*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Amarah berlapis Senyuman
Apa yang
sebenarnya kucari ini?
Harusnya aku
berjuang mencari Diana namun mengapa aku bisa berada disituasi ini?
Lagi – lagi aku
merasa seperti ada yang mendorongku ke situasi ini,
Sebenarnya
siapakah diriku ini?
Apakah aku masih
Dion? Atau orang lain?
Semua bermula
saat kutemukan kotak itu, aku merasa telah mengingat sesuatu yang amat penting,
janji yang begitu penting.
Namun disisi lain
aku harus membawa Diana kembali, mengapa aku tak bisa mengendalikan diriku
sendiri. Wahai engkau yang terus mendorongku apa sebenarnya yang kau mau?
Bisakah kau hentikan semua ini? Aku hanya ingin hidup menuju masa depan, aku
tak peduli dengan masa lalu ku apapun yang terjadi pada saat itu semua itu
sekarang sudah berubah menjadi sebuah kisah.
Dion :”Apa yang
harus kulakukan?”
Ketua :”Ikuti
kata hatimu.”
Dion :”tapi,
bagaimana kalau aku salah memilih jalan?”
Ketua :”Didunia
ini tak ada yang namanya benar maupun salah, semua tergantung dirimu
memutuskannya, apapun jalan yang kau ambil semua itu tetaplah bagian dari
takdir.”
Dion :”takdir
ya..... apa menurut ketua takdir itu bisa dirubah?”
Ketua
:”Pertanyaan konyol, kalau kau sendiri tidak mengetahui takdirmu bagaimana
mungkin kau tau kalau takdir itu berubah atau tidak? Jika kau punya waktu untuk
memikirkan takdirmu lebih baik gunakan waktu itu untuk melihat apa yang sedang
kau hadapi sekarang.”
Dion :”tapi,
bukankah kau bisa mengetahui takdir juga ketua?”
Ketua :”aku?
Tentu saja tidak, sudah kubilang aku hanyalah manusia bukan dewa atau tuhan,
aku hanya mengatakan kemungkinan bukan kepastian.”
(pasti Ketua
membicarakan tentang pembicaraan kita saat itu)
Ketua pergi melewatiku,
Didalam kesunyian terdengar suara langkah kaki
ketua yang terus menjauh dariku,
Keraguan,
ketakutan, kebingungan,
Apakah ini
pilihan yang tepat?
Ketua :”kau sudah
melakukan yang terbaik,Dion.....selanjutnya serahkan padaku!”
Ucap nya sambil
mengangkat tangan kirinya membelakangiku,
Tidak ada pilihan
lain selain mempercayai ketua untuk saat ini. Tak ada hal yang bisa kubantu
untuk saat ini, itulah maksud pesan singkat darinya.
*Brrr....Brrr.Brrr
HP disaku ku tiba
– tiba bergetar,
Kubuang segala
pemikiran negatifku dan membuka isi pesan di Hpku,
[Dari Ketua]
[Maaf, tapi
tolong bertahan dan bersabarlah. Serahkan urusan Diana padaku.]
Dion :”apa
maksudnya? Apa yang akan ketua lakukan untuk Diana?”
Kututup Hpku dan
mencoba memikirkan segala kemungkinan
yang ada. apakah Ketua mengetahui dimana Diana berada? Jika iya mengapa ia tak
mengatakannya padaku?
*huffftt
Ku pejamkan mata
menghela nafas panjang memandang langit,
Sekeras apapun ku
berfikir aku takkan bisa menebak ketua, dirinya yang begitu ramah kepada semua
orang, begitu terbuka, selalu memprioritaskan orang lain dari pada dirinya, dilihat
dari manapun dia benar – benar orang yang sangat sempurna tapi mengapa dokternya
berkata sebaliknya,
Saat kubuka
mataku terlihat langit biru nan cerah terbentang luas di atasku sampai
membuatku sadar betapa kecilnya diriku, mana mungkin aku bisa mengenggam langit
sebesar ini dengan kedua tangan kecilku, lucu sekali jika membayangkannya.
Diantara luasnya
langit kulihat ada benda yang sedang melayang – layang jatuh ke arahku,
Dion :”Amplop?”
saat amplop itu
jatuh tepat ditanganku aku baru menyadari sesuatu.
Dengan tanda hati
berwarna hitam disegel amplopnya membuatku sangat terkejut,
(Ketua?)
Dion :”KETUA!!”
Ku berlari sekuat
tenaga menelusuri jejaknya,
sekarang aku
mengerti arti pesan itu!
(Ketua!)
Mengapa ia selalu
menanggungnya seorang diri?
Apanya yang
kerjasama?
Omong kosong!
Setelah
kutelusuri seluruh jalur tanpa membuahkan hasil aku pun langsung berlari menuju
ruang kelas,
Dengan harapan
tinggi kubuka pintu ruang kelas,
Namun sekali
lagi, kenyataan pahit itu datang menghantuiku.
Ketua benar –
benar menghilang.
3 hari kemudian,
Bel pulang
sekolah berbunyi,
Seluruh siswa
meninggalkan sekolah,
Harusnya seperti
itu,
Namun tidak untuk
kelas kami.
Dalam keheningan
ini, kami semua berkumbul waktu menunjukkan pukul 3 sore semua tempat duduk
terisi tanpa sisa.
Ibo yang berdiri
didepan kelas mulai berbicara,
Ibo :”pertama
Diana sekarang Ketua menghilang, 2 kasus dalam selang waktu pendek, dan terjadi
dikelas ini.”
*Brak!
Ibo memukul keras
papan tulis,
Ibo :”PELAKUNYA
PASTI DIKELAS INI!!”
Rui :” sudah tenang dulu,bo. Jangan mengatakan
yang tidak – tidak. Semua orang sedang mengerahkan segala kemampuan mereka
mencari ketua.” Jawab Rui mencoba menenangkan Ibo
Jay :”itu benar,
kita tak boleh pesimis dulu sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha.”
Ibo :”kalian
semua jangan pura – pura tidak tau, kalian semua paham sendirikan apa yang
diceritakan orang tua Diana tentang Diana? Kini hal serupa terjadi lagi ke
ketua, jadi bisa saja ketua sudah.....”
Rui :” IBO!”
*Buak!
Rui langsung
memukul Ibo sebelum ia menyelesaikan kata – katanya dengan serentak orang –
orang memegangi Rui yang mencoba menghajar Ibo,
“SEMUANYA TENANG
DULU!” sebuah teriakan kecil menghentikan pertikaian mereka
“apapun yang
terjadi kita jangan sampai bertikai, bukankah ketua pernah berkata seperti itu
kepada kita?” seorang gadis berkacamata datang dan menengahi mereka berdua,
“jangan rusak
apapun yang sudah dibangun oleh ketua, itulah cara kita menghargainya.”
Seisi kelas
terdiam disaat yang sama aku teringat nama gadis itu,
Iya, dia adalah
Tiana seorang wakil ketua ia adalah anak yang pendiam dan tidak menocok sama
sekali tapi entah mengapa seisi kelas menjadi kaget akan reaksi Tiana yang
seperti itu.
Rui pun
menurunkan tangannya dan kembali ke tempat duduknya. Baru pertama kalinya juga
kulihat Rui marah, seperti kata pepatan jangan sekali – kati membangunkan singa
yang tertidur
Tiana :”maafkan
aku teman – teman, sekarang kalian semua boleh pulang. Biar ku tenangkan Ibo
dulu.” Ucap Tiana sambil meminta maaf kepada seisi kelas,
Satu demi satu
orang – orang meninggalkan kelas dengan khawatir,
Sampai akhirnya
kutinggalkan kelas juga ku ambil langkah menjauh dari kelas, setiap langka
terasa amat berat, rasa bersalah terus menumpuk didalam hatiku walau aku yang
mengetahui apa yang terjadi namun aku tak bergerak sedikitpun.
Saat kuterus memikirkan
kesalahanku tanpa sadar kakiku sudah membawaku kembali kedepan kelas,
Aku harus
memberitau mereka!
Saat hendak
kubuka pintu kelas terdengar suara tangisan,
Tiana :”aku tau
kau sangat terpukul akan kepergian Adikmu Diana, walau sulit tapi cobalah untuk
merelakan kepergiannya dan jangan terbawa emosi.”
(Apa?! Diana
adalah adik dari Ibo?!)
Ibo :”maaf Tiana,
gue butuh waktu buat sendirian.”
Tiana :”baiklah.”
Pintu tiba – tiba
terbuka dan mata kami pun bertemu, tanpa basa – basi Tiana langsung menutup
pintunya dan menarikku,
Tiana :”apa kau
mendengarnya?”
Dion :”maaf, aku
tak bermaksud menguping pembicaraan kalian.”
Tiana :”Tolong
rahasiakan dari yang lain, kumohon.”
Dion :”tapi
apakah itu benar? Ibo adalah kakak dari Diana?”
Tiana :”itu
benar.....setidaknya itu pernah terjadi, sebelum orang tuanya menjualnya.”
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like