Aku istrinya, tapi aku disembunyikan layaknya simpanan. Dinikahi secara siri, kemudian suamiku menikah lagi. Aku pikir itu adalah puncak neraka duniaku, aku salah. Berpisah dengan putriku yang baru lahir ke dunia, itu lebih sakit dari pada luka hatiku.
Akulah Padma, wanita yang kalian hina hanya karena starta sosial yang berbeda. Ini aku, ini kisahku, tentang istri siri yang bangkit dari lubang hina yang kalian gali untukku. Satu persatu, akan kubalas kalian! Ini janjiku, dari jiwa yang kalian benci selama ini.
Follow IG author Sept : Sept_September2020
Selamat datang di karyaku ke 22. Selamat membaca, semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laki-laki
Istri Rasa Simpanan Bab 13
Oleh Sept
"Vivian!" ucap wanita yang merupakan investor baru Guntur dan rekannya. Ia terlihat menawan, penampilan menarik dan tampak ramah.
"Guntur!" Guntur menyebut namanya sendiri dengan percaya diri yang sangat tinggi. Terlihat berwibawa dan karismatik.
Pria itu menyambut tangan Vivian yang terasa lembut. Jelas wanita itu tidak pernah melakukan pekerjaan kasar, karena tangannya terasa lembut, selembut benang sutra.
Setelah basa-basi, Guntur kemudian memperlihatkan mega proyeknya. Sebuah desain serta gambaran garis besar yaitu apartment mewah yang akan di dirikan di sekitar pantai. Jika untuk investasi, pasti akan untung besar. Sebab banyak orang di kota sering stress akibat kemacetan dan rutinitas yang kadang membuat angka setres melambung tinggi.
Apartment ini bisa digunakan untuk tempat tinggal sekaligus tempat di kala liburan menepis penat akibat kesibukan selama tinggal di kota besar dengan penduduknya yang super padat. Tapi, dana yang ditaksir, bukan main-main. Meskipun nanti akan meraup untung yang sangat banyak.
"Bagaimana Bu Vivian?" tanya Guntur.
Wanita itu mengangguk, sepertinya melihat emas dalam proposal yang Guntur berikan. Dan lagi sepertinya dia juga melihat sesuatu dalam diri Guntur.
"Bagus, tapi saya dan anak buah saya harus mempelajarinya lebih dulu. Kami gak mau salah langkah," kata Vivian dengan tegas. Namun, bibirnya mengumbar senyum penuh arti saat melirik Guntur. Ya, mungkin karena Guntur ini pria ganteng.
"Baik, saya akan tunggu kabar baik itu," ucap Guntur sopan. Besar harapan Guntur proyek ini akan berhasil, agar dia bisa bangkit kembali.
Akhirnya, setelah membicarakan bisnis. Mereka bertiga makan bersama. Sampai akhirnya Vivian dijemput assisten, karena harus meeting penting.
"Terima kasih waktunya, Bu," kata Guntur dan rekannya secara bersamaan. Untuk saat ini, pembahasan cukup di sini.
Vivian hanya mengangguk, kemudian mengeluarkan kartu namanya dari dompet mahal yang bermerek tersebut.
"Kamu bisa hubungi saya!" kata Vivian saat memberikan kartu namanya pada Guntur.
Guntur hanya mengangguk, kemudian menatap kepergian Vivian. Menatap dengan tatapan yang tidak biasa.
"Sepertinya dia naksir kamu!" celetuk teman Guntur. Herlambang malah menggoda Guntur. Atau hanya sekedar candaan belaka.
"Ish!" Guntur mendesis, tapi matanya menatap kartu nama yang diberikan oleh Vivian. Ia melihatnya sekali lagi, kemudian menyimpan dalam sakunya.
***
Malam harinya. Matahari sudah diganti dengan rembulan malam. Siang yang panas berubah menjadi malam yang dingin. Malam ini Guntur pulang dengan wajah lusuh setelah membahas proyek bersama temannya. Kali ini ia pulang tidak membawa apa-apa, karena sudah malam, dan malas mampir. Ingin segera istirahat di rumah.
Begitu masuk rumah, ia membuka kulkas. Tapi ia langsung kesal. Hanya ada air putih saja. Ia membuang napas berat, kemudian duduk sambil minum air dingin. Guntur yang sangat lelah, semakin muram.
KLEK
Padma membuka pintu kamarnya.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Padma yang baru keluar dari kamarnya. Dia melihat suaminya baru pulang.
"Hemm." Guntur menjawab dengan nada enggan. Mungkin marah, karena di kulkas tidak ada apa-apa.
"Mau makan, Mas?" tanya Padma.
Guntur menatap meja makan, kemudian menggeleng. Pria itu memilih bangkit dari duduknya, kemudian ke kamar mandi.
'Kenapa mas Guntur banyak berubah?' batin Padma kemudian menyiapkan pakaian suaminya.
Saat suaminya ke kamar mandi, ponsel Guntur terus saja berbunyi. Padma pun melirik, ada pesan masuk. Dari Bella satunya lagi nomor asing. Karena layarnya tidak dipasang password, Padma pun melihat isi ponsel suaminya itu.
[Mas ... minta maaf saja pada mama. Mama pasti kembalikan aset milik mas. Dan lagi, apa bisa mas tahan hidup miskin dengan wanita biasa itu?]
Padma menghela napas dalam-dalam saat membaca pesan dari Bella. Istri resmi suaminya. Setelah itu, ia membaca pesan yang lain.
[Kita agendakan meeting besok. Saya akan tentukan waktunya. Nanti saya juga akan kirim tempatnya di mana. Satu lagi, terima kasih. Bunganya sudah saya terima, dari mana kamu tahu saya suka angrek emas Kinabalu? Ini manis sekali. Nice to meet you]
Mata Padma sampai menajam, membaca lagi pesan yang terakhir, dan nomor tanpa nama. Semakin penasaran, Padma pun menggali ponsel suaminya. Ia buka semua isi dokumen dan gallery. Hanya ada foto Keny saat bayi. Sejauh ini semuanya normal. Tapi tetap pesan singkat di ponsel Guntur, membuat Padma ketar-ketir. Apa suaminya main-main?
KLEK
Terdengar suara pintu terbuka. Buru-buru Padma meletakkan ponsel sang suami. Takut Guntur marah kalau ia mengintip ponsel suaminya itu.
"Mau kopi, Mas?" tanya Padma basa-basi. Bersikap biasa saja, meskipun hatinya resah.
"Boleh," jawab Guntur singkat.
Padma dengan pikiran yang berkecamuk, memasak air untuk kopi Guntur. Hingga sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa secangkir kopi panas.
"Ini, Mas." Padma memberikan kopi yang sudah ia buat, yang asapnya masih terlihat mengepul.
"Terima kasih," ucap Guntur dengan ekspresi datar. Guntur kemudian melipat laptopnya. Ia duduk sambil menikmati kopi. Matanya tampak kosong, entah sedang memikirkan apa. Entah mikir proyek atau malah mikir Vivian?
"Capek, Mas? Padma pijit," tawar Padma yang ingin memberikan service untuk suaminya yang kelihatan capek kerja tersebut.
"Kamu gak capek? Tadi ngurus Keny seorang diri?" tanya Guntur balik.
Padma menggeleng, bisa bersama Keny saja dia sangat senang sekali. Guntur pun meluruskan kakinya di sofa, dan dengan tulus Padma memijit kaki suaminya. Untuk sesaat, Padma merasa suaminya kembali seperti dulu. Hingga akhirnya Guntur mengajaknya masuk kamar.
"Sudah malam, ayo tidur," ajak Guntur kemudian.
Padma sangat penurut, ia pun ikut masuk. Dan cukup kaget, karena Guntur langsung mengunci pintunya dari dalam.
'Aduh ... mas Guntur mau apa?'
KLIK
Guntur mengunci pintu kamar mereka. Dan Padma semakin menelan ludah ketika Guntur meraih stop kontak dan mematikan lampu kamar. Apa Guntur minta servis malam ini? Entah mengapa, Padma malah bergidik.
Guntur mulai sulit ditebak, kadang dingin seperti es, kadang panas seperti seperti api.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
Fb Sept September
maaf ya,klo slh..jngn di bully/Pray/