NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 UPS !!!

Aulia duduk di sofa sambil menikmati minumam soda yang di sajikan Hermawan, mata Aulia terlihat sedang meneliti setiap bagian apartemen sederhana itu, tapi sangat bersih dan rapi membuat siapapun yang datang di sana akan merasa nyaman.

“Jadi kamu tinggal sendiri?”

“Ya,” Hermawan menjawab cepat. Aulia semakin senang mendengarnya, dari dulu Aulia selalu kagum akan kemandirian seorang Hermawan itu juga yang membuatnya menerima cinta laki-laki itu saat mereka SMA.

Tapi Aulia tidak menyesai perpisahan yang terjadi pada mereka dulu karena itu demi kebaikan mereka berdua demi mengapai cita-cita mereka.

“Her, aku masih mencintaimu,” bisik Aulia dengan suara lembut, cukup membuat Hermawan membeku, jangtungnya seakan ingin melompat dari dadanya, mendadak oksigen di rungan itu terasa menipis, lagi-lagi suara laki-laki itu tertahan seakan tidak bisa keluar dari mulutnya, Hermawan tidak bisa menjawab apa-apa, ia hanya bisa diam.

Aulia mentap mata Hermawan melihat kedalam sana, ia tahu masih ada secerca cinta untuknya begitu juga sebaliknya, dengan cepat Aulia melilitkan kedua tanganya pada leher Hermawan yang masih terdiam membeku, laki-laki itu tidak menolak perlakukan Aulia, hingga wanita itu memberanikan diri mendekatkan bibirnya pada Hermawan, Aulia seakan merasakan bahwa Hermawan juga ingin melakukan itu, terlihat jelas dari bahasa tubuh yang sampaikan Hermawan. Laki-laki itu juga mendekatkan tubuhnya ke arah Aulia seakan menginginkan wanita yang ia cintai sejak sepuluh tahun lalu. bahkan sampai detik ini perasaan cinta itu masih sama besarnya, hingga tinggal beberapa inci tiba-tiba

“Krek...

Suara pintu terbuka membuat mereka sama-sama menoleh, memperlihatkan sosok gadis mudah dan cantik sedang tersenyum kaku pada mereka.

“Dean!” gumam Hermawan dalam hati, tampak muka Hermawan dan Aulia memerah.

“Ups Sorry, aku, aku salah pintu.” Dengan cepat Dean keluar sambil menyeret kopernya.

“Kamu pasti tidak menguncinya dengan benar.” Aulia membuka suara hnya, kemudian beranjak mengunci pintu aparten itu.

“Dean, bagaimana bisa ia pulang lebih cepat, apa tadi ia melihatnya, ya pasti ia melihat kami akan berciuman, tapi kalau ia berpikir aku sudah berciuman bagaimana? Apa dia akan marah? dasar bodoh Hermawan! terntu saja Dean akan marah karena kamu suaminya, kamu telah berselingkuh dengan Aulia. Tidak aku tidak berselingkuh, aku mencintai Aulia, tapi Dean datang tiba-tiba dan memaksaku menikahinya, aku bahkan tidak mengenal wanita itu sebelumnya!” pikiran laki-laki itu tampak kacau sekarang memikirkan perasaan Dean, wanita yang sudah bersetatus sebagi istrinya saat ini.

“Aulia sebaiknya kamu pulang, ini sudah malam, lagi pula besok kita ada rapat jam delapan.” Hermawan mengusir secarah halus sambil berdiri tepat di hadapan Aulia.

”Tapi Her kita belum-” ucapan wanita itu terpotong saat Hermawan kembali menjelaskan kalau laki-laki itu lelah dan perluh istirahat, tentu saja Hermawan akan lelah malam ini karena otaknya akan terus memikirkan perasaan Dean, memikirkan apa yang akan ia lakukan agar Dean bisa memahami posisinya, bahwa dirinya sangat mencintai Aulia dan ingin memilikinya secepatnya, tapi Hermawan juga tidak ingin menyakiti perasaan gadis mudah itu.

“Aku lelah hari ini, aku butuh istirahat.”

“Baiklah, mimipi indah, sampai ketemu besok.” Aulia menyentuh lalu mencium pipi laki-laki itu kemudian pergi.

***

Tarikan napas dalam terdengar karas, Dean membanting tubuhnya dia atas kasur empuk yang bewarnah putih gading, keindahan semua interior yang ada tidak membuat hatinya membaik, bahkan saat cahaya bulan dari langit masuk ke kamar itu dan ikut andil dalam menerangi ruangan itu, tidak juga membuat hati Dean menjadi sedikit tenang, malam ini dia memutuskan untuk menginap di hotel D2.

“Bodoh! apa yang kamu pikirkan Dean?”

Wanita itu mencaci maki dirinya sendiri atas kebodohan yang baru saja ia lakukan, tadinya ia pulang lebih cepat untuk memberi kejutan pada Hermawan, Dean bahkan tidak tidur dari kemarin hanya agar semua pekerjaanya selesai lebih cepat dan segera pulang, tapi yang ia dapat adalah laki-laki itu sedang bermesraan dengan seorang wanita dan Dean yakin wanita itu bernama Aulia.

Seharusnya Dean senang, karena ia sendiri yang meminta Ahmad untuk memindahkan Aulia ke kantornya agar bisa bersama Hermawan. Dean benar-benar akan mengabulkan semua permintaan Wawan suaminya.

Ia segera merogo tasnya mengambil obat yang biasa ia konsumsi karena sekarang kepalanya kembali berdenyut sakit, seperti ada banyak benda tajam yang sedang menghantam kepalnya saat ini, butiran berwarnah putih dengan ukuran yang kecil itu mampu meredakan sakit kepalanya dan membuat Dean langsung merasa mengantuk karena efek obat yang di timbulkan.

***

Hermawan tidak bisa tidur karena kejadian tadi, berkali-kali ia menghubungi Dean tapi tidak diangkat pesan singkat yang ia kirimkan tidak satupun di balas wanita itu.

“Dean benar-benar marah padaku?”

Itu bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan yang diajuhkan Hermawan pada dirinya sendiri, laki-laki itu tampak putus asa saat ini, karena secara tidak langsung sudah menyakit hati wanita yang berstatus sebagai istrinya, ia hanya bisa mengetukan jari-jarinya diatas dengkulnya berpikir bagaimana menjelaskan kejadian itu jika Dean pulang ke sana.

***

Dean bergumam tidak jelas peluh membasahi tubuhnya, dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak sangat cepat, cahaya menyilaukan itu datang dengan sangat cepat, hingga sebuah benturan terjadi.

“Dad!!”

“Layanan kamar!” suara seorang laki-laki mengetuk pintuh kamar Dean, membuat wanita itu tersadar dari mimpi buruknya.

Dengan malas ia membukanya, walau ia telah minum obatnya tapi ia masih tidak bisa tidur terlalu nyenyak karena sebuah mimpi, mimpi yang sudah menghilang selama enam bulan belakangan ini tiba-tiba muncul lagi dalam tidurnya.

Mimpi yang tidak ingin Dean ingat dalam hidupnya, mimipi itu terlihat nyata dan jelas, mimpi saat kecelakaan itu terjadi dimana terakhir kalinya ia melihat ayahnya Edmom, itu semua karena kesalah Dean, seharusnya ia tidak mengatakan perasaan senangnya hingga membuat Edmom tidak fokus menyetir, seharusnya sekarang Dean masih bisa melihat senyum ayahnya, andai saja waktu bisa di ulang Dean bersumpah tidak akan pernah membuka mulutnya saat itu, kadang Dean berfikir mengapa Tuhan tidak mempersatukan dirinya dengan kedua orang tuanya mungkin semua tidak akan seberat ini.

“Selamat pagi nona Dean, ini sarapan anda.” laki-laki itu meletakannya diatas meja “Ada yang anda perlukan lagi?” tanya sang pelayan dengan sopan sambil memberikan senyum terbaiknya.

“Keluarla.” Dean dengan malas berbalik ketempat tidurnya, sambil membersihkan keringat di keningnya mengunakan tisu lalu membuangnya ke sembarang tempat, wanita itu terlihat memijit lembut pangkal hidungnya yang mancung karena kepalanya masih terasa sedikit pusing saat ini.

“Dean kamu harus sopan pada pegawaiku!” teriak seorang wanita yang berumur sekitar tiga dua puluh tahun masuk ke kamar itu, dia sangat cantik dan dewasa tentunya.

Dean tersenyum malas menangapi suara itu, suara yang sungguh tidak ingin ia dengar di saat seperti ini, Dean menyesal datang ke sini tadi malam seharusnya ia menyewa hotel lain bukan di sini, dengan engan Dean menatap tanda pengenal pelayan itu

“Indra, maukah kamu sarapan dengan ku sekarang,” Dean tersenyum lembut, sang pelayan tampak membeku, keningnya mulai berkeringat melihat senyuman lembut itu, tentu saja pelayan bernama indra itu sangat terkejut, ia tahu betul siapa yang berdiri di hadapanya sekarang wanita cantik dengan kepintaran dan kekayaan diatas rata-rata, serta bos tempat ia ia bekerja saat ini.

Indra tidak perna berpikir kalau bos cantiknya ini akan mengajaknya bicara bahkan mengajaknya sarapan. Indra bahkan merasa sangat tersanjung saat Meli manager di hotel itu memintanya mengantar makanan untuk tamu special, itu terlihat jelas dari semua pegawai serta staf hotel yang terlihat sangat sibuk karena kedatangan Dean yang mendadak, bahkan managernya Meli sudah datang sebelum jam lima pagi, setelah mendapat telpon dari pihak hotel bahwa Dean datang jam sebelas tadi malam.

“Saya, saya, maaf nona Dean saya,” ucap Indra terbata-bata.

“Aku mohon,” Dean merai tangan sang pelayan, membuat pelayan itu semakin gugup dan tidak percaya ini seperti mimpi, ia tidak bisa berkata apa-apa sekarang, ia sudah mabuk akan pesona Dean.

“Sudah cukup, lepaskan dia sekarang!” Meli menarik tangan Dean “Indra kamu keluarla!” Meli memerintahkan pelayannya, dengan cepat Indra keluar, ia tidak tahu jika lebih lama lagi di sana mungkin jantungnya akan berhenti berdetak karena gugup berhadapan dengan Dean.

“Bukankah kamu tadi bilang aku harus sopan pada karyawanmu,” Dean tertawa pelan, lalu pergi meninggalkan Meli menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, ia bahkan mengabaikan Meli yang mengikuti setiap langkahnya.

“Iya, tapi bukan bearti kamu harus menggodanya, lagi pula dia juga karyawanmu, apa kamu lupa hotel ini juga milikmu!” Meli menjelaskan.

Benar Hotel D2, adalah salah satu bagian dari Demetri Compeni, tapi sepertinya saat ini Dean malas menangapinya semua yang Meli katakan menyangkut hotelnya.

“Ada apa? apa yang membawamu menginap disini?”

Meli bertanya sambil menuangkan coklat hangat untuk Dean, karena wanita itu sudah berdiri di hadapanya, mukanya juga sudah terlihat lebih segar saat ini, walau Dean tidak menjawab apapun dan lebih memilih berjalan menuju dinding kaca yang menghadap ke luar hotel.

Dean selalu menyukai melihat pemandangan dari tempat tinggi, itulah mengapa Edmom membuatkan Dean kamar khusu di lantai paling atas lengkap dengan semua perabotan yang di sukai Dean, tidak ada yang boleh menginap di sana selain Dean.

“Minumlah,” Meli menberikan coklat itu pada Dean yang sedang menatap kearah luar jendela melihat taman yang tampak ramai dengan anak-anak yang sedang bermain disana, selain itu juga terdapat beberapa pasangan yang sedang menikmati udara pagi di sana. Walau tidak terlihat dengan jelas karena jarak mereka cukup jauh. Taman itu berada di ketinggian 35 meter diatas tanah, taman itu di buat di atas salah satu gedung bagian hotel D2.

“Tidak ada,“ Dean segera menimum coklat hangat yang langsung mengalir bebas di tengorokanya.

“Jangan bohong, aku tahu kamu bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu di hotel, hanya karena sedang bosan dirumah,” Meli mengoceh panjang lebar, dia terus berbicara banyak hal mengenai kebiasaan Dean, wanita itu memilih menulihkan pendengaranya dan tidak mengatakan apapun, pandangan Dean tampak kosong.

“Apa kamu melihat keluarga kecil itu?” Meli menunjuk kearah taman tampak sepasang suami istri sedang mengajak anaknya yang berumur sekitar empat tahun bermain ayunan, Dean hanya mengangguk.

“Mereka bahagia, aku iri padamu, kamu masih muda, cerdas, kaya dan sudah menikah,” bisik Meli sambil menyikut lengan Dean.

“Meli, sepertinya kamu salah paham, pernikahanku tidak seperti pernikahan pada umumnya, aku menjebaknya dan memaksanya, kamu tahu semua itu.” Dean menjelaskan setelah cukup lama diam.

Dean kembali fokus pada beberapa pasang keluarga di taman itu yang terlihat sangat bahagia sambil bermain kejar-kejaran bersama anak-anaknya sambil tertawa.

Walau Dean tidak bisa mendengarnya tapi ia yakin mereka sangat bahagia. Dean ingat saat ia masih kecil Edmom sering mengajaknya bermain kejar-kejaran di taman itu, walau tanpa sosok ibu di samping mereka, berbeda dengan pasangan keluarga di taman itu, tapi Dean merasa sangat bahagia saat itu.

“Kamu melakukan itu semua untuk mengabulakan permintaan tuan Edmom, ayahmu,” Meli mengerti semua yang Dean jelaskan, ia juga sudah mendengar bagaimana pernikahan itu berlangsung dari Zulfar yang juga di panggil Paman oleh Meli. “Kamu anak yang baik Dean, aku yakin tuan Edmom akan senang melihatmu menikahi Hermawan.” Tambah Meli sambil menyantuh punggung Dean.

“Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Dean tampak bosan dengan arah pembicaraan mereka, Dean dengan cepat menghabiskan coklat hangatnya lalu kembali ke tempat tidurnya.

“Baiklah, tapi kapan kamu akan mengadakan pesta pernikahannya, aku sudah menyiapkan konsep yang cocok untuk kalian, aku akan mengadakan pestanya di hotel ini, kamu tinggal memberitahuku tanggalnya.” Meli tampak antusias.

“Tidak ada pesta Meli, kami bahkan akan bercerai nanti.” jawab Dean acuh lalu kembai membenamkan tubuhnya dalam selimut.

“Apa? aku akan memberitahu papa jika itu terjadi!” Meli mengancam sambil menarik pakasa selimut Dean, membut wanita mudah itu mengeram kesal.

“Kamu harus ingat Dean, kamu sepupuku satu-satunya, dan kamu harus bahagia, apa kamu lupa bagaimana aku, kak Dhani ayah, ibu dan Paman Zulfar juga Bibi Anisa, kami semua menyayangimu, kamu jangan berpikir kalau kamu sendiri, jika ada masalah kamu harus membicaranya pada kami semua, kami ini keluargamu, keluarga itu saling menjaga satu sama lain. Dan aku bukan hanya sepupumu karena aku juga menyanganyimu saperti adik kandung ku.”

Meli mengoceh tiada henti, hal ini yang tidak di sukai Dean, karena wanita ini sangat cerewet, pantas saja dia belum menikah sampai sekarang sekarang.

“Cepat katakan padaku ada masalah apa?” Meli mendesak

“Sudah kukatakan tidak ada apa-apa, kak Meli sayang.” jawab Dean sambil tersenyum kaku manahan kekesalanya pada salah satu sepupuh yang sangat menyebalkan bagi Dean.

“Baikla aku tidak akan memaksamu, tapi kamu harus ingat, aku akan selalu ada mendengarkan semua masalahmu, kita akan mencari jalan keluar sama-sama atas masalahmu karena kita keluarga, walau aku tau kamu lebih pintar dari pada aku.”

“Jadi kapan kamu akan menikah?” pertanyaan Dean membuat Meli mati kutu, Dean masih sama, dia tidak akan basah basih dalam bertanya.

Dean sangat tahu jika sepupu yang satu ini akan terdiam jika membahas soal pernikahanya, karena Ahmad omnya sudah sering memaksa Meli untuk menikah mengingat umur wanita itu yang tidak mudah lagi, beberapa kali Meli menolak di jodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya, dengan bantuan Dean yang menjelaskan mengapa Meli menolak para laki-laki itu, mulai dari sifa, prilaku, serta kebiasaan mereka yang akan membuat Meli tidak betah bahkan akan menyakiti Meli natinya, semua alasan itu sangat masuk akal dan di terima Ahmad karena Ahmad sangat mempercayai Dean dari pada Meli anaknya sendiri.

“Aku? aku ingin kamu mengenalnya lebih dulu, setelah itu aku baru mau mengenalkanya pada keluarga kita.” Meli tersenyum, tampak mukanya memerah “Setujuh!” Dean menjawab sambil mengunya sarapannya.

***

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!