"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Manuver Siluman Merah dan Tawa yang Pulang
Lapangan Kecamatan sore itu tampak seperti palet pelukis yang tumpah ke udara. Ratusan layang-layang dengan berbagai bentuk, ukuran, dan warna menghiasi langit biru cerah, menari-nari ditarik oleh angin kemarau yang berembus konstan dari arah selatan. Suara dengungan sendaren—busur bambu berpita yang dipasang pada layang-layang—berpadu menghasilkan simfoni dengungan massal yang terdengar seperti kawanan lebah raksasa.
Di bawahnya, hamparan rumput lapangan yang mulai mengering dipenuhi oleh lautan manusia. Para pedagang kaki lima berjejer di pinggir lapangan, menawarkan es potong, cilok bumbu kacang, hingga gulali kapas yang manisnya mengundang kerumunan anak-anak. Riuh rendah tawa, teriakan, dan sorak-sorai menciptakan atmosfer festival yang begitu hidup dan membumi.
Gani berdiri di tengah keramaian itu, berteduh di bawah bayangan sebuah pohon trembesi besar. Pria yang dulu hanya mau menghadiri acara sosial di ballroom hotel bintang lima dengan undangan eksklusif itu, kini mengenakan kaus oblong putih sederhana, celana jin, dan kacamata hitam murahan yang ia beli di warung sebelah rumah Kirana seharga lima belas ribu rupiah.
Anehnya, ia tidak merasa risi. Berdesakan dengan warga desa yang berkeringat dan anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki justru memberikannya semacam selubung anonimitas yang melegakan. Di sini, ia bukan Gani Raditya si mantan CEO yang bangkrut dan dipermalukan. Ia hanyalah 'Paman Gani', teknisi di balik layang-layang jagoan Desa Karangbanyu.
"Paman, layang-layangnya Si Bowo besar sekali..."
Suara Udin yang bergetar menarik perhatian Gani dari langit. Bocah sepuluh tahun itu berdiri di sebelah Gani, memegang gulungan benang kenur tebal dengan jari-jari yang memutih saking eratnya menggenggam. Tatapan Udin tertuju lurus ke area tengah lapangan.
Gani menelusuri arah pandangan Udin. Di sana, di antara sekelompok anak laki-laki dari desa tetangga, berdirilah Bowo. Bocah berbadan bongsor itu sedang memamerkan sebuah layang-layang berbentuk kelelawar raksasa berwarna hitam pekat dengan corak mata merah yang menyeramkan. Ukurannya hampir dua kali lipat lebih besar dari layang-layang buatan Gani. Ekornya menjuntai panjang menyapu rumput, menambah kesan megah.
Bowo tampak menyadari tatapan Udin. Ia menyeringai meremehkan, lalu berjalan dengan angkuh mendekati tempat Gani, Kirana, dan Udin berdiri, diikuti oleh dua orang temannya yang bertindak seperti ajudan cilik.
"Hei, Udin!" seru Bowo lantang, sengaja menarik perhatian beberapa warga di sekitar mereka. "Kudengar kau mau menerbangkan layangan naga? Mana nagamu? Kok yang dibawa malah layangan kotak patah begitu?"
Teman-teman Bowo tertawa mengejek, menunjuk layang-layang Delta-Wing merah-hitam rancangan Gani yang saat ini sedang dipegang oleh Kirana. Dibandingkan dengan kelelawar raksasa Bowo yang penuh ornamen bambu rumit, layang-layang Gani memang terlihat sangat minimalis dan telanjang. Hanya sebuah mata panah bersudut tajam tanpa ekor yang panjang.
Wajah Udin memerah, matanya mulai berkaca-kaca menahan malu. Ia menunduk, nyaris kehilangan seluruh keberanian yang ia kumpulkan sejak pagi.
Melihat hal itu, rahang Gani mengeras. Sifat protektifnya tersulut seketika. Ia melangkah maju, menempatkan tubuh tingginya tepat di antara Udin dan anak-anak arogan dari Sukatani tersebut.
Gani menundukkan pandangannya dari balik kacamata hitam, menatap Bowo dengan aura dingin dan berwibawa yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi kontraktor nakal di ruang rapat. Bocah bongsor itu seketika terdiam, senyum mengejeknya memudar, nyalinya menciut melihat pria dewasa kota yang menjulang di hadapannya.
"Dalam dunia penerbangan, Nak," ucap Gani dengan nada suara yang rendah namun menggema jelas, "ukuran dan ornamen yang berlebihan hanyalah beban. Benda yang terlalu banyak gaya biasanya akan jatuh paling cepat saat angin menamparnya."
Gani berjongkok, menyetarakan tinggi wajahnya dengan Bowo. Ia menunjuk layang-layang kelelawar itu dengan dagunya. "Kau memakai terlalu banyak persilangan bambu. Titik hambat udaramu berantakan. Aku berani bertaruh, kau bahkan butuh tiga orang hanya untuk mengangkatnya ke udara, kan?"
Bowo menelan ludah, tidak bisa membantah karena tebakan Gani memang seratus persen akurat. Kelelawarnya memang berat dan sangat sulit dinaikkan.
Gani kembali berdiri, menepuk bahu Udin dengan mantap. "Abaikan dia, Jagoan. Bersiaplah. Kita buktikan hukum fisika di udara, bukan di darat."
Kirana, yang sedari tadi menahan senyum bangga melihat Gani membela Udin, segera melangkah ke tengah area yang kosong. Ia mengangkat layang-layang Delta-Wing itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Angin sore seketika menangkap permukaan kertas minyak yang ditegangkan sempurna oleh Gani, menciptakan suara brrrttt yang berat dan bertenaga.
"Siap, Udin?!" teriak Kirana melawan deru angin.
Udin mengangguk, matanya kembali menyala penuh tekad. Ia mengulur benangnya sekitar lima meter, lalu mengambil kuda-kuda.
"Lari, Udin! Sekarang!" komando Gani.
Kirana melepaskan layang-layang itu ke udara pada detik yang sama ketika Udin berlari sekuat tenaga.
Apa yang terjadi selanjutnya mengundang decak kagum dari puluhan pasang mata yang memperhatikannya. Layang-layang merah-hitam itu tidak terbang dengan malas atau terombang-ambing. Benda itu melesat membelah udara seperti roket yang baru saja dinyalakan. Ujungnya yang meruncing merobek resistensi angin dengan sangat efisien.
Dalam hitungan detik, layang-layang itu sudah berada lima puluh meter di udara, terbang lurus dan sangat stabil. Begitu mencapai ketinggian yang optimal, angin kencang di atas sana meniup pita plastik pada busur sendaren-nya.
Ngoooonggg! Ngonggg! Suara dengungan yang dihasilkan layang-layang Udin terdengar sangat keras, tajam, dan mendominasi udara, menenggelamkan suara layang-layang lain di sekitarnya. Suaranya terdengar seperti raungan mesin jet tempur yang siap berperang.
"Wah! Lurus banget naiknya!"
"Bentuknya aneh, tapi anteng di atas ya!"
"Suara sendarennya mantap betul!"
Komentar-komentar penuh kekaguman mulai terdengar dari warga sekitar. Udin tersenyum lebar hingga memamerkan giginya yang gingsul. Ia memegang gulungan benangnya dengan bangga, merasakan tarikan layang-layangnya yang sangat kuat namun terkendali.
Di sisi lain, Bowo tidak mau kalah. Dengan bantuan dua temannya yang bersusah payah berlari sambil memegangi ujung sayap, layang-layang kelelawar raksasanya akhirnya berhasil mengudara. Benda raksasa itu memang terlihat mengintimidasi di langit, mengepak-ngepak lambat di bawah dorongan angin.
Pertarungan tidak resmi pun dimulai. Di Karangbanyu, menerbangkan layang-layang di festival bukan sekadar pamer ketinggian, melainkan pamer ketangguhan gelasan (benang yang dilapisi serbuk kaca).
Bowo perlahan-lahan menggeser posisinya, mengarahkan layang-layang kelelawarnya mendekati 'Siluman Merah' milik Udin. Niatnya sangat jelas: ia ingin mengadu benang dan memutus layang-layang kebanggaan Karangbanyu tersebut.
"Paman! Bowo ngedeketin layanganku!" seru Udin mulai panik saat melihat bayangan hitam besar itu bergerak ke arahnya di langit. Ia tahu benang gelasan milik Bowo dibeli dengan harga mahal dan sangat tajam.
Gani melangkah maju, berdiri tepat di belakang Udin. Insting taktisnya mengambil alih. Ia menengadah, mengkalkulasi arah angin, sudut kemiringan benang, dan pergerakan layang-layang Bowo.
"Jangan panik. Tetap pegang gulungannya," instruksi Gani dengan nada sangat tenang, menyalurkan ketenangannya pada Udin. "Lihat pergerakan layang-layangnya. Milik Bowo terlalu berat. Dia butuh angin yang kuat untuk terus naik. Saat angin sedikit mereda, layangannya akan menukik ke bawah."
Dan benar saja. Saat hembusan angin selatan sedikit melemah, kelelawar raksasa milik Bowo kehilangan daya angkatnya dan mulai turun, bergerak menyilang tepat di atas benang layang-layang Udin. Bowo menyeringai di darat, bersiap menarik benangnya dengan keras untuk memotong benang Udin.
"Sekarang, Paman?!" jerit Udin, bersiap menarik gulungannya mundur.
"Jangan ditarik!" sergah Gani cepat. Tangannya memegang bahu Udin untuk menahannya. "Kalau kau tarik mundur sekarang, benangmu yang akan tegang, dan benang gelasannya akan dengan mudah memotong benangmu seperti pisau mengiris mentimun."
Udin menelan ludah, keringat membasahi dahinya. "Terus gimana?!"
Gani menyipitkan mata di balik kacamata hitamnya, menunggu momen presisi dalam hitungan milidetik. "Kau pakai desain Delta-Wing, Udin. Layang-layangmu punya kemampuan manuver yang tidak dimiliki layangan kolot itu. Maju tiga langkah dengan cepat dan ulur benangmu!"
Meski bingung, Udin menuruti insting jenderalnya. Ia berlari maju tiga langkah sambil mengulurkan gulungan benangnya.
Di udara, manuver itu menciptakan efek yang luar biasa. Saat ketegangan benangnya mengendur secara tiba-tiba, layang-layang Delta-Wing merah itu kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya menukik tajam, meluncur turun melewati bagian bawah benang milik Bowo dengan kecepatan kilat, lalu bermanuver melingkar membentuk huruf 'U' di udara sebelum kembali stabil saat Udin menahan gulungannya.
Manuver akrobatik yang elegan itu membuat penonton di darat bersorak riuh.
Posisi kini berbalik. Benang Udin kini berada di atas benang Bowo. Layang-layang Udin yang berbobot ringan kembali melesat naik dengan cepat begitu angin menangkap sayapnya.
"Sekarang, Udin! Tarik benangmu ke arah dada, keras dan panjang!" teriak Gani.
Udin menarik benangnya sekuat tenaga. Gesekan dua benang di udara terjadi dengan sangat cepat. Karena benang Udin bergerak dengan kecepatan tinggi ditarik oleh layang-layang yang melesat naik, gesekannya menciptakan daya potong yang jauh melebihi ketajaman serbuk kaca biasa.
Trasss!
Suara putusnya benang di udara itu nyaris tak terdengar, namun efeknya terlihat seketika. Layang-layang kelelawar raksasa milik Bowo mendadak oleng, kehilangan arah, lalu melayang tanpa daya tertiup angin menuju hamparan sawah di kejauhan, terputus sepenuhnya dari tuannya.
"PUTUSSSS!!" teriak Udin sekeras-kerasnya, melompat-lompat kegirangan sambil mengangkat gulungan benangnya tinggi-tinggi.
Anak-anak Karangbanyu yang menonton di sekitar mereka langsung bersorak meledak, bersahut-sahutan merayakan kekalahan sang rival. Bowo hanya bisa berdiri mematung dengan mulut terbuka, menatap sisa benang di tangannya dengan wajah merah padam menahan tangis, sebelum akhirnya ditarik pergi oleh teman-temannya yang malu.
Di tengah sorak-sorai itu, Udin berbalik dan langsung memeluk pinggang Gani dengan sangat erat.
"Kita menang, Paman! Kita menang! Siluman Merah menang!" teriak bocah itu, wajahnya basah oleh keringat dan air mata kebahagiaan.
Gani tertegun sejenak menerima pelukan tiba-tiba itu. Lengannya masih sedikit kaku, namun perlahan, ia membalas pelukan anak itu. Ia mengusap rambut Udin yang berdebu.
Sebuah letupan emosi yang hangat dan asing mekar di dalam rongga dada Gani. Ia menatap ke langit, melihat layang-layang merah ciptaannya menari gagah di angkasa, mendominasi awan.
Dulu, Gani pernah memenangkan tender proyek pembangunan pusat perbelanjaan senilai tiga ratus miliar rupiah. Ia merayakannya di lounge eksklusif, bersulang sampanye mahal dengan para direktur yang memujinya dengan senyum palsu. Saat itu, ia merasa puas, tapi perutnya selalu terasa kosong. Ia selalu waspada, memikirkan siapa yang akan menjatuhkannya esok hari.
Namun hari ini, di lapangan berdebu ini, memenangkan pertarungan layang-layang modal sepuluh ribu rupiah, dipeluk oleh anak yatim berbaju lusuh yang menganggapnya pahlawan... Gani merasakan sesuatu yang sangat berbeda.
Ia merasa utuh.
Kebahagiaan ini begitu murni, begitu transparan, tanpa agenda tersembunyi, tanpa kecemasan. Beban depresi berat yang selama tiga bulan menindih dadanya seolah menguap begitu saja, terbawa angin selatan bersama layang-layang kelelawar yang kalah. Gani Raditya, pria yang kehilangan segalanya, baru saja menemukan kembali letak jantungnya.
Gani tertawa. Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa lepas. Suara tawa baritonnya yang dalam dan tulus menggema di udara sore, menyatu dengan tawa Udin dan keramaian festival.
Dari jarak beberapa langkah, Kirana berdiri menatap pemandangan itu. Payung kertasnya bersandar di bahunya. Gadis itu tersenyum sangat lembut hingga matanya menyipit menjadi bulan sabit. Melihat Gani tertawa selepas itu adalah pemandangan paling indah yang pernah ia saksikan. Rencananya tidak hanya berhasil; rencananya telah menyelamatkan sebuah jiwa.
Malam harinya, langit Karangbanyu dihiasi oleh taburan bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Sebagai bentuk perayaan atas 'kemenangan bersejarah' Siluman Merah, Kirana memaksa Gani untuk datang ke rumahnya. Udin dan teman-temannya sudah pulang ke rumah masing-masing setelah dijamu es sirop dan biskuit cokelat saat Magrib tadi. Kini, hanya tersisa Gani dan Kirana di teras depan rumah gadis itu.
Suasananya sangat kontras dengan keramaian lapangan sore tadi. Teras rumah Kirana sangat tenang, dihiasi pot-pot bunga malam yang menebarkan aroma wangi yang menenangkan. Lampu pijar kuning lima watt di atas pintu memberikan pencahayaan yang hangat dan intim.
Mereka duduk bersisian di atas tikar pandan. Di hadapan mereka, terdapat sepiring pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan, serta dua cangkir teh poci yang mengepulkan uap tipis.
Gani mengambil sepotong pisang goreng, meniupnya pelan, lalu menggigitnya. Manisnya pisang kepok berpadu dengan adonan tepung yang gurih dan renyah. Ini adalah makan malam paling sederhana yang pernah ia nikmati, namun terasa seribu kali lebih bermakna daripada hidangan restoran manapun.
"Kau melamun lagi, Tuan Kota," tegur Kirana pelan. Gadis itu sedang meniup teh poci-nya, menatap Gani dari balik kepulan uap panas. "Jangan bilang kau sedang merancang cara untuk memproduksi massal Siluman Merah dan menjualnya ke seluruh desa."
Gani terkekeh pelan, meletakkan sisa pisang gorengnya di atas piring kecil. Ia memutar tubuhnya sedikit untuk menghadap Kirana.
"Tidak," jawab Gani, suaranya melembut, mengalun senada dengan derik jangkrik di pekarangan. "Aku hanya sedang berpikir... betapa anehnya hidup ini."
Gani menengadah, menatap langit malam Karangbanyu yang bersih tanpa polusi cahaya.
"Saat aku di Jakarta, aku punya segalanya. Uang, reputasi, wanita yang kupikir mencintaiku," Gani mulai bercerita, kali ini tanpa rasa sakit yang menyayat. Ia bercerita seolah ia sedang membacakan bab dari buku orang lain yang sudah selesai ia baca. "Tapi aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Aku selalu takut kehilangan. Dan ketika aku benar-benar kehilangan semuanya, aku pikir duniaku kiamat. Aku pikir kematian adalah satu-satunya jalan keluar."
Gani menundukkan kepalanya, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata Kirana yang bening memantulkan cahaya lampu kuning.
"Lalu aku pulang ke desa ini. Tinggal di rumah gelap tanpa listrik. Dimusuhi warga, dikejar Pak Kades karena mencuri mangga, dan dipaksa memotong bambu oleh seorang tiran kecil bersuara cempreng," lanjut Gani, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tulus. "Aku kehilangan seluruh hartaku, tapi anehnya... malam ini, duduk di sini makan pisang goreng bersamamu... aku merasa jauh lebih kaya daripada saat aku berada di puncak karierku."
Keheningan yang sangat indah turun menyelimuti mereka berdua. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan daun kersen dan menerbangkan beberapa helai rambut Kirana yang menutupi pipinya.
Gani mengangkat tangannya. Dengan gerakan yang sangat ragu namun penuh kelembutan, ia menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga Kirana. Kulit jarinya menyentuh pipi gadis itu selama sepersekian detik. Terasa dingin, namun mengalirkan sengatan hangat langsung ke ulu hati Gani.
Kirana terpaku. Mata sabitnya sedikit melebar, terkejut oleh gestur intim yang tidak terduga itu. Rona merah seketika menjalar di kedua pipinya yang pucat, terlihat sangat jelas bahkan di bawah cahaya lampu yang remang-remang.
Gani segera menarik tangannya, tiba-tiba merasa canggung dan salah tingkah. "Maaf, ada... ada rambut yang menutupi matamu."
Kirana menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah dengan mengangkat cangkir tehnya untuk menyembunyikan senyumnya. "Terima kasih."
"Tidak," balas Gani pelan, nadanya berubah sangat serius dan mendalam. "Aku yang berterima kasih, Kirana. Terima kasih karena malam itu kau menghentikanku di hutan. Terima kasih atas tiga permintaan konyolmu ini. Kau... kau mengembalikan warna yang hilang di mataku."
Jantung Kirana berdegup kencang. Kali ini bukan karena katup jantungnya yang rusak, melainkan karena getaran perasaan yang membuncah. Ia menatap wajah tampan pria di hadapannya. Pria dengan rahang tegas, tatapan tajam, namun memiliki kedalaman emosi yang luar biasa.
Di titik inilah, Kirana menyadari bahwa misinya mungkin telah berjalan terlalu jauh. Ia berniat menyelamatkan nyawa Gani, namun ia tidak memperhitungkan bahwa hatinya sendiri akan ikut tertambat pada pria itu. Dan bagi seseorang yang waktunya di dunia sudah dihitung mundur, jatuh cinta adalah sebuah kemewahan yang sangat, sangat berbahaya.
Sebuah rasa sesak tiba-tiba menyerang dada Kirana. Ia terbatuk pelan, segera meletakkan cangkir tehnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia meremas kain gaunnya tepat di atas dada kirinya, menahan ngilu yang tiba-tiba menusuk.
Senyum Gani langsung pudar, digantikan oleh kepanikan. "Kirana? Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat lagi."
Kirana buru-buru mengatur napasnya, memaksakan senyum cerianya kembali secepat kilat. Ia menepis tangan Gani yang hendak meraih bahunya.
"Aku tidak apa-apa, Gani. Hanya tersedak ampas teh," kilah Kirana dengan nada ringan yang dipaksakan. Ia berdiri, menghindari tatapan khawatir Gani. "Sudah malam. Anginnya mulai dingin. Pahlawan Siluman Merah harus pulang dan tidur. Besok pagi, aku punya Permintaan Keempat yang akan membuatmu benar-benar menyesal telah berterima kasih padaku malam ini."
Gani tahu Kirana berbohong. Ia bisa melihat rasa sakit di mata gadis itu. Namun, memahami keras kepalanya Kirana, Gani tidak mendesaknya lebih jauh malam ini. Ia ikut berdiri, menatap gadis itu dengan tatapan penuh perlindungan.
"Baiklah. Aku pulang," ucap Gani lembut. "Tidurlah yang nyenyak, Kirana. Aku akan menunggu perintahmu besok."
Saat Gani berjalan menjauh menyusuri jalan setapak yang gelap, Kirana terus menatap punggung tegap pria itu hingga menghilang dari pandangan. Begitu Gani benar-benar tak terlihat, topeng keceriaan Kirana langsung luruh. Ia merosot duduk bersandar pada tiang teras, mencengkeram dadanya dengan kedua tangan, sementara air mata tanpa sadar menetes membasahi pipinya yang dingin.
Ia telah berhasil membuat Gani kembali mencintai kehidupan. Namun kini, ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya: bagaimana caranya melepaskan Gani saat takdir akhirnya memaksanya untuk pergi?