Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Angga duduk diam menunggu Tita bercerita. Angga tau Tita yang dulu dan sekarang masih sama. Gadis itu sering sekali ditindas, dan menjadi korban bully.
Angga mengetahui semuanya dari Tomi. Meskipun dulu saat SMP Angga tidak satu sekolah dengan Tita, tapi sedikit banyak Angga tau tentang penindasan temannya itu.
"Aku gak maksa kalau kamu belum siap cerita, Ta. Aku cuma ingatin kamu, kalau kita temanan udah dari kecil lho. Sedih aja rasanya kalau nggak dianggap ada!" rayu Angga. Tita sedari dulu memang sangat tertutup meskipun itu dengan orang terdekat sekalipun.
Netra Tita berpindah memandang Angga yang duduk disebelahnya. Bingung harus memulai dari mana ia harus bercerita. "Eumm, aku lemah banget! Dari SMP aku selalu jadi korban Bully. Gak tau alasan kenapa mereka sampai jahat sama aku. Padahal aku gak pernah ganggu mereka," papar Tita bercerita. Kepalanya menunduk memilin ujung bajunya. Malu saja saat harus berkata jujur dengan teman semasa kecilnya itu.
"Aku penakut, Angga! Aku jadi cewek cuma bisa nyusahin aja," sambung Tita lagi, meremat kuat tangannya.
Penindasan dan pembullyan yang Tita alami sudah berlangsung semenjak Tita sekolah SMP. Tita bukanya takut untuk melawan, hanya saja ia tak mau masalahnya di sekolah sampai terdengar ke telinga sang Ibu.
Sudah cukup Ibunya-Ayu banting tulang untuk biayaya hidup dan sekolahnya. Tita tak apa harus menjadi bayangan teman-temannya dengan terus dijadikan kacung yang selalu ditindas. Yang terpenting Tita masih bisa menyelesaikan pendidikannya. Itu saja sudah cukup!
Angga menghela nafasnya sejenak. Berdiri dan duduk melantai. Diraihnya tangan Tita, menggenggam erat dan membawanya dalam ketenangan. "Kamu lihat aku Ta! Kamu itu bukan cewek lemah. Kamu kuat Tita! Cuma mereka aja yang merasa tersaingi, dan membalasnya dengan menindas kamu."
"Kamu pintar, baik hati dan lagi? Kamu manis!" ucap Angga membuat Tita tersipu malu. Tita memalingkan wajahnya. Jantung dan hatinya mendadak langsung tak baik-baik saja.
"Aku serius, Ta! Mulai sekarang kamu harus lebih berani lagi. Cari perlindungan OSIS dan lapor ke guru BK. Jangan takut! Kamu masih punya aku, Ta. Aku akan dukung kamu apapun yang akan terjadi," janji Angga. Tita menggangguk tak mampu menjawab dengan ucapan.
***
Arra berkali-kali mengusap matanya yang terasa berat dan sayu. Mulutnya pun, tak henti menguap saat rasa ngantuk semakin melingkupi kedua netra nya. Namun gadis itu terlalu malas beranjak ke kamar, apalagi harus tidur sendirian.
Suara obrolan Rafael dan temannya, sayup-sayup mengalun ditengah kesadaran Arra yang mulai hilang. Perlahan mata Arra terpejam dengan tubuh yang bersandar di lengan Rafael.
"Jadi rencana setelah lulus lo mau ngambil kuliah di kampus mana Raf? Gue denger-denger Om Dani mau lo lanjut ke LN, biar sekalian ngurusin bisnis beliau?" tanya Gerald.
Beberapa kali saat tak sengaja bertemu di kantor sang Ayah. Om Dani sering mengajak Gerald bertukar cerita, dan juga membahas soal pendidikan.
"Aa haha, gue yakin sih, Rafael bakal tetap lanjut di Indo, mana tahan dia jauh-jauh dari Arra, iya kan Raf," sela Rio mendahului.
Rafael berdehem, bukannya menjawab pertanyaan Gerald barusan dan meladeni Rio. Rafael malah menolehkan pandangannya ke samping, melihat gadis pujaannya yang tertidur lelap. Di usapnya lembut pucuk kepala Arra dan membenahi posisinya yang terduduk menjadi berbaring di Sofa. "Tidur yang nyenyak sayang, semoga mimpi indah," ucap Rafael lirih ditelinga Arra.
Netra Rafael berpindah lurus menghadap Gerald dan Rio. "Masih setahun lagi Rald. Gue sih masih ragu, kalau harus lanjut ke LN. Gak bisa jauh-jauh. Takut kangen sama Arra," sahut Rafael. Tangannya bergerak menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Arra.
Rio mengembangkan senyum bahkan tertawa girang. "Nah benar kan apa kata gue, si Rafael tuh udah bucin sejak kecil, Rald," sambung Rio lagi, langsung disikut Arka.
"Berisik lho, Ri gak lihat si Arra tidur, entar dia kebangun lagi."
***