Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Kalau Mau Menggambar, Gambar di Rumah
Yang digambar di kertas itu adalah dirinya.
Sebastian mengenali kacamata, dasi, dan garis bahunya. Di bawah gambar, tulisan bulat Amaya berbunyi: `pas rapat manis banget, pengen cubit`.
Ia mengangkat mata.
Amaya duduk dengan wajah tenang, seolah buku di tangannya berisi notulen terbaik dalam sejarah perusahaan. Sorot matanya bahkan sempat bertanya apakah gambar itu cukup mirip.
Selena tersenyum. "Bagaimana notulennya, Pak Sebastian?"
Ia menunggu teguran terbuka. Jika Sebastian mempermalukan Amaya, posisi perempuan itu di proyek akan retak pada hari pertama.
Sebastian menutup buku.
"Notulennya bagus."
Senyum Selena kaku.
"Mungkin bisa dibagikan ke peserta rapat," desaknya.
"Setelah dirapikan dan keputusan tindakan dimasukkan ke sistem." Sebastian meletakkan buku di sisi tabletnya. "Kita lanjut."
Tidak ada yang berani meminta melihat isinya lagi.
Rapat berakhir pukul sebelas lewat dua puluh. Amaya kembali ke kantor dan baru duduk ketika pesan WhatsApp masuk.
`Lantai 33. Sekarang.`
Ia membawa buku catatan yang tadi dikembalikan Ivan, lalu naik.
Sebastian berdiri di depan jendela ketika ia masuk. Peachy sudah berpindah ke area yang terkena cahaya, tetapi Amaya pura-pura tidak memperhatikan.
"Tutup pintunya."
Amaya menurut. "Pak Sebastian mau bahas notulen?"
"Kamu datang ke rapat untuk bekerja atau menggambar?"
"Bekerja. Gambarnya cuma bonus."
"Ini bukan sekolah. Kamu masuk sebagai perwakilan Adhikara, bukan anak pemilik yang bebas menghibur diri."
"Iya, Koh."
"Berapa banyak materi tadi yang benar-benar kamu pahami, kamu sendiri tahu. Satu presentasi lancar tidak berarti kamu sudah siap memegang proyek."
"Benar."
Sebastian berbalik. Ia sudah menyiapkan beberapa kalimat untuk menghadapi bantahan, tetapi Amaya menerima semuanya tanpa perlawanan.
"Kalau begini terus, saya minta Adhikara mengganti orang."
"Baik."
"Baik?"
"Koh benar." Amaya memeluk buku di dada. "Lain kali saat rapat aku nggak gambar. Kalau mau menggambar, gambar di rumah."
Sebastian menatapnya.
Kalimat itu terdengar patuh sampai maknanya masuk utuh. Ia belum pernah begitu ingin menekan seseorang ke sofa hanya untuk menutup mulutnya.
"Bukan itu intinya."
"Intinya aku harus profesional, memahami materi, dan nggak mempermalukan Adhikara. Sudah kucatat."
"Lalu gambarnya?"
Amaya membuka halaman tersebut dan mengamati hasilnya. "Lumayan mirip. Kalau Koh mau, boleh dibawa pulang."
"Keluar."
"Baik, Pak Sebastian."
Ia pergi tanpa menangis, berdebat, atau mengirim senyum terakhir. Pintu tertutup dengan pelan.
Di dalam lift, Amaya membuka buku dan memberi tanda centang pada tiga teguran Sebastian yang memang benar. Ia tidak tersinggung karena diminta profesional. Ia justru menyukai orang yang berani menyebut kekurangannya tanpa membungkusnya sebagai kasih sayang palsu.
Namun ancaman mengganti dirinya terlalu jauh.
Karena itu Amaya memutuskan memberi Dokter Sebastian apa yang diminta: jarak yang sepenuhnya profesional. Semua laporan akan masuk sistem. Semua pertanyaan melewati Ivan atau forum proyek. Tidak ada pesan pribadi, tidak ada alasan naik ke lantai tiga puluh tiga.
Ia ingin melihat siapa yang lebih dulu merasa sepi.
Sebastian merasa seperti baru meninju kapas. Tidak ada benturan, tetapi tangannya sendiri terasa salah.
Ia berjalan ke meja, lalu melihat pintu lagi.
Apa Amaya akan menangis setelah keluar? Apa tegurannya terlalu keras? Perempuan itu memang menggambar, tetapi jawabannya dalam rapat tepat dan notulennya selain satu halaman itu benar-benar lengkap.
Sebastian mengambil ponsel, lalu meletakkannya lagi.
Selama satu minggu berikutnya, ia membagi waktu antara rumah sakit dan kantor pusat. Jadwalnya penuh, namun pikirannya berkali-kali kembali pada kantor lantai dua puluh sembilan.
Amaya tidak datang ke lantai tiga puluh tiga. Tidak mengirim pesan. Bahkan tidak membuat alasan untuk menanyakan Peachy.
Secara pekerjaan, perempuan itu justru sulit dicela. Ia mengunggah notulen rapat sebelum tenggat, menutup dua perbedaan tanggal yang ditemukan, dan mengirim pembaruan risiko lewat jalur resmi. Ketika perlu keputusan Sebastian, ia menaruh namanya dalam daftar persetujuan sistem tanpa satu pun sapaan pribadi.
Sebastian menerima semua berkas tepat waktu. Setiap dokumen hanya membuat absennya Amaya terasa lebih disengaja.
Peachy di meja juga berubah menjadi pengingat. Ia menyiram sesuai takaran yang dibaca, memutar pot seperempat lingkaran setiap dua hari, lalu mengecek warnanya di bawah matahari. Tanaman itu tetap hidup dan diam, sama seperti pengirimnya di WhatsApp.
Hari Senin berikutnya seharusnya jadwal lepas jahitan.
Sebastian membuka catatan medis dan menemukan prosedur itu sudah selesai pukul dua siang oleh dokter bedah umum lain. Luka dinyatakan menutup baik. Tidak ada komplikasi.
Dokter yang menangani menulis bahwa tujuh jahitan dilepas utuh, tepi luka kering, dan Amaya diberi petunjuk perawatan bekas luka. Dalam catatan singkat, ada kalimat `pasien memilih jadwal tercepat karena dokter awal tidak tersedia`.
Sebastian membaca kalimat itu dua kali. Ia tersedia. Jadwal operasinya kosong sejak makan siang, dan seluruh bagian bedah tahu pasien tersebut diminta langsung datang kepadanya.
Amaya tidak keliru membaca jadwal.
Ia memilih orang lain.
Sebastian teringat bagaimana ia sendiri menyuruh perempuan itu langsung datang kepadanya. Ia juga yang kemudian mengancam meminta Adhikara mengganti orang. Dari sudut pandang Amaya, mencari dokter lain mungkin pilihan paling masuk akal.
Kesadaran tersebut tidak membuat perasaannya lebih baik.
Ia membuka profil WhatsApp `iblis kecil`. Foto domba putih masih sama. Tidak ada pembaruan status, tidak ada petunjuk apakah Amaya marah atau justru sudah melupakannya. Jempolnya sempat menyentuh kolom pesan, lalu mundur.
Seorang direktur eksekutif tidak seharusnya menanyakan apakah bawahan menangis setelah ditegur.
Seorang calon kakak ipar juga tidak seharusnya peduli.
Sebastian tetap mengetik.
Amaya sengaja tidak datang kepadanya.
Ia menatap WhatsApp selama beberapa menit sebelum mengetik satu kata.
`Ada?`
Pesan terkirim pukul dua lewat empat puluh.
Pukul tiga belum dibaca. Pukul empat tetap satu tanda abu-abu. Sebastian memeriksa ponselnya tiga kali sepanjang sore dan membenci dirinya setiap kali layar tetap kosong.
Menjelang pukul lima, Ivan masuk membawa sebuah undangan tebal berwarna krem.
"Undangan ulang tahun Tante Karina, Jumat malam di Hotel Grand Amerta. Biasanya kita kirim bunga dan perwakilan."
Sebastian membuka undangan. Nama Karina tercetak di atas kertas bertekstur, disusul jadwal acara pukul tujuh malam.
"Jumat ada rapat evaluasi internal," kata Ivan.
"Jam berapa?"
"Pukul empat sampai tujuh."
"Majukan ke pukul dua. Selesai sebelum enam."
Ivan mengangkat mata. "Dokter akan hadir sendiri?"
"Keluarga Halim mitra proyek. Tidak pantas selalu mengirim orang."
Alasan yang rapi. Ivan tidak menunjukkan bahwa ulang tahun Robert tahun lalu juga hanya mendapat bunga.
"Baik. Saya ubah jadwalnya."
Setelah Ivan keluar, Sebastian memeriksa WhatsApp lagi.
Pesannya sudah dibaca.
Tidak dibalas.
Ia mematikan layar, memasukkan undangan Karina ke laci paling atas, lalu menguncinya.