Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan
"Pagi, Pa, Sayang!" Naja mencium tangan Elang kemudian menghampiri Abel. Namun dengan cepat gadis itu menghindar.
"Pagi, Ja. Kamu kok tumben siangan ke sini nya?"
"Iya, Pa, tadi Naja, telat bangun. Loh, Yang kamu mau berangkat bareng Sean?" Naja melihat Abel yang sudah berlalu meninggalkan dirinya. Gadis itu sudah siap dengan helm dan segera naik ke motor Sean.
"Kalian lagi bertengkar, ya? Sudah sana kejar Abelnya!" Elang mendorong pelan punggung kekasih putrinya itu.
Naja gelagapan, ia mengangguk kemudian segera menaiki motornya dan mengejar motor Sean. Sementara Elang, hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak muda tersebut, ia jadi teringat akan kebersamaannya dengan almarhum Claree.
"Setan, berhenti!" teriak Naja, ia terus merepet motor Sean. Bahkan klakson yang ia tekan tak henti-hentinya berbunyi.
"Nggak usah didengerin, An, biarin aja." Ucap Abel pada Sean.
Sean tersenyum miring di balik helmnya. Kenapa dia merasa jadi pebinor ya di sini. Seakan ia merebut kekasih dari sepupunya sendiri. Tiba-tiba Sean menepikan motornya di pinggir jalan.
"Bel, kamu harus selesaikan masalah kamu sama dia. Lari bukan jalan terbaik menyelesaikan masala, Bel. Hadapi dengan kuat, tapi jika kamu sudah tidak sanggup, aku ada buat jadi penopang kamu."
"Setan, lu. Gua kira lu sepupu gua, ternyata lu musuh dalam selimut." Naja mendatangi Sean dan langsung mendaratkan sebuah pukulan di pipi Sean.
"Naja, hentikan! Kamu nggak berhak mukul Sean, dia nggak salah apa-apa." Abel menarik baju Naja, supaya lelaki itu tidak lagi memukul sepupunya sendiri.
"Ja, gua nggak pernah sekalipun berniat nikung cewek lu. Kalau pun iya, udah gua lakuin sejak dulu. Kalian berdua, selesaikan masalah kalian! Jangan libatkan gua dalam masalah ini."
Sean mengambil helmnya yang tergeletak di tanah, ie meludah membuang darah yang keluar dari mulutnya.
Naja terdiam mendengar ucapan Sean, sepertinya ia salah paham pada sepupunya itu. Nanti dia akan meminta maaf padanya, yang penting sekarang ia harus meminta maaf terlebih dahulu pada Abel.
"Yang, maafin aku ya, please!" Naja mengikuti Abel yang sudah lebih dulu duduk di trotoar.
"Kamu bisa merasakannya sendiri kan, bagaimana milik kamu dibonceng orang. Sementara kamu ada di situ dan melihatnya tapi kamu tidak dapat mencegahnya. Sakit, Ja!" ucap Abel, ia meremas dada sebelah kirinya.
"Maafin aku, Sayang. Aku janji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi." Naja berlutut di depan Abel, ia menggenggam kedua tangan Abel.
"Janji itu gampang, Ja, nepatinya yang susah."
" Nggak, Bel, kali ini aku bersungguh-sungguh. Jika aku kembali membuat kamu sakit hati, kamu boleh lakuin apapun padaku."
Abel menoleh, ia menatap mata kekasihnya itu. Air mata kembali menetes dari mata cantiknya. Abel menghambur memeluk leher Naja, membuat kedua sudut bibir pemuda itu melengkung sempurna.
"Janji ya, nggak kayak gitu lagi." ucap Abel dan Naja segera mengangguk.
"Aku janji." Naja ikut memeluk tubuh gadis tercintanya.
Dalam hatinya ia berjanji tidak akan kembali membuat gadisnya itu menangis, sudah cukup kejadian ini membuat dirinya hampir kehilangan Abel dan Naja tidak mau kalau sampai itu benar-benar terjadi.
"Jadi, kamu sudah tidak marah lagi sama aku?" Tanya Naja setelah Abel melepaskan pelukannya.
Abel menggeleng pelan, "nggak."
Senyum di bibir Naja kembali merekah, ia mencium kening gadisnya itu dengan sayang.