Area 21, bijaklah dalam memilih bacaan !!!
Pikiran liarku, sering membayangkan jika aku berhubungan dengan pelayan baru kami, Melani. bahkan aku selalu mencuri-curi pandang ke bokongnya yang terlihat sangat montok menggairahkan, buah dadanya yang besar, membuat aku sering berfantasi liar, jika menikmati kedua benda itu, yang selama ini tidak aku dapati pada istri ku Sinta.
Aku langsung menuju kantor untuk bekerja, namun aku sama sekali tidak bisa fokus bekerja. malah aku berfikir "Jika aku kembali pulang dan meminta Melani untuk memuaskan aku diranjang, dia bakal nolak ngak ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinta kecolongan
Aku merasa Bu Sinta mulai curiga, bahkan tatapan matanya semakin tajam dan penuh selidik setiap kali melirik ke arahku. tapi meskipun begitu, dia tetap kecolongan oleh suami nya sendiri, yang pindah kekamarku saat malam-malam, berjalan seperti maling. mas Dani mengetuk pintu kamarku.
"Lani..lani... sayang buka pintunya." bisik mas Dani, sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan pencahayaan yang temaram, dia takut akan ketahuan Sinta ataupun pelayan mereka yang lain.
"Apa itu mas Dani?"
Aku yang ketiduran menunggu nya, mengucek mata perlahan sambil mempertajam pendengaranku.
"Lani, buka pintunya sayang."
Setelah memastikan jika itu benar suara mas Dani, aku langsung bersemangat bangkit berjalan menuju pintu, seolah-olah lupa jika area pribadi ku masih sedikit perih jika berjalan cepat.
"Ceklek....Piti aku buka perlahan, cepat masuk mas."
"Iya sayang."
Setelah mas Dani masuk, dia langsung mengunci pintu kamar ku.
"Mas, kok lama banget datang nya?"
"Maaf sayang, Sinta malam ini sudah banget tidurnya. sehingga mas ketiduran menunggu nya. mas kembali terbangun Barusa, dan langsung kesini begitu melihat Sinta sudah pulas."
"Begitu ya mas."
"Sayang, maaf ya. kamu sabar dulu jika kita harus berhubungan layaknya maling, setelah waktu nya tepat, mas bakal bujuk Sinta untuk menerima kamu."
Aku hanya menggagukan kepalaku pelan, sesekali aku mendesah tertahan mengingat mas Dani semakin bernafsu menggerayangi tubuhku.
"Pelan-pelan mas..."
"Apa ini masih sakit."
"Iya mas, dikit."
"Mas janji, akan pelan-pelan sayang."
Subuh menjelang, kami bercinta sepuas-puasnya, bahkan aku semakin berani membalas perlakuan dan cumbuan mas Dani, karena dia juga laki-laki pertama yang menyentuh ku, aku juga sangat mencintainya. sehingga tidak ada keraguan lagi di hatiku.
***
Dani menatap tubuh polos Lani yang tertidur pulas setelah percintaan panas mereka, Lani menggeliat dan kembali melanjutkan tidur nya, reno sengaja mengambil guling, un menggantikan posisi nya yang semula memeluk tubuh polos Lani, memperbaiki selimut gadis itu agar dia tetap merasa nyaman dan hangat.
"Aku harus segera balik Kekamarku dan Sinta, semoga dia tidak terbangun dan curiga."
Dani kembali mengenakan piyama tidurnya, berjalan menuju kamar dilantai dua, tidak lupa Dia membawa segelas air putih dari dapur, untuk berjaga-jaga jika Sinta bertanya nantinya, maka Dani akan menjawab dari dapur mengambil segelas air putih, alasan yang simpel menurut Dani saat ini.
Ceklek... perlahan membuka pintu kamarnya, diliriknya Sinta masih tidur pulas memeluk guling, seketika Dani mengelus dadanya lega.
"Syukurlah, ternyata Sinta masih tidur pulas." gumam Dani lalu meletakkan air putih diatas nakas, diapun langsung mandi, mengingat tubuhnya yang sudah pada lengket, keringat bercampur cairan cintanya bersama Lani barusan.
Dani mersa tubuh nya sangat segar dan fit pagi ini, senyum terus mengembang dibibir nya, sambil mengenakan pakaian kantor yang terlihat sangat serasi dan cocok untuk tubuh tegap atletisnya ini.
Sebelum berangkat, Dani menyempatkan dirinya, mencium sekilas pipi dan kening istrinya Sinta secara perlahan-lahan, agar tidak terbangun.
"Maafkan aku sayang, aku mencintaimu, dan juga mulai menyayangi Lani, memang terdengar egois jika aku ingin memiliki kalian berdua seutuhnya, tapi perasaan ini mengalir begitu saja, tanpa aku bisa mengendalikan nya. maaf sayang." gumam Dani perang batin dengan perasaan nya sendiri.
Hal paling membahagiakan, saat turun kebawah, Lani menyambut ku dengan senyum termanis nya. menyiapkan sarapan dengan telaten.
"Bu Sinta mana mas, apa dia masih tidur?"
"Iya, nanti jika dia bagun. kamu siapin menu sarapan kesukaan nya ya."
"Tentu mas."
Aku mulai sarapan sambil sesekali saling melempar seyum dengan Lani.
apa nti ada season 2 kah ??
Lanjuut tor,, semangaatt..