Cerita mengandung ***** ******, kisah diambil dari kisah nyata, hanya unsur peran yang sedikit diubah, bukan plagiat ya kakak 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kitty demplon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
liontin di koper suami ku
Hari terus berganti, bulan terus berlalu.
kini kakak ipar ku sudah menetap tinggal di sini. bahkan kini dia sudah bekerja di perusahaan ku atas rekomendasi dari mas alex.
kegiatan ku tetap seperti biasa, hanya di tambah kini aku membantu mengasuh siska bersama baby sister yang si sewa mbak vivi.
semua berjalan normal, meskipun terkadang tidak bisa dipungkiri, ada sentilan ucapan yang tak enak di dengar dari mulut ipar dan mertua, aku anggap semua sudah makanan sehari hari.
hari ini adalah kepulangan mas alex dari luar negeri, setelah ada tugas pekerjaan selama dua minggu.
Setengah jam menunggu, akhir nya mas alex sampai dengan selamat.
"assalamuallaikum sayang, oh aku sangat rindu" ucap ama alex sambil membentangkan kedua tangan nya.
"walaikumsalam, mas" aku langsung menghambur kedalam pelukan nya.
hingga akhir nya kerinduan selama dua minggu ini terobati.
aku terbangun saat azan magrib berkumandang.
ya ampun, aku tertidur lama sekali.
ku pandang mas alex yang masih tertidur pulas. sambil menunggu dia terbangun aku berniat untuk merapikan baju nya yang masih di dalam koper.
Saat memindahkan baju baju itu, tak sengaja aku melihat sebuah kotak berwarna emas. senyum ku terukir saat melihat nya.
kalung liontin? ini bagus sekali. pasti mas alex membelikan untuk ku. kalau dipikir terakhir aku mendapatkan kejutan saat enam bulan lalu. ucap ku seorang diri.
Kuletak kan kembali kotak liontin itu beserta semua baju kedalam koper. ku susun ulang seperti awal semula. aku tidak mau jika rencana mas alex gagal untuk memberi kejutan padaku.
****
Malam hari tiba, mas alex mengajak ku untuk makan malam di luar. setelah dua minggu tidak bertemu. aku sudah tau tujuan nya tetapi pura pura tidak tau apa apa.
aku merias diri sambil bersenandung.
"dek, mas ada hadiah untuk mu."
mataku seketika berbinar. teringat kembali betapa cantik nya liontin itu. dengan inisial huruf A, sudah pasti itu adalah inisial nama ku sendiri.
membayangkan saja sudah sangat membuat ku bahagia.
"iyakah! apa itu mas."
mas alex merogoh saku celana, mengeluarkan satu kotak emas persis yang aku temukan di dalam koper.
"nih, buka lah dek."
aku menerima hadiah itu, tangan ku gemetar saat menerima nya. dengan hati hati aku membuka nya. seketika senyum ku memudar.
Kini yang aku terima sebuah liontin dengan inisial huruf yang sama, tetapi bentuk yang berbeda dengan yang aku temukan.
dimana liontin itu? untuk siapa sebenar nya mas alex membelikan selain diriku.
"dek, kok diam saja."
Aku tersentak kaget. pasal nya aku tidak mau kalau mas alex sampai curiga bahwa aku sudah melihat nya tadi.
"ah tidak mas, aku hanya tidak percaya, kamu memberikan kalung sebagus ini."
"kamu suka dek."
sebisa mungkin aku tersenyum dan menanggukan kepala.
Mas alex mengambil alih kalung itu, dan memasangkan ke leher ku. mungkin aku akan sangat bahagia jika tidak mengetahui ada kalung lain yang sedang dia simpan.
"Mas bagaimana dengan pekerjaan mu, apa semua sudah aman."
"aman dek. mbak vivi sangat bisa diandalkan kan untuk membantu ku."
Arya tak sadar jika sudah menyebutkan nama kakak ipar nya. karena yang arini tau jika kakak ipar nya itu di tempatkan di bagian biasa seperti karyawan lain.
"maksud mas mbak vivi bisa diandalkan bagaimana ya?."
alex pun menyadari jika dia sudah salah bicara, pintar nya alex dia sangat bisa mengendalikan semua nya, sehingga untuk berkelit pun dia begitu lancar.
"emm.... iya dek mas lupa membicarakan kepada mu. mbak vivi sekarang menjadi asisten ku."
"loh kok bisa mas, dari kapan?" tak hanya terkejut, pikiran arini pun saat ini begitu was was.
"sudah sekitar sebulan yang lalu dek. asisten mas yang lama mengundurkan diri, karena dia akan menikah dan ikut suami nya."
"kenapa harus mbak vivi mas, apa tidak bisa mencari orang lain untuk menjadi asisten mu."
"waktu itu keadaan mendesak dek. lagian mencari asisten itu tidak mudah. dan mas lihat mbak vivi cukup menguasai di bidang itu."
"tapi mas....."
"tapi apa dek!" belum sempat arini berbicara, sudah terpotong oleh alex.
"kamu kok seperti nya sangat tidak menyukai mbak vivi begitu sih, memang apa yang salah dari mbak vivi."
arini dibuat bingung oleh pertanyaan alex. jika dia ingin mengatakan kebenaran nya semua dirasa itu tidak mungkin, karena arini tidak mempunyai bukti.
"tidak kok mas" hanya itu akhir nya yang keluar dari mulut arini.
Kepulangan ku dan mas alex setelah dinner, disambut muka tidak bersahabat dari mertua dan ipar ku.
"enak ya jalan mulu, gak inget yang di rumah. gak ada basa basi nawarin buat ngajak" sindir ibu mertua.
Aku hanya cuek tanpa menanggapi. masih berdiri setia di samping mas alex.
ku lirik wajah kakak ipar ku, tatapan sinis saat melihat tangan ku melingkar di pergelangan maa alex.
"biasa aja kali, kek situ yang punya suami sendiri aja." meski pun kakak ipar berbicara pelan, tapi masih bisa ku tangkap dengan indra pendengaran ku.
"memang kenapa mbak! kan suami ku sendiri. bukan suami orang lain yang aku gandeng."
"maksud mu apa rin" mbak vivi meradang, dia beranjak dari duduk nya dan mendekati ku.
"weeettt santai dong mbak. kan memang bener mas alex suami ku. lagian kenapa mbak yang panas. kalau mbak mau ya tinggal nikah lagi, toh masa iddah mbak juga kan sudah lewat" aku tetap menanggapi nya dengan santai.
"ahhh iya rin, kamu benar. mungkin aku sedikit emosi karena aku tidak punya suami saat ini" ucap nya sambil tersenyum.
"tapi kamu tenang rin, saat ini aku sedang usahakan kalau aku akan segera menikah" ucapnya lagi.
"wah benarkah mbak, kok mbak gak kasih tau kita semua kalau sudah punya calon."
"itu tidak perlu, nanti kalau aku umbar dan aku tidak di nikahi, aku sendiri yang akan malu."
uhukk uhukkk......
entah kenapa mas alex tiba tiba terbatuk.
"eehhh mas kenapa." ucapku
"lex kamu kenapa."
aku dan mbak vivi saling berpandangan, entah secara kebetulan atau memang sama mengkhawatirkan, aku dan mbak vivi bertanya secara bersamaan.
Mas alex pun jadi salah tingkah, aku bisa melihat dari gerak gerik nya.
"emmm kalian ngobrol aja dulu, aku mau ke kamar dulu ya mbak, dek."
Mertua ku yang menyaksikan pun hanya tersenyum, ada perasaan aneh yang aku rasakan saat melihat ibu mertua ku.
firasat ku mengatakan jika ada udang di balik batu.
astagfirullahhalazim...... kenapa aku jadi berfikir seperti ini.
"aku permisi mbak, bu" lalu aku berlalu.
Kulihat mas alex termenung di tepi ranjang, tidak menyadari akan kehadiran ku. sehingga membuat nya sangat terkejut.
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪