NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:965.6k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan menjadi saksi

Hubungan yang sehat adalah berawal dari sebuah kejujuran. Kebohongan di awal, hanya akan membuatmu menggali kebohongan lain untuk menutupi yang sebelumnya.

💓💓💓

Langit malam tiba-tiba mendung. Rintik hujan datang menyapa bumi. Di saksikan rinai hujan. Dua sejoli itu masih saling menatap tanpa berbicara. Posisi keduanya aman, karena berada di halte bus. Tidak ada adegan berbasah-basahan seperti halnya film India.

"Lo engga jawab. Gue anggep, Lo engga bisa nerima gue." Alina mengambil kesimpulan sendiri.

Ia sadar, akan sulit mencari pemuda baik hati dengan kondisinya saat ini. Maka dari itu, ia tidak langsung percaya saat Adnan mengajaknya menikah.

Alina mundur dua langkah tanpa sebab. Ia lupa, jika kakinya sudah sampai di ujung pembatas antara aspal jalanan dan halte bus. Sehingga, menyebabkan ia hilang keseimbangan, dan sempat akan terjatuh.

Spontan Adnan melangkah ke depan, dan menarik pinggang Alina dengan tangan kanannya. Menahan tubuh wanita itu agar tidak sampai terkena cucuran air hujan, ataupun terjatuh ke belakang. Lalu, ia menarik sedikit tubuh Alina ke depan. Membuat Adnan mengikis jarak di antara keduanya.

"Jangan suka menyimpulkan sendiri. Aku bahkan belum menjawabnya," ujar Adnan.

Di sini, di halte bus yang tidak ada penumpang selain mereka. Ditemani jutaan liter air hujan yang membasahi bumi. Alina merasakan sebuah debaran dalam hati. Lelaki itu Berani masuk ke dunianya, lalu duduk diam di sudut hati.

"Aku terima kamu apa adanya. Tapi, penuhilah satu permintaanku," tutur Adnan.

Adnan segera melepaskan tangannya dari pinggang Alina. Ia tidak ingin dicap tak punya etika, memegang yang belum jadi miliknya. Jika bukan insiden tadi, ia pun risih harus melakukan hal demikian.

"Apa mau lo?" Alina menetralisir perasaan gugup yang terus menumpuk. "Jangan aneh-aneh. Gue engga suka."

Adnan mengulur senyum. "Tepatilah janjimu. Berhijablah. Aku ingin istriku menutup aurat sepenuhnya, dan kita bisa meraih ridho Allah bersama lewat pernikahan ini."

Deg!

Perkataan Adnan mengingatkan Alina tentang janji yang belum ia tepati. Yang mungkin telah hilang dari memori otaknya. Benar, iya benar. Penilaian Adnan saat itu, bahwa dirinya orang yang ingkar akan janji. Netranya mendadak mengeluarkan cairan bening. Mereka berdesakan, berlomba keluar untuk meluncur di pipi mulus Alina.

Adnan di sana, menyaksikan gadis keras kepala itu meneteskan air mata. Tangannya sulit bergerak, untuk sekadar menghapus air mata Alina. Andai, dan andai, sudah ada ikatan yang sah di antara keduanya. Adnan tidak akan membiarkan cairan bening itu berani satu kali pun menampakkan wujudnya.

"Jangan menangis. Aku ada di sini. Bersandarlah, jangan sungkan ceritakan sakitmu padaku." Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Alina. Menghibur gadis itu sambil menunggu sang waktu tiba menghalalkan keduanya.

"Gue wanita kotor. Apa lo engga mau pertimbangkan lagi keputusan itu ...," lirih Alina dengan deraian air mata.

"Gue juga bukan wanita lemah lembut. Jauh dari kata baik, terus apa yang Lo bisa harapkan dari gue?"

Cairan bening itu semakin deras hingga menyaingi hujan kala itu. Malu, entahlah, kata yang terdiri 4 huruf itu saat ini tengah keluar dari kamus kehidupan Alina. Hanya di hadapan Adnan, ia berani menangis sejadi-jadinya. Apa alasan yang mendalangi? Ia pun tak tahu.

Sorot mata Adnan yang teduhlah, membuat Alina tidak bisa menyembunyikan kesakitan dalam jiwa. Setiap kehadiran Adnan seolah membawa seberkas cahaya di antara kegelapan. Laki-laki itu sanggup membangun kembali rasa percaya yang telah lama hilang dari sosok Alina.

"Jangan nangis. Aku engga bisa meluk kamu sekarang," ujar Adnan.

Alina yang mendengar itu sontak menendang kaki Adnan sekencang mungkin. Membuat si empunya mengaduh kesakitan.

"Ngomong peluk lagi. Gue ketok kepala lo pake sepatu tinggi ini," tunjuk Alina ke bawah.

Sejujurnya, ia bukanlah type wanita yang berpakaian anggun. Tumitnya lecet, karena seharian harus memakai sepatu hak tinggi 5cm. Mungkin bagi sebagian wanita ini tak masalah. Tapi, baginya justru adalah rekor dalam hidup.

"Ayo, kuantar pulang," ajak Adnan. Ia memang tidak bisa seromantis, ataupun sehumoris pemuda lain. Yang ia lakukan, hanyalah menjaga gadis di hadapannya tetap aman saat bersama dirinya.

"Gue pulang sendiri aja," tolak Alina.

"Bus juga bentar lagi dateng, kali."

Mata Adnan menyorot tajam pada Alina. Ia seolah sedang mengisyaratkan, jika saat ini dirinya tidak menerima penolakan gadis itu.

"Hei, jangan tatap gue kayak gitu!" protes Alina. "Merinding liatnya."

Adnan sama sekali tidak menjawab. Ia tetap mempertahankan posisinya. Kali ini, Alina mengalah. Ia tak ingin terus menerus melihat sosok Adnan dalam mode menakutkan.

"Iya, ya, gue mau pulang bareng lo. Puas?"

Tanpa di duga Adnan melepaskan jas dari tubuhnya. Alina yang melihat hal tersebut langsung mamasangkan tangannya di dada. Mungkinkah?

"Pakai ini." Adnan menutupi kepala Alina dengan jas tersebut. "Dan ... berhentilah berpikiran negatip padaku. Sebelum kata sah terdengar, aku tidak berani menyentuhmu satu jengkal pun."

Kornea mata Alina membulat sempurna. Ia baru melihat laki-laki yang sama sekali tidak mengedepankan nafsu. Ardan bahkan tidak mengintrogasi dirinya tentang siapa lelaki brengsek yang telah merenggut kesuciannya.

Pada akhirnya, Adnan mengajak Alina ke mobil. Ia membiarkan badannya tersentuh air hujan, demi menjaga gadis yang bersamanya. Kini, Alina berada di jok belakang seperti biasa. Dan, Adnan ada di jok depan dengan tangan memegang kemudi. Hujan mulai reda, menciptakan genangan air di jalanan. Mau tak mau Adnan harus menyetir dengan hati-hati. Bisa saja, kecelakaan terjadi saat seperti ini.

Selama mobil berjalan, Alina memilih diam menatap keluar dari jendela mobil. Memejamkan matanya sekejap sambil memantapkan hati atas keputusan yang ia ambil beberapa saat tadi.

Laki-laki di depan yang tengah menyetir itu, Alina tidak tahu bagaimana sifatnya? Orang baikkah dia? Bisakah lelaki itu menjadi obat pereda rasa sakit dalam jiwa? Atau justru Ardan tengah menyiapkan butiran luka di masa depan, untuk dipersembahkan padanya?

10 menit kemudian, mobil Adnan sampai di depan gerbang rumah Alina. Gadis itu turun begitu decitan ban mobil yang bertemu aspal jalanan tidak terdengar lagi.

"Istirahatlah," ujar Adnan dari balik jendela mobil yang terbuka. "Berikan nomer ponselmu."

Adnan menyodorkan gawai miliknya pada Alina. Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Alina menurut. Ia mengambil benda tersebut, mengetik nomer ponsel, menyimpan, dan mengembalikan pada Adnan.

Setelah mengucapkan terima kasih, karena sudah mengantarnya. Alina berbalik, lalu maju satu langkah.

"Tunggu!" cegah Adnan. "Hari ini, mungkin aku tidak akan menanyakan siapa pelakunya. Tapi, saat hatimu siap. Beritahu aku."

Bahu Alina bergetar mengingat kembali kejadian menakutkan itu. Bayang-bayangan Rio yang memaksanya, dan melampiskan hasrat seperti seorang binatang menari-nari di mata. Napas Alina memburu, tangan kanannya mengepal menahan amarah.

Alina memutar badan kembali. Menatap penuh keyakinan ke arah Adnan. "Rio. Orang yang kamu sebut sebagai kakak gue. Dialah lelaki brengsek itu!"

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa kasih aku like.

Tulis komentarmu.

Kalau berkenan, beri aku vote seikhlasnya😊

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!