Johan Pranata, CEO tampan yang belum di karuniahi seorang anak dari pernikahannya yang sudah tujuh tahun. Keadaan sang istri yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena penyakit yang di deritanya, membuat Johan harus mencari wanita yang mau mengandung benih anaknya.
Semua itu Johan lakukan hanya karena tuntutan sang Ibu. Karena dia harus melahirkan pewaris dari bisnis dan juga perusahaannya.
Lestari sang Ibu menemukan wanita yang tepat, yaitu Lilian. Karena perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan akhirnya Lilian mau menerima tawaran dari Lestari.
Lilian akhirnya menikah secara diam-diam dan tersembunyi dengan Johan. Tapi semenjak itu hidup Lilian menjadi susah, karena Johan banyak mengatur hidupnya.
Bertemu setiap hari dengan Johan membuat Lilian menaruh rasa kepadanya.Lalu, apakah Johan juga menaruh rasa terhadap Lilian? Atau dia tetap setia dengan istrinya? Simak ya😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Di Pasar
"Kamu ngapain Li, udah biar aku saja ya." Stevia mengambil sapu yang ada di tangan Lilian.
"Tidak apa - apa Stev, ini tidaklah berat." Lilian mengulas senyumnya.
"Tidak Li, tidak boleh. Kamu istirahat saja, aku tidak mau kamu kecapekan nanti. Udah sana duduk aja, biar aku yang lanjut nyapunya." Stevia sedikit mendorong tubu Lilian menjauh darinya.
Dengan perasaan yang sedikit kesal, Lilian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Karena merasa bosan, Lilian mencari remote tv dan menyalakannya.
"Sebuah peristiwa kecelakaan di jalan Mawar melibatkan dua mobil dan satu buah bis. Peristiwa terjadi karena jalanan yang licin akibat guyuran hujan, membuat sebuah bis besar yang melintas di tikungan ini menjadi oleng. Kecelakaan ini mengakibatkan tiga orang meninggal dan sepuluh orang luka berat, serta dua puluh orang luka ringan."
"Li," panggil Stevia namun tidak mendapatkaj respon.
"Berikut adalah penumpang bis yang mengalami luka berat."
"Ayah," lirih Lilian namun terdengar oleh Stevia.
"Siapa Li?" Stevia mengikuti arah pandangan mata Lilian.
"Ayah." Tanpa disadari, air mata Lilian mulai luruh. Stevia hanya memandang Lilian dengan wajah bingung, dia belum paham dengan apa yang terjadi pada Lilian.
"Aku harus kesana," ucap Lilian.
"Tunggu Li, kamu mau kemana?" cegah Stevia.
" Itu ayahku Stev, dia menjadi salah satu dari korban yang terluka parah." Jelas Lilian disela - sela tangisnya.
Awalnya Stevia hanya diam karena terlalu kaget, tapi dia cepat menyadarkan dirinya setelah itu.
"Li," Stevia merangkul Lilian yang sesenggukan.
"Aku temenin kamu ke rumah sakit ya. Aku tidak mau sampai kamu kenapa - kenapa nantinya." Lilian mengangguk, menyetujui tawaran dari Stevia.
Lilian menghapus air matanya, dia berlalu ke dalam kamarnya untuk mengambil tas. Begitu pula Stevia, dia berlalu ke kamar untuk mengambil tasnya juga.
"Pak Ari, antarkan kita ke rumah sakit Harapan Kasih, ya." Stevia meminta supirnya untuk mengantarkan mereka berdua.
"Baik, Bu."
Pak Ari langsung menyiapkan mobil untuk mengantar dua nyonya mudanya. Dia juga tidak lupa mengingatkan kepada dua wanita cantik ini untuk memakai sabuk pengaman.
"Li, kamu jangan nangis terus ya. Tidak baik untuk kandungan kamu yang masih muda." Stevia mencoba menenangkan Lilian.
"Aku tidak menyangka Stev, selama ini aku mencari ayahku kemana - mana. Aku selalu berharap setiap hari dia akan datang kembali menemuiku. Tapi sekarang aku harus melihatnya di tv, karena kecelakaan." Dengan susah payah, Lilian bercerita di sela - sela tangisannya.
"Aku tahu Li, aku juga pernah merasakan kehilangan orang tuaku." Stevia memeluk Lilian dengan erat, dia berusaha memberikan semangat agar Lilian bisa tegar.
Sedangkan Rudi, dia sangat kaget saat mengetahui Lilian telah mengandung anak Johan. Dani sampai harus berkali - kali meyakinkan sahabatnya itu agar Rudi bisa percaya.
"Secepat itukah proses inseminasinya?" tanya Rudi tidak percaya.
"Mereka melakukannya dengan cara dasar, bukan dengan jalan inseminasi." Jelas Dani membuat Rudi semakin membelalakan matanya.
"Apa? Yang bener lo, Dan. Gue ngak salah denger?" tanya Rudi tidak percaya.
"Ya elah, buat apa aku bohon Rud sama lo. Kalau ngak percaya lo boleh nyoba sama Lilian, dia udah ngak perawan. Ha ha ha ha." Tawa nyaring Dani membuat seisi cafe memperhatikan mereka berdua.
"Jaga mulut lo yang sudah kehilangan akhlaknya itu ya. Gue bukan playboy yang mau mengencani istri temen sendiri." Rudi membela diri.
"Ehem, iya gue becanda Rud. Ngak usah sinis gitulah, santai aja." Dani kembali menyuapkan pancake yang ia pesan ke dalam mulutnya.
Rudi sibuk dengan pikirannya, dia memandang koktail buah miliknya dengan tatapan kosong.
"Lo masih suka sama Lilian?" tanya Dani.
"Gue hanya kagum sama dia," jawab Rudi.
"Gue yakin lo pasti masih mengharapkan Lilian." Dengan santai Dani mengatakan hal itu dari mulutnya.
"Sembarang banget tuh mulut lo ya kalau ngomong, gue jahit lama - lama mulut ga ada akhlak lo itu." Dani hanya cekikikan melihat Rudi yang mulai emosi dibuatnya.
"Jadi, lo beneran ngak suka sama Lilian? Kalo menurut gue dia baik orangnya, kemarin aku sempet bercanda sama dia. Dia ternyata orangnya lucu sih, ngak jaim juga." Rudi tidak ingin menanggapi cerita dari mulut temannya yang tidak mempunyai akhlak itu.
"Rud," panggil Dani.
"Hemm, apa?" jawab Rudi singkat.
"Jujur deh sama gue, toh gue ngak pernah cerita jugakan sama Johan tentang masalah ini." Dani mulai berbicara santai dan memancing Rudi.
"Gue emang suka sama Lilian, gue juga sampai sekarang belum percaya, kalau gadis di pasar yang sempet gue ikutin itu sekarang malah jadi istri sahabat gue sendiri. Baru kali ini Dan, gue suka sama cewek sampai aku ikutin dan lacak alamatnya. Tapi ya sudahlah, dia udah jadi milik Johan. Tapi gue tetap sedia mengambil dia kalau sampai Johan nyakitin Lilian secara berlebihan."
Dani merasa terenyuh mendengar kata - kata yang keluar dari mulut Rudi. Laki - laki yang terlihat angkuh dari luar, ternyata memiliki hati yang lembut.
Gue ngak nyangka, Rudi bisa semanis dan selembut ini ucapannya. Atau mungkin karena cinta? Cintakah yang membuat Rudi menjadi laki - laki yang melow dan lembut. Orang yang menilai hanya dari luar pasti tidak akan menyangka, karena itulah jangan menilai jika belum tahu dalamnya.Batin Dani memandangi wajah sendu Rudi.
"Rud, gue kembali ke kantor dulu ya. Takut kena marah bos Johan nanti, jam makan siangkan tinggal sepuluh menit lagi," ucap Dani.
"Hati - hati lo, salam buat Johan yang sok sibuk itu ya." Mereka tos ala laki - laki gentle men sebelum Dani meninggalkan Rudi di cafe itu sendirian.
Di rumah sakit, Lilian sibuk mencari ruangan dimana ayahnya dirawat. Stevia yang menemani Lilian hanya mengekor dan mengikuti langkah kaki Lilian.
"Li, duduk dulu yuk sebenar. Aku pusing." Lilian menghentikan langkahnya, karena melihat Stevia yang memegangi kepalanya.
"Eh maafin aku ya Stev, ya udah kita duduk dulu ya." Lilian memperhatikan wajah Stevia yang kelihatanya pucat.
"Minum dulu, Stev." Lilian memberikan air mineral kepada Stevia. Stevia meraih botol itu lalu meminumnya dengan hati - hati.
"Kita lanjut yuk." Setelah merasa cukup baik, Stevia mengajak Lilian kembali mencari ruang rawat ayahnya.
"Kamu yakin udah ngak apa - apa, Stev?" tanya Lilian yang belum yakin dengan keadaan Stevia.
"Iya Li, aku ngak apa - apa. Ayo." Stevia menarik tangan Lilian yang masih bengong memperhatikan wajahnya.
Tidak lama berjalan, mereka kini telah menemukan ruangan yang dimaksud oleh resepsionis.
Namun saat Lilian hendak membuka pintu ruangan itu, dirinya melihat seorang wanita paruh baya ada di dalam sana. Lilian berhenti, dan memperhatikan wanita itu dari kaca kecil yang ada di pintu tersebut.
Stevia hanya menatap bingun wajah Lilian yang tiba - tiba barubah.
"Siapa wanita itu?" tanya Lilian lirih.
Bersambung...😊
Quotes by Dani❤
Jangan menilai orang dari luarnya saja. Nilailah setelah kamu tahu dalamnya, bukan hanya luarnya.