Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Malam ini dunia Zira rasanya benar-benar runtuh. Kini hubungannya bersama Leon yang sudah terjalin selama tiga tahun akhirnya resmi berakhir. Tidak akan ada hari pernikahan indah seperti yang telah direncanakan. Buliran bening mulai jatuh membasahi bumi, seakan malam turut merasakan bagaimana kabut mendung di hati Zira.
Mobil yang dikemudikan Tomi akhirnya tiba di rumah, setelah beberapa saat lalu meninggalkan kediaman megah milik keluarga Fernandez.
Semua orang yang berada di mobil, kecuali ayah, nampak bingung melihat keberadaan koper besar di teras depan. Zira sangat mengenal koper besar berwarna pink tersebut. Koper itu adalah miliknya.
Ibu turun dari mobil. Wanita itu gegas memanggil art untuk menanyakan perihal koper tersebut. Tak lama kemudian di susul oleh yang lainnya, termasuk Zira.
"Kenapa koper itu bisa ada di teras, bi?." Tanya ibu seraya menuding ke arah koper yang dimaksud.
"Itu koper milik non Zira, Nyonya." Jawab bibi.
"Saya juga tahu kalau itu koper milik Zira, tapi yang saya maksud kenapa koper Zira bisa ada di depan, bi?."
"Tuan yang meminta bibi mengemas semua pakaian non Zira, nyonya." Balas bibi merasa tak enak hati. Sebelum berangkat menuju kediaman keluarga Fernandez, tuan Andrean meminta art untuk mengemas semua pakaian putrinya dan memasukkannya ke dalam koper.
Sadar akan tatapan istrinya, tuan Andrean lantas berkata. "Seperti ucapan papah sebelumnya, jika Zira masih kekeuh menyembunyikan identitas pria breng-sek itu, maka silahkan angkat kaki dari rumah ini!." Tuan Andrean yakin dengan cara ini putri bungsunya itu pasti akan mengakui siapa sosok pria yang telah merenggut kesuciannya. Tetapi, semua tidak sesuai dengan rencana karena putrinya tersebut masih tetap diam dan tak mau mengungkapkan identitas pria itu.
"Jangan bodoh, Zira! Sebaiknya cepat akui pada kami semua, siapa sebenarnya pria yang telah menghancurkan hidupmu!." Tomi bicara dengan nada pelan, mencoba merayu adiknya agar bersedia mengaku.
"Bukannya Zira tidak mau mengakuinya, tapi Zira tidak tahu siapa pria itu." Demi ketenangan dan ketentraman hidup keluarganya, dengan berat hati Zira memilih untuk berdusta. Berurusan dengan seorang Lexiano Fernandez bisa saja mencelakakan keluarganya dan Zira tidak mau sampai hal itu terjadi. Cukup dirinya yang hancur karena perbuatan Lexi, ia tak mau sampai keluarganya ikut berurusan dengan pria tak punya hati itu.
"Kamu pikir papah ini bodoh, hah?." Bentak tuan Andrean saking kecewanya dengan sikap putrinya.
"Sekarang juga angkat kaki dari rumah ini, papah tidak mau memberikan fasilitas apapun termasuk tempat tinggal untuk anak pembangkang!."
"Pah..." Nampaknya Ibu kurang setuju dengan cara sang suami dalam mendisiplinkan putri mereka. Lagipula Zira adalah anak perempuan, bagaimana hidupnya diluar sana tanpa keluarga.
Deg.
Rupanya ayahnya tidak bercanda saat berkata ingin mengusirnya dari rumah. Zira berusaha membendung air mata karena tidak ingin sampai melihat ibunya semakin bersedih. Ia melangkah, mendekat pada ibunya.
"Zira pasti akan baik-baik saja, mamah tidak perlu mencemaskan Zira!." Wanita itu berusaha untuk tetap tegar walaupun rasanya air matanya ingin sekali menerobos keluar.
"Kalau kamu masih ingin menjadi anak papah, jangan membelanya!." Peringatan tegas dari sang ayah mampu membungkam mulut Tomi yang tadinya ingin protes dengan keputusan ayahnya.
Tanpa berkata apapun lagi, ayah berlalu pergi meninggalkan istri serta kedua anaknya.
"Zira...." Tomi memeluk Zira. Ia tak kuasa membendung air mata karena tidak dapat berbuat apa-apa untuk membela adik perempuannya itu.
"Mas jangan sedih! Zira janji akan menjaga diri dengan baik." Zira membalas pelukan kakaknya.
Air mata yang sejak tadi susah payah dibendung oleh Zira pada akhirnya jatuh juga saat melihat keberadaan keponakannya berjalan bersama ibunya datang menghampirinya.
Zira melerai pelukannya pada sang kakak dan menyambut keponakan tercintanya. Dengan berurai air mata Zira memeluk Gibran.
Sesaat kemudian, bocah itu mengurai pelukannya untuk memberi jarak agar dapat menatap wajah Aunty nya.
"Aunty tenapa nanis?." Dengan gaya bicara cadelnya Gibran bertanya sambil mengusap jejak air mata di pipi Zira.
"Aunty nggak nangis kok, sayang. Aunty hanya kelilipan." Dusta Zira sambil mengusap jejak air mata di pipinya dan tersenyum manis pada bocah berusia tiga tahun tersebut.
Gibran mengangguk, percaya dengan ucapan aunty nya.
"Aunty ada urusan dan untuk sementara waktu tidak akan tinggal di rumah ini bersama Gibran." Zira mencoba memberi pengertian pada keponakannya agar tidak mencari keberadaannya, mengingat sedekat apa ia dengan bocah itu.
"Tapi, aunty peldina Janan lama-lama ya!."
"Iya, sayang." Walaupun ia sendiri tak yakin apakah masih akan diterima lagi di rumah itu atau tidak nantinya, Zira tetap mengiyakan permintaan Gibran.
Ibu terdiam, hanya air mata yang menjadi bukti bahwa perasaan wanita itu begitu sedih dan hancur melihat putrinya harus meninggalkan rumah. Sebagai seorang ibu, tentunya wanita paruh baya tersebut tak tega namun sebagai seorang istri ia tak bisa berbuat banyak untuk menentang keputusan suaminya, mengingat putri mereka telah melakukan kesalahan besar dan justru tak mau mengakui siapa sebenarnya pria yang telah merenggut kesuciannya.
"Zira pamit ya mah...mas...mbak Sonia." Zira menyalami ibu, Tomi dan juga kakak iparnya secara bergantian.
"Zira....." Ibu berjalan ke arah Zira yang kini mulai melangkah sembari menyeret kopernya.
"Mamah tidak perlu cemas, Zira pasti akan menjaga diri dengan baik!." Walaupun ia sendiri masih bingung bagaimana cara menjalani kehidupan di luar sana, Zira tetap berusaha meyakinkan ibunya agar tidak mencemaskan dirinya.
"Tapi nak, kamu itu perempuan, bagaimana kamu bisa menjalani kerasnya hidup diluar sana, Zira?." Ibu sangat berat merelakan kepergian putrinya dari rumah.
"Percayalah pada Zira, mah! Zira tidak akan mengecewakan mamah lagi, Zira tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Ini kunci mobil mas, kamu gunakan mobil mas saja!." Mengingat ayah tidak mengizinkan Zira membawa fasilitas yang pernah diberikannya, Tomi lantas menawarkan mobilnya kepada adiknya itu.
"Tidak perlu, mas. Zira naik taksi saja." Bukannya ingin menolak pemberian kakaknya, namun Zira tak ingin sampai Tomi menjadi sasaran kemarahan ayah.
"Jangan keras kepala, Zira!." Tomi masih kekeuh menyerahkan kunci mobilnya tapi Zira pun tetap teguh pada pendiriannya, tak ingin memperkeruh keadaan yang sudah terlanjur ruwet di dalam keluarga mereka dengan menyeret nama kakaknya.
Pada akhirnya Tomi tak lagi memaksa saat Zira mengutarakan alasannya mengapa sampai menolak pemberian darinya. Tomi melepas kepergian adik perempuannya dari rumah dengan perasaan sesal. Ya, sesal karena tidak dapat menjaga adiknya itu dengan baik, hingga pada akhirnya mengecewakan kedua orang tua mereka, terutama sang ayah yang begitu membanggakan anak perempuannya.
Zira melangkah meninggalkan rumah dengan membawa serta koper besar yang berisikan pakaiannya. Ya, hanya pakaian saja karena semua fasilitas yang pernah diberikan oleh ayahnya termasuk kunci mobil, ATM dan beberapa kartu lainnya diletakkan Zira diatas meja sebelum berlalu pergi.
Ibu menyaksikan kepergian putrinya dengan linangan airmata.
"Maafkan mamah yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela mu, nak." Batin ibunya Zira seraya menatap punggung putrinya yang kini telah menghilang dibalik pintu gerbang. Untungnya hujan sudah reda, jika tidak, bisa dipastikan Zira akan basah kuyup.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣