Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Rapat Dadakan
Ruangan besar itu dipenuhi dengan keheningan yang mencekam. Meja panjang di tengah ruangan dikelilingi oleh para petinggi UK, wajah-wajah mereka mengeras, mencerminkan ketegangan yang menggantung di udara. Di ujung meja, Leo duduk dengan tubuh yang masih berbalut perban, luka-luka dari pertempuran di gerbang selatan belum sepenuhnya pulih. Namun, matanya tetap tajam dan penuh intimidasi. Meskipun rasa sakit masih menjalari tubuhnya, ia menolak menunjukkan kelemahan di hadapan orang-orang yang bergantung padanya.
Jenderal Aldrick berdiri, membuka rapat dengan suara berat. "Kita semua sudah tahu situasi di gerbang barat. Ragen tidak hanya kembali aktif, tetapi mereka juga bergerak dalam pola yang lebih terorganisir. Jika ini terjadi di satu gerbang, maka kemungkinan besar gerbang lainnya juga dalam ancaman, terutama gerbang timur yang menjadi jalur masuk utama bagi para pengungsi."
Duke Vermond, penasihat militer senior, mengangguk setuju. "Pertahanan di gerbang timur memang cukup kuat, tapi kita semua tahu itu tidak sekuat tembok utama kerajaan. Jika Ragen mulai bergerak ke sana, kita akan mengalami bencana kemanusiaan."
Para hadirin saling bertukar pandangan. Suasana semakin berat saat diskusi mengenai langkah selanjutnya dimulai. Beberapa petinggi saling berbisik, sementara yang lain tetap diam dengan wajah muram. Ketegangan terus meningkat seiring dengan kesadaran bahwa mereka dihadapkan pada keputusan sulit.
"Hanya ada dua pilihan," kata Ignis yang duduk di sebelah Leo. "Kita bisa mempercepat proses penyeleksian para pengungsi untuk memastikan mereka segera masuk ke dalam kerajaan, atau kita menghentikan aliran pengungsi sepenuhnya demi keselamatan rakyat UK."
Beberapa petinggi tampak gelisah. Seorang menteri dalam negeri, Lord Edgar, menghela napas dalam. "Jika kita menutup gerbang timur, kita mungkin bisa melindungi rakyat UK, tapi itu juga berarti meninggalkan ratusan pengungsi di luar sana. Kita akan dianggap kejam oleh dunia luar. Selain itu, kita tidak tahu berapa banyak di antara mereka yang benar-benar bisa kita selamatkan sebelum mereka menjadi korban serangan Ragen."
"Tapi jika kita tetap menerima mereka tanpa persiapan yang matang, kita mungkin membuka celah bagi Ragen untuk menerobos masuk," kata Jenderal Aldrick tegas. "Bukan hanya Ragen, tetapi juga kemungkinan adanya individu yang terinfeksi yang berhasil menyusup ke dalam. Kita tidak bisa mengambil risiko sekecil apa pun. Jika satu orang yang terinfeksi masuk tanpa kita sadari, itu bisa menjadi bencana yang lebih besar."
Leo mendengarkan dengan seksama, jemarinya mengepal di atas meja. Semua pendapat itu benar, tetapi mereka membutuhkan keputusan yang pasti, dan cepat. Ia akhirnya bersuara, suaranya dingin dan penuh otoritas.
"Kita tidak bisa menutup gerbang timur begitu saja. Itu akan membuat kita terlihat mengorbankan mereka yang selama ini berharap bisa mendapatkan perlindungan dari kerajaan ini. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan situasi ini lepas kendali." Leo berhenti sejenak, menatap satu per satu orang-orang di ruangan itu. "Oleh karena itu, kita akan melakukan penyeleksian lebih ketat, mempercepat pemrosesan para pengungsi. Mereka yang sudah dinyatakan aman akan segera dimasukkan ke dalam, sedangkan mereka yang belum melalui pemeriksaan menyeluruh akan ditampung di zona penyangga dengan perlindungan lebih kuat. Kita juga akan memperkuat pertahanan di sekitar gerbang timur dengan mengirimkan pasukan tambahan."
Beberapa orang di ruangan itu tampak ragu, tetapi Duke Vermond mengangguk. "Itu bisa menjadi solusi terbaik saat ini, meski risikonya tetap besar. Kita perlu memastikan bahwa pasukan tambahan bisa tiba tepat waktu. Kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Ragen bisa menyerang kapan saja."
"Aku sendiri yang akan mengawasi keamanan di sana," kata Leo dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan para Ragen melewati pertahanan kita. Selain itu, kita perlu menugaskan unit khusus untuk melakukan patroli di sekitar area itu. Kita tidak bisa hanya menunggu sampai musuh menyerang. Kita harus lebih aktif."
Jenderal Aldrick tersenyum tipis. "Jika itu keputusan Anda, Yang Mulia, maka kita akan segera mengerahkan sumber daya yang diperlukan. Kami juga bisa mempertimbangkan penggunaan persenjataan berat, jika serangan dalam skala besar terjadi lagi."
Leo mengangguk. "Pastikan persiapan selesai dalam waktu dua hari. Kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang lagi. Sampaikan juga pesan kepada unit penelitian. Aku ingin tahu apakah ada perkembangan terbaru mengenai sifat virus yang menyebabkan Ragen kembali aktif. Jika kita bisa memahami apa yang mengubah perilaku mereka, kita mungkin bisa menemukan cara untuk mengatasinya."
Para petinggi kerajaan mengangguk setuju, meski ketegangan masih belum sepenuhnya hilang. Mereka tahu keputusan ini bisa menentukan nasib banyak orang. Rapat pun berakhir dengan keputusan yang harus segera dijalankan. Leo menarik napas dalam, menyadari bahwa beban di pundaknya semakin berat. Namun, ia tidak akan mundur. Demi rakyatnya, ia harus tetap berdiri tegak di garis depan.
Setelah rapat darurat berakhir, Leo tetap tinggal di ruang pertemuan bersama teman-temannya. Sementara para petinggi kerajaan mulai meninggalkan ruangan dengan wajah penuh beban, Leo masih memiliki banyak hal yang harus dipastikan sebelum mereka benar-benar bisa mengambil tindakan.
Jimmy dan Tony duduk di seberangnya, sementara Ignis berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada. Ketiganya menunggu perintah lebih lanjut dari Leo, yang saat ini tampak tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, Leo menarik napas dalam dan menatap mereka dengan serius.
"Kita tidak bisa hanya fokus pada gerbang timur dan barat. Dua gerbang lainnya, utara dan selatan, juga harus kita awasi," kata Leo dengan nada tegas.
Jimmy mengangguk. "Gerbang selatan berbatasan langsung dengan pegunungan berbatu. Sejauh ini belum ada laporan pergerakan Ragen di sana, tapi kami tetap perlu memastikan situasi di sana tetap aman."
Tony menambahkan, "Sementara gerbang utara berbatasan dengan pemukiman lama di luar benteng. Sejak wabah menyebar, tempat itu sudah seperti kota mati. Tidak ada manusia yang tersisa, tapi siapa yang tahu apa yang bersembunyi di antara reruntuhan itu?"
Leo mengangguk setuju. "Itulah yang membuatku khawatir. Kita tidak tahu apakah ada sisa-sisa infeksi yang berkembang di sana atau mungkin sesuatu yang lebih buruk bersembunyi di balik keheningan itu. Aku ingin kalian berdua membawa tim untuk menyelidiki kondisi di sekitar dua gerbang itu. Bawa pasukan terbaik kita dan jangan bertindak gegabah. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan kepadaku."
Jimmy dan Tony saling pandang, menyadari bahwa tugas ini bukan hanya penyelidikan biasa, tapi juga langkah penting untuk memastikan pertahanan kerajaan tidak memiliki celah. Mereka berdua berdiri tegak dan memberikan hormat.
"Kami akan segera menyusun tim dan berangkat malam ini," kata Jimmy.
Leo mengangguk. "Bagus. Jangan ambil risiko yang tidak perlu. Jika kalian menemui sesuatu yang di luar dugaan, jangan bertindak sendiri. Aku ingin kalian kembali dengan informasi, bukan dalam kantong mayat."
Tony tersenyum miring. "Mengerti, Yang Mulia. Kami tidak akan gegabah."
Setelah mereka berdua meninggalkan ruangan untuk mempersiapkan tim, Leo menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi lelah. Ignis, yang masih berdiri di dekat dinding, akhirnya berbicara.
"Kau khawatir, bukan?"
Leo menghela napas. "Tentu saja. Gerbang timur adalah prioritas, tapi aku tak bisa mengabaikan kemungkinan ancaman dari arah lain. Jika kita hanya fokus pada satu titik, kita bisa lengah dan kehilangan kendali di tempat lain."
Ignis mendekat dan menepuk bahu Leo. "Kau mengambil keputusan yang tepat. Kita akan terus mengawasi semuanya. Dan jika ada ancaman, kita akan menanganinya bersama-sama."
Leo menatap sahabatnya dan mengangguk. "Terima kasih, Ignis."
Di luar ruangan, matahari mulai tenggelam, menandakan malam yang semakin gelap. Dalam hati, Leo tahu bahwa ini baru permulaan. Perang belum selesai, dan ancaman bisa datang dari arah mana saja. Ia hanya bisa berharap bahwa keputusannya hari ini akan membawa mereka selangkah lebih dekat ke kemenangan dan keselamatan rakyatnya.
Sementara itu, di lorong luar ruang pertemuan, langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Seorang perwira penghubung datang dengan wajah tegang, membawa laporan terbaru. Ia menghampiri Leo dan menyerahkan laporan dengan sedikit terengah-engah.
"Yang Mulia, laporan baru dari pasukan pengintai di barat. Mereka melihat pergerakan mencurigakan di sekitar reruntuhan benteng lama. Belum bisa dipastikan apakah itu kelompok Ragen atau sesuatu yang lain."
Leo segera membuka laporan itu dan membaca dengan seksama. Matanya menyipit. "Sesuatu yang lain? Apa maksudnya?"
"Kami belum bisa memastikan, Yang Mulia. Tapi beberapa prajurit melaporkan adanya suara-suara aneh yang tidak biasa. Bukan suara Ragen yang biasanya agresif, tapi lebih... terkoordinasi."
Leo menatap Ignis yang kini juga tampak serius. "Aku tidak suka ini. Mungkin kita menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira. Kita tidak bisa membiarkan ini berkembang lebih jauh."
Ignis mengangguk. "Aku akan ikut dengan Jimmy dan Tony. Kita perlu melihat ini dengan mata kepala sendiri."
Leo berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Baik. Berangkatlah segera. Aku akan tetap di sini dan memastikan gerbang timur tetap aman. Jika ada sesuatu yang tidak beres, jangan ragu untuk segera memberitahuku."
Ignis memberi hormat sebelum berjalan pergi dengan cepat, menyusul Jimmy dan Tony yang sedang menyiapkan pasukan mereka. Leo kembali duduk dan memijat pelipisnya. Situasi semakin pelik, dan ia bisa merasakan ancaman yang lebih besar sedang mengintai dari balik kegelapan.
***
Sementara itu. Di pusat militer Venus, yang terletak di jantung negara Namrej, Matthew tenggelam dalam kesibukannya di laboratorium bawah tanah. Berkas-berkas penelitian berserakan di atas meja kerja, layar monitor menampilkan data analisis terbaru, sementara tabung-tabung reaksi berisi cairan kehijauan berjajar rapi di rak-rak kaca. Di ruangan itu hanya terdengar suara mesin yang mendengung pelan, sesekali diselingi suara Matthew yang mengetik cepat di komputer.
Matthew telah menghabiskan beberapa tahun untuk meneliti virus Ragen, mencoba memahami setiap sel mutasi yang membentuknya. Ia memang sudah berhasil mengembangkan anti virus, tetapi itu masih jauh dari sempurna. Anti virus yang ia ciptakan hanya efektif bagi mereka yang terjangkit di tahap awal dan dalam kondisi ringan. Namun, bagi yang sudah mengalami mutasi lebih lanjut, anti virus itu tidak mampu menyembuhkan mereka. Hal ini membuat Matthew merasa frustrasi. Ia tahu masih ada sesuatu yang kurang, ada rahasia dalam virus ini yang belum bisa ia pecahkan.
Sementara ia masih berkutat dengan pemikirannya, suara pintu otomatis terbuka, dan langkah kaki berat menggema di dalam laboratorium. Matthew menoleh dan melihat dua pria berseragam hitam khas Guardian berjalan mendekatinya.
Arvent dan Balthier.
Dua nama yang sudah lama tidak ia dengar, dua orang yang terakhir kali ia lihat sebelum dirinya menjadi tahanan di pusat militer ini. Keduanya berdiri tegak, tatapan tajam mereka tertuju pada Matthew yang masih mengenakan jas lab putih yang penuh dengan noda tinta dan cairan kimia.
“Matthew,” sapa Arvent dengan nada datar. “Sudah lama kita tidak bertemu.”
Matthew tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mereka berdua dengan ekspresi datar, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke layar monitor. Namun, kehadiran mereka tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Kalian butuh apa?” tanya Matthew akhirnya, suaranya terdengar lelah dan dingin.
Balthier, yang lebih tinggi dari Arvent dan memiliki mata tajam layaknya elang, melangkah lebih dekat. “Kami datang untuk membawamu keluar dari tempat ini,” ujarnya. “Ada tugas baru yang membutuhkan keahlianmu.”
Matthew mendengus pelan dan menggeleng. “Aku tidak tertarik. Aku masih punya penelitian yang harus kuselesaikan.”
Arvent dan Balthier saling berpandangan sebelum Arvent mendekat. “Kau yakin? Ini bukan hanya sekadar tugas biasa, Matthew.”
“Apapun itu, aku tidak peduli.” Matthew tetap teguh dengan keputusannya.
Ia tidak ingin keluar dari sini. Mungkin karena ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya tanpa harus mengingat masa lalunya.
Namun, Arvent tidak menyerah begitu saja. Ia menatap Matthew lekat-lekat sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang lebih rendah dan tajam, “Kau tidak ingin tahu tentang Selena?”
Mata Matthew langsung membelalak. Napasnya tertahan sesaat. Jari-jarinya yang tadi sibuk mengetik kini berhenti bergerak. Nama itu, nama yang sudah lama ia hindari, nama yang ia pikir tidak akan lagi didengarnya.
Arvent melihat reaksi Matthew dan melanjutkan, “Ada sesuatu yang mungkin ingin kau ketahui tentangnya.”
Matthew menatap Arvent tajam, rahangnya mengatup erat. Perasaan yang selama ini ia tekan mulai kembali muncul ke permukaan. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kini kembali menganga. Kenangan tentang Selena, senyumnya, tatapannya, suaranya, semuanya kembali berputar dalam benaknya, membawa serta rasa sakit yang selama ini ia coba lupakan.
Balthier yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Kami tidak akan memaksa. Tapi pikirkan ini baik-baik. Jika kau ingin tahu kebenarannya, kami akan menunggumu.”
Setelah mengatakan itu, Arvent dan Balthier berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban Matthew. Mereka tahu bahwa mereka telah menanamkan benih keraguan dalam pikiran pria itu. Kini keputusan ada di tangan Matthew, tetap tinggal dalam penelitiannya, atau keluar dan menghadapi sesuatu yang selama ini ia hindari.
Saat pintu tertutup di belakang kedua pria itu, Matthew masih berdiri di tempatnya, pikirannya kacau. Ia mengepalkan tangannya erat. Di dalam dadanya, perasaan yang selama ini ia kubur mulai bergejolak kembali. Dan kali ini, ia tidak yakin bisa mengabaikannya begitu saja.
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena