hanya pemandangan itu. Melainkan perasaan yang muncul setelahnya.
Ketertarikan.
Keinginan.
Sesuatu yang seharusnya tidak ada… justru tumbuh semakin liar.
“Cepat atau lambat…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, “kamu akan jatuh ke dalam pelukanku, Mawar.”
Di dalam ruangan, Mawar perlahan menjauh. Napasnya masih memburu, tapi wajahnya tetap tenang—lembut, seperti istri yang sepenuh-nya milik suaminya.
"Aku baru tau... ternyata suamiku memiliki skill handal." Ucapnya pelan, jemari-nya menyentuh bibirnya sendiri. "Kamu hampir membuatku mati kehabisan nafas, Sayang."
Ares terkekeh rendah.
Dengan gerakan tegas, ia mengangkat tubuh Mawar dan mendudukkan-nya di atas meja, mengurung-nya di antara kedua lengan-nya.
“Tapi kamu menikmati-nya, bukan ?” bisiknya, suaranya dalam dan menekan.
Mawar menatap-nya.
Diam sejenak.
Lalu, dengan gerakan halus, ia menarik dasi Ares, mendekatkan wajah mereka hingga hanya berjarak napas.
“Aku istrimu,” balasnya lirih. “Semua yang ada dalam dirimu... Dari ujung kaki sampai ujung kepala.. Adalah milikku.”
Namun saat Ares kembali terpikat pada jarak yang semakin tipis itu, mata Mawar perlahan beralih.
Sekilas.
Ke arah pintu.
Dan di sana… senyum tipis tersungging di bibirnya. Tangan-nya bergerak lembut, mengusap dada bidangnya, lalu semakin turun ke bawah.
Tangan'nya berhenti pada bagian sensitif Ares.
"Milikmu sudah menegang, sayang." Bisik mawar meng-goda.
Seolah ia tahu. Bahwa permainan ini… tidak hanya di mainkan oleh satu orang.
“Mau aku bantu keluarkan, hm ?” bisik Mawar dengan nada menggoda.
Ares memejamkan mata sejenak. Ia tak bisa memungkiri setiap kali bersentuhan dengan Mawar, kendali dirinya selalu goyah. Hasrat itu datang begitu saja, cepat dan sulit di bendung.
Sementara itu, senyum tipis menghiasi bibir Mawar. Jemarinya bergerak pelan, penuh sengaja, menyusuri area sensitif Ares dengan sentuhan ringan namun menggoda.
“Eurgh… Mawar, kamu yakin mau mulai di sini ?” suara Ares terdengar berat, tertahan. “Kamu tahu… aku bukan tipe yang bisa berhenti hanya dengan sekali pelepasan.”
Mawar terkekeh pelan, tangan-nya belum juga berhenti. “Justru itu,” balasnya lembut namun penuh arti. “Mulai sekarang, kamu harus belajar mengendalikan diri.”
Perlahan, ia mulai melonggarkan sabuk Ares, matanya menatap penuh tantangan.
“Kamu boleh minta ‘jatah’ bahkan saat di kantor…” lanjutnya, suaranya makin rendah. “Tapi hanya satu kali pelepasan.”
Penawaran itu terdengar menggoda… sekaligus menyiksa.
Ares terdiam. Napasnya mulai tak beraturan, sementara pikiran-nya di penuhi tarik-menarik antara logika dan keinginan yang kian memuncak.
Ares membuka matanya perlahan. Tatapan-nya jatuh tepat pada Mawar—tajam, dalam, dan mulai kehilangan sisa-sisa kendali yang ia punya.
“Kamu benar-benar ingin menguji aku, ya…” gumam-nya pelan.
Mawar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, seolah menikmati setiap detik perubahan ekspresi suaminya.
Ada kepuasan tersendiri melihat Ares yang biasanya kuat menahan nafsu dan tak mudah di goda, kini mulai goyah hanya karena dirinya.
“Ini bukan soal menguji,” bisiknya kemudian, mendekat sedikit. “Ini soal… siapa yang lebih kuat menahan nafsu.”
Kalimat itu seperti pemicu.
Ares langsung menarik napas panjang, rahangnya mengeras. Tangan-nya yang sejak tadi diam, perlahan naik, mencengkeram pergelangan Mawar.
Tidak kasar, tapi cukup tegas untuk menghentikan permainan kecil itu di bawah sana.
“Mawar…” suaranya rendah, hampir seperti peringatan. “Jangan salahkan aku kalau nanti aku lepas kendali.”
Alih-alih takut, Mawar justru terkekeh pelan.
“Silakan,” jawabnya ringan, matanya menantang. “Tapi ingat… kamu cuma boleh ‘satu kali’ pelepasan.”
Hening sejenak.
Lalu, tanpa aba-aba, Ares mendekatkan wajahnya ke Mawar. Jarak mereka kini begitu tipis, napas hangat saling bersentuhan.
“Kamu pikir aku akan patuh ?” bisiknya.
Mawar menatap lurus tanpa gentar. “Aku yakin kamu bisa… kalau kamu mau. Karena kamu tidak punya pilihan lain, Suamiku.”
Detik itu juga, sesuatu berubah.
Bukan lagi sekadar hasrat, tapi permainan kendali. Tarik-ulur yang membuat suasana semakin panas tanpa perlu banyak sentuhan.
Ares tersenyum tipis—senyum yang jarang muncul, tapi selalu berbahaya.
“Baik…” katanya pelan. “Kita lihat… siapa yang menyerah duluan.”
Dan tanpa perlu kata lagi, ketegangan di antara mereka justru semakin menebal—lebih kuat dari sekadar sentuhan, lebih dalam dari sekadar keinginan.
0o0__0o0
Sementara itu…
Rison masih berdiri di sana.
Tak bergerak. Tak berniat pergi.
Padahal ia tahu persis—apa yang sedang terjadi di dalam sana… dan ke mana arah semuanya akan berlanjut.
Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Sial…” umpatnya pelan, nyaris tak terdengar.
Tatapan-nya tetap terpaku, meski hatinya seperti di remas sesuatu yang asing—panas, tajam, dan menyesakkan.
“Andai aku yang mengenal Mawar lebih dulu…” gumamnya lirih. “Pasti… aku yang ada di posisi itu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Namun kenyataan tak pernah bisa diubah hanya dengan penyesalan.
Dari celah pandangan-nya, ia masih bisa melihat bayangan kedekatan mereka—cukup untuk membuat dadanya semakin bergejolak.
Bukan hanya keinginan. Tapi juga… rasa memiliki yang seharusnya tak pernah ada.
Rison menghembuskan napas kasar, mencoba menarik dirinya kembali ke realitas. Tapi kakinya tetap terpaku. Seolah ada bagian dari dirinya yang menolak untuk pergi.
Matanya meredup, namun bara di dalamnya justru semakin menyala.
“Kalau begitu…” bisiknya pelan, kali ini dengan nada yang lebih dalam. “Aku akan cari cara… agar kamu melihat ke arahku juga, Mawar.”
Dan untuk pertama kalinya. Bukan sekadar ketertarikan. Melainkan tekad yang perlahan berubah menjadi obsesi.
0o0__0o0
Ares menatap Mawar beberapa detik—lalu batas itu benar-benar runtuh.
Tanpa peringatan, ia bergerak.
Tangan-nya langsung mendorong tubuh Mawar pelan, hingga wanita itu terlentang di atas meja kantor.
Berkas-berkas di sana bergeser, sebagian jatuh, tapi tak ada yang peduli.
“Mawar… ini salah mu,” desisnya rendah.
Belum sempat Mawar membalas, Ares sudah menutup jarak.
Ciuman-nya jatuh kasar—bukan lembut seperti sebelum-nya, tapi penuh tuntutan. Liar. Dalam. Seolah semua kendali yang tadi di tahan kini di lepaskan tanpa sisa.
Mawar sempat terkejut, napasnya tercekat. Tapi hanya sesaat.
Detik berikutnya, ia membalas.
Tangannya langsung mencengkeram bahu Ares, menahan tubuh pria itu yang kini benar-benar mendominasi.
Ciuman mereka berubah menjadi pertarungan—tak ada yang mau kalah, tak ada yang mau mundur.
Suara napas yang memburu mulai memenuhi ruangan.
Ares semakin menekan, satu tangan-nya mengelus paha dalam Mawar di meja, sementara yang lain membuka satu persatu kancing kemejanya sampai tak tersisa.
"Eurghhh..."
Mawar mengerang tertahan.
Jarak di antara mereka nyaris tak ada, panas tubuh saling menyatu.
“Kamu bilang… satu kali pelepasan ?” bisiknya di sela ciuman, suaranya berat dan nyaris hilang oleh napas yang tak beraturan.
Mawar tersenyum tipis, meski napasnya mulai berantakan.
“Kalau kamu mampu…” balasnya pelan, menantang.
Kalimat itu justru membuat Ares semakin kehilangan sisa kendalinya.
Ia kembali menerkam bibir Mawar, lebih dalam, lebih menuntut—seolah ingin membuktikan bahwa aturan itu tak akan semudah yang di bayangkan.
Sret!
Dalam satu tarikan, rok span Mawar terangkat ke pinggang. Hingga menyisakan underwear putih berenda tipis.
Mawar tersentak. Napasnya tertahan, tubuhnya menegang di atas meja. Ia seperti melihat sosok lain dari suami polosnya itu.
“Kita lihat hasilnya… setelah kita mencobanya,” bisik Ares rendah.
Ia berdiri tegak, menarik lepas dasinya dengan gerakan kasar, seolah menyingkirkan segala batas yang menahan. Tatapan-nya jatuh pada istrinya, liar, penuh hasrat yang tak lagi ia sembunyikan.
Penampilan Mawar sudah jauh dari rapi.
Kancing kemeja terbuka dan hanya menyisahkan bra berenda ketat putih. Rambutnya terurai berantakan, dan sorot matanya sayu, kabur oleh hasrat yang bergolak. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya tak beraturan.
Perempuan itu terlihat rapuh… sekaligus menggoda.
Kakinya menggantung di sisi meja, jemarinya mencengkeram permukaan kayu, seakan mencoba bertahan di tengah gairah yang perlahan membesar.
Dari luar, Rison membeku di tempat.
“Gila…” gumamnya pelan.
Pandangan matanya mengeras, namun tak mampu berpaling. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak—antara keinginan, penyesalan, dan amarah yang tak jelas arahnya.
Ia tahu… seharusnya ia pergi.
Namun kakinya tak bergerak.
Matanya menyipit tajam. Memandang apa yang ada di dalam ruangan itu.
Lebih tepatnya tubuh mawar.
Seolah merekam setiap lekuk tubuh sexy menantu-nya itu ke dalam memorinya.
Di dalam ruangan itu, suasana berubah.
Dan di atas meja itu, permainan yang tadi hanya godaan… kini akan berubah menjadi duel panas yang tak lagi bisa di hentikan begitu saja.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣