Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Pikiranku
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Indi hanya bisa nyengir dengan memperlihatkan barisan giginya yang putih sembari menggaruk-garuk kepala yang tertutup hijab itu.
"Kamu, kok kamu ada disini?" ketus Joe.
"Yeee...memang ini rumah Indi, Mas galak tuh yang ngapain ada disini?" sahut Indi menjawab pertanyaan ketus yang dilontarkan oleh Joe.
"Jadi namanya Indi," batin Aiman dengan senyumannya.
Sementara Rara tampak cemberut dan menatap tajam kearah Indi.
"Ih, kenapa sih setiap laki-laki tampan selalu saja kenal sama Indi? apa cantiknya dia coba, cantikkan aku kemana-mana," batin Rara yang merasa kesal kepada Indi.
"Aku dan Aiman yang beli rumah itu," tunjuk Joe.
"Oh Mas tampan itu namanya Aiman," batin Indi dengan senyuman manisnya.
"Oh..Bu kalau begitu Indi kedalam dulu ya," seru Indi dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan Ibunya pun menyusul masuk.
"Aduh, maaf ya Ibu-ibu kami berdua mau pulang dulu soalnya mau istirahat, terima kasih atas sambutannya perkenalkan nama saya Joe dan yang ini Aiman, kalau begitu kami pamit dulu," seru Joe yang langsung menarik tangan Aiman.
Joe dan Aiman tampak tergesa-gesa masuk kedalam rumah dan langsung menguncinya. Joe dan Aiman sama-sama menjatuhkan tubuhnya keatas sofa.
"Sumpah Ibu-ibu itu sungguh menyeramkan lebih seram daripada hantu, hiiiiiyyyy," ucap Joe bergidik ngeri.
Sementara Aiman malah senyum-senyum sendiri entah apa yang sedang dipikirkan Aiman.
"Nah lho, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? jangan-jangan kamu malah senang di kerubuti emak-emak kaya gitu," seru Joe.
"Astagfirullah amit-amit, aku masih tampan kali Joe masih laku sama anak perawan, aku belum suka sama emak-emak," jawab Aiman ketus.
"Kali aja kamu lagi senang karena dikerubuti sama emak-emak."
"Aku senyum-senyum, karena aku bisa bertemu lagi dengan dengan wanita bunga itu bahkan sekarang kita tetanggaan jadi aku merasa senang," sahut Aiman.
"Owalah kirain apa, dasar bucin," ledek Joe yang langsung masuk kedalam kamarnya.
Aiman tidak beranjak dari duduknya masih senyum-senyum kaya orang gila membayangkan wajah wanita yang selama ini selalu memenuhi otak dan pikirannya.
"Indi..Indi, cantik sekali namanya seperti wajahnya," gumam Aiman.
Tapi seketika Aiman tersentak dan membenarkan posisi duduknya.
"Oh iya, tadi kan ada laki-laki yang waktu itu di rumahnya Indi, apa jangan-jangan benar ya kalau laki-laki itu kekasihnya Indi? kata Aiman kembali bergumam.
***
Malam pun tiba...
Disebuah Ruko dua tingkat yang saat ini sudah menjadi milik Azzam, Azzam sedang merenung dilantai dua dengan ditemani kopi hitam kesukaannya.
Sedangkan Fais sudah terlihat terlelap bersama alam mimpinya. Ruko milik Azzam itu memang dua lantai, lantai dasar khusus untuk jualan sayurnya nanti dan lantai dua tempat untuk Azzam dan Fais beristirahat.
Entah apa yang saat ini pria tampan itu pikirkan, Azzam menyesap kopinya pelan-pelan merasakannya dengan penuh penghayatan. Seperti ada hal besar yang sedang Azzam pikirkan.
"Bu, akhirnya Azzam sudah bisa membeli Ruko ini, Azzam sangat senang sekali seandainya Ibu masih ada disini pasti Ibu akan bangga sama Azzam. Azzam juga sudah berhasil membangun sebuah mesjid Bu, ditempat tinggal kita dulu yang merupakan cita-cita Azzam," gumam Azzam dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Apa Azzam harus merelakan semuanya Bu? tidak ada lagi keinginan Azzam didunia ini selain bisa berkumpul lagi bersama Ibu, tunggu Azzam Bu mudah-mudahan kita bersama lagi," gumam Azzam.
Sementara itu, tidak tahu kenapa Aiman tidak bisa tidur sama sekali tiba-tiba hatinya begitu sakit, entah apa yang sudah terjadi dan sekarang di otaknya selalu muncul bayangan laki-laki yang bernama Azzam itu.
"Mengapa tatapan laki-laki itu begitu sendu? dan mengapa aku ingin sekali memeluk laki-laki itu, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya, bahkan disaat dia dekat dengan Indi pun sama sekali tidak ada rasa marah atau benci kepada dirinya," gumam Aiman.
Aiman tampak tidak enak diam, begini salah begitu salah, Aiman mengusap wajahnya dengan kasar. Aiman pun memutuskan untuk keluar dan duduk diteras rumahnya sekedar mencari udara segar.
Begitu pun dengan Indi yang saat ini sedang duduk dikursi terasnya sembari membaca Novel online kesukaannya, malam ini Indi merasa gerah makannya Indi memilih baca diluar.
"Indi, mengapa kamu begitu jahat selalu saja mengganggu pikiranku," gumam Aiman yang dari tadi sudah memperhatikan Indi.
Sedangkan Indi yang tidak tahu sedang diperhatikan, dia malah asyik sendiri bahkan dia tidak sadar kalau saat ini dia sedang tertawa-tawa sendiri, kadang menangis, dan kadang juga marah-marah tidak jelas sembari ngomel-ngomel kaya emak-emak rebutan jengkol ditukang sayur.
Aiman yang melihat kelakuan aneh Indi merasa bingung, tapi tidak sedikitnya Aiman tersenyum juga melihat keakuan Indi yang terlihat lucu menurut Aiman.
"Dia kenapa? kadang-kadang tertawa, terus menangis, dan sekarang mencak-mencak sembari ngomel-ngomel memarahi Ponselnya, dasar aneh," gumam Aiman dengan menahan tawanya.
Rara yang baru saja keluar dari rumahnya, awalnya merasa senang karena ada Aiman sedang duduk di teras rumahnya dan Rara berniat menghampiri Aiman, tapi Rara menangkap Aiman sedang senyum-senyum sendiri dan Rara mengikuti arah pandang Aiman.
Seketika Rara kesal karena Aiman dari tadi sedang memperhatikan Indi. Dengan emosinya Rara berteriak dari balik tembok yang menghalangi rumah mereka berdua.
"Hai Indi, dasar wanita tidak tahu diri ngapain kamu duduk-duduk disitu tidak biasanya? kamu mau cari perhatian kan sama Bang Aiman," teriak Rara.
Indi yang sedang fokus melihat Ponselnya dengan cepat menoleh kearah suara.
"Maksud kamu apa Rara?" tanya Indi bingung.
"Alah jangan sok polos deh kamu, aku sudah muak melihat tampang sok polos kamu, kamu sengaja kan nongkrong diteras seperti itu supaya Bang Aiman memperhatikanmu."
"Apa?"
Indi melihat kedepan rumahnya, dan disana Aiman memang sedang melihat kearah Indi tapi Indi sama sekali tidak mengetahuinya karena Indi memang sedang fokus sama Ponselnya.
"Kamu itu kenapa sih, semua laki-laki tampan di Kampung ini kamu embat, dari Bang Alex, Bang Azzam, dan sekarang Bang Aiman sama Bang Joe tapi tidak ada yang kamu pilih, kamu jangan maruk jadi orang pilih salah satu jangan semuanya kamu ladenin, kamu kaya p****** saja," sentak Rara.
"Astagfirullah Rara, kamu jangan sembarangan kalau ngomong aku tidak pernah meminta siapapun untuk dekat denganku, mereka sendiri yang datang deketin aku itu pun hanya sebatas hubungan antara Kakak dan Adik ga lebih," bentak Indi.
"Sudah berani kamu membentak aku hah, dasar sudah miskin murahan pula, jangan macam-macam sama aku atau aku akan usir kamu dari rumah itu supaya kamu jadi gelandangan sekalian," Rara balas membentak Indi.
Tanpa terasa air mata Indi kembali menetes, Indi cepat-cepat masuk kedalam rumahnya. Aiman yang menyaksikan kejadian barusan merasa kaget, kok bisa-bisanya Rara menghina Indi seperti itu.
Rara langsung menoleh kearah Aiman dan memasang senyuman paling manis yang dia punya, tapi Aiman dengan cepat masuk kedalam rumahnya tampa membalas senyuman Rara.
"Ih, kenapa sih semua laki-laki tampan itu harus suka sama Indi? apa kurangnya aku? padahal kan aku lebih cantik daripada si Indi yang buluk itu."
Rara terlihat kesal, sembari menghentak-hentakkan kakinya Rara pun masuk kedalam rumahnya. Indi kembali menangis, mengapa Rara dan Ibunya begitu membenci dirinya, padahal bukan salah Indi kalau laki-laki itu mendekatinya.
"Bodoh, kenapa tadi aku malah membacanya diteras rumah kalau aku membacanya didalam kamar mungkin aku ga bakalan mendengar hinaan dari mulut pedasnya Rara," gumam Indi dengan terus berderai air mata.
Karena Indi terus saja menangis, akhirnya Indi pun capek dan terlelap tidur.
***
Keesokan harinya...
Setelah mandi dan shalat subuh Indi melihat pantulan dirinya dari cermin, terlihat matanya yang sembab karena semalam Indi terlalu lama menangis.
Indi bersiap-siap memakai hijabnya, hari ini Indi memakai rok plisket warna hitam dengan atasan kaos lengan panjang warna pink dan memakai hijab blus warna hitam, karena pagi ini Indi mau membeli sayuran ke tempatnya Azzam.
"Bu, Indi mau beli sayuran dulu ya ke tempatnya Bang Azzam," teriak Indi.
"Iya Nak, hati-hati Ibu sebentar lagi berangkat jadi seperti biasa Ibu simpan kunci rumah dibawah pot bunga mawar ya," sahut Ibu Ninik.
"Iya Bu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalm."
Indi keluar rumah bersamaan dengan Aiman yang juga baru pulang habis jogging mengelilingi perkampungan.
"Selamat pagi Indi," sapa Aiman.
"Selamat pagi Mas."
"Kamu mau kemana?"
"Indi mau ke ujung jalan sana, mau beli sayuran."
"Wah kebetulan, aku juga mau beli sayuran tapi tidak tahu tempatnya, bisa kita bareng beli sayurannya?" tanya Aiman.
"Boleh Mas."
"Ok, kamu tunggu dulu sebentar ya aku mau ngambil dompet dulu."
Aiman pun langsung berlari ke rumahnya untuk mengambil dompet, tidak lama kemudian Aiman pun sudah kembali lagi.
"Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Aiman.
Aiman dan Indi pun berjalan bersamaan, awalnya tidak ada pembicaraan diantara mereka karena Aiman dan Indi merasa canggung dan salah tingkah juga satu sama lain.
"Hmm..Indi boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" tanya Aiman ragu-ragu.
"Mas mau nanya apa?"
"Apa kamu sudah punya kekasih, maaf sebelumnya tidak ada maksud apa-apa aku hanya takut saja nanti tiba-tiba ada yang mukul aku karena jalan bareng sama kamu seperti ini," seru Aiman.
"Belum Mas, Indi belum punya kekasih jadi Mas tenang saja tidak akan ada yang bakalan mukulin Mas," sahut Indi dengan tersenyum manis kearah Aiman.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya kamu tidak kerja?"
"Indi masuk pukul sembilan pagi Mas."
"Oh..."
Tidak terasa akhirnya Aiman dan Indi pun sampai di Rukonya Azzam, ternyata sudah banyak sekali kerumunan Ibu-ibu disana.
"Ya ampun, penuh banget," gumam Indi.
"Wah banyak Ibu-ibunya, memangnya disini tidak ada lagi tukang sayur yang lain?" tanya Aiman.
"Tidak ada Mas, karena kalau mau cari yang lain kita harus ke Pasar dan jaraknya lumayan jauh dari sini."
"Ya sudah kita tunggu saja disini."
Aiman mengajak Indi untuk duduk di kursi kayu yang panjang sembari menunggu pembelinya sedikit berkurang.
"Bang Azzam yang tampan saya beli kangkung sepuluh ikat."
"Saya dulu Bang Azzam, saya dari tadi pesen jengkol lima kilo," sahut yang lainnya.
"Busyet, beli jengkol lima kilo buat apaan banyak banget," gumam Indi dengan tersenyum.
Sementara Aiman malah sibuk memperhatikan Indi yang tersenyum melihat kehebohan para Ibu-ibu yang berebut sayuran. Satu persatu Ibu-ibu itu pun mulai pergi, Azzam dan Fais tampak kewalahan mereka berdua sudah bermandikan keringat pagi-pagi.
"Zam, si Ibu itu belum bayar malah main kabur aja," teriak Fais sembari menunjuk Ibu-ibu bertubuh tambun itu yang sudah berlari jauh.
"Sudah-sudah, dia langganan kok besok juga pasti kesini lagi mungkin dia ga bawa uang atau lupa," jawab Azzam dengan santainya.
"Pantesan kamu kalau jualan selalu rugi, orang ga bayar aja kamu biarin," ketus Fais.
Azzam hanya tersenyum dan menoleh kearah Indi dan Aiman yang sedang berdiri.
"Hai Umi," sapa Azzam.
"Hai Abi."
Indi langsung saja memilih sayuran yang dia inginkan, sedangkan Azzam dan Aiman tampak saling pandang tak berkedip entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing.
"Abi, jagung mais ini berapa?" tanya Indi yang membuat Azzam tersentak dan sadar dari lamunannya.
"Ah, kalau buat Umi ambil saja ga usah dipikirin soal harga."
"Ga bisa gitu dong Bi, kan Indi kesini buat beli bukan buat minta. Oh iya, Mas Aim mau beli apa?" tanya Indi.
"Ah aku mau beli bayam, kangkung, wortel, brokoli, sama dagingnya sekalian Bang," seru Aiman.
Fais pun segera mengambil sayuran yang sudah disebutkan Aiman tadi.
"Abi, kenalkan ini Mas Aiman tetangga baru Indi yang dari Malaysia itu," seru Indi.
"Ah ternyata kamu Upin Ipin itu," celetuk Azzam.
"Abi, namanya Mas Aiman bukan Upin Ipin," sahut Indi.
"Iya Indi, Abi tahu. Hallo perkenalkan nama aku Azzam penjual serba bisa dan paling tampan di Kampung ini," seru Azzam dengan mengulurkan tangannya.
"Aiman."
Azzam dan Aiman pun saling berjabat tangan, lagi-lagi ada perasaan tak biasa yang hinggap di hati keduanya. Dengan cepat Azzam dan Aiman saling melepaskan jabatan tangan masing-masing.
Tiba-tiba Rara dan Bu Samsy datang untuk membeli sayuran juga, dengan kasarnya Rara mendorong Indi sehingga saat ini Rara yang berada disamping Aiman.
"Wah ada Bang Aiman juga disini, Abang lagi beli sayuran juga ya?" tanya Rara dengan genitnya.
"Iya."
"Hai Abang Azzam, makin tampan aja iya kan Ma?"
"Iya, Bang Azzam mah selalu tampan," sahut Bu Samsy.
"Ah kalian bisa saja, Rara sama Bu Samsy juga makin cantik saja, apalagi Bu Samsy memakai bulu mata anti banjir itu sungguh cetar membahana," goda Azzam.
"Ih si Bang Azzam paling bisa deh kalau sudah merayu saya," ucap Bu Samsy dengan sok malu-malu seperti anak ABG.
"Bang Azzam, Rara itu rindu banget lho sama Bang Azzam sudah lama tidak bertemu."
"Ya ampun Ra, kok sama sih?" ucap Azzam dengan pura-pura serius.
"Masa? Bang Azzam rindu juga sama Rara?" tanya Rara dengan senangnya.
"Iya Ra, tadi pagi Abang ga bisa makan karena merindukanmu, siangnya Abang juga ga bisa makan karena mikirin kamu, dan malamnya Abang ga bisa tidur karena------"
"Karena rindu banget kan sama Rara, iya kan Bang?" seru Rara dengan antusiasnya.
"Bukan, karena kelaparan Ra soalnya pagi dan siang tidak makan," sahut Azzam cengengesan.
Seketika Fais, Indi, dan Aiman tertawa terbahak-bahak mereka tidak bisa menahan tawanya, sedangkan Rara hanya bisa cemberut bahkan tanpa sadar Bu Samsy pun ikut tertawa.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Novel ini setiap hari yang baca ratusan tapi kok yang likenya sedikit, ayo dong like itu kan gratis tinggal klik jempol jangan pelit dong jempolnya.
Dan jangan lupa dukungannya sebanyak-banyaknya, kasih Author tanda cinta bunga dan kopi🙏🙏😘😘
Jangan lupa
like
vote dan hadiah
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya