Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 – Naya
Bab 12 – Naya
Aku terbangun jam tiga pagi. Padahal baru pulang dari gedung jam 12 malam. Jam empat aku sudah harus ada di rumah mempelai perempuan, memastikan MUA sudah datang dan mengerjakan tugasnya. Rasa bersalahku pada Bima, telah marah padanya membuat aku tidak bisa tenang. Bima tidak membalas pesan terakhirku. Pasti dia kaget mendengarku marah seperti itu. Aku harusnya tidak marah.
“Arrrggggh!” aku teriak di motor ojol.
“Kenapa mbak?” supir ojol menoleh kaget.
“Ngantuk, Pak!” kataku berbohong. “Biar nggak ngantuk!”
“Kalau ngantuk, ya tidur mbak, bukan teriak!” supir ojol tertawa terbahak-bahak sambil geleng kepala.
--
Dari rumah mempelai perempuan sampai acara akad di masjid, lalu resepsi di gedung serbaguna masjid, semuanya lancar. Teman dan keluarga dekat berhasil foto dengan mempelai. Makanan tidak ada yang kurang. Souvenir masih ada sisa. Keluarga sepuh juga semuanya merasa nyaman. Tamu yang datang tidak terlalu banyak, tapi juga tidak sedikit. Cuaca hari itu cerah dan tidak panas. Meski AC di dalam gedung serba guna masjid besar itu tidak terlalu dingin, tidak ada tamu yang merasa kepanasan.
Aku duduk di kursi, di belakang gedung, mengawasi sisa katering yang sedang dibungkus oleh petugas katering untuk nanti dibawa oleh anggota keluarga. Risa menghampirku.
“Ternyata di sini! Beres lagi!” katanya sambil memelukku.
“Alhamdulillah!” jawabku.
“Abis ini belum ada klien lagi nih!” Risa mengikat rambutnya yang panjang dan membuka blazer kerjanya.
Aku terdiam. Kalau aku jadi nikah, klien WO kami ya aku. Tapi …
Risa melirikku, seperti ingin bertanya tapi ragu. “Libur dulu aja kali ya?”
“Iya?” tanyaku balik.
“Hemm, Bima gimana?”
“Gimana apa?”
“Udah ada kabar?”
“Kabar apa?” aku enggan membahasnya. Risa belum tahu kalau aku habis bertengkar dengan Bima, kemarin sore.
“Dia kapan mau ke rumah kamu?”
Aku mengangkat kedua bahuku.
“Kamu belum balas dia?”
“Udah!” kataku agak sedikit ngegas.
“Oh, oke,” Risa mengerenyitkan dahi. “Kok marah?”
“Aku cape!” kataku singkat. “Cape ditanyain terus. Bima nanyain terus, kakak nanyain terus.”
“Oh salah ya aku nanya?” Risa kaget lalu jadi emosi juga. “Aku cuma mau tahu aja, mau ngantur jadwal, kalau emang kamu nolak Bima, ya udah bilang aja. Nggak perlu emosi. Berarti kita nggak ada jawab wedding tiga bulan lagi. Udah. Gitu aja. Nggak usah ngegas!”
Aku bangkit, lalu pergi meninggalkan Risa. Terdengar petugas katering menghampiri Risa, “Ini udah dibungkus, dikasih ke siapa?”
--
Aku tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup. Langit Jakarta yang sedari pagi panas dan sangat mendukung acara pernikahan, tiba tiba hujan deras.
“Ujan?” tanya papa sambil melihatku pulang.
“Iya,” jawabku singkat. Menurut papa emang aku mandi di empang? Pulang bisa basah kuyup gini? Heran. Jelas jelas hujan.
Aku melewati mama yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan.
“Hujan?” tanya mama melihatku naik tangga, hendak ke lantai dua, ke kamarku.
“Iya!” kataku kesal.
“Loh, kok gitu jawabnya?”
“Maaf,” kataku pelan lalu aku buru-buru masuk ke kamar.
Rasanya sudah nggak pantas lagi deh, aku marah kaya gini. Aku bukan anak SMA. Aku udah 25 tahun. Aku sebentar lagi nikah, tapi gagal!
Aku bergegas mengambil baju bersih, handuk lalu mandi dan menangis di bawah air shower. Kenapa hari ini sangat emosional. Bukan. Bukan hanya hari ini, tapi dari kemarin. Tiba-tiba menetes darah di lantai kamar mandi. Pantas saja. Ternyata aku datang bulan.
Aku harus minta maaf pada Risa, Bima, dan Mama.
--
Selesai mandi, aku langsung turun ke ruang makan. Papa dan mama sudah di meja makan.
“Lancar tadi acaranya?” tanya papa yang sudah mulai makan.
“Lancar, alhamdulillah,” jawabku sambil mengambil nasi ke piring. Aku tidak berani melirik mama.
“Alfian gimana kabarnya?” tanya mama tanpa ragu.
Aku tidak mungkin – tidak boleh – emosi. Aku harus sabar.
“Persiapan pernikahan kalian gimana?” tanya mama lagi. “Sudah tinggal 3 bulan lagi loh. Keluarga udah pada nanyain, undangannya kapan? Mereka mau siap-siap cari penginapan, atur jadwal buat ke sini.”
Aku tidak jadi mengambil lauk. Mungkin ini saatnya aku cerita pada mama dan papa.
“Ma, pa,” aku menatap mereka berdua. “Jangan marah ya?”
Mama dan Papa saling lirik, “Kenapa?”
“Alfian sebenernya udah batalin tunangan,” kataku lemas.
“Apa?” mama kaget.
Papa cuma membuka mulutnya, bengong tidak percaya.
“Sudah dari dua bulan yang lalu.”
“Kok nggak bilang?” tanya Papa.
“Kenapa? Kalian berantem? Ada masalah apa? Coba bicarain dulu!” mama langsung nyerocos.
“Nggak tau masalahnya apa. Alfian tiba-tiba minta putus. Terus minta cincin lamarannya dibalikin. Udah aku balikin,” kataku pasrah.
“Terus?” mama melirik papa.
“Ya udah pernikahannya batal,” jawabku.
“Pa! Gimana ini?” mama minta papa bicara, tapi papa diam saja. “Mama harus bilang apa sama temen-temen mama? Sama keluarga?”
“Ya bilang aja lah, nggak jadi nikahnya,” papa melanjutkan makan dengan santai.
“Kok gitu! Alfian suruh ke sini! Enak aja dia main putusin gitu aja!” mama terdengar kesal.
“Nggak usah, aku udah blok dia!” kataku kesal.
“Iya, nggak usah lah. Lagian papa juga sebenernya nggak suka suka amat sama Alfian,” papa makan dengan santai.
“Kok papa gitu sih!” mama menggoyangkan bahu papa. “Nay, suruh Alfian ke sini, minta maaf atau apa kek. Kita harus jelasin apa ke orang-orang!”
“Tapi sebenernya,” aku ragu mau cerita.
Mama dan papa menungguku melanjutkan cerita.
“Ada orang yang ngelamar aku. Dia mau tetep aku nikah di tanggal yang sama, gantiin Alfian.”
“APAA!” kali ini Papa yang teriak kaget.
“Siapa?” tanya mama penasaran.
“Jadi kamu yang selingkuh?” tanya papa nggak suka.
“Kok jadi dia selingkuh?” mama heran.
“Ya iya. Alfian mutusin, karena dia ada cowok lain yang mau ngajak nikah juga, gitu kan?” papa langsung mencari kesimpulan.
“Nggak! Nggak gitu! Nggak ada yang selingkuh!” aku menghela napas. “Nggak tau sih kalau Alfian selingkuh apa nggak. Tapi aku nggak! Aku kenal dia, setelah Alfian mutusin aku.”
Mama dan papa terdiam.
“Terus dia mau kenalan sama mama sama papa, tapi akunya masih ragu. Mau terima lamaran dia apa nggak.”
“Siapa dia?” tanya papa pelan.
“Bima,” jawabku sambil menundukkan kepala, malu, takut dikira halu.
“Temen kuliah, temen kantor, atau apa?” tanya papa lagi.
“Nggak. Aku baru kenal. Pas di acara nikahan klien.”
“Bima siapa?” tanya mama.
“Bima De…wan…tara”, jawabku pelan.
Mama menutup mulut dengan kedua tangannya lalu menatap papa.
“Orang mana dia?” tanya papa tidak tahu siapa Bima. “Kerja di mana?”
Mama menepuk punggung papa, “Bima Dewantara itu, aktor! Aktor film yang mama suka nonton di tivi, Paaa!”
“Yang mana?” papa tampak bingung.
“Kamu nggak lagi bercanda kan?” tanya mama melotot melihatku.
Aku menghela napas, seandainya aku bisa bercanda.
“Ya udah! Suruh dia ke sini besok!” pinta mama sambil mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Bima di wallpapernya.
“Ini?” tanya papa.
“iya,” jawab mama. “Suruh dia ke sini besok, Nay! Udah, terima aja lamarannya! Kalau perlu minggu depan aja nikahnya. Biar si Alfian itu tahu, kamu itu banyak yang naksir!”
Aku menepuk jidat lalu menundukkan kepala, bingung harus berbuat apa.