PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 Pernyataan Cinta
Aku menyelesaikan berkas dokumen yang telah menumpuk di atas meja.
"Halo? Selamat pagi."
"Selamat pagi. Maaf ini siapa?"
"Perkenalkan nama saya adalah Essen. Teman dari Heinry. Bolehkah berbicara dengan nona?
"Iya. Apakah ada sesuatu?
"Saya ingin bertemu dengan anda. Apakah anda bersedia untuk bertemu?"
Teman Heinry ingin bertemu denganku.
"Apakah Heinry sedang dalam keadaan yang tidak baik?"
"Bukan. Hari ini saya ingin meminta pendapat anda mengenai rencana ulang tahun kekasihku."
Jadi dia ingin bertemu denganku karena Evelly. Aku senang karena Heinry dalam keadaan baik.
"Baiklah. Kebetulan saya hari ini berada di Korea."
"Terima kasih. Kalau begitu kita akan bertemu di Kebun Jiwa pulau Jeju."
Essen menutup telepon setelah aku menyetujuinya. Seorang pria mendekatiku.
"Nona sedang menelepon siapa?"
Sekertaris Seon bertanya kepadaku. Dia lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Aku sedang menelpon temanku di Cina."
Sekertaris Seon mengangguk kepala. Belum saatnya aku mengenalkannya kepada Heinry karena hubungan kami hanya berteman.
"Nona ini berkas dokumennya."
"Terima kasih."
Sekertaris Seon menyerahkan berkas dokumen kepadaku. Sebelum dia pergi dari ruangan. Aku meminta bantuan kepadanya.
"Hari ini aku mau keluar. Kamu bisa membantu meneruskan pekerjaan ini?"
"Baik akan saya laksanakan."
Aku lalu pergi ke tempat yang Essen janjikan.
Di Pulau Jeju. Aku menghubungi Essen sebanyak tiga kali tetapi tidak diangkat. Akhirnya aku menunggu kedatangannya. Sekitar tiga puluh menit telah berlalu. Aku duduk di kursi yang berada di taman. Aku melihat pemandangan taman
"Aku baru tahu ternyata pulau Jeju adalah pulau yang indah."
Aku memandang terkagum dengan keindahan pemandangan musim semi di taman.
"Kenapa kamu melamun?"
Terdengar suara pemuda yang terasa tidak asing. Heinry tersenyum kepadaku
"Heinry?"
Aku memanggil namanya. Heinry lalu duduk di sampingku.
"Sedang apa ada kamu di sini?"
Heinry bertanya kepadaku.
"Temanmu ingin bertemu denganku. Kamu juga kenapa ada di sini?"
Aku membalikkan pertanyaannya. Dia lalu menjawabnya dengan wajah yang tidak kalah dengan rasa penasarannya.
"Essen memintaku untuk bertemu denganmu di taman karena dia tidak dapat kemari karena sakit."
"Temanmu sedang sakit apa?"
"Dia hanya sedang sakit perut."
Aku mengangguk kepala. Setelah itu suasana kembali hening. Aku lalu sedang memandang daun yang bersemi.
"Bagaimana? Tempat ini tidak kalah indah dengan tempatmu."
"Iya. Tempat ini sungguh indah. Ini pertama kalinya aku datang kemari."
Aku terpesona dengan keindahannya. Tidak pernah aku mengira. Jika ada tempat yang indah di sini.
"Kita juga bisa sering ke tempat ini. Apakah kamu mau berjalan denganku?"
Heinry mengulurkan tangannya ke arahku. Perlahan tanganku bergerak dan menyentuh telapak tangan kanannya lalu dia menggenggam tanganku dengan lembut. Aku merasakan kehangatan di telapak tangannya.
"Pulau Jeju adalah pulau yang memiliki pemandangan indah. Tidak hanya keindahan saja tetapi pulau ini juga memiliki berbagai obyek wisata. Karena itu Kebun Jiwa merupakan taman terindah di pulau Jeju."
"Berbagai obyek wisata?"
"Iya. Pulau ini memiliki lebih dari sepuluh obyek wisata."
Aku terkejut mendengarnya.
"Bolehkah kamu pergi bersamaku menikmati pemandangan ini?"
"Kalau begitu kita akan berkeliling di sekitar taman."
Heinry berada di depanku. Aku mengangguk kepala lalu mengikutinya. Dia berjalan menuju ke arah kerumunan. Aku melihatnya sedang berhenti di tempat persewaan sepeda.
"Kamu mau menyewa sepeda?"
"Apakah kamu bisa naik sepeda?"
"Iya. Aku bisa."
"Baiklah kalau begitu kita akan menyewa dua sepeda."
"Kamu mau menyewa dua sepeda?"
"Apakah kamu ingin naik satu sepeda denganku?"
Aku tidak bisa naik satu sepeda dengannya. Jantungku kini berdetak dengan kencang. Dia akan segera mengetahuinya jika naik sepeda bersamaku.
"Baiklah. Kita menyewa dua sepeda."
"Itu juga bagus ."
Kami berdua lalu menaiki sepeda mengelilingi taman.
"Kamu mau berbalapan sepeda denganku?"
Heinry bertanya kepadaku. Aku hanya diam tidak menjawab perkataannya.
"Kenapa diam?"
Aku menoleh wajahku dan menatap wajahnya. Dengan secepat mungkin aku mengayunkan sepeda.
"Hei curang?"
Heinry berusaha untuk mengejar.
"Bukankah kamu yang mengajakku untuk berbalapan sepeda?"
Aku mengatakannya dan tersenyum. Wajah Heinry lalu memerah.
"Oke siapa takut."
Kami saling mengejar. Tidak terasa hari sudah sore.
"Capeknya?"
Aku menghentikan sepeda. Heinry lalu mengembalikan sepedaku. Beberapa saat kemudian. Dia datang mendekatiku yang sedang duduk.
"Ini minumannya."
Aku menerima minuman pemberiannya.
"Segarnya?"
Tenggorokan yang tadi terasa kering kini sudah membaik.
"Aku tidak mengira kamu hebat dalam berbalap sepeda."
"Tentu saja. Dulu aku sering mengikuti kegiatan olahraga di sekolah."
Semenjak ke dua orang tuaku bercerai. Aku merubah kehidupanku. Bahkan kegiatan sekolah yang dulu tidak pernah mengikutinya. Kini telah aktif. Heinry mengangguk kepala.
"Karena itu kamu dapat bersepeda dengan kencang."
"Terimakasih sudah mau menemaniku."
"Aku juga senang melakukannya."
Banyak pasangan yang berada di taman bersepeda bersama. Aku melihat mereka tersenyum bahagia.
"Apakah bersepeda merupakan hal yang menyenangkan untuk berkencan?"
Aku bertanya kepada Heinry. Ini merupakan pengalaman pertama bagiku melakukannya bersama dengan seorang pria yang aku cintai.
"Mungkin bisa dikatakan begitu. Aku tidak pernah berkencan dengan seorang gadis."
"Benarkah? Aku tidak percaya."
Aku mencoba untuk menggodanya. Jauh di dalam hatiku ingin mengetahui wanita yang di cintainya.
"Kamu adalah wanita pertama yang berkencan denganku. Bagaimana denganmu?"
"Perpisahan orang tuaku membuat trauma dan menutup hatiku untuk menjalin hubungan dengan pria sebagai kekasih."
"Itu berarti aku adalah pria pertama yang berkencan denganmu."
Heinry mengatakannya dengan wajah kebahagiaan. Bahkan membuatku malu karenanya.
"Iya. Kamu adalah pria pertama yang berkencan denganku."
Aku mengatakannya dengan nada yang pelan. Kami berdua lalu saling bertatapan mata.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Heinry memegang ke dua telapak tanganku dengan lembut.
"Aku mencintaimu."
Heinry mengatakan kepadaku kalau dia mencintaiku. Itu pasti tidak benar. Aku mungkin salah mendengarnya.
"Kamu pasti sedang bercanda."
"Apa itu terlihat hanya sebatas lelucon?"
"Mungkin aku salah mendengarnya."
"Aku mencintaimu."
Penyataan cinta kedua Heinry membuatku merasa yakin jika ini bukan hanya lelucon ataupun aku yang telah salam mendengar. Aku menundukkan kepalaku di dalam terdiam.
"Apa kamu juga mencintaiku?"
Didalam suasana hening di saat itu Heinry membelai rambutku.
"Jika kamu tetap diam bisa aku artikan kalau kamu juga mencintaiku."
Aku bersandar tubuhku di pohon besar. Tangan kiri Heinry memegang pohon yang berada tepat di belakangku.
"Zhao Mai?"
Panggilan lembut dari Heinry membuat diriku tersadar dalam lamunan. Aku menatap wajahnya dan tersenyum.
"Apa itu jawaban dari pertanyaan dariku?"
Aku mengangguk kepala dan mengatakan isi hatiku kepadanya.
"Iya."
Heinry tersenyum puas mendengar jawaban dariku. Perlahan dia mendekati. Tangan kanannya memegang daguku. Itu membuat wajah Heinry semakin dekat. Aku mendengar suara detak jantung cepat seperti diriku. Aku juga merasakan tubuhku sedikit gemetar. Semakin dekat dan semakin dekat wajah Heinry. Aku menutup ke dua mata dan sebuah kecupan mendarat di bibirku. Rasa yang lembut dan manis serta sensasi yang menggairahkan. Apakah ini yang namanya kecupan?
"Mama ada sepasang remaja sedang berciuman."
Seorang anak kecil mengatakan hal itu kepada mamanya. Heinry lalu menghentikan ciumannya dan aku mendorong tubuh Heinry dengan pelan.
"Kamu tidak boleh berbicara dengan tidak sopan. Sekarang kamu ikut ibu."
"Baik bu."
Anak itu mengangguk kepala. Ibu dan anak pergi jauh meninggalkan kami.
"Sepertinya ini tidak bisa di teruskan lagi."
Aku mendengar perkataan Heinry lalu berpura-pura merapikan rambut dan pakaianku untuk menutupi ekspresi wajah malu.
"Kamu hari ini terlihat cantik."
Heinry mengatakan pujian kepadaku.
"Jika hari ini aku terlihat cantik itu berarti kemarin saat bertemu denganmu aku terlihat jelek."
Aku mengatakan dengan ekspresi wajah cemberut. Heinry membelai rambutku dengan lembut
"Saat pertama kali kita bertemu. Aku melihat gadis yang begitu cantik dan hari ini aku bertemu denganmu aku juga seperti melihat bidadari tepat berada di depanku.
"Aku baru tahu kamu ternyata seorang pria yang pandai merayu."
"Aku adalah seorang pria yang setia dan tulus mencintaimu."
"Berapa banyak wanita yang kamu rayu?"
Aku bertanya kepadanya. Dia lalu memegang dagunya seolah mengingatkan sesuatu.
"Ada dua wanita yang pernah aku rayu. Kamu adalah wanita yang kedua."
"Yang kedua?"
"Iya. Kamu yang kedua."
Aku kesal dengan perkataan Heinry. Ini mungkin karena aku cemburu.
"Kamu tidak penasaran siapa gadis pertama yang aku rayu?"
Heinry berkata kepadaku. Aku dengan segera menolaknya.
"Itu tidak penting."
"Benarkah kamu tidak penasaran?"
Dia mengulangi perkataannya.
"Jika aku mengatakan sangat penasaran lalu apakah kamu akan menjawab pertanyaan dariku?"
"Tentu saja aku akan menjawabnya."
"Iya. Aku penasaran dengan gadis pertama yang kamu rayu itu."
"Kamu ingin aku menjawabnya dengan jujur atau bohong?"
"Sudahlah tidak perlu di jawab. Aku mau segera pulang."
"Janganlah marah seperti itu sayang."
Aku merasakan kesal dan marah saat aku mendengar pria yang aku cintai sedang membahas wanita lain di depanku.
"Aku tidak bisa memberi tahu siapa nama gadis itu tapi aku akan memberi tahu kepadamu dia wanita yang berkepribadian seperti apa."
Heinry memegang kedua pundakku. Dia terdiam dan menundukkan kepala.
"Gadis itu seorang yang mirip denganku. Melihatnya seperti melihat cerminan diri kepadaku.Dia lebih muda dariku dan juga memiliki pekerjaan."
"Sudah cukup jangan di lanjutkan lagi."
Aku memegang dadaku dan merasakan sakit.
"Aku mau hubungan kita di dasari oleh kejujuran."
Heinry mengatakannya dengan lembut.
"Baiklah katakan saja semuanya kepadaku."
"Seperti yang aku katakan kepadamu. Aku merayu gadis itu dan aku juga mencintai gadis itu pada pandangan pertama."
Tangan Heinry memegang kepalaku dengan lembut lalu mencium keningku.
"Gadis itu adalah kamu."
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter