Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sabrina Sadar
Kelopak mata Sabrina terbuka. Insting pertamanya mendata ancaman, lalu mencari bayinya.
Lampu neon putih menusuk retina. Bau klorin tajam menginvasi hidung. Suara bip konstan dari monitor jantung berdenging di sebelah kiri kepalanya.
Tangan kanannya kebas total. Terbalut perban tebal dari telapak hingga pergelangan. Saraf di area panggulnya berdenyut panas, menyisakan jejak tarikan jahitan medis yang kaku pada daging lunaknya.
Tangan kirinya yang bebas langsung meraba area dada.
Kosong.
Kain baju rumah sakit itu rata. Tidak ada detak jantung kecil yang bergetar. Tidak ada hawa panas dari tubuh mungil yang menempel di kulitnya.
Mode predator Maureen meledak seketika membakar akal sehat.
Ia mencabut paksa jarum infus di punggung tangan kirinya. Darah merah menyiprat menodai seprai putih kusam. Kakinya menendang selimut, memaksa turun dari ranjang tinggi itu. Tulang belakangnya menjerit protes. Luka jalan lahirnya serasa robek ditarik dua arah. Ia tidak peduli.
Pintu geser berderit terbuka kasar. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi botol kaca.
"Nyonya Sabrina! Anda belum boleh bangun!" Perawat itu memekik panik, bergegas menahan bahu pasiennya.
Tangan kiri Sabrina melesat membelah udara. Menangkap leher perawat itu dengan cengkeraman akurat tepat di jalur pembuluh karotis. Tenaganya tidak penuh, tapi presisi titik matinya memutus aliran oksigen seketika.
"Di mana anakku?" desis Sabrina. Suaranya serak, kering, namun mematikan.
Nampan obat jatuh berantakan ke ubin epoksi. Perawat itu gemetar hebat. Matanya membelalak ketakutan menatap lubang hitam tak berdasar di bola mata perempuan pucat di depannya.
"Lepaskan dia."
Suara bariton itu menabrak dinding steril dari arah ambang pintu.
Adrianus Halim melangkah masuk. Setelan jas hitamnya sudah berganti baru, rapi tanpa setitik pun debu atau noda darah. Pria itu berdiri angkuh, tangannya masuk ke saku celana. Ia menatap adegan di depannya dengan ketertarikan seorang ilmuwan mengamati mutasi virus buas.
Sabrina melepaskan cengkeramannya. Perawat itu jatuh terduduk di lantai, meraup oksigen rakus sambil memegangi lehernya.
"Keluar," perintah Adrian pada staf medis itu tanpa menoleh sedikit pun.
Pintu bergeser menutup. Hanya tersisa mereka berdua di ruang rawat VVIP kedap suara.
"Kau merobek jahitanmu sendiri," tegur Adrian santai. Matanya turun menatap darah segar yang kembali merembes pelan membasahi kain di celah paha Sabrina, lalu naik ke punggung tangannya yang meneteskan darah bekas cabutan infus.
"Bayiku," potong Sabrina. Ia menolak bersandar pada pinggiran ranjang. Ia memaksakan lututnya berdiri tegap menahan tarikan gravitasi, membalas tatapan tiran itu sejajar. "Di mana dia?"
"Aman. Di dalam inkubator dengan penjagaan lapis tiga." Adrian memutar lehernya pelan. "Matanya dua warna. Heterokromia. Trait mutlak penguasa klan Halim."
"Dia anakku."
"Dia pewarisku." Adrian melangkah maju, memangkas jarak. Aroma maskulin parfum mahalnya menabrak dominasi bau klorin rumah sakit. "Dan kau... kau jelas bukan Sabrina yang aku nikahi setahun lalu."
Sabrina tersenyum miring. Bukan senyum ketakutan istri yang tertangkap basah. Itu seringai serigala betina yang siap mengoyak daging.
"Sabrina yang kau nikahi sudah mati di gudang berjamur itu," balasnya ringan. Jari telunjuk kirinya menyeka darah di punggung tangannya sendiri. Bau besi memicu laju adrenalinnya. "Jadi jangan pernah berharap kau bisa memerintahku lagi."
Adrian menyipitkan mata. Imajinasi liar memutar ulang laporan Renaldo di kepalanya. Empat mayat preman. Jebakan kawat berkarat. Sayatan presisi memutus urat nadi.
"Kania Tanjung menyewa empat eksekutor bayaran," ucap Adrian pelan, memancing reaksi. "Orang-orangku menemukan mereka membusuk di lantai. Tiga di antaranya mati dengan cara yang... terlampau efisien."
"Mereka terlalu berisik." Sabrina membuang napas kasar. "Mengganggu jam tidur anakku. Kubuat mereka tertidur permanen."
Ruangan itu hening sesaat.
Adrian mengamati postur istrinya dari ujung kaki hingga kepala. Tubuh rapuh itu bergetar hebat menahan sakit luar biasa, wajahnya seputih kapas mayat, tapi tidak ada satu pun celah kelemahan di sorot matanya. Perempuan ini menumbangkan tiga pria bersenjata tanpa belas kasihan hanya beberapa menit setelah rahimnya robek terbuka. Ini bukan lagi istri pajangan untuk syarat bisnis. Ini senjata pemusnah massal yang ia temukan tersesat di jalan raya.
Ego patriarki Adrian mendidih. Ia tertantang mutlak untuk menundukkan monster betina ini di bawah kendalinya.
"Kau merusak skenario besarku, Sabrina," ucap Adrian dingin. "Saham Tanjung anjlok. Kania sedang mencari celah legal untuk mengambil alih seluruh aset atas namamu."
"Biar aku yang mengurus perempuan gila itu." Sabrina melangkah satu tindak ke depan. Ujung gaun rumah sakitnya menyapu ubin. "Tugasku malam ini hanya memastikan bayiku hidup. Sisa napas Kania murni urusanku."
"Kau butuh izinku untuk bertindak."
"Aku tidak butuh izin siapa pun untuk menguliti orang yang menyentuh anakku."
"Kau lupa pada siapa kau bicara."
Tangan Adrian melesat cepat, mencengkeram rahang Sabrina kuat-kuat. Pria itu menunduk, memaksa istrinya mendongak menantang kilat matanya langsung. "Kau masih terikat kontrak pernikahan denganku. Tanpa perlindungan namaku, dewan direksi Tanjung akan merobekmu hidup-hidup besok pagi."
Sabrina tidak meronta. Ia membiarkan tekanan kasar itu menghimpit tulang rahangnya.
Tangan kirinya berayun naik. Kuku-kukunya yang panjang dan kotor sisa tanah pegunungan menancap lurus menembus punggung tangan Adrian. Ditekan dalam-dalam merobek lapisan kulit pria itu.
Darah segar Adrian menetes ke atas ubin.
Pria itu mengerutkan kening menahan perih mendadak, tapi harga dirinya menolak melepaskan cengkeraman tangannya dari wajah Sabrina.
"Singkirkan tangan kotormu," bisik Sabrina mematikan. Uap napasnya menerpa wajah sang suami. "Atau kupatahkan tulang jarimu satu per satu di ruangan ini."
Tatapan mereka beradu sengit. Perang dominasi liar antara dua predator puncak yang menolak kalah. Ketegangan memenuhi udara steril, padat merayap.
Adrian akhirnya membuka jemarinya perlahan. Ia menarik tangannya mundur, melirik luka gores empat jari yang kini mengeluarkan darah segar di punggung tangannya sendiri. Seumur hidupnya menduduki takhta bisnis gelap, belum pernah ada satu manusia pun yang berani melukai fisiknya secara sengaja.
Sebuah tawa rendah dan kering menggetarkan dada Adrian.
"Luar biasa," gumam pria itu. "Kania benar-benar menggali kuburannya sendiri dengan membangunkan hal liar di dalam dirimu."
Sabrina memundurkan langkahnya pelan. Kakinya menyentuh dinginnya tiang besi penyangga ranjang. Ia akhirnya membiarkan panggulnya duduk di atas kasur. Oksigen di paru-parunya mulai menipis drastis. Pendarahannya butuh penjahitan ulang segera, tapi ia menolak tumbang sebelum mendapat kepastian.
"Bawa anakku ke sini," tuntut Sabrina tanpa basa-basi.
"Belum." Adrian memutar tumitnya berjalan menuju meja nakas kaca di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah benda tebal. "Bayi itu butuh sterilisasi intensif. Kau juga butuh transfusi darah lagi."
"Jangan mengatur caraku mengasuh."
"Aku mengontrol semua asetku," potong Adrian telak, memukul balik ego Sabrina.
Pria itu kembali menghampiri ranjang. Ada kertas padat di tangannya. Aroma tinta kertas baru dan bau segel lilin merah tercium samar di udara.
Sabrina menyipitkan mata. Otak analitis Maureen langsung mengenali bentuk dokumen legal perjanjian tertutup tersebut.
Adrian meletakkan map tebal di atas selimut. "Kita perlu bicara." Matanya dingin menuntut ketundukan.