NovelToon NovelToon
Long Wait

Long Wait

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Davina Auroraaa

LONG WAIT

Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.

Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.

Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.

Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Merahnya Rambutan, Jauhnya Jalan Menuju Cinta

Dalam mobil, Allbiru mengangkat tangan kanannya yang tidak pegang Sabiru – jari-jari kecilnya bergoyang riang seperti anak-anak bermain layangan. “Aku bakal ajarin Sabi lagu yang kamu ajarin aku dulu ya Bu Mal! Lagu tentang pohon rambutan yang selalu ada buat kita! Dan aku bakal kasih dia foto kamu – biar dia tahu ibu kandungnya itu orang yang bisa nangis sambil tersenyum, kayak kamu waktu aku pergi duluan!”

Malia menangis lagi, tapi kali ini air matanya mengalir bersama senyum yang meriah – bibirnya sedikit menggigit karena ingin kuat. Dia melambai balik, tangan nya terangkat tinggi sampai mobil itu mulai menyusuri jalan yang berkelok-kelok, menghilang di balik hamparan sawah yang hijau menyala di bawah langit sore yang warnanya seperti perunggu yang baru saja dituang. Pak Soleh mendekat dengan langkah yang berat tapi stabil, tapaknya menginjak tanah lembap dengan suara slep-slep yang khas.

“Itu keluarga baik kan Mal? Lihat aja cara anak itu ngomong – mata nya kayak bintang yang jelas di malam hari. Pasti bakal kasih anakmu hidup yang lebih baik dari yang kamu bisa berikan sekarang.” Pak Soleh menepuk bahunya perlahan, tangan nya yang kasar karena bertahun-tahun menyentuh tanah dan air, ternyata lebih lembut dari kapas saat menyentuhnya.

Malia mengangguk, matanya masih mengejar bayangan mobil yang sudah mulai hilang. “Iya Pak… aku tahu dia bakal bahagia sama mereka. Cuma… rasanya kayak ada bagian dari diriku yang ikut pergi bareng mereka.” Suaranya pelan tapi jelas, terdengar di antara hembusan angin yang menyapu daun padi dengan suara kresek-kresek.

— Ingat waktu itu, Mal? Di depan rumah kayu tua kita yang kulitnya sudah mulai mengelupas kayak kulit pepaya yang terlalu matang… kamu bilang ‘Pak Soleh, aku mau kasih anakku yang terbaik, lebih baik dari apa yang aku pernah dapatkan’ — Pak Soleh mengingatnya dengan suara yang penuh perhatian, seperti sedang membaca buku kenangan yang sudah lama disimpan.

Malia menutup mata sebentar, ingatan itu seperti air yang mengalir deras di benaknya. “Ya Pak… aku memang bilang begitu. Dan aku tidak menyesal.” Dia menarik napas dalam, menghirup aroma tanah basah dan daun segar yang membuat dada jadi lebih lega. “Pulang yuk Pak… aku lapar sih, tapi malu aja kalau makan sama kalian terus.”

“Sama kita aja apa salahnya? Istriku lagi masak nasi bakar – dibungkus daun pisang yang aku petik sendiri pagi ini, baunya harum banget sampe orang lewat aja kepengen. Lauknya tempe orek yang aku kasih bumbu sama resep ibumu dulu lho!” Pak Soleh menarik tangannya dengan lembut, mengajaknya berjalan. “Jangan sok kuat ya Mal – orang kuat juga butuh makan dan ditemenin kan?”

Malia tak bisa menolak lagi. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang berlubang-lubang akibat genangan hujan kemarin. Saat melewati sungai yang airnya jernih sampai bisa melihat setiap batu kecil di dasarnya, Malia melihat ikan-ikan kecil yang berenang riang, kadang menyambar permukaan air dengan ekornya.

“Waktu Sabiru masih kecil, aku sering bawa dia kesini lho Pak,” ujar Malia sambil menunjuk ke sisi sungai yang ada batu besarnya. “Aku taruh buaian kayu di atas batu itu, terus duduk menyusuri ikan sambil nyanyi lagu ibu ku ajarin. Sabiru selalu tenang aja, kayak mengerti aku sedang cerita sama dia.”

“Ya kan? Anak kecil itu paling peka sama perasaan orang tuanya,” Pak Soleh menjawab sambil membungkuk mengambil air sungai dengan telapak tangannya, lalu membasuh wajahnya. “Lihat aja airnya masih jernih kayak dulu – bukti kalau kita selalu bisa bersih dari dalam kalau mau merawatnya.”

Sampai di rumah Pak Soleh, pintu kayu sudah terbuka lebar. Bu Soleh langsung berdiri dari kursi bambunya yang sudah lapuk tapi tetap kokoh, senyumnya melengkung kayak bulan sabit yang indah. “Kamu datang ya Mal! Cepat duduk sini! Aku baru saja angkat nasi dari tungku – masih panas, kalau disentuh tangan pasti kepanasan!” Bu Soleh menarik tangannya ke arah tikar bambu yang sudah dipoles sampe mengkilap, lalu mengambil mangkuk besar berisi nasi bakar.

“Wah Bu, baunya aja sudah bikin lapar!” Malia duduk dengan hati-hati, melihat nasi bakar yang bentuknya rapi, daun pisangnya sudah sedikit kecoklatan dan mengeluarkan aroma kelapa yang menggugah selera. “Ini bungkusnya kayak yang ibu ku bikin dulu Bu… sama sekali.”

“Kan aku bilang kan, aku belajar dari ibumu waktu dia masih sering masak buat kita!” Bu Soleh tersenyum sambil mengambil sendok kayu yang sudah dipoles halus. “Coba cobain tempe oreknya – aku kasih sedikit cabe rawit kayak yang dia suka.”

Malia menyendok nasi ke mulutnya – rasanya langsung menyentuh hati. Pedasnya tempe orek bercampur manisnya nasi yang dicampur kelapa parut, sama persis dengan rasa masakan ibunya yang sudah lama tidak bisa dia rasakan. Air mata kembali mengucur di pipinya, tapi kali ini dia tidak menyembunyikannya.

“Enak banget Bu… rasanya kayak pulang ke rumah lagi.” Tangannya sedikit gemetar saat mengambil lagi nasi.

“Kamu kan rumah kamu sendiri sekarang Mal,” Bu Soleh duduk di depannya dengan mangkuk kecil berisi sambal hijau. “Kalau merasa sendiri, datang aja kesini ya. Ayahmu dulu sering bantu kami menyiram sawah – waktu itu dia bilang ‘Bu Soleh, anakku ini bakal kuat kayak pohon rambutan yang tumbuh di tengah sawah’. Bener kan kata dia?”

“Iya Bu… aku coba kuat aja.” Malia meneteskan air mata ke atas piring kecilnya, tapi segera tersenyum lagi.

Setelah makan, Malia kembali ke rumahnya yang kecil di pinggir sungai. Rumah kayu tua itu terasa lebih sepi dari biasanya – suara nyamuk yang berkicau di pojok kamar seperti lagu yang terlalu sendu, suara aliran sungai yang mengalir tenang seperti bisikan lama yang tidak pernah berhenti, dan suara angin yang menyapu dedaunan pohon rambutan di halaman membuat suasana jadi lebih sunyi.

Dia masuk ke kamar yang hanya berisi kasur bambu tipis, meja kayu yang kaki nya sudah goyah, dan lemari kayu tua yang pintunya sudah tidak bisa dikunci lagi. Di sudut kamar masih ada buaian kayu yang dia buat sendiri dari palang kayu bekas dan kain lapis yang warnanya sudah pudar jadi putih kekuningan.

Malia menyentuh bagian kayu yang sudah licin karena sering disentuh tangannya waktu Sabiru masih kecil. “Nanti kamu bisa makan rambutan banyak-banyak ya nak… merah-merah dan manisnya sampai ke jantung. Cuma sayangnya bukan dari pohon rumah kita lagi yang selalu ada di sana meskipun kita tidak ada.” Dia duduk di sisi buaian, merenung sambil menyentuh kain yang masih ada aroma bedak bayi yang dulu dia oleskan ke tubuh Sabiru.

Di atas meja ada foto kecil yang Rania berikan sebelum pergi – foto Allbiru yang sedang menggendong Sabiru, wajahnya penuh keceriaan sampai matanya jadi seperti dua butir matahari kecil. Latar belakangnya rumah besar dengan kebun yang penuh bunga-bunga warna-warni. Malia mengambil foto itu dengan hati-hati, menyentuh wajah bayinya yang pipinya montok kayak buah kelapa muda.

“Aku pasti bakal kuat ya nak… biar kamu bisa hidup dengan tenang, tanpa harus merasakan apa yang kulalui waktu kecil.” Dia menyimpan foto itu ke dalam laci meja yang sudah lapuk, lalu mengambil sapu bambu untuk membersihkan lantai.

Hari demi hari berlalu seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Malia yang dulu hanya duduk diam di rumah, menatap langit dari balik jendela kecil yang sudah keropos, mulai bangun lebih pagi dari matahari – saat langit masih berwarna ungu kebiruan dan embun masih menetes di daun-daun seperti mutiara kecil.

“Pagi juga ya Mal!” Pak Soleh sudah ada di sawah saat dia datang membawa ember kayu yang berat tapi dia pegang dengan kuat. “Hari ini kita bakal menyiram bagian sawah yang paling dalam ya – tanamannya mulai perlu banyak air karena musim kemarau mau datang.”

“Baik Pak!” Malia menjawab dengan semangat, lalu mengambil ember lain yang sudah disiapkan. Air sungai yang dingin menyegarkan kulitnya yang masih lemah setelah melahirkan, tapi setiap kali dia menyiram air ke akar padi, rasanya seperti menyiram semangat baru ke dalam dirinya sendiri.

“Sabar ya Mal,” Pak Soleh bilang saat mereka membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekeliling batang padi. “Sawah ini bakal berbuah banyak nanti – bulirnya kayak mutiara kuning yang banyak banget. Kita bagi hasilnya sama kamu, biar kamu bisa tabung uang buat apa saja yang kamu butuhkan.”

“Terima kasih Pak… tapi aku juga mau bantu kerja lain aja dong? Biar aku bisa punya uang sendiri tanpa harus bagi hasil.” Malia menatap Pak Soleh dengan mata yang penuh tekad.

“Boleh aja dong! Pak Joni lagi cari orang belajar anyaman bambu – kamu mau coba?” Pak Soleh tersenyum sambil menyiram air ke tanaman. “Kalau bisa bikin keranjang yang bagus, bisa dijual di pasar lho!”

Selain membantu di sawah dan belajar anyaman bambu dari Pak Joni, Malia juga mulai membuat jamu dari ramuan yang dia kumpulkan sendiri di hutan belakang desa. Jahe merah yang kulitnya kasar tapi rasanya pedas hangat, kunyit yang warnanya kuning keemasan, temulawak yang pahit tapi sehat, dan daun sirih yang harumnya khas. Dia jemur ramuan itu di bawah sinar matahari, menyebarkan aroma khas yang bikin tetangga sekeliling sering mampir bertanya.

“Malia, jamunya sudah siap belum ya?” Bu Yati datang ke rumahnya sore itu, membawa mangkuk berisi ubi rebus yang sudah dikupas. “Aku beli satu gelas ya – badan aku sering capek aja akhir-akhir ini.”

“Siap Bu! Tunggu sebentar ya, aku baru saja panasin.” Malia mengambil gelas kayu yang sudah dia bersihkan, lalu menuangkan jamu hangat yang masih mengeluarkan uap tipis. “Ini aku kasih sedikit madu ya Bu, biar rasanya lebih manis.”

“Makasi ya Mal… kamu semakin kuat ya,” Bu Yati memberikan uang dengan tangan yang penuh kerut tapi hangat. “Wajahmu dulu kayak daun pepaya yang layu, sekarang sudah kayak bunga kembang sepatu yang baru mekar. Kita semua bangga sama kamu yang bisa bangkit sendiri.”

“Terima kasih Bu… kalau bukan karena kalian semua, aku tidak bisa seperti ini.” Malia menerima uangnya dengan senyum, lalu memberikan ubi rebus yang sudah dia siapkan. “Ini buat Bu ya – aku masaknya tadi siang.”

Suatu hari, saat Malia sedang belajar membuat anyaman bambu dari Pak Joni – tangan nya masih sering salah bentuk dan bambunya terkadang menusuk kulitnya sampai sedikit berdarah – suara kaki berlari mendekat dari luar halaman.

“Malia kan? Ada surat dan paket dari kota nih!” Seorang kurir dengan tas merah besar di pundaknya berdiri di depan gerbang bambu yang sudah kusut. “Dari keluarga Sky – nama pengirimnya Rania Sky.”

Malia langsung berdiri, tangan nya masih terbentur dengan bambu yang sedang dia bentuk jadi tempat buah. “Terima kasih ya… aku tidak menyangka ada kiriman dari kota.” Dia menerima amplop putih bersih dan paket kecil berwarna biru muda dengan hati-hati – rasanya seperti menerima sesuatu yang sangat berharga, seperti menemukan permata di tengah hutan.

Dia membuka amplop dengan jari-jari yang lembut, lalu membacanya dengan suara pelan sambil duduk di atas batu besar di halaman rumahnya.

“Hai Malia sayang… Kabarmu bagaimana ya? Sudah lama tidak kita berkirim pesan, rasanya seperti sudah bertahun-tahun padahal baru beberapa bulan saja.”

“Sabiru sudah bisa merangkak lho! Dia suka sekali merangkak ke arah kebun belakang rumah kita yang penuh dengan bunga mawar merah – warnanya kayak rambutan yang sudah matang di pohon rumah kamu. Allbiru selalu mengajaknya main sama boneka Kalangga yang aku buat dulu saat dia kecil – bahkan dia sudah membuatkan boneka kecil buat Sabiru dari kain yang sama, warna biru muda kayak langit pagi yang kamu suka.”

“Tapi ada sesuatu yang harus kubilang padamu, Malia. Beberapa hari yang lalu, ada orang yang tidak dikenal datang ke rumah kita. Dia mengenakan jaket hitam dan kacamata besar, mencoba mengambil Sabiru saat dia sedang bermain dengan bola warna-warni di halaman. Untungnya pembantuku, Bu Siti, yang sedang menyiram bunga melihatnya dan segera memanggil suamiku. Orang itu langsung kabur sebelum bisa melakukan apa-apa, tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak baik di balik semua ini.”

“Aku khawatir banget, Malia. Aku merasa kalau kamu berada di sini bersama kita akan lebih aman – bukan hanya buat Sabiru, tapi juga buat kamu sendiri. Kamu bisa tinggal di rumah kita, belajar hal baru di kota kalau kamu mau. Kita sudah siap menyambutmu dengan tangan terbuka – karena kamu adalah bagian dari keluarga kita sekarang, tidak peduli apa orang lain bilang.”

“Di dalam paket ada foto baru Sabiru dan Allbiru, plus baju kecil yang aku belikan buat kamu. Warnanya biru muda – aku rasa cocok sama kamu yang selalu punya hati yang bersih kayak air sungai di desa kamu. Semoga kamu suka ya. Tunggu kabarmu ya Malia.”

— Rania Sky —

Malia membuka paket kecil dengan hati-hati, seperti membuka cangkang kerang yang berisi mutiara. Di dalamnya ada foto-foto baru yang penuh warna: Sabiru yang sedang merangkak di atas karpet berbulu lembut warna cream, tangannya mengepak kayak burung kecil yang mau terbang; Allbiru yang sedang mengajak Sabiru bermain dengan bola warna-warni yang mengkilap di bawah sinar matahari – Sabiru tertawa sampai bibirnya tampak putih; dan foto mereka berdua yang sedang makan es krim rasa stroberi di taman kota – bibir Sabiru penuh dengan noda merah kayak buah rambutan yang pecah.

Di bawah foto ada baju wanita berwarna biru muda dengan renda halus di bagian bawahnya – kainnya lembut seperti kapas, sangat berbeda dengan baju-baju katun dan batik yang biasa dia pakai. Dan di dalam amplop kecil lain ada uang yang cukup banyak – lembaran-lembaran uang yang masih baru dan beraroma uang yang khas. Malia menangis sambil menatap foto-foto itu, air matanya jatuh ke atas kertas dan membuat warna sedikit memudar, tapi bukan merusak – malah seperti menambahkan sentuhan emosional pada setiap gambar.

Dia berdiri dengan langkah yang sudah mulai mantap, pergi ke rumah Pak Soleh saat warna langit mulai berganti jadi oranye keemasan. Pak Soleh dan Bu Soleh sedang duduk di teras rumah, menikmati angin sore sambil minum teh tawar.

“Pak Soleh… Bu Soleh… aku mau pergi ke kota,” ujarnya dengan suara yang tegas tapi lembut, seperti pisau yang tajam tapi tidak menyakitkan. “Aku mau melihat anakku dan membantu keluarga itu melindunginya. Aku tidak bisa tinggal diam lagi melihat Sabiru dalam bahaya.”

Pak Soleh mengangguk dengan wajah yang penuh pengertian – matanya seperti cermin yang bisa melihat jauh ke dalam hati Malia. “Kita sudah tahu kamu pasti akan pergi suatu hari, Mal. Kamu bukan orang yang bisa tinggal diam saat orang tersayangnya dalam bahaya. Kamu butuh berapa lama buat menyiapkan barang?”

“Besok pagi aja Pak… aku sudah tidak sabar lagi. Setiap detik yang aku tunggu rasanya seperti tahun yang panjang.” Malia duduk di antara mereka berdua, tangan nya menggenggam foto Sabiru yang sudah dia lipat kecil.

“Baiklah… aku antar kamu ke terminal besok pagi,” Pak Soleh menjawab sambil menepuk paha nya. “Aku juga akan kasih uang sedikit buat kamu – jangan ditolak ya, ini dari hati kami sama Pak Joni dan Bu Yati juga.”

“Tapi Pak… aku sudah punya uang dari jamu dan anyaman bambu lho.” Malia merasa sedikit malu.

“Itu uang kamu sendiri, ini dari kita buat kamu beli makanan di jalan atau keperluan lain,” Bu Soleh mengambil tangannya dengan lembut, matanya penuh dengan cinta seperti ibu pada anaknya. “Jangan lupa ya Mal – desa ini selalu ada buat kamu. Pohon rambutan kamu juga akan kami jaga dengan baik, sampai kamu kembali lagi nanti.”

Malia mengangguk, air mata kembali mengucur tapi dia tidak menghapusnya. Dia merasa bahagia bisa punya keluarga seperti Pak Soleh dan Bu Soleh – orang-orang yang tidak pernah meminta balasan atas semua kebaikan yang mereka berikan.

“Terima kasih banyak Bu… Pak… aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kalian semua.” Dia peluk Bu Soleh dengan erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang sudah tua tapi kuat.

“Malam itu, Malia tidak bisa tidur sama sekali. Dia membersihkan setiap sudut rumahnya dengan hati-hati – menyapu lantai sampai bisa melihat bayangan wajahnya, menyimpan barang-barang pentingnya ke dalam karung bambu yang dia anyam sendiri dengan pola yang lebih rumit dari biasanya, dan menyiram pohon rambutan nya dengan air sungai yang jernih satu kali lagi.”

“Dia berdiri di bawah pohon rambutan yang sudah tua, menyentuh kulit batangnya yang penuh dengan bopeng seperti bekas kenangan yang tidak bisa dilupakan. Buah-buah rambutan yang merah mengkilap tampak seperti ribuan mata yang sedang menatapnya, seolah memberikan doa dan semangat untuk perjalanannya besok.”

“‘Nanti aku bawa kamu buat Sabi dan Allbiru ya,’ gumamnya pelan, suara nya terbawa angin malam yang membawa aroma bunga melati dari kebun Bu Soleh. ‘Semoga kamu bisa menjadi jembatan antara dunia desa yang kumiliki dan dunia kota yang akan kubelajari nanti.’”

“Di dalam kamar, dia mengambil foto Sabiru yang baru saja dia terima, menempelkannya pada dada nya sambil berbisik: ‘Aku datang ya nak… dan kali ini, aku tidak akan pernah lagi pergi darimu.’”

[BAB 3 AKAN DATANG: KEMERAHAN MAWAR, KEGELAPAN YANG MENANTI]

“Di kota yang jauh, seorang pria dengan wajah tersembunyi di balik kacamata hitam sedang melihat foto Malia yang dia dapatkan dari sumber rahasia. Bibirnya sedikit mengerut saat membaca catatan di belakang foto: ‘Ibu kandung anak Sky – target utama.’”

*“Sementara itu, di rumah besar keluarga Sky, Allbiru sedang menggendong Sabiru yang sudah mulai bisa berdiri dengan bantuan kursi belajar. Dia menatap jalan keluar dengan mata penuh harapan. ‘Bu Mal pasti datang besok ya Sabi,’ ujarnya pelan sambil mencium dahi adiknya. ‘Kita akan melindungi kamu bersama-sama – dan kali ini, kita akan tahu siapa yang benar-benar ingin membahayakan kita.’”

*“Rania sedang berbicara dengan polisi wanita bernama Ibu Lina di ruang tamu, melihat berkas-berkas kasus yang sudah terkumpul. ‘Ada sesuatu yang tidak masuk akal di sini,’ ujar Ibu Lina dengan suara serius. ‘Orang yang mencoba mengambil Sabiru bukan hanya ingin menculiknya – mereka seolah-olah tahu betul siapa dia dan dari mana dia berasal.’”

“Di tengah malam yang semakin mendalam, Malia tidak menyadari bahwa perjalanannya ke kota bukan hanya untuk melindungi anaknya – tapi juga untuk menghadapi rahasia kelam yang telah menyembunyikan dirinya selama bertahun-tahun. Rahasia yang akan mengubah semua yang dia ketahui tentang dirinya sendiri, keluarga nya, dan bahkan cinta yang dia miliki untuk Sabiru.”

“Apakah Malia akan mampu menghadapi semua yang ada di depan nya? Siapa yang benar-benar ingin membahayakan Sabiru? Dan apa hubungan rahasia itu dengan masa lalunya yang selalu dia sembunyikan?”

“Jangan lewatkan BAB 3 yang akan mengungkap semua misteri – hanya di NOVELTOON! Cerita yang semakin dalam, interaksi yang semakin hangat, dan kejutan yang akan membuatmu tidak bisa berhenti membaca sampai akhir!”

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
adududuuuhhhh benih cinta terlarang itu mau dibawa kemana nantinya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
namanya mirip banget...
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor agak panjang untuk jadi bab, jadiin dua bab thor. Seseorang pernah berkata padaku, biar enak dibaca pembaca dan lebih terlihat estetikanya, bab novel itu jangan terlalu panjang. kalau sudah dua kalimat atau lebih jadikan bab baru.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
belum pernah ke rumah orang kaya raya nampaknya dia, sampai melongo begitu
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pribadi seseorang bisa tergambar dari cara seseorang memandang dan melihat yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik thor
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hai Thor aku dah mampir, jangan lupa follback ya aku dah follow
Davina Aurora: sudah aku follback ya ka🥰
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
ini juga bagusss, saya suka👍
Davina Aurora: makasii ka☺️
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
ya ampun nangis bacanya, jiwa emak2nya keluar
Davina Aurora: makasii ka udah mampirr🤭
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
terharu 🥲🫠
Davina Aurora: makasii ka😊🩷
total 1 replies
T28J
mantap... panjang ini👍
T28J
hadiir 🙏
Davina Aurora: okee ka makasih ya ka😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!