Gwen, mendapatkan ujian dari sang ayah untuk tinggal di desa selama tiga puluh hari. Wanita itupun setuju demi mengembalikan kepercayaan sang ayah padanya.
Di desa, ia bertemu dengan Wira, anak kepala desa yang memiliki sifat menyebalkan. Gwen dan Wira sering kali bertengkar dan berdebat meski dalam hal-hal kecil. Namun setelah banyak waktu mereka lalui bersama, benih-benih cinta pun tumbuh secara diam-diam.
Keduanya belum sempat saling mengungkapkan sampai tiba saatnya Gwen harus segera kembali ke kota.
Bagaimana kisa mereka akan berlanjut? Akankah keduanya kembali bertemu dan mengungkapkan isi hati masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan
Setelah pulang dari sawah dan tiba di rumah, Gwen langsung duduk di anak tangga rumah panggungnya. Ia duduk melamun sambil merasakan kakinya yang nyeri dan perih.
Beberapa saat kemudian, Wira datang membawa sebuah botol kecil berisi minyak. Ia langsung duduk di samping kaki Gwen.
"Kenapa? Kau mau apa?" tanya Gwen saat Wira langsung memegang pergelangan kakinya.
"Kau pasti tidak pernah berjalan di tanah berbatu, berkerikil, atau bahkan berlumpur, ya? Pantas saja, begini saja kakimu sudah lecet-lecet," ujar Wira. Karena Gwen memiliki kaki yang putih dengan kulit mulus, bagian lecet dan kemerahan terlihat dengan jelas. Terlebih, Gwen memiliki kulit yang tipis dan sensitif.
"Entah kapan terakhir kali aku berjalan di luar rumah tanpa alas kaki," jawab Gwen.
"Bertelanjang kaki itu bagus untuk kesehatan. Kau harus sering melakukannya agar kakimu tidak manja!" seru Wira sambil mengoles minyak beraroma khas ke seluruh permukaan telapak kaki Gwen.
Sementara Gwen, ia hanya memanyunkan bibirnya. Andai saja ia tahu jika Wira berniat membawanya ke sawah untuk mengurus bebek-bebek itu, Gwen pasti sudah menolaknya mentah-mentah. Namun semua sudah terlanjur, kini ia hanya bisa merenungi nasib kakinya yang perih.
"Ini bisa meredakan rasa perih dan membuat kakimu nyaman, oleskan setiap kali kau butuh," ujar Wira sambil memberikan botol kecil di tangannya.
"Karena kau yang membuatku seperti ini maka kau yang harus bertanggungjawab!"
"Ini bukti tanggung jawabku!" seru Wira.
Gwen menghela napas panjang. Ia merasa kesal sekaligus lelah namun tidak ingin berdebat dengan Wira. Selama ini, mereka memang terasa tidak bisa akur sejak pertama kali bertemu.
"Cepat masuk dan bersihkan dirimu. Kau bau bebek!" Wira mengibaskan telapak tangan berulang kali di depan wajahnya. Ia bahkan memencet hidungnya sendiri.
"Apa? Apa aku bau?" tanya Gwen sambil mencium sendiri aroma tubuhnya.
"Hmm, rasanya ada kotoran bebek menempel di bajumu," jawab Wira.
"Dasar, kau!"
Wira mengabaikan tatapan kesal Gwen, laki-laki itu beranjak dan segera pergi meninggalkan Gwen. Wanita itu pun bergegas masuk dan membersihkan diri.
Malam setelah makan bersama, Gwen duduk bersantai di teras rumahnya di temani secangkir teh hangat dan buku di tangan. Wanita itu asik membaca buku sambil mendengarkan musik melalui headset.
Tiba-tiba, ponselnya berdering dan panggilan itu datang dari Theo.
"Ya, Pa. Ada apa?" tanya Gwen.
"Bagaimana kabarmu, Sayang? Kau senang tinggal di sana?" tanya Theo.
"Hmm, desa ini indah, sejuk, dan menenangkan. Aku suka, tapi aku rindu Papa."
"Papa juga merindukanmu, Gwen. Apa kau betah tinggal di sana?"
"Hmm, seakan aku bisa bernapas dengan lega di sini."
"Baguslah, artinya Papa tidak perlu khawatir."
"Jangan khawatirkan aku, Pa. Pastikan Papa menjaga kesehatan dan jangan terlalu lelah bekerja agar aku juga tidak khawatir."
"Iya, Sayang. Apa kau akur dengan Felix dan Wira? Mereka sangat baik, kan?" tanya Theo.
"Felix memang sangat baik, Pa. Dia seperti teman bagiku. Tapi Wira, Ah, dia menyebalkan!" keluh Gwen.
"Jangan membenci seseorang, karena perasaan itu bisa berbalik dalam sekejap tanpa kau sadari. Mereka anak baik, Wira juga pasti sangat tampan, kan? Jangan bertengkar dengan siapapun."
"Apa Papa pernah bertemu dengan mereka?" tanya Gwen.
"Papa hanya bertemu Felix sekali saat dia masih kecil. Tapi Papa sudah lama mengenal Wira dengan baik," jawab Theo.
"Hmm, ya sudah. Papa istirahat saja, aku sedang bersantai."
"Nikmati hari liburmu, Sayang," ucap Theo sebelum menutup panggilan.
Gwen bergumam, mengapa Theo terdengar sangat menyukai Wira dan membanggakan laki-laki itu? Padahal ia begitu menyebalkan, batinnya.
...****************...
kurang gereget Thor endingnya, gimna reaksi kemala melihat Wira dan Gwen menikah, gimna Hana dan Clara d penjara, dan terpenting malam pertama Wira dan Gwen,
tp apapun itu karya othor luar biasa, GK bertele tele kayak film ikan terbang,
sukses selalu buat othor , ,
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
mari kita kawal sampai halal 🤭
semoga ngak bertepuk sebelah tangan y Gwen ,,,,