Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Eliza
Selepas mengantar kan Adam ke sekolahan, Devano langsung menuju kantor nya. Jadwal Devano hari ini lumayan santai, hanya menandatangani beberapa berkas dan di lanjutkan dengan meeting di siang hari.
Kini Devano sedang duduk bersandar di kursi kebesaran nya, Devano sedang memandangi sebuah foto kebersamaan nya dengan adik angkat nya.
Devano dan adik angkat nya hanya selisih satu tahun, walaupun Devano hanya anak angkat tapi adik nya tak pernah memandang nya sebagai kakak angkat.
Justru kedekatan mereka malah terlihat lebih dekat dari sodara kandung, mereka bahkan sering berusaha membahagiakan dan sering berusaha untuk merelakan.
Mereka selalu saling sayang dan saling menghargai, Devano merasa sangat beruntung punya adik angkat seperti nya. Bahkan ke dua orang tua angkat nya pun terasa seperti orang tua kandung bagi nya, sangat baik dan tak pernah membedakan mereka sama sekali.
Tapi kini dia merasa sangat sedih, karna sudah lima tahun adik angkat nya itu mengalami gangguan jiwa. Sudah lima tahun adik nya selalu mengurung diri dan tak pernah mau bicara dengan siapa pun, bahkan dia terkadang suka mengamuk tanpa alasan.
Orang tua angkat Devano pun pada akhirnya memasukan nya ke dalam rumah sakit jiwa, mereka khawatir jika di biarkan terus dalam rumah.
Mereka takut adik angkat nya itu akan melakukan hal yang membahayakan diri nya, karna memang dia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Terkadang seharian dia akan berteriak histeris, dia seperti orang gagal dah begitu kehilangan.
Devano pun tak tahu apa penyebabnya karna waktu itu Devano memang sedang menyelesaikan pekerjaan nya di Amerika, karena setelah melanjutkan S2 nya Devano masih bekerja di perusahaan besar di Amerika.
Barulah Devano merintis usaha di ibu kota setelah nya, makanya perusahaan yang dia bangun selama empat tahun ini langsung berkembang pesat.
Karna memang pengalaman nya dalam berbisnis memang tak bisa di ragukan lagi, di tambah dengan keahlian nya dalam bekerja yang mempuni membuat nya gampang dalam melesat kan usaha nya.
"Dek, kenapa kamu bisa sakit? Sebenarnya apa yang menyebabkan kan kamu bisa sakit seperti ini? Saat Abang bertemu dengan mu, kamu seperti orang yang sangat tertekan. Tak mau bicara sama sekali, hanya diam mematung, bahkan kamu seperti tak mengenali Abang."
Devano selalu saja bertanya dalam hati nya, kenapa adik angkat nya bisa sakit seperti itu? Kenapa juga ke dua orang tua angkat nya tak pernah mau bercerita tentang apa yang terjadi pada adik angkat nya?
Devano merasa jika ke dua orang tua angkat nya itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari nya, Devano pun ingin mencari tahu. Tapi dia takut, jika ke dua orang tua angkat nya akan kecewa pada nya.
"Abang rindu Dek, bulan depan Abang pulang. Abang harap kamu sudah sembuh, Abang rindu kamu yang dulu." Devano berucap dengan lirih.
Tapi tak lama wajah sendu Devano berubah jadi jadi ceria kala mengingat wajah Adam, mengingat kelakuan Adam dan mengingat cara bicara Adam.
"Kamu tahu Dek? Abang bertemu dengan anak kecil yang bernama Adam, dia sangat jenius. Tubuh kecil nya berbanding terbalik dengan cara otak nya bekerja, Abang suka sama dia bukan hanya karena kejeniusan otak nya, tapi dia juga sangat mirip dengan kamu."
Devano pun mengusap kembali foto adik angkat nya itu, dia pun tersenyum hangat seolah olah foto itu memang benar adik angkat nya.
Saat Devano sedang asik bercengkerama dengan foto adik angkat nya, terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Devano pun langsung menyimpan foto adik nya, dan dia pun segera mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
"Maaf mengganggu Pak, di luar ada nona Eliza ingin bertemu. Apa Bapak ada waktu?" tanya Bianca sekretaris nya Devano.
Sebenarnya Devano sedang malas untuk berbicara dengan orang lain, karena dia ingin melepaskan dari rindu dengan adiknya walaupun hanya lewat foto.
Namun, rasanya dia tidak boleh egois. Jika ada orang yang datang untuk menemuinya, dia harus ramah untuk bertemu dengan orang tersebut.
"Ah, iya. persilahkan dia untuk masuk," ucap Devano .
"Baik Pak, kalau begitu saya sekalian pamit undur diri."
Bianca pun segera keluar dari ruangan Devano, tak lama muncul lah Eliza yang langsung menghampiri Devano. Eliza pun langsung duduk tepat di hadapan Devano, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada.
"Kak Devan, kamu tuh sibuk banget ya? Tiap aku ajakin pergi selalu saja menolak, aku kan pengen sekali sekali pergi sama kamu Kak."
Devano menghela napas berat, karena wanita itu selalu saja mendominasi. Selalu ingin pergi dengannya, tapi selalu dengan cara memaksa.
"Maafkan aku Eliza, aku memang benar benar sedang sangat sibuk."
Wanita yang ada di hadapannya itu mengerucutkan bibirnya, terlihat marah tapi sangat berharap bisa berduaan dengan Devano.
"Tapi setidak nya luangkan waktu untuk hari ini saja, hari ini aku ulang tahun. Masa Kak Devan ngga mau pergi sama aku," keluh Eliza.
Devano menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Eliza, walaupun hari ini hari terpenting untuk wanita itu, tetapi tetap saja dia tidak bisa pergi dengannya.
"Maaf, tapi siang ini aku ada meeting. Setelah itu, aku harus pergi untuk peletakan batu pertama di perumahan yang akan segera di bangun."
"Kakak selalu saja sibuk!! Kakak kapan bisa buka hati nya kalau kita ngga pernah ada waktu untuk berduaan?" keluh Eliza dengan bibir yang sudah mengerucut sempurna.
Devano pun langsung tertawa, tentu saja hal itu membuat Eliza semakin mengerucutkan bibirnya. Dia bahkan sampai menghentak-hentakkan kedua kakinya.
"Hahahaha, kamu tuh lucu. Makin lama aku kenal kamu, kamu makin kekanak kanakan."
Melihat Devano yang malah tertawa dengan terbahak-bahak membuat Eliza semakin kesal, wanita itu bahkan sampai memelototkan matanya ke arah Devano.
"Aku sedang kesal, bukan melucu. Kakak ngga asik, dari dulu kakak selalu berkata akan memberikan aku kesempatan untuk bisa dekat sama Kakak. Kita kapan dekat nya kalau kakak nya ngga pernah ada waktu buat aku? "
Eliza terlihat kesal, bahkan mata nya pun sudah mulai berair. Hal itu menyebabkan Devano tak tega, dia pun menarik napas berat.
Entah kenapa Devano sampai saat ini belum bisa membuka hati untuk wanita itu, walaupun wanita itu setiap waktu datang untuk menghampiri dirinya.
Padahal, wanita yang ada di hadapannya itu sangat cantik dan juga menarik. Namun, Devano hatinya belum bisa diluluhkan oleh wanita itu.
"Hah, baiklah nanti malam kita makan malam di luar. Mau? "
Devano bertanya pada Eliza, dan wajah sedih Eliza pun seketika langsung berganti dengan binar bahagia. Eliza pun langsung bangun dan menghampiri Devano, Eliza langsung duduk di pangkuan Devano dan memeluk nya dengan erat.
"Makasih ya Kak, aku tahu kakak juga menyukai ku. Hanya saja kakak belum mau mengakui nya," ucap Eliza.
Devano hanya bisa memutar bola mata nya, sebenar nya dia tidak suka pada Eliza. Karna selain manja dan posesif ,Eliza juga pemarah dan gampang tersinggung.
"Ya ya ya, aku tahu kamu sangat senang. Tapi, bisa kah kamu tak duduk di pangkuan ku seperti ini? "
"Maaf Kak, aku terlalu senang."
Eliza pun langsung turun dari pangkuan Devano, tak lupa Eliza pun memberikan kecupan di kening Devano. Devano hanya bisa menggeleng kan kepala nya, sungguh menurut nya tingkah laku Eliza itu membuat nya tak suka.
"Sekarang aku mau kerja, bisakah kamu pulang dulu? Nanti malam aku akan menjemput mu, " ucap Devano.
Eliza pun langsung mengangguk patuh, sudah dijanjikan untuk pergi berduaan dengan Devano membuat dia sangat senang. Tentu saja untuk saat ini dia harus rela mengalah, agar pria itu tidak marah.
Kalau pria itu marah, bisa gawat. Karena nantinya yang ada dia tidak akan bisa pergi dengan Devano, yang ada dia hanya bisa diam sendirian di dalam kamarnya saja.
"Bisa Kak, aku akan pulang sekarang. Kakak jangan sampai lupa dengan apa yang sudah kakak ucap kan, aku akan marah kalau sampai kakak lupa."
Eliza terlihat mengancam Devano, sedangkan Devano terlihat santai dan tak terlalu menanggapi ancaman Eliza. Setelah mengucapkan ancaman nya, Eliza langsung menghampiri Devano.
Eliza hendak mencium Devano, tapi dengan cepat Devano pun mendorong kening Eliza. Eliza terlihat kecewa, tapi dengan cepat dia menutupi wajah kecewa nya dengan senyuman yang manis.
"Kakak nggak mau aku kiss?"
"Bukannya nggak mau, tapi kita itu belum menjadi pasangan halal. Jadi, untuk hak seperti itu harus dihindari."
"Kenapa?" tanya Eliza.
Devano yang tidak memiliki rasa tentu saja akan kesulitan jika harus beradu bibir dengan wanita itu, Karena yang namanya beradu bibir itu harus dengan penuh perasaan, menurut Devano.
Dia tidak mau berciuman dengan wanita tanpa perasaan, apalagi sampai melakukan hal yang lebih tanpa adanya rasa.
"Aku itu pria yang normal, Eliza. Aku tidak boleh melakukan hal yang lebih dengan wanita yang tidak memiliki status istri sah denganku, karena jika nantinya aku terpancing dan menginginkan hal yang lebih, itu akan berbahaya."
Eliza paham ke mana arah pembicaraan Devano, pembicaraan pria itu pasti mengarah ke sana. Eliza berpikir kalau pria itu ingin melindungi dirinya, makanya tidak ingin melakukan hal yang lebih.
"Iya, iya. Aku paham, kalau begitu aku pergi dulu. Pokonya jangan lupa nanti malam harus pergi dengan aku," ujar Eliza.
"Ya," jawab Devano yang sebenarnya merasa begitu enggan sekali.
Eliza pun nampak pergi meninggal kan ruangan Devano, dan akhirnya Devano pun bisa bernapas dengan lega setelah kepergian Eliza.
"Kenapa dia itu selalu mengejarku? Padahal dia itu sangat cantik, pasti akan mudah menemukan pria lain. Bukan harus mengejar diriku yang tidak menginginkannya," ujar Devano.
Devano kembali menghela napas berat, kemudian dia mulai melakukan hal yang memang seharusnya dia lakukan seperti sebelum Eliza datang.