Jabar, Teknisi senior yang jatuh cinta lagi pada Operator di mesin yang ia pegang. Setelah beberapa tahun menduda, ini kali pertama dia jatuh cinta lagi. Operator baru itu namanya Clara masih muda dan cantik, tapi pemalu.
Mungkin inilah jalan cinta Jabar yang mulus bak jalan tol. Ketika Jabar memberi tumpangan pada Clara untuk berteduh di rumahnya karena hujan yang lebat, beberapa orang tetangga sempat heran dan curiga. Namun, Jabar tidak kalah gertak, dia mengaku kalau Clara adalah istri barunya yang baru beberapa hari dinikahi.
Apakah kebohongan Jabar akan terendus massa ataukah ini jalan cintanya untuk yang kedua kali naik pelaminan? Natikan kisah serunya di karya "Jerat Cinta Sang Teknisi".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ciuman Pertama
Siapa yang bilang bahwa abang duda stres dan frustasi?" Jabar menatap lekat wajah Clara sampai hembusan nafasnya menyapu wajah. Clara berkedip, dia tidak kuat menahan tatapan Jabar yang membuat hatinya dilema.
"Tatap abang, kamu harus katakan siapa yang bilang seperti itu," desak Jabar lagi seraya mengeratkan cengkraman tangannya di lengan Clara.
"Bang Hardi," jawab Clara lemah. Seketika Jabar melepaskan cengkraman tangannya lalu duduk di dipan.
"Si Hardi memang mulut comel persis perempuan. Tapi kenapa dia bilang gua duda stres dan frustasi? Kampret, dia memang sirik sama gua. Lihat saja nanti jika dia berani bilang yang kagak-kagak, gua bongkar kartunya," ancam Jabar di dalam hati.
"Ya sudah, kita makan dulu, yuk. Nanti abang ceritakan habis makan. Abang tidak punya banyak waktu untuk berdiam-diam begini, karena sebentar lagi abang juga harus siap-siap bekerja," tukasnya seraya menarik lengan Clara dan membawanya turun ke bawah untuk makan.
"Makanlah, jangan pikirkan omongan si Hardi yang tidak benar, abang janji setelah ini akan cerita sejujur-jujurnya," titahnya seraya menyodorkan piring yang sudah diisi nasi dan lauknya. Akhirnya mereka makan, meski dalam keadaan diam-diaman.
"Jadi begini, abang memang tidak cerita sama kamu tentang status abang. Abang pikir itu tidak penting, toh akhirnya kamu akan tahu dengan berjalannya waktu. Seperti sekarang ini, kamu tahu status abang dari orang lain. Tadinya abang juga akan berterus terang sama kamu, tapi malah keduluan sama si Hardi. Cuma, sayang saja, omongan dia dilebih-lebihkan. Abang memang duda, tapi tidak stres atau frustasi. Hardi mengada-ngada," tekan Jabar setelah selesai makan dan membawa Clara ke ruang tengah.
"Coba tatap abang. Abang pengen tahu, sekarang mau kamu bagaimana, Dek, setelah tahu abang seorang duda?" Jabar menghadapkan tubuh Clara padanya sehingga mereka berhadapan.
"Kenapa Abang tidak cerita dari awal?" Satu pertanyaan keluar dari mulut Clara dengan wajah yang menunduk.
"Abang bukan tidak mau cerita, terlebih saat itu kita menikahnya buru-buru karena ada desakan dari Pak RT yang meminta KTP kita dan foto copy buku nikah. Tapi sekarang abang sudah akui dengan jujur, masa iya kita harus berpisah gara-gara kamu tahu status abang belakangan?" tukas Jabar membuat sudut hati Clara ada yang berdenyut saat Jabar mengucapkan kata berpisah.
"Dek, responlah, jangan diam saja. Kamu keberatan status abang ternyata duda sebelum menikahimu? Menurut abang mau duda atau perjaka tidak ada bedanya, yang penting bisa jaga diri selama menyandang dua status itu. Perjaka atau duda, kalau dia suka main perempuan di luaran sana, maka tidak ada harganya dia sebagai lelaki." Jabar berkata dengan tandas. Clara tersentak, rupanya lelaki di hadapannya memiliki prinsip yang bagus sebagai seorang lelaki.
Clara menggeleng, memberi jawaban bahwa dia tidak keberatan dengan status Jabar yang duda sebelum menikahinya. Setelah mendengar pernyataan Jabar barusan, Clara mulai yakin bahwa Jabar merupakan laki-laki yang punya prinsip dan tidak mudah mempermainkan perempuan.
"Kenapa? Apa yang kamu gelengkan itu, Dek?" Jabar mencoba mengulik arti dari gelengan Clara
"Clara tidak masalah dengan status Abang," jawabnya pelan tapi bisa Jabar dengar. Jabar tersenyum dengan jawaban Clara, tanpa sadar Jabar membawa tubuh Clara ke dalam pangkuannya lalu menciumi pipi Clara dengan gemas.
"Abang mencintai kamu, Dek. Pertama kali melihatmu abang jatuh cinta, kamu sangat cantik dan menarik hati abang," ungkap Jabar seraya mempererat pelukannya. Clara yang belum biasa dan kaget, meronta-ronta sehingga dengan terpaksa Jabar melepaskan pelukannya.
"Ya ampun, khilaf Sayang," ujarnya dengan muka yang sedikit kecewa.
"Kamu belum siap memberikan diri kamu seutuhnya pada Abang? Atau gara-gara tahu abang duda, kamu perlahan mundur dan tidak suka dengan abang? Tapi semua itu tidak mudah abang lepaskan, Dek. Kamu sudah menjadi istri abang dan kekasih halal abang. Kalau bisa dunia dan akhirat abang pengennya sama kamu. Maka dari itu jangan coba-coba ingin lepas dari abang. Sebab, abang tidak akan pernah melepaskannya. Kecuali ...."
Jabar menghentikan ucapannya, dia kini teringat kembali masa lalu saat dirinya diselingkuhi Fita sang mantan istri.
"Kecuali apa, Bang?" Clara penasaran.
"Kecuali jika kamu berselingkuh. Maka, abang akan melepaskanmu. Karena orang yang sudah berkhianat, tidak pantas lagi di sisi abang," tandasnya seraya berdiri.
"Bang," panggil Clara bingung seraya menatap Jabar yang menaiki tangga.
"Abang akan tidur sejenak seraya menenangkan pikiran dulu. Sebentar lagi abang bekerja," ujarnya dengan wajah yang terlihat kecewa. Clara termenung, dia merasa bersalah melihat Jabar pergi, Clara tahu Jabar kecewa karena dia masih menolak dicumbu Jabar.
Jam setengah tujuh malam tiba, ini kali pertama Clara dengan sadar diri menyiapkan baju Teknisi Jabar sekalian dengan jaketnya, karena Clara tahu malam hari di dalam ruangan Teknisi AC-nya dingin.
Jabar terpaku tidak percaya dengan aksi manis Clara yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. "Dek, kamu siapkan semua ini?" Pertanyaan itu mendapat anggukan cepat dari Clara sehingga timbul senyum merekah dari bibir Jabar. Jabar nampak bahagia lalu meraih seragamnya dan dipakainya.
"Terimakasih Sayang, sudah menyiapkan ini semua," ucapnya sembari mengenakan bajunya. "Dan jaket ini?" Jabar menunjukkan jaket yang sudah disiapkan Clara.
"Cla tahu kalau malam hari ruangan ber-AC akan sangat dingin. Jadi, Abang harus pakai jaketnya," sahut Clara menunjukkan perhatiannya. Tidak terduga, Jabar meraih pinggang Clara dan merangkulnya.
"Terimakasih, Sayang," ucapnya memeluk erat tubuh Clara, lalu perlahan diurai tanpa melepaskan tangan di pinggangnya.
Jabar menatap lekat wajah cantik dan polos Clara, rasanya malam ini ingin Jabar merenggut madu Clara yang sudah membayang di pelupuk mata. Tapi Jabar harus sabar menahannya sampai pergantian shift tiba.
"Abang mencintai kamu," ungkapnya seraya tidak bisa dicegah lagi, jarak tubuh yang sangat dekat itu menghanyutkan Jabar untuk mengecup bibir Clara. Jabar sigap menahan tengkuk Clara dan kini dia kembali menyesap bibir itu lebih dalam. Ini ciuman pertama darinya untuk Clara, dan ini juga ciuman pertama untuk Clara dari seorang lelaki.
Jabar melepaskan tautan bibirnya setelah merasa nafasnya dan nafas Clara seakan hilang. Jabar menatap lekat wajah dan bibir itu penuh damba sembari mengusap bibir Clara yang basah karena ulahnya.
"Ciuman pertama kamu?" tanya Jabar meyakinkan. Clara mengangguk malu. "Pantas saja," gumannya seraya mengamati jarak tubuhnya dengan Clara sama sekali tidak ada celah. Jabar segera melepaskan tangannya di pinggang Clara, dia tidak ingin kebablasan malam ini, karena ia akan segera pergi bekerja.
Jabar membalikkan badan seraya menggunakan jaketnya dengan senyum menghias di wajahnya. Jabar bahagia, dia lelaki pertama yang sudah menodai kesucian bibir seorang perawan.
"Nasib-nasib, mujur sekali gua. Terimakasih Clara Sayang," bisiknya dalam hati girang.
"Dek, abang harus pergi. Kamu baik-baik di rumah. Jaga diri, dan jangan pernah keluar dari rumah ini. Kalau ada yang bertamu sebaiknya hubungi dulu abang. Tapi kamu jangan khawatir, kalau abang kerja malam, abang akan titipkan kamu sama orang-orang kampung ini yang kebetulan ronda. Insya Allah kamu aman. Nanti jam 12 malam, abang akan pulang untuk makan."
"Iya," respon Clara sembari mengangguk, pipinya masih merah akibat ciuman Jabar tadi.
"Kamu kalau ngantuk tidak usah tungguin abang, karena abang bawa kunci sendiri. Kunci kamu juga jangan diletak sembarangan, kalau bisa pakai tali supaya kunci itu bisa kamu gantung di paku," instruksi Jabar sebelum pergi bekerja. Clara hanya bisa mengangguk dan mendengar semua perkataan Jabar dengan seksama.
"Abang pergi, ya. I love you," ulangnya seraya mengecup kepala Clara dengan kasih sayang.
"Tungguin abang, ya. Dua minggu lagi kita akan memulainya," ujarnya lagi seraya menyentuh ujung hidung Clara yang bangir sebelum Jabar benar-benar pergi.
Clara tersentuh hatinya, dia menatap kepergian Jabar yang memacu motornya perlahan menuju pabrik tempatnya bekerja. Wangi parfumnya yang masih tertinggal hanya mampu Clara hirup seraya kembali mengingat ciuman pertamanya yang berhasil dilabuhkan Jabar.
Clara masuk ke dalam tidak lupa mengunci pintu dengan wajah berseri. Setelah berada di dalam, dia baru sadar, sejak tadi dia tidak sempat berkata apa-apa sama Jabar saking terlena dan shocknya dengan perlakuan Jabar.
"Hati-hati Abang." Pesan WA nya terkirim disertai emot cinta.
Apakah pada akhirnya cinta diantara mereka akan benar-benar tumbuh dan menyatu dalam tautan cinta, kepoin kisahnya di episode selanjutnya.