NovelToon NovelToon
KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Romansa-Teen angst
Popularitas:366.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tataxx

Kirana Dwi Lestari, seorang gadis belia berusia 17 tahun.
Tari, begitu Sapaanya di sekolah. Memiliki tiga orang adik yang sudah dua tahun ini ia hidupi sendiri. Kemana orangtuanya? Mereka meninggal dunia dua tahun lalu.
Tari dan adik-adiknya tinggal di sebuah rumah sederhana hasil kerjanya selama dua tahun ini.

Saat pagi menjelang, Tari akan berangkat kesekolah dan bekerja saat malam tiba. Selama dua tahun ini, kehidupan Tari tenang-tenang saja. Sampai suatu saat, ia bertemu dengan pria sebaya yang mampu menggetarkan hatinya.

Apakah cinta Tari akan terungkap dan terbalaskan?
Apakah pria itu akan menerima seorang ... Tari?

Ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tataxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 12

"Baik anak-anak, kita mulai pembelajarannya." Bapak guru matematika memulai jam pelajaran.

Semua murid dalam kelas mulai hening dan mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Begitu juga dengan Tari, ia fokus memperhatikan guru di depan.

Pukul 6 tadi pagi, Tari sudah diantar pulang oleh Beni. Sebenarnya papi meminta untuk berangkat dari rumah baru nya saja tapi Tari menolak karna semua perlengkapan sekolah ada di rumah. Dia juga harus mempermak wajahnya agar menjadi si jelek buruk rupa.

Entahlah, kenapa Tari bisa berpikiran seperti itu, menutupi wajahnya dan tubuhnya agar tidak dikenali orang-orang katanya. Jika ia malu atau takut orang tahu pekerjaannya, ia bisa kan keluar dari klub itu dan tidur dengan nyenyak di rumah? Toh si papi juga sudah melarangnya. Ia juga tak berpengaruh banyak di klub itu, hanya mami Mira saja yang mendapat pengaruhnya. Karna semenjak Tari menjadi kesayangan tuan Anton, bonus yang didapatkan mami Mira semakin banyak.

Ah biarlah, yang tahu hanya Tari. Apapun alasannya, biarlah hanya Tari yang tahu.

Tok ... Tok ....

Yoga yang duduk di sebelah Tari memanggil Tari dengan mengetuk mejanya. Tari menoleh, menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya pada yoga, apa lagi?

Ya, semenjak kedatangannya, Yoga selalu menganggu Tari. Entah yang hanya meminjam sesuatu atau yang lainnya. Kenapa tidak dengan yang lain saja, kenapa harus pada nya?

"Boleh ku pinjam catatanmu?"

Tanpa banyak tanya, Tari memberikan begitu saja buku catatan miliknya. Seperti tak mau berurusan lagi dengan siswa baru itu. Beberapa menit kemudian Yoga mengembalikan buku milik Tari setelah selesai menyalinnya.

***

Jam istirahat datang, semua murid berhambur keluar kelas. Seperti biasa, Sarah selalu mengajak Yoga untuk ke kantin. Mereka semakin dekat saja, bahkan Sarah sudah berani menggandeng tangan Yoga. Mungkin mereka sudah menjalin hubungan. Secepat itukah?

Keadaan kelas selalu tenang saat jam istirahat. Sebenarnya Tari tidak menyukainya. Namun, ia tidak mempunyai teman satupun dan setiap ia keluar kelas, selalu ada saja murid yang mengerjainya. Tari pun sudah terbiasa dengan tidak makan siang. Tari selalu makan di rumah setelah pulang sekolah. Ini menjadi salah satu alasan kenapa Tari tidak mau keluar dari klub milik papinya. Di sana dia punya teman, punya lawan bicara. Apalagi mami yang selalu baik padanya.

Ah Tari, hapus saja riasanmu itu! Buat dirimu menjadi Ana seutuhnya. Pasti tidak akan ada murid yang menjauhimu lagi. 😪

Tapi, jika berpikir demikian, berarti mereka tidak sungguh-sungguh mau berteman dengannya. Mereka hanya memandang fisiknya saja, bukan?

Tari menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan pelan menyembunyikan wajahnya di balik tangan yang ia lipat. Mencoba memejamkan mata setelah penat mendengarkan penjelasan dari guru. Tiba-tiba ia merasa dingin di sikunya. Ada yang menempelkan sesuatu. Tari terkejut dan mendongak. Makin terkejut lagi saat Yoga sudah duduk di depannya. Dengan tersenyum laki-laki itu menyodorkan sebuah teh gelas yang dingin.

Tari hanya diam, tidak mengerti maksudnya apa. "Buat kamu!" ucap Yoga.

Tari menggeleng tanda penolakan, lalu kembali menyembunyikan wajahnya.

"Minumlah! Hari ini panas sekali, apa kamu tidak haus?" Tari tak menggubris laki-laki itu.

Tari duduk tegak kembali, "Bisa ngga jangan ganggu aku? Aku ngga suka sama orang yang pura-pura baik kayak kamu. Jadilah kayak mereka, yang ngga pernah melihat ku! Aku lebih suka seperti itu." Tari mulai kesal. Sungguh ia berpikir bahwa Yoga sama seperti kebanyakan siswa. Yang tak pernah melihat dirinya.

"Jadi kamu selama ini diam karna ngga ada yang suka sama kamu?" Meski mendapat sedikit bentakan dari Tari, Yoga membalasnya dengan kalimat yang lembut.

Yoga, memang anak yang lembut dan penyayang. Tidak pernah sekalipun ia memperlihatkan amarahnya jika kesal. Sudah tampan, tinggi, putih, bersih, Yoga lebih mirip seperti artis Aliando Syarief. Benar-benar sosok idaman yang pas untuk dijadikan kekasih.

"Tenanglah! Aku bukan tipe pemilih dalam berteman," ucap Yoga dengan tersenyum.

"Kita semua sama. Jadi, boleh tidak boleh, aku mau berteman sama kamu." imbuhnya kemudian pergi ke luar kelas. Tari hanya diam menatap punggung Yoga yang menghilang dari pandangannya. Kemudian, ia melihat segelas teh yang mengembun di luarnya.

Tari meraih minuman itu dan meminumnya. Tari melihat kembali minuman yang ia genggam dan kemudian tersenyum. Mungkin, pemikirannya tentang siswa baru itu salah. Tapi, apa mungkin laki-laki setampan dan keren seperti dia benar-benar mau berteman dengannya?

***

"Ish, kenapa ngga ada angkot lewat?" Tari menggerutu. Sudah hampir 30 menit sejak bel tanda pulang sekolah berbunyi. Namun tidak satupun angkutan yang lewat siang ini. Kemudian ia teringat bang Rudi, ya ... Kenapa tidak menelepon bang Rudi saja dari tadi?

"Kenapa telfonnya ngga aktif sih?" Tari mulai kesal. Nomor telpon tukang ojeknya tidak bisa dihubungi. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, benar-benar sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang masih nongkrong di pinggir jalan. Terpaksa, ia harus jalan kaki ke rumah atau sampai di jalan depan. Jalan yang lebih ramai kendaraan berlalu lalang.

Tin ... Tin ....

Suara klakson mobil mengejutkan gadis itu. Tari menoleh dan melihat pengemudi mobil itu adalah Yoga.

"Ayo masuk!" titah Yoga. Tak merespon, malah Tari kembali melakukan perjalanannya.

Tin ... Tin ....

Yoga kembali membunyikan klakson mobilnya. Namun Tari tak mau berhenti dan masih terus berjalan. Akhirnya, Yoga keluar mobil dan menghentikan langkah Tari.

Tari berhenti berjalan ketika yoga mencekal pergelangan tangannya. Ia menoleh ke arah Yoga.

"Ayo aku antar kamu pulang!" ucap Yoga sembari menarik teman barunya.

"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri." Tari melepas genggaman Yoga.

"Aku mau tetap antar kamu. Ngga baik anak gadis jalan sendirian. Nanti kamu di taksir orang." Yoga memaksa membawa Tari masuk ke dalam mobilnya.

Tari menurut saja masuk ke dalam mobil setelah Yoga menakut-nakutinya. Eh tunggu ....

"Hei!" teriak Tari setelah Yoga sudah duduk di kursi pengemudi.

"Kenapa?" tanya Yoga dengan polos.

"Maksud kamu apa ngomong begitu?"

"Begitu apa?" Yoga bertanya dengan heran.

"Aku mau tetap antar kamu. Ngga baik anak gadis jalan sendirian. Nanti kamu di taksir orang." Tari mengucapkan kembali kalimat Yoga sebelum masuk mobil.

"Memang aku bilang begitu?" Yoga mulai melajukan mobilnya.

"Ck," Tari berdecak kesal. Bisa-bisanya ia terkelabui oleh mulut siswa baru itu. Tari memilih diam saja selama perjalanan. Ia hanya melihat suasana di luar kaca mobil.

"Di mana?" tanya Yoga tiba-tiba.

"Hem? Apa?" Tari terkejut dan melihat ke arah Yoga.

"Rumah kamu di mana?"

"Di jalan xxx, berhenti di depan gang saja." jawab Tari. Yoga mengangguk tanda mengerti.

Mobil sudah sampai tujuan, Tari segera keluar mobil. Sebelumnya, ia menyempatkan untuk mengucapkan terimakasih pada Yoga.

"Terimakasih, maaf sudah merepotkan."

Yoga hanya mengangguk dan tersenyum. Yoga melajukan kembali mobilnya setelah Tari keluar dari mobil. Tari kini berjalan menuju rumahnya. Hanya berjarak beberapa meter dari gang itu. Ah, senangnya kini ia punya teman, mungkin.

Belum tentu mereka akan berteman bukan?

Apakah nantinya mereka akan memulai hubungan pertemanan? Sepertinya Yoga adalah anak yang baik. Terbukti dirinya tidak menjauhi seorang Tari. Si gadis cupu jelek itu.

To Be Continue ....

1
Rini Maryani
aah lm lm si tari ky jalang semua d layanin kasian pa anton mendingan jujur ja
Gladys Aira
Luar biasa
Ref Nita Pilii
cerita nya lumayan bagus...asik baca nya dan gampang di mgti....suka bgt baca nya.
112 'ONE'
BAGUS...👌👍
LANJUT THOR.....🙏🙏
Qomariyah Kom
lanjut dong thor
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ⏤͟͟͞Rafael💝drg🔯HS࿐
mana lanjutannya???
𝕸𝖆'𝕶' 𝖈𝖚𝖙𝖊
mana ingat kn waktu itu mabuk 🙈
ayooo lanjut 🚴🚴🚴
𝕸𝖆'𝕶' 𝖈𝖚𝖙𝖊
yaaah kirain pak Anton
𝕸𝖆'𝕶' 𝖈𝖚𝖙𝖊
pak Anton?
uuuuuhhhh Miss u om
safik🆘𝕱𝖘 ᶯᵗ⃝🐍
setelah reinkarnasi yg berbulan2 untuk menelurkan 1bab... lanjut thor
Eti
lanjut thor jgn lm2
Siti Fatimah
knp lamaaaa bingit upny thooor
Qomariyah Kom
lanjut lagi dong thor ceritanya
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
mungkin Tari uda lupa karena itu kejadian lama banget
lagipula saat itu Tari atau Ana dalam keadaan mabuk seeeh
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
Semalat datang kembali -----> Selamat datang kembali
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
km skng sedang berada dibasement apartemen Yoga
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
diiiiiih ini mah km curi-curi kesempatan tuuuh
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
woooooy fokus nyetir yoooooo....
disebelah ada nyawa yang harus kamu jaga tuuuuh
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
haadeeeh ini juga....napa uda punya bayangan menikahi Tari 🤦🤦🤦🤦
☠ Pramono W⃠ᵕ̈✰͜͡v᭄༄⃞⃟⚡🍾
mending jangan kasih Gaje harapan deeh Bu Mae, karena itu uda pasti gak mungkin terjadi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!