Kematian sang kakak tercinta membuat Alaska sangat terpuruk di tambah pertengkaran rumah tangga kedua orang tuanya setelah kepergian sang kakak.
Suatu hari Alaska balap liar di kalahkan oleh seorang wanita cantik yang bernama Aline. Alaska tertarik dengan Aline, ia berusaha untuk mendapatkan Aline. Akankah Alaska berhasil?
Kejanggalan kematian kakaknya, Alaska pun menyelidikinya dan berhasil menemukan pelakunya yang ternyata ada hubungannya dengan keluarga Aline.
Ada dendam apa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama cemburu
Dari berbagai titik lokasi beberapa jalan raya mulai macet, Elang melewati jalan tikus agar tidak terkena macet menuju kampus. Suara motor mereka yang sangat nyaring membuat orang yang mendengar menjadi sakit telinga.
Dengan kecepat yang lumayan tinggi tiba-tiba ada seorang wanita berdiri di tengah jalan menghadap motor Alaska, seketika Vino berteriak memanggil Alaska.
Citttt….
Alaska mengerem secara mendadak sehingga menimbulkan suara dan juga gesekan yang lumayan panjang akibat ban motornya. Carlos dan Zen menghehala nafas karena di pikir mereka Alaska tidak sempat mengerem.
Alaska membuka kaca helm di lihatnya Raya sambil melambaikan tangan dengan bibirnya yang tersenyum. Satu teman Raya juga ikut berdiri di sampingnya.
“Lo mau mati hah?” teriak Vino. “Kalau mau mati jangan di sini.” Kesalnya.
“Anjing jantung gue hampir lepas dari tempatnya.” Carlos mengelus dadanya.
“Kenapa lo berdiri di situ? Apa yang sedang lo lakukan?” sesaat Alaska menghela nafas panjangnya.
“Keren lo begitu hah? Lo hampir mencelakai Alaska.” Teriak Zen.
“Em gue gak bermaksud begitu, sungguh.” Jawab Raya dengan lembut.
“Lalu?”
“Gue mau ikut nebeng sama lo ke kampus, teman gue juga ikut mereka.” Menunjuk Elang.
“Gak bisa.” Tolak Alaska secara mentah-mentah.
Alasan Alaska menolak karena tidak ingin ada kesalahpahaman lagi dengan Aline, mungkin menurut Aline biasa saja tapi tetap saja membuat hubungan mereka menjadi kurang baik. Apalagi Raya selalu mencari kesempatan dalam kesempitan dengan Alaska.
“Please bantu gue, mobil gue tiba-tiba mogok.” Memasang wajah sedih agar di kasihani Alaska. “Pagi ini gue ada jadwal kuliah.”
“Bukan urusan kami.” Sahut Zen.
Jgerr…
Tiba-tiba terdengar suara petir, kini awan mulai mendung. Sesaat Alaska melihat ke langit lalu menoleh ke belakang untuk memberi isyarat kepada teman-temannya.
“Naiklah.” Ucap Alaska.
Raya langsung tersenyum. “Teman gue gimana?”
“Ikut Zen.”
“Gak, ikut Carlos aja.” Tolak Zen karena takut Julia akan salah paham kepadanya.
Raya pun naik ke atas motor Alaska begitu juga dengan temannya naik ke atas motor Carlos. Alaska pun menjalankan melajukan motornya menuju kampus, awalnya Raya ingin memegang pinggang Alaska tetapi takut Alaska marah jadi memegang kedua bahunya saja.
Breuumm…
Kini motor Elang mulai memasuki kampus, sebuah mobil berwarna hitam berada di belakang motor mereka. Beberapa orang yang melihat Elang pun terpesona dengan tampilan Alaska yang juga selalu mempesona membuat para wanita terhipnotis.
“Terima kasih sudah memberi gue tebengan, gue masuk dulu.”
Raya dan temannya pun beranjak pergi. Alaska melepaskan helmnya lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Alaska mengeluarkan ponselnya, sama sekali tidak ada pesan dari Aline.
“Kayaknya lo mulai luluh sama tuh cewek.” Ucap Vino.
“Gak anjing, gue cuman beri dia tumpangan.” Alaska berjalan duluan di susul yang lainnya masuk ke dalam Fakultas.
.
.
.
“Aline tunggu gue.” Teriak Julia sambil berlari menghampiri Aline. “Lo mau kemana?”
“Kayaknya lo sibuk banget.”
Aline mengangguk lalu merangkul kedua temannya. “Gue mau ke Aula, hari ini pengumuman ketua dan wakil BEM yang baru.”
“Benarkah?”
“Wah semangat, gue yakin lo pasti menang.”
“Oke gue pergi dulu ya.” Sesaat menepuk bahu mereka lalu beranjak pergi.
“Kami tunggu di Gazebo samping.” Teriak Fani.
Aline mengangkat jempolnya sambil menganggu tanpa menoleh ke belakang. Hari ini adalah hari pengumuman ketua dan wakil ketua BEM yang baru, tetapi yang datang ke Aula hanya yang mencalonkan diri dan juga panitia.
.
.
.
Saat ini Elang sedang makan nasi sop di kantin dekat Fakultas mereka, terlihat mereka sangat lahap makannya karena memang makanan di kantin itu sangat enak juga murah di kantong.
“Kenapa dari tadi pagi Aline gak balas Whatsapp gue?” sesaat Alaska menghidupkan layar ponsel.
“Heh bukannya hari ini pengumuman untuk ketua dan wakil ketua BEM yang baru?” sahut Zen.
Alaska menoleh Zen. “Yang benar lo?”
“Lo gak tahu?” tanya Carlos.
Alaska menghabiskan minumannya lalu beranjak pergi keluar kantin di susul ketiga temannya. Alaska berjalan menuju gazebo samping menghampiri teman-teman Aline karena memang biasanya mereka sering berada di gazebo itu untuk mengerjakan tugas atau sekedar bersantai.
“Aline di mana?” tanya Alaska kepada Julia.
“Masih di Aula.” Jawab Fani.
“Tuh Aline.” Sahut Julia.
Terlihat Aline berjalan menghampiri mereka dengan wajahnya yang sangat berbahagia. Julia dan Fani tahu betul kenapa Aline sangat bahagia, Aline pun duduk di samping Fani lalu mengatur nafasnya karena tadi sempat berlari-lari.
“Eh gimana pengumumannya? Siapa yang menang?” tanya Carlos.
“Tebak siapa yang menang.”
“Gak mungkin lo, kan?” tiba-tiba Alaska nyeletuk membuat Aline mengalihkan pandangannya.
“Kayaknya benar apa yang di katakan Alaska.” Sahut Vino.
Aline mengeluarkan beberapa bros kecil dari saku jas nya lalu memperlihatkan kepada mereka. Bros yang di perlihatkan Aline adalah yang biasa di pakai wakil ketua BEM sebagai simbol dan juga lambang dari anak BEM.
“Wah selamat.” Sesaat Julia memeluk Aline dengan perasaan yang bahagia. “Pasti nanti lo sangat sibuk.”
“Kapan lo pulang?” tanya Alaska.
“Gak tahu, kayaknya gue bakal ke Aula dulu.” Jelas Aline. “Lo pulang duluan aja, nanti gue….”
“Kalau sudah selesai hubungi gue.”
“Tapi?”
“Aline lo tahu gak, tadi pagi gue melihat Alaska bonceng cewek.” Ucap Julia.
“Lah…” Zen menarik tangan Julia. “Tutup mulut lo, jangan buat kesalahpahaman.”
“Gue serius, gak bohong.”
Aline berdehem lalu menatap Alaska. “Lo pulang sama tuh cewek deh.”
Alaska tidak bisa berkata-kata, Alaska langsung menarik tangan Aline lalu membawanya menjauh dari gazebo itu agar bisa berbicara secara empat mata.
“Lo jangan salah paham, gue….”
“Apa? Salah paham kenapa gue? Lagian juga bukan urusan gue.” Tersenyum.
“Mobil dia mogok jadi ikut nebeng berangkat ke kampus.”
Alaska berusaha menjelaskan kepada Aline, walaupun Aline bilang tidak marah tetap saja Alaska menjelaskan secara jelas. Karena wanita itu sangat susah di tebak dari pada mencari mati lebih baik mencari aman itu yang Alaska lakukan saat ini.
“Tenang aja, gue percaya kok sama lo.”
“Yang benar lo?”
Aline mengangguk. “Gue serius.” Berjalan menghampiri mereka yang masih berkumpul di gazebo lalu menoleh Alaska. “Nanti gue hubungi lo.”
“Aline.” Panggil Marquez.
“Tunggu.” Teriak Aline. “Gue sibuk dulu, bye.” Berlari menghampiri Marquez.
“Dari pada kita di sini, lebih baik kita ke basecamp.” Ajak Carlos.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 14.00….
Saat ini Alaska sedang menunggu Aline di depan Fakultas. Lumayan lama Alaska di sana, tidak lama kemudian Aline datang dengan wajahnya yang mulai lelah akibat banyak kegiatan.
“Apa lo sudah lama menunggu di sini?” tanya Aline.
“Gak juga, baru 10 menit yang lalu.”
Alaska mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu menyerahkan kepada Aline bunga mawar yang sangat cantik dan juga wangi. Sebelum ke kampus, terlebih dahulu Alaska mampir ke sebuah toko bunga untuk menghadiahi Aline.
“Buat gue?”
“Ya terus buat siapa lagi?” Alaska menghidupkan motornya. “Naiklah.”
“Kenapa lo tiba-tiba kasih gue bunga mawar?” naik ke atas motor Alaska.
“Nanti baca surat yang ada di dalam.”
Alaska pun menjalankan motornya keluar dari Fakultas. Seorang wanita sedang berdiri di Fakultas Hukum yang bersebrangan dengan Fakultas Sosial dan juga Ilmu komunikasi.
“Siapa tuh cewek?” tanya Lisa dengan kesal.
“Kayaknya cewek yang kemarin bermasalah dengan lo.” Sahu Bery.
“Mungkin.” Tea melempar kaleng ke dalam sampah. “Eh btw yang namanya Alaska itu banyak di kejar para cewek yang ada di Fakultas itu.”
“Ya gue pernah dengar rumor itu, dugaan gue benarkan kalau tuh cowok bakal famous.” Lisa beranjak pergi di susul teman-temannya.
.
.
.
Suara musik yang sangat nyaring, beberapa wanita berjoget-joget mengenakan pakaian pendek mereka. Elang masuk ke dalam bar menuju runag biliar yang sudah mereka pesan untuk main malam ini. Carlos dan Vino berjoget sambil jalan membuat Zen menarik tangan mereka karena malu dengan tingkah mereka berdua.
Klekkk…
Ruangan biliar yang besar, mewah fasilitas lengkap. Mereka menyewa ruangan itu selama 2 jam untuk main, sudah lama mereka berempat tidak main biliar. Terakhir main ketika mereka masih sekolah SMA dan tempat ini juga menjadi tempat yang sering mereka datangi.
Mereka pun mulai bermain hingga 1 jam kemudian. Tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan cepat Alaska menoleh, terlihat Aline, Julia dan Fani masuk ke dalam sana.
“Kenapa lo kesini?” tanya Alaska kepada Aline.
“Zen yang beritahu gue, bisa-bisanya lo pada gak ngajak gue.” Aline menggeleng-gelengkan kepalanya lalu duduk di sofa. “Apa sudah lama kalian main?”
“Baru 1 jam.” Sahut Carlos.
“Gue mau ikut main.” Ucap Aline.
Alaska menghampiri Aline lalu menarik tangannya. Alaska menyuruh ketiga temannya untuk berhenti main karena ingin main berdua dengan Aline tanpa ada pegganggu.
“Lo bisa gak?” tanya Alaska.
Aline terkekeh kecil. “Sedikit, tapi kita coba saja.” Menantang.
Mereka pun main biliar bersama yang lainnya hanya menonton seperti nyamuk tidak di anggap. Sementara mereka tengah asik bermain bersama sambil bersenda gurau.
Alaska berdiri di belakang Aline lalu memegang tangannya. “Sini gue ajarin lo cara main yang benar.” Bisik Alaska.
“Gu-gue bisa sendiri.” Aline tiba-tiba gugup karena Alaska sangat dekat dengannya.
Mereka pun bersenang-senang sampai menambah waktu agar bisa berlama-lama di sana. Setelah Aline lelah main, Alaska dan Aline pun memutuskan untuk duduk. Sementara yang lainnya main bersama untuk menghabiskan sisa waktu.
.
.
.
Beberapa hari berlalu, Alaska dan Aline sangat jarang bertemu di kampus apalagi komunikasi karena Aline di sibukkan dengan kegiatan organisasinya. Sementara Alaska sibuk juga dengan tugas-tugas kuliahnya, tetapi kadang mereka saling kasih kabar walaupun hanya satu kali.
Alaska berjalan sendirian keluar dari Fakultas, ketika ingin menuju parkiran tiba-tiba melihat Aline berjalan berdua dengan Marquez membuat Alaska kesal dan langsung menghampiri mereka.
“Ikut gue.” Memegang tangan Aline.
“Apa yang lo lakukan di sini? Gue….”
Alaska membawa Aline menjauh dari situ, Marquez hanya memasang wajah bingungnya lalu masuk ke dalam Aula. Dari tadi Aline berteriak meminta Alaska melepaskan tangannya.
“Ada apa dengan lo?”
“Kenapa lo cuman berdua? Di mana yang lain?”
“Gue gak berdua, tadi….” Jelas Aline terpotong.
“Sudahlah lupakan, gue mau ngajak lo makan di kantin.”
“Gak bisa, gue masih ada kesibukan.” Menghela nafas. “Oke oke baiklah.”
Mereka pun berjalan menuju kantin untuk makan siang bersama, sebenarnya Alaska dan Aline saling merindukan satu sama lain hanya saja gengsi mereka berdua sangat tinggi membuat mereka tidak bisa untuk meluangkan waktu walaupun hanya sekedar untuk makan atau mengobrol santai.
...Bersambung…....